"Jangan peluk!"
Suara keras dengan nada ketus itu mulai menginterupsi lagi ketika di rasa tangan Gadis itu mulai menjalar ke perutnya.
Sean menghela napas untuk yang kesekian kali setelah menaiki motor dan membonceng gadis aneh itu. Ada saja kelakuannya yang membuat Sean ingin mengurut d**a. Kesabarannya benar-benar di uji.
Lihat saja sekarang, baru dikasih tau untuk tidak memeluknya, tapi tangan itu terasa kembali merayap pelan-pelan di pinggangnya. Sean geli, laki-laki itu meraih tangan halus yang terasa sangat kecil di telapak tangannya yang kasar dan besar itu, lalu menaruhnya kembali di sisi tubuh Sairish. Sean sampai tidak merasakan dinginnya udara malam yang dinginnya sampai masuk ke pori-pori kulitnya karna sudah terlalu panas menghadapi gadis bebal di boncengannya ini.
Sean menegang ketika dia merasakan perutnya kembali di peluk dengan kencang, kali ini di barengi dengan tubuh gadis itu yang menempel erat di punggungnya serta dagu yang bertengger di pundak kanan Sean, membuat laki-laki itu reflek memiringkin kepalanya sedikit.
Sean yang merasa sudah lelah untuk melarang gadis bebal itu akhirnya membiarkan saja. Toh berapa kalipun di larang, gadis itu tetap mengulanginya lagi. Sean merasakan seluruh tubuhnya menghangat, detak jantungnya tiba-tiba terasa lebih cepat dari biasanya, padahal dia sedang tidak berlari.
"Hangat ... Aku suka," terdengar suara lirih di telinga kanan Sean. Hembusan nafas hangat terasa di ceruk leher laki-laki itu karna wajah Sairish sangat dekat sekali, bahkan mungkin bibirnya sudah menyentuh kulit leher Sean. Membuat bulu kuduk laki-laki itu merinding, dan Sean baru pertama kali merasakan perasaan aneh seperti ini.
Berkali-kali laki-laki itu menarik napas dalam dan menghembuskannya keras-keras. Perjalanan masih separuh jalan lagi, Sean harus fokus menyetir agar tidak berakhir menginap di Rumah Sakit. Kalau Sean saja sih tidak apa-apa, dia sudah biasa berobat di Mbah Kadir. Spesialis tukang urut, tetangga samping kontrakannya. Tapi gadis ini mungkin saja beda. Dia mana tau kalau keseleo tidak harus dirujuk ke Rumah Sakit, masih ada tukang urut di pilihan pertama yang bisa mengatasinya. Beda kasta memang mempengaruhi, keluh Sean dalam hati.
Motor yang di kendarai Sean sudah berhenti di depan rumahnya. Laki-laki itu menurunkan standard motor dan berniat untuk turun, tapi tangan Sairish semakin kuat memeluk perutnya.
"Ck, heh, kita udah sampe. Ngga usah keenakan peluk gue, lo." Sean menepuk pelan tangan Sairish yang berada di perutnya, tapi gadis itu tidak memberikaan respon apa-apa. Sean menoleh sedikit dan mendapati gadis itu yang tertidur, "pantas saja dia berhenti ngoceh, ternyata dia ketiduran."
Sean melepaskan helm-nya, menaruh di atas spion motor. Laki-laki itu menyugar rambutnya pelan, lelah dan mengantuk terlihat jelas di wajahnya, "Ngga mungkin gue nyuruh dia pulang sendiri, kan? Mana udah tengah malam lagi." Sean melirik jam di pergelangan tangan kirinya, jam 1:34.
Sean lagi-lagi menepuk tangan Sairish, kali ini di barengi dengan guncangan pelan di pundaknya, "Rish, hei, kita udah sampai, tidur di dalam." berkali-kali Sean menepuk bahkan mengguncang tubuhnya sendiri agar Sairish yang masih menempel seperti Kangguru di punggungnya bisa terusik, tapi ternyata percuma. Sairish tidur seperti orang mati.
