SS2 - 1. It’s a Beautiful Morning...

1378 Words
Gelak wanita cantik itu terdengar begitu renyah saat bibir tebal sang suami menyapa bibir manisnya, “Aldrich, jangan nakal...” sungut Angela sembari mengencangkan dasi suaminya yang tak henti menggodanya sedari tadi selama mereka sarapan. “Bibir ranum mu terlihat segar pagi ini, membuatku merasa penasaran untuk mencicipinya.” bisik Aldrich membuat Angela mengecup bibir tebal itu gemas. “Baiklah, aku rasa kita harus pergi sekarang. Sudah terlalu banyak pujian yang kau keluarkan untukku pagi ini. Rapat sedang menunggumu dan aku juga harus bertemu dengan Mrs. Dunn dari pabrik konveksi mengenai produksi beberapa rancangan pakaian musim dingin terbaru milik Mama.” ucap Angela membuat Aldrich mengangguk samar. “Kau di butik hanya setengah hari, bukan?” tanya Aldrich sembari menggandeng tangan Angela disela langkahnya. Menganggukkan kepalanya, “Ya, aku hanya datang setengah hari untuk mengecek laporan penjualan, laporan stok dan testimoni kepuasan costumer dan melihat detail aksesori pada sampel gaun dan beberapa potong baju yang sudah jadi untuk dikirim ke pabrik konveksi.” “Mengapa tidak melakukannya dirumah saja, sayang? Kau bisa meminta Ella untuk mengantarkan semua itu kerumah, bukan?” tanya Aldrich membuat Angela menggeleng samar. “Ya aku tahu, tapi mengingat aku harus bertemu dengan Mrs. Dunn dan kebetulan ada jadwal chek-up bersama dr. Rudolph  hari ini membuatku merasa begitu bersemangat untuk bersantai diluar rumah sembari menunggu pukul dua siang.” ucap Angela membuat Aldrich mengangguk samar. “Bersama Brenda?” tanya Aldrich sembari membuka kan pintu mobil untuk istrinya itu. Menganggukkan kepalanya, “Ya, rasanya sudah lama tak bertemu dan mengobrol banyak dengannya. Ah, bahkan terakhir kali aku bertemu dengannya di pernikahan Isabella.” ucap Angela membuat Aldrich hanya dapat mengulum senyumnya. Tingkah istrinya sungguh sangat menggemaskan. “Apakah kalian sudah berjanji dan berencana sebelumnya?” tanya Aldrich membuat Angela menggeleng samar. “Tidak, aku spontan mengajaknya bertemu tadi karena ku pikir akan sangat membosankan menunggumu menjemput di ruangan ku. Kau sangat tahu betapa pendiamnya Ella...” ucap Angela sembari tersenyum senang pada Aldrich yang mengusap perutnya sembari memasangkan sabuk pengaman untuknya. Mengangkat pundaknya, “Jadi, ingin ku jemput pukul dua belas siang di toko?” tanya Aldrich bersambut dengan suara dering ponselnya. “Maaf...” “Tidak masalah, jawab saja...” ucap Angela sembari mengerutkan dahinya saat melihat Aldrich menutup pintu mobil lalu menjawab panggilan tersebut sembari berjalan pelan ke pintu kemudi. Mengangkat pundaknya acuh, “Pasti telepon penting dari rekan kerjanya...” gumam Angela sembari memperhatikan bayang dirinya pada kaca spion depan dan menambahkan sedikit lipstik pada bibirnya. Pintu kemudi itupun terbuka diiringi dengan suar Aldrich yang masih dalam percakapan dengan seseorang dari sambungan telepon, “Ya, sampai bertemu di kantor.” ucap Aldrich sembari memutuskan panggilan tersebut dan duduk dibalik kemudi. “Brenda memang tak sabaran, ya?” ucap Angela terkekeh geli membuat Aldrich tersenyum disela kegiatannya memaki sabuk pengaman. “Teman baik mu itu, sejak kapan dia memiliki stok kesabarab? Bahkan urat malunya seperti sudah putus-akh! Sayang!” bentak Aldrich pada Angela yang memintal kulit perutnya dengan sebuah cubitan. Mata indah itupun membelak marah, “Kau membentak ku, hah?” tanya Angela dengan nada tinggi membuat Aldrich menjadi serba salah. “Tidak seperti itu, sayang. Kau duluan yang mencubitku secara tiba-tiba...” ucap Aldrich kini melembutkan nada suaranya. “Aku rasa kau keterlaluan jika mengatai Brenda seperti itu, dia sangat baik denganku...” sungut Angela bersambut usapan tangan Aldrich pada kepalanya. “Sungguh, aku hanya bermaksud bercanda tadi. Maafkan aku, ya?” tanya Aldrich membuat Angela tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. “Baiklah, bukankah lebih baik kita pergi sekarang?” Angela kembali memberikan anggukan atas pertanyaan Aldrich. Menarik Angela hingga bersadar pada tubuhnya, “Begini lebih baik, tersenyumlah. Masih telalu pagi untuk meredupkan birunya langit dengan wajah masam mu...” Senyuman indah pun terbit diwajah cantik Angela, “Rasanya suasana hatiku memang terlalu gampang berubah karenamu...” Aldrich terkekeh pelan, “Maafkan suamimu ini yang masih terlalu banyak kurangnya...” ucap Aldrich membuat Angela memeluk tubuhnya erat. “Aku juga masih belum menjadi istri yang sempurna untukmu, aku masih terlalu gampang marah dan membuatmu merasa bersalah. Aku harap kau tak mencari wanita yang dapat memberi kesenangan untukmu diluar sana...” ucap Angela membuat Aldrich