Motornya kenapa, bang?" Sairish tersenyum hangat ketika menyadari wajah terkejut laki-laki itu.
"Ban-nya pecah." hanya itu yang mampu di ucapkan laki-laki itu pada gadis yang melamarnya tadi siang.
Sairish menyuruh Adena untuk turun dari motor, kemudian disusul oleh gadis itu setelah menurunkan standar motornya. Sairish mengotak-atik ponselnya sebentar kemudian memasukkan kembali ke dalam mini bag-nya.
"Udah berapa lama abang dorong motornya?" Sairish memulai pembicaraan yang terkesan canggung itu. Adena yang biasanya cerewet pun hanya bisa terdiam, mungkin karna gadis itu mengantuk.
"Ng ... Udah lumayan lama, sih." Sean menggaruk kepalanya, suaranya terdengar mencicit pelan. Terlihat sikap kaku dan tidak nyaman dari laki-laki itu.
Tiba-tiba sebuah SUV hitam berhenti tepat di belakang motor Sairish. Terlihat dua orang pria dewasa turun dari dalam mobil itu. Badan kekar dengan wajah garang dan kaku mereka menjadi perhatian pertama dari ketiga orang itu. Pakaian serba hitam serta Perawakan mereka yang seperti preman membuat Sean langsung berdiri siaga, menarik pelan Sairish dan Adena agar berdiri di belakangnya.Berusaha untuk melindungi kedua gadis itu.
Salah satu pria itu berdehem beberapa kali, seperti sedang berusaha mengatur pita suaranya.
"Motorola yei kenapose, cantika?" Suara bariton laki-laki yang dibuat semirip mungkin dengan suara perempuan itu terdengar, membuat Adena yang sudah terlihat lelah dan mengantuk sontak menyemburkan tawa mendengar suara dan pertanyaan aneh dari pria kekar di depan mereka.
Tawa Adena langsung membahan memecah suasana sepi di pinggiran troktoar itu. 'Kenapa cosplay jadi banci sih? Sial, Sairish.' Adena mengumpat dalam hati sambil masih tertawa cekikikan, ngantuknya langsung menghilang tanpa meninggalkan jejak. Sairish pun sebenarnya sama seperti Adena, ingin tertawa keras juga. Tapi dia tidak ingin membuat Sean yang matanya sudah melotot kaget itu semakin bingung nanti.
"Sorry tante Gabriella, Adena emang lagi kumat gilanya."
Laki-laki kekar yang di panggil tante Gabriella oleh Sairish itu hanya mampu tersenyum kaku. Wajahnya sudah merah padam menahan malu, temannya yang berdiri di sebelahnya juga ikut mengulum senyum tertahan.
Sedangkan Sean masih melongo kaget, antara melihat dan mendengar suara pria kekar yang ternyata adalah banci, atau antara gadis di sebelahnya ini yang mengenal kedua mahluk jadi-jadian itu.
"Lo kenal mereka?" akhirnya Sean bersuara juga setelah lama terdiam karna shock."
Sairish mengangguk singkat. "Mereka temen-temen aku, bang. Sering mangkal di tempat biasa aku nongkrong."
Ppffftt ... Adena bersiap ingin menyemburkan tawanya lagi, ketika sebuah cubitan mendarat di lengannya. Gadis itu meringis. "Sakit, bego" Adena mengumpat tanpa suara sambil menatap sinis ke arah Sairish.
"No- ... Eh" pria kekar itu langsung melipat bibirnya ke dalam ketika dia merasa hampir keceplosan memanggil Nona pada Sairish.
"Kenapose yei masih kaliurung tengah malampir gini?" lagi pertanyaan keluar dari pria itu. Kali ini terlihat lebih profesional, dengan gaya centil ala banci-banci pangkalan. Tapi laki-laki di sebelah Sairish itu langsung terjengkit kaget mendengar perkataan banci itu.
"Jangan asal ngomong dong, Om. Mana ada Mak lampir disini. Lagian, Kaliurung kok tanya nya kesini sih." Sean melotot, terlihat raut kesal laki-laki itu.
Sairish melipat bibirnya ke dalam menahan tawa, sedangkan Adena sudah tertawa tanpa suara sedari tadi. "Maksud tante Gabriella itu bang, kenapa aku masih keliaran tengah malam gini?" Sairish menjelaskan pada Sean yang sudah telihat malu dan salah tingkah itu.
"Motor temen aku ban-nya bocor, Tan. Aku lagi nunggu orang yang bantu sih, untung Tante lewat sini. Habis dari mana, Tan?" Sairish berniat menggoda bodyguard-nya yang terkenal kaku itu. Ya, mereka adalah para bodyguard Sairish. Mereka merubah image agar tidak membuat orang lain curiga siapa mereka. Begitulah cara mereka menjaga Sairish selama ini, berkamuflase menjadi apa saja sesuai dengan situasi dan kondisi.
"Akika sama yang lain habiba dorayaki mangkalita cacamarica duta tadi, jeung. Sekalian cacamarica lekong-lekong juga." Pria itu tertawa cekikikan sambil menutup mulutnya, 'lama-lama Om Gabriel mirip banci beneran, nih.' Sairish membatin.
"Dapat laki-nya?" Sairiah kembali bertanya yang ditanggapi tawa cekikikan tante Gabriella. Sean yang melihat itu hanya bisa bergidik jijik. Sean kembali melirik gadis di sebelahnya, antara tak percaya dan takjub karna dia bisa bergaul dengan orang-orang aneh macam banci ini.
