"Rish, lo beneran mau temuin kak Sean sekarang?"
Sairish yang sedang mengikat tali sepatunya hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Adena. Sekarang mereka berdua sedang berada di Mushola kampus setelah melaksanakan sholat zhuhur.
"Ck, bisa di tunda ngga? gue ngga bisa temenin lo nih." Adena berdecak kesal, "mana bentar lagi gue masuk kelas, ck." Lagi-lagi gadis itu berdecak membuat Sairish menoleh sejenak.
"Lo pikir gue bocah pake di temenin segala. Lagian yang gue temuin itu orang, bukan dedemit." Sairish bersungut kesal, dia lalu mengambil lollipop di dalam tas nya. membuka bungkusnya kemudian dia masukkan ke dalam mulut. sesaat gadis itu menghela napas pelan.
"Lo emang bukan bocah, tapi kelakuan lo tuh masih kayak bocah. Udah gede juga masih aja ngemut lollipop. Permen kiss noh lo emut, biar wangi napas lo."
"Napas gue udah wangi," Sairish menatap Adena, lalu menaikkan sudut bibirnya, "wangi duit."
"Sial." Adena terkikik pelan, "mana Mika absen lagi. ini juga, si Rara mana sih? dia kuliah pagi ngga, hari ini?"
"Dia masuk sore, Aden. Ya allah, kenapa rempong banget sih, lo." Sairish memandang jengah ke arah Adena, yang dibalas dengusan kesal gadis itu.
"Ya, lo sih. pake acara mau nyamperin kak Sean hari ini. Personil kita kan lagi ngga lengkap." Adena memberenggut kesal.
"Lo pikir, gue mau ikut qosidahan pake personil lengkap. Gue cuma mau ketemu orang sebiji doang, ngga usah rempong kayak mak-mak lagi nawar cabe di pasar deh, ribet."
"Eh, eh, arah jam 9 Rish," Adena mencolek bahu Sairish kemudian mengedikkan dagunya ke arah samping gadis itu.
"Masyaallah, malaikat tuhan sedang turun ke bumi ya, Rish. Adem banget liatnya, sejuk gitu. Berasa lagi rebahan di atas dadanya." Adena tersenyum lebar, tidak lupa matanya yang berbinar-binar menatap objek khayalannya.
"Jaga pandangan lo, bego. sempat-sempatnya lo genit sama gebetan sahabat sendiri." Sairish menoyor pelan jidat Adena setelah melihat siapa yang di bicarakan gadis itu.
"Cuci mata lah, Rish. Sebelum resmi dimiliki orang. Sukur-sukur lo yang dapat, kalo orang lain kan gue ngga bisa tebar pesona lagi." Adena terkikik geli.
"Kalo udah jadi milik gue, jangankan tebar pesona. Lo lirik aja, gue colok mata lo." Sairish tersenyum sinis, membuat Adena bergidik ngeri.
"Serem lo. Sana ah, pergi. Keburu cabut tuh orangnya. jangan lupa baca Bismillah dulu biar dilancarkan semuanya." Adena mendorong pelan bahu Sairish setelah melihat Sean keluar dari gerbang Musholla.
Sairish perlahan berdiri, mencepol ulang rambutnya yang sudah telihat kusut. Kemudian merapikan kembali kemejanya. Jangan lupakan Adena yang memaksa untuk memakaikannya lip tint, alasannya karna bibir Sairish kering. Padahal dua kali seminggu, Sairish akan selalu rutin datang untuk melakukan perawatan wajah dan tubuhnya. Sangat tidak mungkin kalau bibir gadis itu kering.
Setelah di rasa penampilannya sudah lebih baik, Sairish dan Adena berjalan keluar dari gerbang Musholla. Karna Adena mempunyai jadwal kuliah sekarang, jadi dengan terpaksa gadis itu melepaskan Sairish sendirian untuk berjuang mendapatkan calon suami. Sairish mendengus mengingat segala petuah Adena sebelum mereka berpisah untuk tujuan masing-masing.
"Pokoknya lo kudu kalem, yang. Jangan kasih tunjuk sifat lo yang songongable itu. pokonya, lo harus sopan, itu intinya. Karna gue lihat, kak Sean tipe cowok yang ngga suka cewek pecicilan dan genit. Dan lo," Adena menunjuk Sairish sambil memicingkan matanya, "ngga boleh tunjukin sifat kayak gitu kalo mau dapat cowok paket lengkap kayak kak Sean. Ingat, jangan sia-siain kesempatan ini. Lo ngga mau kan, dinikahin sama penjahat kelamin itu?"
"Iya, iya. udah, ah. Keburu pulang si doi nya." Sairish melenggang pergi meninggalkan Adena yang melongo kaget.
"Gila tuh anak, padahal masih ada petuah yang belum gue keluarkan. Udah lah, berdoa saja semoga dia ngga bikin ulah." Adena berlalu sambil meneliti jam tangannya.
"Anj*ng! gue telat!"
***
Sairish berjalan santai menuju bangku dibawah pohon beringin puluhan tahun itu. Tujuannya sudah jelas, ingin mendatangi laki-laki serius berwajah datar yang sedang asyik membaca bukunya. Ocean Tyaga.
Sairish tanpa permisi langsung duduk di samping Sean, membuat si empunya yang sedang asyik membaca buku terjengkit kaget. Sairish yang melihat itu hanya menyengir polos. Sean masa bodoh, dan kembali melanjutkan bacaannya.
Sairish memainkan lollipop yang berada di mulutnya, menimbang-nimbang kalimat apa yang pantas dia utarakan pertama kali dengan laki-laki disebelahnya.
Sairish mengetuk dua kali pundak Sean, membuat laki-laki itu kembali kaget. kali ini pandangan ketus yang Sean berikan. Tapi kemudian, dia kembali fokus. Benar-benar kecantikan Sairish tidak berguna dihadapan Ocean Tyaga.
"Bang ..." Gadis itu akhirnya bersuara setelah kode-kodenya dari tadi tidak berhasil membuka mulut Sean untuk bersuara.
Sean menoleh sekilas sambil menaikkan sebelah alisnya, "lo ngomong sama gue?"
Sairish mengangguk dua kali. "Disini cuma ada kita berdua. Tapi kalo abang khilaf, sudah pasti yang ketiganya setan."
Sean mendengus kesal, melirik sinis ke arah gadis yang mengajaknya bicara itu, "ada apa?"
"Abang ... mau nikah sama aku ngga?"
Pertanyaan yang mulus keluar dari bibir mungil seorang Sairish Dayana Malik membuat Sean membulatkan matanya. terlihat sekali raut terkejut dari laki-laki tampan disebelah Sairish ini. Bibirnya terbuka namun kembali tertutup, mungkin dia bingung ingin berkata apa.
"Tenang aja, aku cantik kok. Ngga akan bikin abang malu kalo bawa aku ke kondangan." Sairish menampilkan senyum manisnya, yang kata laki-laki lain sanggup meluluh lantahkan dunianya.
Tapi sepertinya tidak berguna pada Sean, laki-laki itu masih memasang wajah datar setelah mendengar perkataan Sairish. laki-laki itu memandang Sairish dari atas hingga bawah, lalu kembali ke atas lagi. memandang tepat di kedua bola mata coklat gadis aneh yang tiba-tiba mengajaknya menikah.
"Lo ... gila, ya?"
Sairish menggeleng, "ngga, aku waras kok. Sehat walafiat malah."
"Tapi, gue ngga kenal sama lo. gimana bisa, lo ajak gue nikah." Sean bertanya heran, masih ada ya orang random di dunia ini, pikirnya.
"Kita akan saling kenal kalo udah nikah kok." Gadis itu masih menjawab santai, seolah tanpa beban sudah mengajak laki-laki random menikah.
"Denger gue gadis kecil." Sean akhirnya memutuskan untuk fokus menghadap gadis yang duduk disampingnya sambil mengemut lollipop itu. 'bocah' pikir Sean.
"Gue ngga kenal lo, itu yang pertama." Sean mengangkat tangannya karna dia melihat Sairish yang ingin membuka mulut menyanggah perkataan Sean. "Gue belum selesai."
"Yang kedua, gue miskin. Gue hidup susah. Kerjaan gue masih serabutan, buat makan sendiri aja susah, apalagi mau kasih makan tambahan satu kepala. Kalo gue lihat, lo bukan cewek yang biasa hidup di tempat kumuh kayak tempat tinggal gue. jadi, sebelum lo nyesel ngajak gue nikah, lebih baik lo cari cowok lain yang selevel lo."
"Aku ngga masalah sama semua yang abang sebutin tadi."
sairish masih kekeh, membuat Sean mendengus sinis. Laki-laki itu tersenyum remeh sambil memandang gadis cantik yang masih setia memandangnya sedari tadi.
"Lo yakin mau hidup susah sama gue? kadang sehari lo bisa ngga makan. lo sanggup?"
"Asal abang setia, aku sanggup." Sairish berucap yakin.
"Sinting ...."
"Aku waras kok."
"Ya udah, gue yang sinting!"
Setelah mengatakan itu, Sean beranjak dari bangku parkiran menuju motornya. Lebih baik laki-laki itu segera pergi ke tempat kerjanya daripada meladeni pembicaraan absurd gadis aneh yang tidak tau dimana dia datang. Masa bodoh dengan Bagus yang akan marah-marah karna dia tinggal.
Sedangkan Sairish yang ditinggalkan hanya bisa melongo kaget. "Emangnya gue salah ngomong ya? kok gue ditinggal?" gadis itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kemudian mengedikkan bahunya acuh. "Masih ada hari esok, Rish. Hari ini lo di tolak, besok berjuang lagi. jangan patah semangat, girl. Ngga mau kan kalo dinikahin sama si bangs*t Regan?" Sairish menyemangati dirinya sendiri, dan berlalu dari bangku parkiran menuju motor butut mang Udin yang selalu dia bawa sebagai kamuflasenya.