mendesah lelah. “Bagaimana bisa aku mencari yang lain diluar sana, sementara dirimu selalu membuatku merasa lebih dari cukup?” tanya Aldrich membuat Angela memukul d**a bidang suaminya itu. “Jangan berlebihan, kita masih belum melewati empat tahun pernikahan. Setahun saja belum sampai, masih banyak ujian yang harus kita lewati...” ucap Angela membuat Aldrich mengusap punggungnya. “Dalam kehidupan ini, pasti akan ada saja masalah baik itu kecil maupun besar, aku yakin kita dapat melewatinya.” ucap Aldrich membuat Angela mengangguk samar. “Hingga kita menemukan saat- saat terpahit itu dalam rumah tamgga kita, aku harap kita bisa saling bersikap dewasa untuk menyelesaikannya. Meskipun janji-janji suci itu telah di langgar, meskipun hati kita sudah saling tak dapat membuat debaran hangat yang sama. Aku ingin mencari jalan untuk bersabar demi anak-anak kita nanti. Cukup kita yang merasakan luka dimasa kecil karena ulah ayah kita...” ucap Angela membuat Aldrich tersenyum sedih sembari mengecup puncak kepala istrinya. “Doa ku untuk Tuhan selalu sama setiap harinya sayang. Jangan biarkan hatiku tergugah pada wanita lain selain dirimu, aku tak akan pernah membiarkan hatiku melanggar komitmenku pada diri sendiri. Tak perlu berjanji aku akan membuktikannya padamu, kita hanya perlu saling mendukung dan mempercayai cinta kita sampai akhir.” ucap Aldrich membuat Angela hanya dapat tersenyum seraya memejamkan matanya. Apa yang dapat dia percayai lagi selain debaran hatinya saat ini? Angela tahu, Aldrich tak akan menyakitinya dan cinta yang dia percayai sepenuh hati tak akan pernah menghancurkannya. Katakanlah dirinya ini terlalu naif, namun kini dirinya sangat percaya diri pada keyakinan dihatinya. - Mobil Roll Royce hitam pekat itu kini menepi tepat di depan butiknya yang berada di deretan butik dari brand ternama di Fifth Avenue. Toko yang Aldrich berikan untuk toko cabang brand fashion ibunya disaat dirinya berulang tahun musim panas kemarin. Ya, ibunya telah memiliki brand fashion sendiri dan membuka toko utama di California dan di New York ini adalah cabang pertama yang Aldrich wujudkan, mengingat brand fashion ibunya telah memiliki nama cukup besar dalam penjualan online seluruh Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa. “Jadi, aku harus menjemputmu pukul dua belas siang?” tanya Aldrich membari melepaskan sabuk pengaman dari tubuh Angela. “Tidak sayang, aku akan menggunakan taksi ke kedai kopi yang berada tak jauh dari kantormu untuk bertemu dengan Brenda. Kau bisa pergi ke kantor sekarang.” ucap Angela hendak keluar dari mobil setelah memberikan kecupan pada bibir suaminya. Dengan cepat tangan Aldrich menahannya, “Jangan pernah berpikir aku akan membiarkan mu melakukannya sendiri. Sebentar...” ucap Aldrich keluar dari mobilnya dan berlari membukakan pintu mobil itu untuk Angela. “Silakan keluar, Ratuku...” ucap Aldrich sembari mengulurkan tangannya pada Angela. Tersenyum sembari menggelengkan tangannya dengan uluran tangan suaminya,  “Kau sungguh berlebihan, Al...”  ucap Angela sembari menyambut uluran tangan itu dan keluar dari mobil tersebut dalam tuntunan suaminya yang menggenggam tangannya erat. “Siapa yang berani mengatai seorang suami yang memperlakukan istrinya seperti ratu berlebihan?” tanya Aldrich membuat Angela mengangkat pundaknya. “Tidak ada, hanya saja aku yang merasa malu dan canggung saat tanpa sengaja orang lain melihatnya...” gumam Angela memberikan jawabannya. Berdecak kesal sembari menghentikan langkahnya, “Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan banyak hal...” ucap Aldrich sembari mengecup dahi Angela dan membenarkan tatanan rambut istrinya itu. “Iya sayang...” ucap Angela sembari membenarkan kemeja dan jas Aldrich lalu memberikan kecupan mesra pada bibir tebal suaminya itu. “Aku harus pergi sekarang...” ucap Aldrich memberikan usapan di kepalanya, berakhir mengusap perutnya yang kian membuncit, “Jagoan kecil Daddy, jaga Mommy, Okay?” “Okay, Daddy!” seru Angela membuat Aldrich memeluk tubuhnya erat lalu mendorong pintu butik itu untuknya. “Selamat bekerja, Sayang. Jangan terlalu lelah, okay?” “Iya cerewet! Hati-hati berkendara, sampai jumpa siang nanti...” ucap Angela bersambut dengan kecupan singkat Aldrich pada bibirnya. Lalu saat Aldrich pergi,  pintu toko itupun perlahan tertutup. Senyuman indah diwajah cantiknya perlahan memudar, memperhatikan punggung suaminya yang pergi meninggalkannya seorang diri. Hanya untuk sementara. Ya, untuk sementara... Bukankah ini adalah pagi yang sangat indah bagi keduanya? Setiap hari yang dia lalui bersama Aldrich adalah hari-hari terindah dalam hidupnya. Angela selalu mensyukuri segalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD