Sairish melahap kentang goreng di depannya dengan nikmat, sesekali dia menyeruput jus apelnya membuat Mikayla yang duduk di depannya mengernyit heran.
"Lo ngga makan dari kapan, Rish?"
"Pesenin minum lagi dong, udah abis nih." Sairish menunjuk gelasnya yang tinggal tetesan terakhir itu tanpa menjawab pertanyaan Mikayla.
"Ck ...." Mikayla meraih telepon di ruangannya dan menghubungi pekerja di bagian dapur Cafe nya.
"Hallo Tam, tolong buatkan jus Strowberry dua. langsung antar ke ruangan saya." Mikayla langsung meletakkan kembali telepon di tempatnya. Dia kemudian kembali fokus menatap Sairish dengan kentang goreng porsi besarnya.
"Lo kenapa?" Pertanyaan ampuh yang langsung membuat Sairish meletakkan kentang goreng yang hampir masuk ke mulutnya. gadis itu meraih tissu dan melap tangannya yang berminyak. Kemudian dia bersandar di sofa sambil memangku tangan, menatap tepat ke arah bola mata sepupunya.
"Gue ditolak!" Padat, singkat, dan jelas.
"Lo lamar kerja?" Mikayla menatap Sairish dengan polos, membuat gadis itu mendengus kesal.
"Gue serius, Ka."
"Iya, iya, sorry." Mikayla mengulum bibirnya menahan tawa, "siapa pula yang nolak lo? berani bener dia. Apa dia ngga tau siapa Sairish Dayana Malik? minta di smackdown tuh orang." Mikayla pura-pura mengepalkan tangannya kesal membuat Sairish langsung mendelik sinis.
"Lo pikir, gue tukang pukul, main smackdown anak orang aja."
"Apa dia cowok yang dibilang Adena kemarin?" Mikayla kembali bertanya, kali ini dengan raut yang berubah serius.
"Hm ...." Sairish hanya bergumam saja, wajahnya terlihat lesu. pandangannya terarah ke jalan raya, melihat lalu lalang motor dan mobil dari lantai dua, diiringi rintik hujan yang mulai turun. Terdengar helaan napas gadis itu, "ini bulan berapa ya, Ka? kok hampir tiap hari hujan mulu. Gue kan jadi keingat dia lagi." Sairish bergumam pelan diakhir kalimatnya.
"Lo ngigo apa gimana sih, ngga usah ngelamun deh. Sini cerita dlu, gimana bisa lo ditolak." Mikayla menarik pelan pundak Sairish agar kembali menghadap ke arahnya.
"Ck, tungguin Aden sama Rara dulu deh. Gue males harus jelasin ulang lagi nanti. Bangunin gue kalo anak dua itu udah datang, sekarang gue mau tidur dulu." Tanpa menunggu tanggapan Mikayla, Sairish langsung melengos ke arah kamar yang biasa mereka pakai untuk istirahat.
****
Sairish tidak tau, sudah berapa lama dia tertidur. Samar terdengar suara-suara percakapan dari luar kamar tempat dia beristirahat. Gadis itu perlahan bangkit dan sejenak meregangkan otot-ototnya yang kaku, berjalan ke arah kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok giginya.
Sairish keluar kamar, dilihatnya ketiga sahabatnya sedang duduk lesehan sambil menyantap potongan buah, lengkap dengan sambal rujaknya.
"Waah, tumben ngerujak nih. Apa gue bakal dapat kado ponakan baru lagi? Kali ini dari siapa?"
Mereka semua kompak menoleh ketika mendengar suara Sairish yang berbicara.
Adena langsung melempar potongan melon ke arah Sairish, gadis itu mencibir kesal. "Ngaco lo, kita semua masih ting-ting nih. Kecuali Mak nya si bocil doang. Ya ngga, Mas?"
Perkataan tiba-tiba Adena membuat Jayden yang sedang bermain dengan Kei di atas sofa langsung terbatuk pelan. Laki-laki itu langsung menyembunyikan tubuh anaknya ke dalam pelukan. Takut Kei mendengar ocehan absurd Adena.
"Bacot, lo. Ada anak gue tuh." Mikayla menatap sinis ke arah Adena yang dibalas cengiran lebar gadis itu.
"Kei menggeliat dalam pelukan ayahnya, pria kecil itu merentangkan tangan meminta Sairish untuk menggendongnya.
