Niat Clubbing Sairish dan Adena akhirnya terealisasi tanpa ada Mikayla dan Rara. Mikayla yang berniat ikut langsung dikurung oleh Jayden di apartemen laki-laki itu. Sedangkan Rara, jelas tidak akan menginjakkan kakinya ke tempat laknat seperti itu. Rara adalah gadis yang taat agama, beda dengan ketiga sahabatnya yang masih uring-uringan kalau diajak sholat. Entah apa yang membuat gadis lembut itu betah bersahabat dengan ketiga jelmaan iblis cantik itu. Rara salah masuk Circle pertemanan sepertinya, tapi dia sangat menyayangi ketiga sahabatnya. Karna hanya mereka dan anak-anak panti yang dia punya di dunia ini.
Suara musik berdentum kuat di dalam Club tidak membuat Sairish dan Adena ikut menggila. Mereka berdua hanya duduk diam meminum orange juice-nya, sesekali menggoyangkan kaki, tangan, dan kepalanya mengikuti irama musik yang semakin keras memekkan telinga.
Banyak laki-laki tampan yang berpenampilan ala mahasiswa bahkan eksekutif muda yang melirik kedua gadis cantik itu, tapi tidak ada yang berani mendekat karna pasti ada saja orang-orang kekar yang menjegal mereka dengan dalih kenyamanan pelanggan. Padahal mereka itu adalah bodyguard khusus yang menjaga Sairish kemanapun gadis itu pergi. Walaupun dia berpenampilan biasa dan bertindak urakan, tetapi keamanannya tetap terjaga. Dia tidak suka berbicara dengan orang asing, apalagi di tempat laki-laki mencari kesenangan seperti ini.
"Arah jam 10, Den. Cowoknya lumayan, dari tadi ngelirik kesini terus. Cocok ngga kalo dijadiin suami?" Sairish bertanya pada Adena yang sibuk menggoyangkan kepalanya mengikuti irama musik.
Pandangan Adena langsung tertuju pada seorang laki-laki yang terlihat tengah menatap mereka. Penampilan, oke. Wajah, oke. Dilihat dari pakaiannya yang branded semua mulai dari jas Armani, sampai sepatu Dolce&Gabbana yang harganya bikin Adena megap-megap itu, sudah pasti laki-laki itu kaya, punya penghasilan fantastik, tipe eksekutif muda yang tajir melintir. Tapi sayang, kalau dilihat dari tampangnya, dia adalah laki-laki pencinta one Night stand. Tipe laki-laki yang tidak suka terikat. Jelas dia bukan kandidat terbaik, bahkan yang burukpun malah lebih buruk dari tipe yang seperti itu. Lagipula apa-apaan mencari calon suami di Club malam. Gila memang si Sairish, batin Adena.
"Kalo mau cari calon suami, jangan nongkrong disini, sayang. Disini tempat orang-orang cari parnert s*x semalam." Adena mendengus melihat Sairish yang menyengir mendengar gerutuannya. "Besok kita nongkrong di Mushola kampus, biar ketemu calon imam yang soleh dunia akhirat. Liat lo yang ngebet nikah gini bikin gue juga pengen. Besok kita cari sama-sama lah." Adena terlihat antusias mengeluarkan idenya.
"Asal ngga kak Sean aja yang lo gebet." Sairish berkata, yang disambut kekehan geli dari Adena.
"Tenang aja, yang itu jatah lo kok. Gue ngga suka cowok kaku minim senyum kayak kak Sean." lagi-lagi terdengar kekehan geli dari Adena membuat Sairish juga ikut tertawa.
****
Hampir dua jam mereka duduk menikmati suasana Club yang semakin lama semakin ramai itu. Sairish melirik jam di pergelangan tangan kirinya, jam seharga 25 ribu yang dibelikan mbok Sumi dipasar, yang hanya dia pakai ketika berpenampilan sederhana seperti ini. Sairish mendesah pelan, dia melirik Adena yang juga sudah mulai terlihat kebosanan itu.
"Pulang yuk, udah jam setengah 12 nih, besok gue ada jadwal kuliah pagi. Takut bangun kesiangan," Sairish berucap yang dibalas anggukan oleh Adena.
Kedua gadis itu perlahan bangkit. Melihat Sairish dan Adena yang bangkit berdiri, dua orang pria kekar tadi langsung berdiri dan berjalan mendahului. Mereka menjaga jarak agar tidak dicurigai, sedangkan dua pria kekar lagi berjalan di belakang kedua gadis itu. Menjaga di belakang agar tidak ada yang berbuat m***m kepada bos mereka.
"Aah, akhirnya telinga gue terselamatkan. Pengap banget di dalam." Adena merentangkan kedua tangannya, menghirup udara luar dengan rakus membuat Sairish mendengus geli.
"Kita pulang pake apa?" Adena bertanya dengan mata yang fokus ke layar ponselnya.
"Pake motor lah." Sairish menjawab santai.
"Ngga, ngga mau gue. Pinggang gue sakit gara-gara kelamaan duduk di motor butut lo tadi.
"Terserah, yang pasti gue mau pulang pake motor."
Adena yang berniat memanggil salah satu bodyguard Sairish langsung terhenti karna tiba-tiba laki-laki yang mereka lihat di dalam Club tadi berdiri di hadapan mereka.
"Hai, boleh kenalan. Gue Randy," laki-laki itu menjulurkan tangan sambil tersenyum hangat yang membuat siapapun akan terpesona, 'tampan, tapi spesiesnya sama kayak Regan.' Sairish membatin.
"Hai, boleh," Sairish tersenyum lalu membalas uluran tangan laki-laki itu. Gue Sairish, dan ini sahabat gue, Adena." Adena ikut-ikutan tersenyum walaupun terlihat ogah-ogahan menerima uluran tangan dari laki-laki yang bernama Randy itu.
"Kalian mau kemana habis ini?" Randy bertanya sambil masih tersenyum hangat seperti tadi.
"Pulang."
"Kalian mau gue antar ngga? Sekalian gue juga mau pulang nih." Randy melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Jam tangan Rolex yang harganya hampir mendekati harga mobil Pajero Sport terbaru. 'Sombong' umpat Sairish.
"Ngga usah deh, kita bawa motor sendiri soalnya." Kali ini adena yang menjawab, agak sedikit ketus menurut pendengaran Sairish. Gadis itu tersenyum dalam diamnya, pasti Adena kesal, pikir Sairish.
"Ngga papa, ngga baik cewek-cewek pulang berdua malam-malam gini. Apalagi pake motor. Takutnya ada apa-apa di jalan," Randy masih kukuh ingin mengantar pulang.
"Kita udah biasa kok, Lain kali aja ya." Perkataan Sairish membuat senyum yang sedari tadi bertengger di bibir Randy perlahan hilang.
"Oh, ya udah kalo gitu. Tapi boleh kan saya minta nomor kamu?" laki-laki itu menunjuk Sairish tanpa memandang sedikitpun ke arah Adena. Sepertinya dia kesal karna Adena tidak menyembunyikan raut kesalnya sedari tadi. Berbeda dengan Sairish yang selalu tersenyum ramah.
"Boleh, boleh." Sairish langsung menyebutkan rentetan nomor ponselnya yang disambut sumringah oleh laki-laki itu. Lalu dia mencoba untuk menghubungi. Terdengar nada sambung membuat Randy tersenyum puas.
"Okay, thanks ya. Nanti saya hubungi," laki-laki itu berlalu setelah berbasa basi sebentar dengan kedua gadis itu.
Ketika dirasa Randy sudah tidak terlihat, tawa membahana langsung keluar dari bibir kedua gadis itu.
"Anjiiirr, niat banget lo kasih nomor ponsel mbok Sumi sama tu cowok." Adena terpingkal-pingkal memegangi perutnya. Kesal yang sedari tadi dia tahan langsung menghilang karna kelakuan Sairish yang menjahili laki-laki yang bernama Randy itu.
"Siapa suruh dia genit, mana sombong lagi." Sairish tersenyum sinis, sisa tawa masih tercetak di kedua bibirnya. "Biarin aja dia ngomong sama mbok Sumi, palingan juga mbok Sumi ngira dia tukang sayur langganannya di pasar." Adena lagi-lagi tertawa kencang.
Akhirnya mereka pulang setelah puas menertawakan si Randy-Randy itu. Adena juga berakhir duduk di boncengan motor butut Sairish setelah kalah berdebat dengan gadis itu. Sedangkan mobil bodyguard mereka mengikuti dari belakang.
"Wah, kasihan banget tuh orang tengah malam dorong motor kayak gitu. Di sekitar daerah sini kan ngga ada bengkel juga." Sairish bersuara kencang agar Adena mendengar ucapannya.
"Ngga usah aneh-aneh, jalan aja. Takutnya itu begal yang sedang pura-pura." Adena menimpali, dagunya masih setia bertengger di bahu Sairish. Dia sudah mulai mengantuk efek dari angin malam yang terasa menusuk di kulitnya.
Semakin dekat jarak mereka dengan sang pendorong motor, semakin Sairish menajamkan penglihatannya. Dia sedikit mengenal pakaian yang dipakai laki-laki itu, juga motornya, karna tadi siang mereka sempat mengobrol di parkiran motor di bawah pohon beringin.
Tidak salah lagi, Sairish tersenyum lebar ketika menyadari siapa laki-laki itu. Batinnya bersorak senang. Gadis itu mengingat perkataan Rara tadi sore, 'mungkin dia memang takdir gue.'
Motor Sairish berhenti persis di sebelah laki-laki yang sedang mengistirahatkan diri itu, mungkin dia lelah mendorong motornya sedari tadi. Adena yang misuh-misuh karna acara tidur ayamnya terganggu, ikut kaget ketika menyadari siapa yang bediri di sebelah motor yang mogok itu.
"Motornya kenapa, bang?" Sairish tersenyum hangat ketika menyadari wajah terkejut laki-laki itu.
"Ban-nya pecah." hanya itu yang mampu di ucapkan laki-laki itu pada gadis yang melamarnya tadi siang.