SS2 – 7. Mood!

1932 Words
Mungkin benar kata orang, makanan akan membawa hangat untuk hati setiap manusia dan makanan mampu menjadi penyambung lidah diantara dua orang yang terlibat dalam suasana canggung dan untuk yang terlibat dalam kesalahpahaman. Seolah melupakan perdebatan yang terjadi diantara mereka sebelumnya, pasangan suami istri itu kini larut dalam makan malam mereka yang terasa sangat nikmat itu. “Terima kasih, Aldrich...” ucap Angela menyesap latte dingin yang sudah mulai terasa tawar karena es-ya yang perlahan mencair. “Aku sangat menyesal telah membuat suasana hatimu memburuk seperti tadi, sayang...” ucap Aldrich yang kini sedang sibuk meniup dumpling soup yang baru saja dia panaskan itu. Angela tampak berpikir dalam kunyahannya, “Aldrich, sepertinya kau salah menanggapi perkataan ku waktu itu...” ucap Angela membuat Aldrich menatapnya tak mengerti. “Maksudnya perkataanmu yang mana, sayang?” “Perkataan ku tentang dirimu yang harus lebih berbaur akrab dengan rekan kerja mu.” “Dimana letak kesalahan ku? katakanlah agar aku lebih mengerti...” ucap Aldrich menuntut sebuah penjelasan. “Aku mengatakan hal itu agar kau lebih terbiasa menyesuaikan diri untuk berbaur dengan rekan kerja bahkan staf biasa sekalipun di proyek yang sedang kau jalani. Karyawan mu sangat berperan penting dalam membangun perusahaan mu dan mereka akan dengan percaya diri menyampaikan ide serta mengembangkan kreatifitas mereka dalam suasana kerja yang terkesan tidak kaku.” ucap Angela membuat Aldrich menganggukkan kepalanya. “Ya...” ucap Aldrich seraya mengangguk samar menyimak ucapan istrinya.  “Tim kerja dari para klien juga perlu kau rangkul secara bersahabat agar mereka merasa nyaman bekerja sama denganmu. Merangkul rekan kerja menjadi lebih bersahabat dalam lingkup pekerjaan sangatlah penting. Tapi mengenai ranah pribadi, tidaklah baik orang asing mengetahuinya, apalagi tim arsitek yang bekerja sama denganmu hanya untuk kepentingan proyekmu. Tak ada hubungannya dia untuk mengetahui kehidupan pribadimu, Aldrich. Dia hanya rekan kerja sesaat, tak terikat lama denganmu...” ucap Angela membuat Aldrich tertegun cukup lama, perkataan istrinya benar adanya. “Kecuali para tim projek dan karyawan perusahaan lainnya yang merupakan rekan kerja tetap mu untuk menghadapi proyek-proyek selanjutnya. Wajar mereka mengetahui kehidupan pribadimu, tentang istrimu, rumah tangga mu.” Angela menghela napasnya pelan menatap Aldrich yang masih setia menyimak apa yang sedang ia ucapkan. “Sebenarnya aku tak perlu terkesan mendiktemu tentang ini dan aku mengatakan hal ini bukan karena sisi posesifku yang berlebihan...” ucap Angela membuat Aldrich berdecak pelan. “Angela, aku sama sekali tak berpikiran tentang hal itu, sayang. Lanjutkanlah...” ucap Aldrich membuat Angela mengangguk samar. Menghembuskan napasnya kasar, “Menurutku kau tidak perlu biasakan wanita lain mendapatkan akses untuk mengakrabkan diri denganmu. Terlebih dia tidak akan terlibat lama dalam pekerjaan denganmu. Aku mengatakan hal ini bukan karena cemburu, tapi aku ingin kau yang rentan diterpa isu negatif untuk lebih berhati-hati lagi diluar sana. Terlebih, sebagai suami kau berkewajiban menjaga kepercayaan ku dan pernikahan kita ini.” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. “Maafkan aku sayang, sepertinya aku memang menyalahartikan maksud dari ucapan mu...” ucap Aldrich seraya menyodorkan sumpitan dumpling soup tersebut pada Angela. “Makan yang banyak, sayang. Kau yang terlalu emosional pasti kehilangan banyak tenaga...” ucap Aldrich membuat Angela tersenyum seraya menepuk bagian sofa sebagai isyarat agar Aldrich yang duduk dihadapannya untuk duduk disisinya. “Aku ingin menyuapi suamiku...” ucap Angela Angela dengan sudut bibir yang tertarik. Aldrich pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Aku akan makan dengan lahap...” ucapnya menerima suapan dumpling sup itu dari sang istri. “Itu, apakah itu parfum darinya?” tanya Angela menunjuk papperbag kecil berwarna merah muda disana dengan dagunya hingga membuat Aldrich menganggukkan kepalanya. Wanita itu bergerak menyambar papperbag berlogo DIOR tersebut dan memasukkannya ke keranjang sampah. “Sayang? Apakah kau masih marah?” tanya Aldrich tak mengerti. “Aku tidak marah, Aldrich. Hanya saja dia terlalu lancang memberikan sepasang suami istri hadiah parfum. Masing-masing orang sudah memiliki parfum yang cocok dengan aroma tubuh masig-masing. Aroma parfum dan tubuh mu yang khas sudah menjadi candu tersendiri untuk ku. Begitu juga dengan aroma tubuh dan parfum ku bagimu, bukankah begitu?” tanya Angela kembali duduk disisi Aldrich. “Istriku benar-benar seperti Detektif Conan...” kelakar Aldrich dengan mulutnya yang penuh membuat Angela tersenyum penuh kemenangan. “Jangan sekali-sekali berniat membodohi ku, hanya akan ada dua hal yang akan kulakukan. Berpura-pura bodoh sembari menunggumu mengakui kesalahanmu atau secara terang-terangan memarahimu seperti tadi...” ucap Angela membuat Aldrich mengusap kepalanya penuh kasih. “Istriku memang tak ada lawannya. Aishh, setelah makan kita perlu mandi dan aku ingin meminta jatah s**u ku sebelum tidur...” ucap Aldrich membuat Angela kontan tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. “Dasar m***m!” “Pasangan muda dengan gairahnya yang menggelora dan kita masih terbilang sebagai pengantin baru. Jangan sangsikan itu...” ucap Aldrich seraya mengerling nakal. “Ini sudah hari ke-200 pernikahan, apakah masih bisa dibilang pengantin baru?” goda Angela membuat bibir manis suaminya itu berdecak kesal. “Tentu saja, dua puluh tahun kedepan pun kita akan tetap seperti pengantin baru.” ucap Aldrich bersungut kesal membuat Angela tak henti mengulum senyumnya. Aroma yang berbeda itu telah dia singkirkan. Berharap lain kali sang suami tidak bertindak terlalu polos seperti tadi. Pasti akan banyak perempuan yang tidak tahu diri yang mencoba menggoda suaminya. Angela percaya Aldrich adalah suami yang bijak, tapi tidak ada salahnya ia turut membersihkan kerikil yang berniat mengotori rumah tangga yang sedang mereka bangun bersama ini. Tak masalah jika seseorang mentertawakannya dan mengatakan bahwa dirinya adalah istri yang posesif. Tuhan, tolong lindungi hati kami dari godaan pihak ketiga yang dapat menyesatkan... Angela pun tersenyum menerima suapan chesee burger dari sang suami, “Aku rasanya ingin kesuatu tempat di akhir pekan besok...” ucap Aldrich membuat Angela kontan menganggukkan kepalanya. “Aku juga, bagaimana jika kita ke villa mu yang berada di Meadow Lane? Ah, rasanya sudah lama sekali tidak bertemu dan berbincang banyak dengan Catherine. Oh Tuhan, sebesar apa perutnya sekarang?” ucap Angela dengan begitu antusias. “Ya, pastinya kurang lebih dengan kandunganmu, sayang. Kalian hanya berbeda sekitar 3 atau 4 minggu, bukan?” Berdecak kesal, “Tentu saja ukuran perut kami berbeda, Aldrich. Catherine mengandung bayi kembar...” ucap Angela membuat Aldrich berdecak pelan. “Bahkan melihat perutmu yang sebesar ini saja aku sangat khawatir jika kau kelelahan, bagaimana dengan mengandung bayi kembar...” desis Aldrich seraya mengusap perutnya sendiri membuat Catherine sontak tergelak geli. “Kami para wanita lebih kuat dari yang kau bayangkan, Aldrich...” desis Angela seraya menyomot kentang goreng yang renyah itu. “Oh ya, Mom bilang dia sangat merindukanmu dan kau sangat sulit untuk dihubungi, sayang...” ucap Angela membuat Aldrich berdecak pelan. “Lihatlah, bahkan aku terus melupakan untuk menelpon Mommy....” sungut Aldrich merasa sangat kesal pada dirinya sendiri. “Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu seperti itu, kau sangat sibuk dan aku rasa Mom sangat memahami semua itu...” ucap Angela membuat Aldrich mengangguk samar. “Setelah mandi, kita akan melakukan panggilan video pada Mama dan Mommy...” ucap Aldrich membuat Angela menganggukkan kepalanya. “Tapi, bukankah disana saat ini sudah menjelang pagi Aldrich, Mama dan Mom juga tidur larut malam tadi...” “Berarti setelah bercinta kita baru akan menghubungi Mereka...” ucap Aldrich memamerkan barisan giginya. “Besok pagi saja, Aldrich!” bentak Angela membuat Aldrich terbahak geli. “Aishh, menyebalkan sekali...” Keduanya pun saling tatap dan tergelak ketika tangan mereka saling menggelitik tubuh masing-masing. Sungguh pasangan muda yang menggemaskan! *** Pagi ini entah mengapa segalanya terasa menyebalkan. Angela tidur memunggungi Aldrich semalaman dan pria itu tak kunjung peka, malah memeluknya dari belakang tanpa beban. Aldrivh yang tidak peka terkadang membuatnya harus begitu lelah membatin. Mereka tidak bicara karena Aldrich terus saja sibuk menerima telepon dan sibuk dengan semua pekerjaannya seolah seharian dia berada diluar tak cukup menyelesaikan semua urusan pekerjaannya. Padahal hari ini mereka akan pergi berakhir pekan sesuai rencana mendadak mereka malam tadi, namun hatinya tak memiliki semangat ataupun debaran bahagia yang menggebu-gebu. Tidak sama sekali. Semuanya terasa kosong... Angela pun menatap lembar kalender yang baru saja dia sobek tanpa selera, 24 September 2021. Hari ini seharusnya menjadi hari terbaik untuknya karena Aldrich mau meluangkan waktu disela semua kesibukannya, tapi semuanya jelas sama tak ada yang berbeda. “Ya, sebentar aku akan cek email terlebih dahulu. Tutup saja teleponnya nanti akan aku hubungi lagi...” ucap Aldrich kini kembali sibuk dengan iPad-nya. Angela tersenyum miris dan memilih duduk disamping Aldrich, “Sebenarnya, kita jadi pergi atau tidak?” tanya Angela membuat Aldrich menatapnya tanpa beban. “Tentu saja jadi, jika tidak untuk apa aku membatalkan semua jadwal lapangan dan kita bersiap pagi-pagi begini?” tanya Aldrich terdengar begitu santai. Bersedekap sembari menatap Aldrich sinis, “Pekerjaanmu sepertinya tidak kunjung selesai.” ucap Angela memutar kedua bola matanya malas. Memamerkan barisan giginya tanpa dosa, “Ya pekerjaan ku lumayan banyak, sayang. Aku harus memperbaharui form pajak kemarin dan pengukuran ulang lahan proyek untuk keperluan memperbaharui sertifikat nantinya.” ucap Aldrich kini mengenakan kacamatanya dan kembali fokus pada gadget besar pipih ditangannya itu. “Rasanya aku sudah malas untuk pergi...” ucap Angela membuat sudut bibir Aldrich tertarik samar. “Lima menit helikopter siap dan kita akan ke bandara pribadiku, sayang. Sekarang, makanlah dulu rotimu. Aku akan pergi mandi dan bersiap.” ucap Aldrich mengecup puncak kepala istrinya itu seraya berlalu ke kamar mandi. Angela menatap Aldrich yang berlalu tanpa beban, “Kau benar-benar pria berhati dingin...” desisnya pelan. Lalu perhatiannya sontak tertarik pada benda pipih diatas meja yang kini bergetar, rasa penasaran membuatnya mendekat dan melihat siapa yang menelpon prianya pagi-pagi begini selain Brenda ataupun Jonathan. Vivian Park is calling... Saat hendak pulang tadi, Vivian Park mengatakan dia ingin memberikan hadiah untuk kehamilanmu karena Jonathan mengatakan aku akan segera menjadi seorang ayah, dia jug ingin memberikan hadiah sebagai salam perkenalan karena dia kini bekerja penuh denganku. Semua orang menyetujuinya. Asistennya Tatiana Hwang menyarankan untuk pergi bersama-sama ke pusat perbelanjaan yang tak jauh dari tempat dimana pertemuan kami, sayang. Dia membelikan set perlengkapan bayi, set cangkir dan sepasang parfum untuk kita. Aroma yang kau cium tadi bukan aroma parfumnya tapi aroma parfum yang dia hadiahkan untukmu. Maaf telah membuatmu berpikiran yang tidak-tidak sayang...” Angela mengerutkan dahinya kala mengingat perkataan Aldrich, “Vivian Park...” gumamnya tak suka. Menggigit bibirnya bimbang, meraih ponsel tersebut seraya menjenjangkan kepalanya memastikan bahwa Aldrich masih belum selesai mandi. “Aldrich, bagaimana? Aku sedikit cemas kau tak menyukainya. Jadi aku menghubungimu terlebih dahulu, aku takut kau sudah keburu pergi bersama istrimu. Maafkan aku...” Angela mengerutkan dahinya, Aldrich? Apa pantas seorang rekan kerja memanggil dengan seakrab itu? Hanya seorang arsitek pula. Aldrich memberikan nomor teleponnya kepada perempuan itu? Padahal biasanya semua itu akan melalui Brenda maupun Jonathan. Mengapa Aldrich menjadi seperti ini? “Aldrich, apakah kau mendengarkanku? Aishh sinyal disini kurang bagus. Aku sudah berada di lounge bandara. Sekitar jam berapa akan sampai di bandara? Bisakah kita bertemu sebentar?” Cklek! Pip! Angela kontan memutuskan panggilan tersebut, Aldrich yang keluar dari kamar mandi kontan terdiam di tempat saat melihat Angela memegang ponselnya. “Sayang? Apa Mommy menelpon?” tanya Aldrich membuat Angela tersenyum sinis. “Aldrich, aku sedikit cemas kau tidak menyukainya. Jadi aku menghubungimu terlebih dahulu. Maafkan aku...” ucap Angela dengan nada dibuat-buat menirukan ucapan dan gaya bicara Vivian Park dengan aksen Korea-nya. Aldrich berkedip bingung, “Kau menjawab telepon darinya?” tanya Aldrich hendak mengambil alih ponselnya, namun Angela menjauhkan darinya. Tak tahu bagaimana untuk menjelaskan suasana hatinya saat ini, sungguh dirinya benar-benar merasa sangat amat kecewa, sedih dan hancur dengan pikiran-pikiran yang memenuhi kepalanya. Sejauh apa hubungan suaminya dengan wanita itu? Bukankah Aldrich sangat sulit untuk meladeni wanita kecuali pria itu memang tertarik. Berarti Vivian Park cukup menarik hati suaminya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD