“Nah, sudah tampan...” ucap Angela seraya menepuk jas biru dongker yang Aldrich kenakan untuk kesibukannya hari ini.
Mengecup bibir ranum wanitanya itu penuh kasih, “Terima kasih karena mengantarkan kepergianku pagi ini...” ucap Aldrich membuat Angela mengecup rahangnya penuh kasih.
“Karena hari ini aku memilih untuk bekerja dirumah, apalagi yang harus kulakukan selain membantumu bersiap dan mengantarkan kepergianmu...” ucap Angela membuat senyuman Aldrich kian merekah.
“Rasanya malas untuk pergi bekerja dan harus meninggalkanmu sendirian dirumah...” keluh Aldrich membuat Angela menariknya dalam pelukan yang hangat.
“Aku tahu pasti akan sangat melelahkan, tapi kau harus selalu ingat ada aku dan calon bayi mungil kita yang selalu menunggumu pulang...” ucap Angela membuat Aldrich mengecup dahi istrinya itu.
“Terima kasih selalu memberikan kekuatan untukku, dear...” bisik Aldrich kini membungkuk dan mengecup perut buncit istrinya itu.
“Hey, Little Spanos. Jaga Mommy, okay?”
“Okay, Daddy...” ucap Angela tergelak kala pegerakan kembali terasa di perutnya.
“Apa kita telah menganggu tidurnya?” tanya Aldrich dengan wajah innocetnya yang terlihat sangat lucu.
Mengangkat kedua pundaknya, “Maybe...” ucap Angela membuat Aldrich mendesah putus asa.
“Dia ppasti pemarah seperti ibunya...” desis Aldrich bersambut dengan pukulan angela pada otot lengannya.
“Berkaca pada dirimu, Tuan!”
Cuph!
“Berdebatnya nanti saja, sayang. Di ranjang...” bisik Aldrich memancing semburat merah memenuhi pipi gempal istrinya itu.
“Kau harus pergi sekarang sebelum aku memukulmu, Aldrich!” teriak Angela bersambut pelukan suaminya itu dengan sangat erat hingga ia memejam.
“Aku pergi sekarang, sampai jumpa nanti...” bisik Aldrich seraya mengecup dahi Angela dan memasuki mobilnya.
Angela hanya dapat tersenyum memperhatikan mobil Rolls Royce Panthom hitam pekat itu meninggalkannya dengan tangan Aldrich yang tak henti melambai kearahnya.
Memeluk tubuhnya sendiri dengan senyum yang kekal terukir diwajahnya, “Aku akan sangat merindukanmu...” lirinya berakhir berlalu masuk kerumahnya.
Katakan saja dirinya berlebihan, tapi Angela yakin semua wanita yang melepas kepergoian suaminya pasti akan merasakan hal yang sama dengannya. Sebuah rasa tidak rela dan khawatir, tidak rela ketika harus bergelut dalam rasa rindu dan khawatir jika memikirkan hal-hal buruk yang dapat terjadi diluar sana, entah kemalangan maupun godaan diluar sana.
Karena lebih dari tujuh langkah seorang suami keluar dari rumah, maka prianya itu adalah milik dunia dengan segala macam godaan yang ada...
***
“Ya Mama, kami baik-baik saja. Mama sendiri bagaimana kabarnya disana?” tanya Angela seraya melepaskan ikatan rambutnya.
“Paris terlalu asing untuk Mama. Tapi beberapa teman-teman mertuamu adalah orang Asia. Mama menjadi tidak merasa terlalu asing, cuaca musim gugur paris saat ini benar-benar sangat menenangkan dan begitu. Aku benar-benar seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya, menyedihkan sekali. Hahaha” ucapan sang ibu diiringi gelak membuat Angela merasa sedikit lebih tenang.
Ibunya kini sedang menghadiri undangan untuk pagelaran busana terbesar dunia mode yaitu Paris Fashion Week untuk beberapa rancangan musim gugur dan dinginnya. Atas bantuan ibu mertuanya, ibu kandungnya kini benar-benar merambah dunia fashion manca negara untuk semua hasil rancangan busananya. Nama fashion designer Tiffany Tjhong dengan brand busananya Tiff&Meg.AS sedang melejit di beberapa negara ternama.
Semua itu jelas atas sokongan suaminya dan dukungan dari ibu mertuanya. Termasuk cabang utama butik sang ibu yang dia jalankan saat ini adalah hadia yang Aldrich berikan untuknya yang merengek begitu ingin kembali bekerja. Tiff&Meg.AS Boutique yang merupakan sebuah merek yang terbentuk atas rembukan mereka bersama yang merupakan kepanjangan dari Tiffany dan Megan dan untuk AS adalah Aldrich dan Angela Spanos.
Norak sekali, bukan?
“Syukurlah jika begitu, kami sudah sangat merindukan kalian berdua disini, bagaimana kondisi kesehatan Mommy?” tanya Angela membuat wanita paruh baya itu terkekeh geli.
“Oh Angela, kami juga sangat merindukanmu dan menantuku yang tampan dan panas itu. Terlebih Megan, bahkan dalam tidurnya mertuamu itu sering kali mengomeli bayi besarnya...” ucapan sang ibu seraya tergelak membuat Angela hanya dapat mengulum senyumnya.
“Hei Tiff, aku mendengarkanmu!” teriakan sang ibu mertua membuat Angela mendesah lega bahwa ibu mertuanya yang kini tak muda lagi dan seringkali sakit-sakitan itu, kini terdengar begitu bersemangat.
“Mama, aku sangat berharap semuanya berjalan lancar disana. Katakan pada Momny untuk menjaga kesehatannya, ingat untuk selalu menjaga kesehatan karena aku membutuhkan kalian saat melahirkan nanti. Kita harus menyambut kelahiran jagoan kecil kami bersama..” ucap Angela tulus.
“Oh Tuhan, menantu ku tersayang, kau membuat dadaku berdebar hangat. Tak ada lagi yang dapat ku sangsikan selain mengamini doa terbaik yang kau berikan, sayang. Alana megan akan selalu sehat untuk menyambut cucu pertamaku terlahir kedunia ini...”
“Yeah, Angela. Kami berdua akan selalu sehat dan bahagia untuk menyambut kelahiran cucu pertama kami. Oh Tuhan putra mahkota ku...”
“Spanos’s Royal baby, Tiff!”
“Iya, maksudku seperti itu, Megan!”
Angela hanya dapat tergelak mendengar perdebatan lucu antara ibu kandungnya dan ibu mertuanya...
Menganggukkan kepalanya, “Ya Mom, doa ku untuk kalian berdua, para orangtua yang menyayangi kami dan yang terutama untuk suamiku...” ucap Angela seraya tersenyum menatap cermin dihadapannya itu.
“Aldrich sungguh sangat beruntung memiliki mu, sampaikan salam Mommy untuknya. Aissh anak itu sulit sekali menjawab telepon ku karena begitu sibuknya...” keluh Alana mengomeli putra kesayangannya itu.
“Yeah Mom, Aldrich memang sangat sibuk belakangan ini. Tapi aku selalu mengingatkannya untuk tidak terlalu stress. Mommy jangan khawatir mungkin sebentar lagi dia akan pulang. Oh ya, bukankah di sana sekarang sudah tengah malam?” ucap Angela seraya melirik jam yang menempel di dinding menunjukkan pukul 17.20 mengingat perbedaan waktu 6 jam antara Paris dan New York.
“Ya sayang, sekarang memang sudah hampir lewat tengah malam dan kami memang sedang bersiap untuk tidur. Mama mu tiba-tiba merindukan kalian. Angela, kalian tidak boleh sakit karena merindukan kami para orangtua. Oh God, kami sedang wisata pria-pria tampan disini...” kelakar sang ibu mertua dengan suara untuk menutupi nada sedih dibalik perhatian yang dia beri, tiba-tiba membuat mata Angela berkaca-kaca dalam haru.
“Mom, bisakah kau dengarkan aku? Jangan terlalu mengkhawatirkan kami, kami hidup dengan baik dan saling menjaga satu sama lainnya.” ucap menitikkan air matanya ketika mendengar isakan ibu mertuanya.
Masih lekat diingatannya, saat suasana haru biru saat sang ibu mertua harus dilarikan kerumah sakit karena serangan jantung ringan. Diusia 63 tahun dengan catatan mantan perokok berat dan seorang olkoholic, ibu mertuanya itu rentan terserang penyakit. Aldrich pun tak dapat menyalahkan pola hidup ibunya yang salah sewaktu muda saat meninggalkan rumah karena perselingkuhan suaminya.
Semua itu memang sangat berat untuk Aldrich kecil hingga mendulang trauma hingga dewasa, namun tetap saja yang paling hancur dan terluka adalah ibunya. Alana Megan yang malang dan rapuh, wanita mandiri yang selalu membalut luka dan kehancurannya dengan senyum terbaiknya.
“Mommy sangat mencintaimu Angela, tolong jaga suami mu disana ya, sampaikan salam ku untuk bocah nakal itu. Tunggu kami kembali dan berkumpul bersama kalian.”
“Ya, Mom, kau dan Mama juga. Istirahatlah, besok pagi Aldrich pasti akan menghubungimu...” janji Angela pada ibu mertuanya itu.
“Baiklah, Mommy tutup teleponnya ya...”
“Yes, Mom...”
Pip!
Tersenyum saat tampilan yang berakhir berubah menjadi layar utama ponselnya yang menampilkan foto pernikahannya dengan Aldrich. Rasanya baru saja kemarin pernikahan itu berlangsung.
“Aissh... Mengapa waktu begitu cepat berlalu...” gumam Angela seraya menghempaskan tubuhnya ke ranjang.
“Aldrich, aku sangat merindukanmu...” lirih Angela seraya memeluk batal gulingnya dengan erat.
Bukankah hidup ini lucu? Saat menunggu semua orang ingin waktu cepat berlalu. Tapi saat tidak menyadari waktu berlalu begitu cepat, pasti akan tetap mengeluh. Situasi dan kondisi dapat membuat manusia terlihat begitu konyol dengan keinginannya yang berubah-ubah. Namun, perihal hati yang mencinta, dapatkah semua itu berubah begitu saja seiring dengan berjalannya waktu?
“Entahlah, terlalu naif jika aku mengatakan tidak...” gumam Angela malas menanggapi pikirannya yang kini berseluncur bebas memikirkan apapun itu. Banyak sekali hingga membuatnya pusing.
Begitulah rumitnya wanita saat melawan dan berperang dengan pkirannya sendiri. Overthinking like a s**t!
But not really s**t, sigh!
Beginilah jika dirinya tidak melakukan apapun seharian selain mengurus pekerjaan dirumah dan melakukan yoga dan olahraga ringan. Hanya pergi berjalan-jalan disekitar taman rumah yang luas nan besar itu untuk memotret objek-objek yang menarik hatinya, pergi berbelanja untuk barang-barang yang tidak terlalu penting.
Angela masih sama, dia bukan anti sosial, namun juga bukan seorang wanita sosialita yang berkumpul dan bergosip sesama istri-istri para konglomerat ternama di New York. Angela lebih menyukai kehidupannya yang terbilang apa adanya.
“Apakah Daddy sudah akan pulang atau masih sibuk dengan pekerjaannya?” gumam Angela menatap langit-langit kamar seraya menggerakkan tangannya mengusap perut buncitnya, lalu mengusap permukaan kasur hingga terlihat seperti burung yang mengepakkan sayapnya.
”Eum, kau tak tahu atau kau sedang tertidur dengan pulasnya?” tanya Angela sontak tersenyum saat merasakan pergerakan bayi di dalam kandungannya.
Angela lantas tersenyum kala deru mobil Aldrich terdengar. Kaki jenjangnya kontan turun dari ranjang dan sedikit berlari kecil untuk keluar dari kamarnya yang berasa di lantai dasar. Rumah besar ini membuat semuanya menjadi begitu jauh, bahkan menuju pintu utama pun menghabiskan banyak waktu dan semua itu terasa sangat amat menyebalkan.
-
Aldrich tersenyum senang saat berhasil menghentikan mobilnya tepat di depan pinu utama rumahnya dan pintu mobil pun terbuka oleh Mr. Karl.
“Selamat datang, Mr. Spanos...” sapa pria paruh baya itudengan begitu ramahnya.
“Selamat sore, Karl...” balas Aldrich seraya keluat dari mobil tersebut sembari membawa bungkusan makanan dan barang-barang yang ia beli saat berkunjung ke pusat perbelanjaan tadi sebelum pulang kerumah.
Cklek! Kriiieeet...
“Aldrich...” ucap Angela berlari kedalam pelukan sang suami yang sangat ia rindukan itu.
“Ah, kau pasti sangat merindukanku, bukan?” tanya Aldrich menggoda.
Angela menggeleng seraya menyesap aroma tubuh suaminya itu untuk menawarkan rasa rindu yang menggila, “Tidak...” gumamnya dengan mata tertutup, namun kala Angela menyesap aroma tubuh sang suami semakin dalam, matanya kontan membelak.
“Benarkah begitu?” tanya Aldrich hendak balas menyesap aroma tubuh istrinya namun wanita itu tanpa aba-aba menolak tubuhnya hingga pelukan mereka terlepas.
“Angela, ada apa?” tanya Aldrich tak mengerti.
Angela menatap pria itu penuh curiga, “Aldrich, kau darimana saja?” tanyanya penuh selidik membuat Aldrich mengangkat sebelah alisnya.
“Kenapa sayang? Apa ada yang salah?” tanya Aldrich tak mengerti.
Angela mengusap hidungnya untuk mencerna aroma asing yang menempel pada tubuh suaminya itu, “Aroma tubuhmu terasa berbeda...” ucap Angela sulit menjabarkan aroma manis bunga dan buah yang berbaur dengan aroma khas maskulin tubuh Aldrich.
Aldrich pun terkekeh geli tanpa beban, “Kenapa, sayang? Hem, sepertinya tercium aroma kecemburuan disini...” gumamnya menggoda seraya mengendus-ngendus tubuh istrinya itu.
Menolak tubuh suaminya kesal, “Jangan tertawa, aku bukan sesuatu yang bisa kau jadikan lelucon!” bentak Angela membuat Aldrich tersenyum seraya menggeleng samar.
“Maaf sayang, aku hanya bercanda...” ucap Aldrich membuat mata Angela bergerak liar.
“Apakah kau baru saja bertemu dan menghabiskan waktu dengan seorang teman wanita?” selidik Angela mengikuti Aldrich yang kini berjalan menuju ruang makan untuk meletakkan semua bungkusan makanan dan kantong kertas diatas meja.
“Aldrich, aku bertanya padamu!” teriak Angela menarik siku Aldrich dan pria itu kembali menghela napasnya lelah.
Menahan kedua pundaknya, “Sayang, maafkan aku, ya?” tanya Aldrich membuat Angela kian mengerutkan dahinya tak suka. Bahkan dadanya kini berdebar kencang dalam semua rasa kalut yang ada.
“Aldrich, katakan yang sebenarnya padaku...” ucap Angela datar membuat Aldrich menatapnya semakin penuh sesal.
“Aku sudah meminta maaf padamu, apakah itu masih kurang?” tanya Aldrich membuat Angela melengos, dirinya tak mampu mengatakan apapun lagi.
“Aku tidak sedang bercanda. Katakanlah yang sebenarnya dan sejujur-jujurnya padaku, Aldrich...” ucap Angela dengan mata berkaca-kaca.
Aldrich kini benar-benar merasa bersalah melihat istrinya yang hampir menangis, “Sayang...” ucapnya seraya menyelipkan surai halus itu pada sela telinga Angela, lalu menangkup wajah cantik itu.
“Katakan padaku yang sebenarnya, Aldrich. Jangan berpikir kau bisa mempermainkan ku...” ucap Angela menitikkan air matanya membuat Aldrich mengusap air matanya.
“Ssstt... Jangan menangis sayang. Maafkan aku...” ucapnya seraya membawa tubuh mungil itu kedalam pelukannya.
Permintaan maaf Aldrich semakin membuat hati Angela bergetar dalam rasa kalut dan takut. Kini lututnya benar-benar merasa lemas, apakah benar aroma yang ia temukan adalah aroma tubuh wanita lain?
“Sayang, maafkan aku. Aku mohon jangan menangis. Aku bisa menjelaskan semuanya padamu...” ucap Aldrich dengan tatapan yang amat sulit untuk diartikan.
Kini rasa hatinya benar-benar bercampur aduk, “Berhenti meminta maaf, Aldrich!” bentak Angela dengan suara yang bergetar karena tangis dengan tangan yang menolak tubuh Aldrich agar melepaskan pelukannya.
Namun Aldrich tetap memeluk tubuhnya dengan erat, “Maafkan aku sayang, maaf telah membuatmu salah paham. Awalnya aku berpikir ini lucu tapi sungguh aku minta maaf jika bercanda ku kelewatan...” ucapnya bersungguh-sungguh membuat Angela menggeleng dalam ketidak-mengertiannya.
“Jelaskan padaku dengan benar, Aldrich!” teriak Angela membuat Aldrich berkedip takut.
“Aku memang pergi bersama wanita lain, tapi-”
Angela menolak tubuh Aldrich sekuat tenaga hingga pelukannya terlepas dan berlari memasuki rumah itu, tak peduli jika Aldrich turut mengejar langkahnya dan tak sanggup untuk berpikir lagi bahwa kinidirinya berbadan dua.
Saat hendak memasuki kamar, Aldrich berhasil menarik tubuhnya hingga terjatuh kedalam pelukan pria itu.
“Dengarkan aku sebentar saja, sayang. Sungguh, aku bisa menjelaskan semuanya...” ucap Aldrich membuat Angela menutup kedua telinganya.
“Aku tak ingin mendengarkan apapun Aldrich!” bentak Angela berteriak hingga lehernya menerik.
Menangkup wajah cantik itu seraya menatap matanya dalam, “Jangan berteriak sayang, lehermu bisa sakit...” bujuk Aldrich membuat Angela kontan membuang tatapannya.
Hatinya benar-benar tidak siap dan takut akan kecewa jika penjelasan Aldrich tidak dapat ia terima.
“Sayang, kau ingat? Mulai dari kemarin aku rutin bertemu dengan para tim Arsitek dalam tahap memulai pembangunan itu?” tanya Aldrich membuat Angela mengangguk samar dan pria itu tersenyum manis.
“Arsitek yang mendesain keseluruhan pusat perbelanjaan itu adalah seorang wanita, pertemuan kami hanya membahas tentang revisi desain dan fokus untuk pembangunan jalan utama mulai akhir bulan ini. Dia arsitek wanita yang berbakat dari South Korea. Aku tak pernah menyalahi aturan dan masih tetap dalam batasan saat berinteraksi dengan para rekan kerja maupun klien penting sekalipun.” ucap Aldrich berusaha menjelaskan semuanya pada Angela agar tak ada kesalahpahaman.
Angela hanya memilih diam dan menyimak perkataan suaminya, “Seperti yang kau bilang, aku harus menjalin komunikasi yang baik dengan orang-orang yang bekerja denganku. Saat hendak pulang tadi, Vivian Park mengatakan dia ingin memberikan hadiah untuk kehamilanmu karena Jonathan mengatakan aku akan segera menjadi seorang ayah, dia jug ingin memberikan hadiah sebagai salam perkenalan karena dia kini bekerja penuh denganku. Semua orang menyetujuinya. Asistennya Tatiana Hwang menyarankan untuk pergi bersama-sama ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari tempat dimana pertemuan kami, sayang. Dia membelikan set perlengkapan bayi, set cangkir dan sepasang parfum untuk kita. Aroma yang kau cium tadi bukan aroma parfumnya tapi aroma parfum yang dia hadiahkan untukmu. Maaf telah membuatmu berpikiran yang tidak-tidak, sayang...” ucap Aldrich panjang lebar dengan penuh sesal.
Angela melengos tak suka, “Kau ini, benar-benar menyebalkan sekali!” bentaknya memukul d**a pria nakal itu.
“Maafkan aku sayang, sungguh aku tak pernah menyangka kau bisa secemburu tadi.” ucap Aldrich melemparkan senyuman penuh arti pada Angela dan itu sungguh sangat menyebalkan untuk Angela.
Bersedekap kesal, “Jahat! Apa kau tidak sadar, kau membuatku sangat takut. Aku sungguh tak suka dengan lelucon seperti itu!” teriak Angela tak mampu menutupi rasa kesal
“Jadi sekarang bagaimana? Maafkan aku ya?” tanya Aldrich membuat Angela kontan menggelengkan kepalanya.
“Lupakan saja...” ucapnya sembari memutar tubuh untuk kembali memasuki kamarnya, namun Aldrich memeluk tubuhnya dari belakang.
“Aku membawa Chesee burger kesukaanmu, kentang goreng dan juga dumpling soup kesukaan mu. Ayo kita makan bersama...” ucap Aldrich membuat Angela menolak tubuhnya.
“Aku sedang tak berselera...”
Aldrich tersenyum menganggukkan kepalanya, “Tunggu aku dikamar, aku akan membawa semua makanan kedalam. Kita makan bersama, ya?” ucap Aldrich membuat Angela mengerutkan dahinya tak suka.
“Sudah ku bilang, aku sedang tak berselera!” pekik Angela menghentakkan kakinya hendak berlalu, tapi Aldrich menarik tangannya hingga menoleh dan mengecup bibirnya.
“Akan ku tambahkan lagi jika kurang...” bisik Aldrich membuat Angela berkedip seraya menolak tubuh prianya kesal dan berlatih memasuki kamar.
“Aishh...” gumam Aldrich menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal, “Kau sungguh menggali liang lahat mu sendiri, stupid Spanos...” desisnya kesal.
Bagaimana bisa dirinya dengan begitu bodoh merasakan kecemburuan Angela adalah sesuatu yang lucu dan menggemaskan. Aroma tubuh wanita lain dan pergi bersama wanita lain jelas sudah dapat memancing kesalahpahaman. Tapi kini dirinya malah membuat Angela berpikiran yang tidak-tidak, bukankah level kebodohannya sudah memasuki stadium akhir?
“Dasar bodoh!” gumam Aldrich menggigit pipi bagian dalamnya dengan kesal.
-
Sementara Angela menghempaskan tubuhnya ditengah-tengah ranjang. Menatap langit-langit jauh seraya menghembuskan napas perlahan.
“Maafkan aku Angela...”
Angela memejamkan matanya kala debaran takut kembali mendominasi hatinya, sebulir air mata pun jatuh begitu saja. Aldrich benar-benar tak tahu bagaimana rasa hatinya saat ini, kata maaf malah membuat segalanya menjadi jauh lebih jelas dan itu membuat hatinya bercampur aduk. Antara lega karena percaya bahwa suaminya tidak berbohong dan merasa cemas jika suaminya benar-benar pergi bersama wanita lain diluar sana.
“Sayang, aku membawakan semua makanannya...” ucap Aldrich membuat Angela kontan menggelengkan kepalanya dan membawa tubuhnya meringkuk ditengah-tengah ranjang.
“Sayang...” ucap Aldrich menepuk pundak Angela dan Angela menepis tangannya kasar.
“Sudah ku bilang, aku tidak mau Aldrich!” teriak Angela membuat Aldrich memeluk tubuhnya dari belakang.
Mengecup cuping telinga istrinya dengan lembut, “Aku benar-benar minta maaf karena sudah membuat suasana hatimu memburuk. Aku sungguh sangat menyesalinya...”
Angela memutar tubuhnya dan memeluk tubuh suaminya itu dengan begitu erat, “Jangan lakukan lagi hal seperti tadi, bodoh...” lirihnya seiring tangis yang memecah.
“Ya sayang, aku tak akan pernah mengulanginya lagi...” ucap Aldrich mengusap punggung istrinya itu.
“Kau benar-benar membuatku sangat takut. Hiks...” lirih Angela terisak memeluk tubuh Aldrich erat.
“Tidak sayang, sungguh aku tak bermaksud membuatmu menjadi seperti ini. Maafkan aku, ya?” tanya Aldrich membuat Angela menganggukkan kepalanya.
“Jangan pergi kemana pun bersama wanita lain diluar jam pekerjaan, meskipun bersama yang lainnya. Kita tidak pernah tahu isi hati seseorang. Tolong jaga kepercayaan ku, Aldrich...” ucap Angela penuh permohonan.
Mengangguk patuh, “Iya sayang, aku akan memenuhi semua permintaan mu, istriku...”
“Syukurlah jika begitu...” ucap Angela mengusap d**a suaminya perlahan.
Mengecup bibir manis itu singkat, “Baiklah aku akan mandi sekarang. Apa kau ingin ikut dan memeriksa tubuhku. Barangkali ada jejak kemerahan yang tersembunyi dari wani- Akh!” pekik Aldrich saat jemari lentik Angela menjentik bibir tebalnya.
“Aku tak suka lelucon seperti itu...” sungut Angela membuat Aldrich tersenyum geli.
“Maafkan aku...”
“Berhenti meminta maaf, Aldrich!” bentak Angela memukul d**a bidang Aldrich membuat pria itu merasa serba salah.
“Jadi? Tidak ingin ikut mandi denganku?” tanya Aldrich membuat Angela kontan menindih tubuhnya.
Melepaskan satu-persatu kancing kemejanya dan menarik lepas kemeja itu dengan kasar.
Aldrich pun berdecak kagum melihat wanitanya yang hamil besar itu kini mengusainya, “Oh my goddes, saat cemburu istriku menjadi begitu liar...” gumamnya seraya menggigit bibir tebalnya gemas.
Angela yang duduk diatas tubuh Aldrich lantas melumat bibir tebal Aldrich dengan kasar, melumat bibir tebal penuh provokasi nan nakal itu dengan lumatan yang ganas. Aldrich sampai kewalahan membalas lumayan bibir manis istrinya itu. Lumatan Angela yang penuh amarah dan jelas saja memancing gairah.
“Haaahh...” desah napas keduanya terdengar saat ciuman itu terlepas.
Dengan napas yang memburu keduanya saling tatap tanpa suara.
“Sayang?” tanya Aldrich saat Angela memeluk tengkuknya erat seraya menyurukkan wajah pada ceruk lehernya.
“Biarkan seperti ini, aku merindukan aroma tubuh suamiku...” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum seraya mengusap punggung istrinya itu.
Turut menyesap aroma tubuh istrinya, “Aku juga sangat merindukanmu, sayang...” ucap Aldrich sembari memejam saat merasakan Angela menyesap ceruk lehernya dalam satu tarikan napasnya.
Membiarkan istrinya itu terus mengendus dan menyesap ceruk lehernya berulang-ulang, Aldrich hanya dapat melakukan hal yang sama seraya memberikan cumbuan terselubung seraya mengusap lekuk tubuh indah sang istri yang sedang menindihnya dengan perut buncitnya yang menjadi pembatas diantara mereka.
“Aldrich...” ucap Angela menangkup rahang suaminya itu dan meninggalkan kecupan pada bibir tebalnya.
“Ya sayang?” tanya Aldrich seraya menatap netra indah itu.
“Aku ingin makan sekarang...” ucap Angela tersenyum membuat Aldrich turut tersenyum.
“Makan? Bukankah lebih baik kita mandi dulu?” tanya Aldrich menatap Angela yang kini berjalan menghempaskan tubuhnya disofa.
Bersedekap, “Mandi saja sendiri, aku ingin makan saja...” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum menganggukkan kepalanya.
“Ayo makan bersama, setelahnya kita mandi bersama dan melanjutkan yang tadi, ya?” tanya Aldrich membuat Angela menganggukkan kepalanya seraya membuka kotak makanan dihadapannya itu.
“Aku akan menyuapkan dumpling soup untukmu...” ucap Aldrich membuat Angela tersenyum menganggukkan kepalanya. Hanya itu yang dapat ia lakukan saat ini.
Jangan tanyakan rasa hatinya saat ini, aroma yang berbeda tadi membuat semuanya terasa bercampur aduk...