Sean frustasi sendiri, kalau seperti ini terus, tidak akan selesai. Tubuhnya sudah sangat lelah, dia butuh istirahat sekarang. Pelan-pelan Sean melepaskan pelukan Sairish, kemudian laki-laki itu turun dari atas motor lalu menarik tubuh ramping itu untuk dia gendong.
Sean membuka pelan pintu rumahnya, setelah dengan susah payah merogok ransel untuk mencari kunci rumah dengan Sairish yang berada di gendongannya seperti anak Koala. Hembusan napas gadis itu terasa di ceruk leher Sean, d**a mereka yang menempel erat membuat gelenyar aneh itu semakin nyata. Degub jantungnya semakin menggila, Sean laki-laki normal. Apalagi baru pertama kali di hidupnya dia merasa sedekat ini dengan perempuan bahkan sampai menggendongnya. Sepanjang jalan memasuki rumah, Sean hanya mampu beristigfar. Godaan setan memang terkutuk, batinnya.
Sean memasuki kamar ibunya, lalu pelan-pelan membaringkan Sairish di sana. Laki-laki itu melepaskan alas kaki Sairish lalu menyimpannya di dekat pintu kamar, kemudian meraih sarung yang ada di lemari untuk di pakaikan ke tubuh gadis itu. Pelan-pelan Sean melepaskan mini bag dari tubuh gadis itu, lalu menyimpannya di sebelah tempat tidurnya. Setelah semuanya selesai, Sean berlalu dari kamar ibunya untuk beristirahat. Dia sudah cukup lelah, jadi tidak ada tenaga lagi untuk bersih-bersih.
Sedangkan di dalam kamar, seorang gadis perlahan membuka matanya, senyum cerah langsung terbit di bibir mungil itu. Gadis itu terkekeh tanpa suara, "ngga sia-sia gue pura-pura tidur. Udah dapat tidur di rumahnya, bonus di gendong lagi." Sairish bermonolog sendiri, kemudian dia merogok mini bag-nya untuk mengambil ponsel. Gadis itu mengetik pesan pada w******p group-nya.
Charapita squad?
Gue nginap di rmh calon imam?
Doain misi gue berhasil.
Hehe
Setelah mengetik pesan itu, Sairish kembali memejamkan matanya, kali ini dia benar-benar terlelap dengan senyum mengembang.
****
Subuh belum juga menyambangi, tapi aktifitas di kontrakan kecil itu sudah mulai terlihat. Sean bangun dari tidurnya, rasa lelah di tubuhnya sudah sedikit berkurang walaupun hanya tidur beberapa jam. Laki-laki itu bangkit dan berlalu ke arah dapur, terlihat ibunya yang sudah mulai sibuk dengan peralatan memasaknya.
"Assalamualaikum, Bu." Sean duduk di kursi meja makan, meraih gelas dan menuangkan air dari teko lalu menandaskannya sampai habis.
"Waalaikumsalam, tadi pulang jam berapa, Bang?" tanpa menoleh, sang ibu bertanya pada anak laki-lakinya.
"Jam 1, Bu. Motor Abang ban-nya pecah, makanya lama di jalan."
"Abang ngga apa-apa? terus motor Abang gimana?" suara ibunya terdengar khawatir.
"Dibawa sama temen." Sean menjawab singkat. Laki-laki itu asyik mengupas bawang yang di simpan ibunya di atas meja.
"Terus, Neng yang tidur sama Ibu itu siapa? Abang ngga macam-macam kan?" kali ini sang ibu membalikkan badannya dari depan kompor demi menelisik wajah Sean.
"Astagfirullah, ngga lah, Bu. Namanya Sairish, adik tingkat abang di kampus. Dia yang nolongin abang tadi pas lagi dorong motor."
"Oh, Ibu pikir, Abang macam-macamin anak gadis orang." ibunya kembali berkutat dengan masakannya.
"Ngga mungkin lah, Abang kan punya Ibu. Abang ngga mau bikin Ibu sedih. Lagian, Abang ngga tega nyuruh dia pulang lagi tadi, takut dia kenapa-kenapa di jalan. Makanya Abang suruh nginap."
Ibunya tersenyum mendengar penuturan anak laki-lakinya, merasa sangat bangga sudah mendidik anaknya dengan baik. "Terima kasih, Abang udah jaga kepercayaan Ibu. Tapi ..." Ibunya sekali lagi membalikkan badan menghadap Sean, "neng-nya cantik banget loh, bang. Coba aja, dia jadi mantu Ibu, ya. Pasti Ibu bahagia sekali. Tapi sepertinya neng cantik itu ngga akan mau sama abang."
Sean mendengus geli, ibu nya tidak tau saja kalau dia sudah di lamar sama gadis itu. Bukan Sean yang di tolak, tapi Sean yang menolak.
"Memangnya abang sejelek itu ya, Bu?
"Ngga gitu, anak ibu mah cakep, wajahnya tampan, pintar, rajin sholat, pekerja keras, sayang sama Ibu lagi. Tapi sayang saja ..." Ibu Sean menjeda kalimatnya, membuat Sean mengerutkan alis, laki-laki itu menatap ibunya sekilas yang sedang menoleh tersenyum ke arahnya.
"Sayang kenapa, Bu?" raut wajah Sean terlihat sangat penasaran.
"Sayang saja, anak Ibu kaku banget. Mana mau, Neng cantik sama laki-laki yang kaku. Ibu saja, kalau bukan anak, udah Ibu hempas deh jauh-jauh." terdengar kekehan keluar dari mulut ibunya.
"Ini mah definisi, udah diterbangkan ke langit ke tujuh, belum semenit, eh udah dijatuhin lagi ke dasar laut. Ibu mah kejam sama anak sendiri." Sean mendengus, pura-pura kesal dengan ucapan ibunya.
"Makanya Bang, jangan kaku-kaku gitu ngomong sama anak gadis, jangan cuek. Nanti dikira Abang jahat." ibunya kembali menasehati.
"Biarin aja lah Bu orang mau ngomong apa. Abang ngga peduli, yang penting abang ngga ganggu orang."
"Udah-udah, ngga usah bahas lagi. Bahasin urusan Abang mah, ngga bakal kelar. Kalau sudah selesai kupas bawangnya, Abang pergi mandi. Siap-siap ke masjid sana, bentar lagi adzan subuh. Neng cantik biar Ibu yang bangunkan.
Setelah selesai mengerjakan tugasnya, Sean berlalu menuju kamar. Sesaat dia melangkah mendekati tempat tidur, menelisik wajah gadis yang masih tertidur pulas itu. Bahkan terdengar dengkuran kecil dari bibirnya. Sean tersenyum sangat kecil, yang bahkan dia sendiripun tidak sadar melakukannya.
"Pasti dia kalah main game kemarin, makanya disuruh ngajak nikah laki-laki random. Ngga mungkin banget beneran. Ya kali gue yang terkenal miskin di kampus, diajak nikah sama cewek cantik gini, mustahil banget."
Sean keluar dari kamar setelah mengambil sarung dan baju koko-nya. Perkataan seseorang yang membully-nya di masa lalu dulu, kembali terlintas di pikirannya. "Lo nyadar diri, t***l. Udah miskin, belagu. Berani banget lo suka sama cewek gue. Level lo itu sama cabe-cabean kampung. Lo kan keseringan di pasar jadi kuli, pasti banyak cewek-cewek yang jualan ikan sama sayur yang mau sama lo. Bukan cewek gue, ngerti lo. Ngaca, ngaca, ingat level lo. Dasar pecundang!"
Sean menggelengkan kepalanya berkali-kali, berusaha menghilangkan perkataan buruk itu. Dia kesal, pembullyan itu sudah berhasil mendokrin otak Sean untuk tidak boleh bermimpi terlalu tinggi tentang standar jodohnya. "Sialan," Sean mengumpat pelan.