"Lo ngerti omongan dia?" Sean bertanya pelan, agar tidak di dengar pria di depannya. Sairish hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Gimana nasib temen aku nih, Tan. Kasihan kalo harus dorong motor lagi. Mana udah tengah malam gini." Dalam hatinya, Sairiah sudah berteriak heboh. Dia akan memanfaatkan kesempatan yang di berikan tuhan ini dengan sebaik mungkin. Mungkin ini cara tuhan mendekatkan mereka, pikir Sairish.
"Ngga papa, ngga usah pikirin gue. Kalian pulang aja, ngga baik perempuan masih di luar jam segini. Lagian temen lo udah ngantuk parah, tuh."
"Ngga bisa gitu dong, bang. Aku yang ngga bisa ninggalin abang sendirian disini. Tengah malam pula." Sairish langsung membantah, 'enak aja mau nyia-nyiain kesempatan bagus. Tidak bisa tsay.' Sairish membatin.
"Gue cowok, ngga masalah kalo gue nginap di pinggir jalan, juga. Ngga bakal ada yang ganggu." Sean tetap kukuh tidak mau di bantu, sedangkan Sairish juga tidak mau kalah.
"Kak, turuti aja apa mau temen gue. Sampe pagi juga ngga bakal kelar kalo kalian sama-sama keras kepala gitu. Nih anak, bakal ikut kakak jalan kaki kalo masih tetap nolak bantuan kita." akhirnya Adena bersuara setelah lama hanya menjadi pendengar setia.
Sean mendengus kesal, menatap jengah ke arah Sairish. "Jadi, mau lo apa?"
"Mau bantuin abang lah biar bisa pulang."
"Gue bisa pulang tanpa bantuan lo. Lagian kita juga ngga saling kenal, ngapain lo ngotot mau bantuin gue? Bahkan gue juga ngga tau nama lo siapa."
Sairish melongo kaget, sedangkan dua bodyguard-nya serta Adena terlihat mengulum senyum sambil menahan tawa.
"Emangnya tadi siang ... aku ngga sebut nama, ya?" Sairish bertanya bingung. Wajah polos serta senyum meringis yang terlihat di wajahnya membuat Sean langsung menunduk untuk menyembunyikan senyum tipis di bibirnya.
"Aku Sairish, bang. Adik kelas abang, anak Manajement Bisnis semester 2. Yang tadi siang ngelamar abang tapi di tolak."
Lagi-lagi perkataan Sairish membuat yang lainnya shock, sedangkan Sean hanya bisa meringis mendengarnya.
"Gilingan aja, tsay. Motorola pecong yei, biar eike yang angkutan pake mebel eike. Yei bareng pecong yei pake motorola bulukan yei itu. Adena biar pulang bareng eike aja pake mebel, gimandose?"
"Diana belanda jadi pecong eike, jeung. Dewes aja, diana sirkuit sustagen dapatnya" Sairish ikut-ikutan membalas pakai bahasa banci. Alasannya sudah jelas, agar Sean tidak mengerti.
"Yei sukria samosir diana, jeung?"
Pertanyaan Om Gabriel langsung membuat Sairiah melotot. Seketika Om Gabriel kicep. Akibat terlalu mendalami peran nih, sampai kebablasan. Batinnya.
"Ide tante Gabriella boleh juga. Aku setuju kok."
"Emangnya tante itu bilang apa? Eh maksud gue, om itu bilang apa?" Sean buru-buru meralat pertanyaannya. Tidak sudi juga dia memanggil tante pada pria kekar itu.
"Tante Gabriella bilang, motor abang dia yang bawa biar sekalian di perbaiki. Abang bareng aku pake motor."
"Kalian cuma ngomong itu aja?" Sean memandang penuh curiga ke arah Sairish, "padahal dari tadi kalian saling berbalas kalimat." laki-laki itu hanya bisa mendengus kesal melihat anggukan dan juga gelengan dari Sairish. Dia yakin, gadis ini membicarakannya dari tadi.
"Lagian, lo gila. ngapain gue bareng lo? Lebih baik gue pulang dorong motor." Sean menjawab ketus.
"Kenapa sih, bang. Aku ngga kudisan kok, kenapa abang ngga mau deket-deket aku?" Sairish mengeluarkan jurus belas kasihan orang-nya.
"Ck ...." Sean terlihat menyugar rambutnya kesal, "gue bukan ngga mau deket lo, tapi rumah gue jauh. Lagian ngga mungkin lah gue nyuruh cewek anterin gue, emangnya lo pikir gue cowok apaan."
'Keras kepala.' Batin Sairish. "Abang pria baik, ngga mungkin aku mikir abang cowok gampangan yang suka manfaatin cewek. Pikiranku ngga sedangkal itu. Lagian, aku sendiri yang mau nganterin abang. Ngga ada yang maksa, apalagi nyuruh. Jadi sekarang, tolong terima niat baik aku. Kelamaan debat, kita bisa beneran subuh disini, loh."
"Tapi gimana lo pulangnya nanti? ngga mungkin gue nyuruh lo pulang sendiri tengah malam kan?"
"Itu jadi urusan aku bang, ngga usah abang pikirin." Sairish mendengus kesal, dia harus banyak menstock rasa sabar kalau harus menghadapi Sean kedepannya.
"Tapi gue ada kuliah pagi besok." Akhirnya suara Sean terdengar lebih bersahabat dibandingkan dari tadi yang tarik urat leher terus.
"Aku bisa jamin. Subuh nanti, motor abang udah di depan rumah." Sairish berucap final, dia menutup perdebatan itu dengan kemenangan telak, setelah membuat lawannya tidak bisa menyanggah ucapannya lagi.
Satu yang dia tau tentang Sean, laki-laki itu keras kepala. Tapi maaf saja, sekeras kepalanya Sean, lebih keras kepala lagi Sairish.