"Buna, endong." Pria kecil itu bergumam pelan sambil mengerucutkan bibirnya lemah, terlihat raut pucat dan lesunya. Keponakannya yang biasanya cerewet bertanya ini dan itu, tersenyum dan tertawa lebar pada siapapun, kini terlihat tidak bersemangat karna sedang sakit.
"Hai, boy. Mana yang sakit?" Sairish mengambil alih Kei dari gendongan ayahnya. Hangat tubuh Kei langsung terasa sesaat setelah pria kecilnya merebahkan kepala di ceruk leher Sairish.
"Kapan datang, Kak?" Sairish menyapa Jayden sambil menimang Kei. Terlihat bocah itu sudah mulai terlelap.
"Udah lumayan lama. Abis bawa Kei ke dokter tadi, langsung ke sini. Kei biar sama gue aja, mereka lagi nungguin lo bangun soalnya." Dagu Jayden terarah ke belakang menunjuk ketiga gadis yang masih asyik melahap potongan buah itu.
"Sini boy, biar Chichi yang gendong. Buna mau maem dulu, kasihan buna pasti lagi laper." Jayden membujuk anaknya untuk berpindah gendongan.
"Buna lapel?" terdengar suara lemah pria kecilnya membuat Sairish merasa iba. Ingin terus menggendong Kei tapi pandangan ketiga sahabatnya sudah mengintimidasinya sedari tadi.
"Um, Buna boleh makan dulu, ngga?" pertanyaan Sairish langsung di balas anggukan pelan dari Kei.
Walaupun terlihat tidak rela, Kei merentangkan tangannya ke hadapan sang ayah. "Chichi, endong."
Jayden langsung mengambil alih Kei dari gendongan Sairish tanpa drama dari pria kecil itu. Menimang-nimang hingga Kei sudah kembali menutup matanya. "Sepertinya Kei ngantuk habis minum obat tadi," Jayden bergumam pelan.
"Jay, kelonin Kei di kamar aja, disini berisik."
Mendengar perkataan Mikayla, Jayden langsung berlalu ke dalam kamar tempat Sairish tidur siang tadi.
"Lo belum maafin mas Aro, Ka?" Adena bertanya pelan, takut suaranya di dengar Jayden di dalam kamar.
"Ck, ngga usah bahas gue dulu. Nih sobat lo, gimana nasibnya sekarang. Dia udah di tolak soalnya."
Walaupun kenyataan ditolaknya Sairish sudah diceritakan oleh Mikayla tadi. Tapi mendengar lagi kata-kata itu kembali, membuat tawa mereka bertiga kompak terdengar. Kenyataan Sairish di tolak itu benar-benar menggelitik perut mereka.
"Kayaknya bahagia banget ya ngetawain gue nya. Udah puas? Kalo belum, gue tinggal tidur lagi nih."
"Yee, gitu doang ngambek. Sini lo, cerita. Padahal udah gue kasih wejangan sebelum lo bertempur. Lo pasti bikin ulah ya?" Adena memicingkan matanya sambil menatap intens ke arah Sairish.
Gadis itu balas menatap sinis ke arah sahabatnya, "gue ngga ngapa-ngapain. Gue udah bersikap kalem banget malah." Sairish berusaha membela diri.
"Coba ceritain ulang dari awal, biar kita bisa revisi salah lo dimana." Rara langsung menginterupsi.
Mikayla mendengus geli, "kita lagi bahas cowok, bukan skripsi, Ra. Pake segala dibilang revisi lagi."
"Ya allah, mamak-mamak satu ini ribet banget sih. Udah diem, nikmatin aja napa? Keburu mati penasaran gue." Adena mendumel kesal.
Aauuww. Adena meringis setelah merasakan cubitan kepiting dari Mikayla. "Sialan lo, Ka. Sakit banget nih."
"Bodo amat. Siapa suruh lo rese. Lo sama aja kayak sepupu lo tuh." Mikayla menimpali dengan kesal.
"Lo kesal sama mas Aro, kenapa jadi lampiasin ke gue sih."
"Tau, ah. Kesel gue sama sepupu lo."
"Ini gimana ceritanya sih? Masih mau debat kalian berdua? Biar gue sama Irish pergi nih." Rara yang sudah mulai kesal akhirnya bersuara.
"Ngga, ngga. Sorry, cantik. Ya udah, mulai deh." Adena akhirnya mengakhiri perdebatan panjangnya. Bisa fatal kalo sampe Rara yang pendiam itu mengamuk, lebih baik mengalah saja, pikirnya.
Akhirnya Sairish menceritakan semuanya yang dia bicarakan dengan Sean tadi siang tanpa berniat menutupi apapun. Termasuk saat Sairish dikatai sinting oleh laki-laki datar itu.
Sedangkan ketiga sahabat yang mendengarkan ceritanya sudah tidak bisa mengontrol suara tawa mereka.
"Lagian lo, tanpa tendeng aling-aling langsung ngajak nikah anak orang. Basa-basi dulu kek, cari topik apa gitu." Mikayla berusaha meredam suara tawanya.
"Kan udah gue bilang, sayang. Kak Sean itu ngga suka cewek genit. Ini malah lo main ngajak nikah tiba-tiba gitu, wajar aja lo dibilang sinting."
Lagi-lagi suara tawa mereka membahana membuat Sairish mendengus kesal.
"Terus gimana dong? Dia udah nolak gue nih. Apa cari yang lain aja?" mata Sairish berbinar setelah mengutarakan ide briliant-nya.
Adena langsung membantah keras, "no, no, no." Telunjuk gadis itu bergerak kiri kanan tanda penolakan. "CV laki-laki lain Ngga ada yang sebagus kak Sean. Pokoknya gue ngga mau tau, lo harus bisa dapatin hatinya kak Sean." Adena berucap tegas, "kita akan bantu lo dari belakang. Ya ngga, guys?" Adena meminta dukungan dari Mikayla dan Rara yang dibalas anggukan mantap kedua gadis itu.
"Gimana caranya kalian bantu gue?" Mata Sairish kembali berbinar, mungkin ide sahabat-sahabatnya akan sangat membantunya.
"Ya, kita bertiga akan perkuat doa, minta sama Allah biar kak Sean jadi jodoh lo." Adena menjawab santai.
"Sial ...." Sairish langsung menendang paha Adena yang tepat berada di depannya, gadis itu mendengus kesal. Sedangkan ketiga sahabatnya malah kembali heboh menertawakan nasib Sairish. 'gini amat cari jodoh' batin gadis itu.
"Udah, jalanin kayak biasanya aja, Rish. Deketin pelan-pelan, buat dia nyaman. Cowok akan luluh kalo digituin." Mikayla ikut menimpali.
Tapi kalo kayak gitu caranya, kelamaan, Ka. Waktu gue ngga banyak." Sairish mengeluh, wajahnya terlihat frustasi.
"Udah ngga usah terlalu di pikirin, jalanin aja dulu. Insyaallah kalo jodoh, dia tetap akan buat lo kok. Perbanyak doa, minta sama Allah. Kalo dia yang terbaik, pasti akan di dekatkan. Percaya itu aja."
Nasehat Rara benar-benar membuat hati Sairish tenang. Setidaknya dia punya Allah, pikirnya.
"Thank's guys. Sebagai ungkapan terima kasih gue, gimana kalo ntar malam kita Clubbing." Sairish tersenyum jumawa.
"Kampret, baru juga diingatin untuk perbanyak doa biar dapat jodoh bagus. Eh, dia malah ngajak Clubbing lagi. Kuy, lah, traktir." Adena dan Sairish bertos ria membuat Mikayla dan Rara sama-sama mengurut d**a pelan.
"Gini amat punya sahabat." Rara memandang jengah ke arah dua sahabatnya yang masih heboh membahas Club mana yang akan mereka datangi nanti malam.
"Udah, Ra. Percuma nasehatin anak-anak bebal itu. Kasihan mulut lo, mending di pake buat makan aja." Mikayla berusaha menguatkan Rara yang sudah terlihat pasrah itu.
"Jam berapa lo balik ke rumah?" Rara akhirnya mengalihkan perhatiannya pada Mikayla.
"Gue ngga pulang."
"Lo mau nginap sini?"
"Ngga, gue mau ikut mereka Clubbing." Mikayla menjawab santai.
Mulut Rara langsung menganga lebar. Dosa apa dia punya tiga sahabat yang minim akhlak seperti ini.
"Anak lo sakit, tolol." Rara akhirnya murka juga. Dia melempar kepala Mikayla dengan mainan Kai secara membabi buta.
Jadi Rara pasti capek banget ya. Punya sahabat otaknya gesrek semua?