-MARC Group-
Seisi gedung pencakar langit itu terlihat sangat sibuk, Aldrich baru saja menyelesaikan rapat pentingnya dipagi hari dan mendapatkan begitu banyak revisi untuk sudut pengambilan bagian gedung dari para tim kontraktor pusat yang menyarankan untuk perombakan desain proyek besar yang bertajuk ‘World Mall’ itu dan dia harus kembali mengadakan pertemuan penting nan mendesak dengan tim arsitek yang di rekrut khusus dari beberapa negara dan pimpinan tim arsitek tersebut adalah seorang perancang ternama bernama Vivian Park yang berasal dari Seoul, South Korea.
Aldrich mengenalnya beberapa bulan belakangan ini melalui pertemuan virtual karena wanita yang menjadi pemenang atas rancangannya itu masih menyelesaikan beberapa pekerjaan di negara asalnya dan baru akan sampai di New York hari ini.
“Ya, Jo. Segera atur pertemuan dengan tim arsitek itu sekarang.” ucap Aldrich pada sambungan telepon tersebut disela langkahnya.
Terdengar suara decakan samar dari seberang sana, “Sudah ku katakan padamu untuk menyimpan nomor ponselnya agar gampang untuk menghubunginya disaat pertemuan mendesak seperti ini. Lagipula Vivian dan timnya baru saja akan mendarat dari Korea Selatan sekitar satu jam lagi...” sungut Jonathan membuat Aldrich berdecak malas.
“Bisakah kau tidak banyak protes? Lakukan saja permintaanku...” desis Aldrich mebuat Jonathan berdecak tak kalah kesal.
“Haruskah aku mempersiapkan sekalian pertemuan makan siang bersama dengan timnya?” tanya Jonathan membuat Aldrich mengangguk setuju.
“Kabari aku lokasinya...” ucap Aldrich seraya menghembuskan napasnya dan memutuskan panggilan tersebut.
“Selamat siang, Mrs. Spanos!” sapa Brenda seperti biasa dengan penuh semangat.
Aldrich tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Aku memiliki pertemuan sekaligus makan siang diluar, untuk segala jadwal rapat dan pertemuan tolong digeser mulai pukul 2 siang. Okay?” ucapnya membuat Brenda mengangguk patuh.
“Baik, Mr. Spanos saya akan mengabari Mr. Flanklin dan Mrs. Yohanes untuk jadwal pukul 10 nanti.” ucap Brenda membuat Aldrich mengangguk samar.
“Terima kasih, Brenda. Aku akan pergi sekarang...” ucap Aldrich melangkah dengan begitu cepat seaya memperhatikan jam tangannya yang menunjukkan pukul 09.39 am. Dia berharap waktunya cukup untuk membahas revisi desain gedung dan lahan itu bersama vivian hingga rampung nantinya.
Entah mengapa, bagi Aldrich proyek ini adalah segala hal yang dia inginkan. Dia bisa mendapatkan sebuah pulau untuk membangun pulau impian yang ingin dia berikan pada Angela sebagai hadiah ulanh tahun untuk wanitanya itu.
Pulau kecil yang hanya akan keluarga kecilnya kunjungi disetiap penghujung tahun maupun perayaan hari-hari penting baginya dan Angela. Bukankah dirinya suami yang manis?
Tanpa sadar, Aldrich mengabaikan pertanyaan dan panggilan Brenda begitu saja...
“Mr. Spanos, bagaimana dengan Angela? Apakah dia jadi untuk kemari?” tanya Brenda yang kini pasrah memperhatikan punggung tegap nan sempurna bosnya itu menghilang dibalik pintu lift.
“Ah, dia pasti sangat sibuk dan tak memiliki waktu untuk membahas pertemuan istrinya denganku...” ucap Brenda seraya menghembuskan napasnya kasar, “Ah, dia pasti akan kembali tepat sebelum pukul 2...” desis Brenda bersambut dengan interupsi dari dering telepon.
“Ah, jangankan dia yang merupakan presdir perusahaan besar ini, bahkan aku yang menjabat sebagai sekrestaris utama tak memiliki waktu untuk bernapas sebentar saja...” keluh Brenda seraya menjawab panggilan tersebut.
“Selamat pagi, terhubung dengan Sekretaris CEO MARC Group disini!”
Brenda Gonzalez dengan penuh semangat melanjutkan pekerjaannya yang sempat terjeda, tidak ada waktu untuknya bergosip dan membuang-buang waktu disini. Perusahaan multinasional dimana kantor pusat inilah yang mengelola manajemen global untuk keseluruhan anak cabang perusahaan yang tersebar hampir diseluruh dunia.
***
“Terima kasih...” ucap Angela dengan senyumannya yang merekah indah, menyambut gelas s**u kehamilan yang dibuatkan oleh asistennya.
“Apakah anda akan pulang, sekarang?” tanya wanita cantik bernama Ella Spencer itu padanya.
Mengangguk samar, “Ya, aku sedang menunggu Karl menjemput, mungkin sebentar lagi...” ucap Angela melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 10.45 am karena dia meminta Karl menjemputnya pukul 11 siang.
“Minumlah susumu dan ini puding karamel rendah gula kesukaanmu...” ucap Ella membuat Angela tersenyum senang.
“Ah, kau selalu memberikan apa yang ku butuhkan Ella...” ucap Angela menerima piring berisi puding yang sangat menggoda itu.
“Agar tidak stress, ibu hamil memerlukan dessert, bukan?” tanya Ella membuat Angela terkekeh geli.
“Aku harap semua kudapan manis yang kumakan tidak akan membuat calon bayi kami mengalami obesitas...” desis Angela membuat Ella sontak tergelak.
“Tentu saja tidak, selama kau mengkonsumsi semuanya sesuai takaran yang seharusnya, semua itu hanya akan mencukupi nutrisi tubuhmu dan bayimu...” ucap Ella membuat Angela tergelak ringan.
“Kau benar-benar pintar memberikan ketenangan secara psikologis untukku, Ella...” ucap Angela membuat wanita yang sudah memiliki dua anak itu tersenyum manis.
“Sebagai keturunan kepala pelayan rumah tangga Mr. Spanos, kami keturunan Spencer di didik untuk cakap dalam memberi kenyamanan pada tuan rumah.” ucap Ella membuat Angela menepuk lengannya kesal.
“Jangan mengatakan hal seperti itu, disini tempatmu bekerja sebagai asisten dan tangan kananku. Aku tak pernah menganggapmu sebagai pelayan atau apapun itu.” ucap Angela membuat Ella lantas tergelak ringan.
“Ya, Mrs. Spanos. Maafkan aku...”
“Cukup panggil aku dengan Angela, Ella!” bentak Angela dengan mata melotot marah, namun malah membuat wanita yang telah bekerja dengannya selama kurang lebih enam bulan ini malah tertawa dengan begitu lepas.
Angela turut tergelak seraya memakan puding yang nikmat itu seraya meminum habis s**u coklat hangat kesukaannya itu.
Entah mengapa, hari demi hari yang dia lalui setelah menikah, membuatnya merasa cukup. Meskipun sekarang Aldrich sudah tak seperti dulu yang selalu ada untuk menjemputnya dan meluangkan waktu untuknya.
Angela sangat tahu bahwa tanggung jawab Aldrich bukan hanya dirinya, tapi perusahaan besar yang ia pimpin dengan ribuan karyawan yang menjadi tanggungjawabnya untuk terus membuat perusahannya berdiri tegak.
Angela selalu berusaha untuk memahami sang suami meskipun terkadang egois dirinya menuntut akan perhatian lebih, dapat ia kembalikan lagi keadaan yang ada. Dirinya hanyalah wanita biasa yang sedang mengandung yang merasa ingin mendapatkan perhatian lebih.
Angela selalu merasa bangga karena dirinya mampu meredam semua egois dirinya dan memaksa dirinya untuk terbiasa dinomorduakan oleh Aldrich, bukan untuk wanita lain, tapi pekerjaan suaminya itu.
Tok!
Tok!
Tok!
“Ya!” teriak Angela membawa Ella kembali masuk kedalam ruangannya.
“Mr. Karl telah datang menjemput mu...” ucap Ella membuat Angela dengan sigap mengemasi barang-barangnya kedalam tas dan berakhir meneguk susunya hingga habis.
“Aku pulang sekarang, Ella. Oh ya, jika kau mendapatkan detail dari aksesories gaun terbaru dari Melanie, tolong segera kirimkan ke surel ku.” ucap Angela disela langkahnya.
“Baik, Angela. Sampai jumpa besok...” ucap Ella melambaikan tangannya pada Angela yang kini meninggalkan butiknya itu dan memasuki Audi hitam pekat yang terlihat begitu mewah dan klasik.
Angela tersenyum demi membalas senyuman yang Mr. Karl berikan padanya, “Apakah Aldrich ada menghubungimu?” tanya Angela membuat pria paruh baya itu menggelengkan kepalanya.
“Sudah sangat jarang Mr. Spanos menghubungiku disela kesibukannya, paling jika sudah petang dan dia menanyakan apakah anda sudah berada dirumah.” jawab Karl apa adanya.
Angela tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, “Terkadang aku sangat rindu dapat berada disisinya dan menemani kesibukannya.” ucapnya seraya menatap jauh kedepan.
Mengingat masa-masa dimana dia selalu mendampingi Aldrich kemanapun saat menjabat sebagai sekretaris pribadi pria itu. Bagaimana dirinya yang merasa sangat bersemangat dan terkesan ambisius setiap harinya untuk menunjukkan pada Aldrich bagaimana kinerjanya dan demi melenyapkan presepsi buruk Aldrich tentang dirinya yang hanya mengandalkan belahan d**a dibandingkan kemampuan otak dan kinerjanya.
Angela yang merasa harus membuktikan diri pada Aldrich bahwa dirinya layak hingga jatuh hati dan harus dipatahkan pada waktu yang bersamaan, hubungannya dengan Aldrich memang begitu rumit. Namun semua itu terasa lumayan mendebarkan saat harus diingat kembali.
***
-Bruchy Luncy Rard Hotel-
Aldrich kembali menyesap cairan hitam pekat itu seraya menunggu kedatangan Jonathan yang membawa tim arsitek untuk pertemuan yang sangat mendesak dan tanpa recana ini. Pertemuan santai yang paling tidak Aldrich sukai karena biasanya jauh dari kata serius, tapi mengingat para Arsitek itu baru saja mendarat di New Yok dari South Korea, membuat Aldrich tak memiliki pilihan lain selain membiasakan diri dengan hal ini karena dia yang memerlukan revisi yang begitu mendadak.
Sedangkan tim Arsitek itu memang telah mengerjakan sesuai jadwal yang telah ditentukan, untuk rapat pertemuan tim proyek besar itu keesokan harinya.
Sssrrrrt...
Pintu dorong itu tertarik perlahan. Aldrich kontan berdiri dari duduknya.
“Silakan masuk Ms. Park...” ucap Jonathan mempersilahkan wanita cantik itu masuk terlebih dahulu diikuti oleh ketiga tim kerjanya.
Menyambut kedatangan empat orang tim arsitektur tersebut seraya membungkukkan tubuhnya sopan.
“Ini Vivian Park arsitektur ternama dari Korea selatan yang memenangkan desain yang seluruh investor inginkan, dia lulusan terbaik di Standford University dan ini Aldrich Spanos, pemilik MARC Group yang memimpin pembangunan proyek besar ini.” ucap Jonathan membuat kedua manusia itu saling berjabat tangan.
Ini memang pertemuan pertama Aldrich dengan Vivian Park, wanita yang mengagumkan dengan rancangan terbaik miliknya yang terpilih gebagai konsep pembangunan terbaik untuk proyek besar bertema ‘World Mall’ itu. Pusat perbelanjaan yang menjadi miniatur dunia, tempat yang akan membuat para wisatawan yang datang ke New York berminat untuk mengujungi pusat perbelanjaan yang akan berkembang pesat dalam 2 atau 3 tahun kedepan itu.
“Senang bertemu denganmu Mr. Spanos...” ucap wanita cantik berwajah blasteran Korea-Amerika itu membuat Aldrich tersenyum mengayunkan jabat tangan mereka.
“Terima kasih banyak atas kedatanganmu tepat waktu, kami sungguh mengagumi rancanganmu yang sangat hebat dan memenuhi ekspektasi kami semua.” ucap Aldrich dengan begitu formal.
“Tersenyum manis seraya menghela rambut brunette panjangnya, “Seharusnya saya yang berterima kasih karena anda menjamu kedatangan tim kami dengan makan siang seperti ini. Karena tim kami tidak bisa berdiskusi dengan perut lapar...” ucap wanita bermarga Park itu membuat Aldrich tersenyum seraya menggedikkan bahunya.
“Tidak masalah, kami dengan senang hati memberikan pelayanan untuk anda dan tim yang baru saja sampai di New York dan ini dikarenakan keinginan tim kontraktor pusat yang meminta untuk melakukan revisi beberapa sudut bagian untuk menyesuaikan dengan lokasi lahan proyek tersebut.” ucap Aldrich membuat wanita itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya dengan penuh percaya diri.
“Bisakah saya melihat peta bukaan lahan tersebut untuk menjadi patokan penyesuaiannya?” ucap Vivian membuat Aldrich tersenyum senang dengan kecepatan tanggap waita tersebut.
“Bagaimana kita memulainya setelah menikmati makan siang?” tanya Aldrich merasa perlu memikirkan urusan perut para tim arsitek yang baru datang dalam jarak penerbangan yang memakan waktu selama lebih kurang 15 jam penerbangan itu.
“Ah, terima kasih, Mr. Spanos...” ucap Vivian dengan senyumannya yang merekah indah.
“Sebenarnya Ms. Park sangat sulit bekerja dengan santai jika baru bertemu dengan orang baru. Makanya pertemuan santai ini dapat membantunya untuk menyesuaikan diri dengan mudah.” ucap salah satu tim wanita membuat wanita berambut brunette itu menganggukkan kepalanya seraya tersenyum malu.
“Saya akan bekerja dengan baik dan profesional untuk merevisi desain terbaik saya sesuai keinginan anda, Mr. Spanos. Mulai hari ini, kita bisa berkonsultasi sesuai jadwal yang anda berikan.” ucap wanita cantik itu menatap Aldrich penuh arti bagi semua orang disana termasuk Jonathan.
Namun bagi Aldrich itu adalah hal yang biasa...
“Baiklah Jo, anda bisa meminta pelayan untuk mulai menyediakan makan siang untuk kita...” ucap Aldrich menghiraukan tatapan penuh minat wanita itu untuknya.
-
Acara makan siang berlangsung disertai dengan obrolan santai. Aldrich kurang menyukai berbicara terlalu banyak kepada rekan kerjanya. Tapi Jonathan memintanya untuk memulai hubungan baik dengan Vivian Park dan timnya. Karena mereka adalah seorang pendatang dari Asia dengan kultur dan kebiasaan yang jelas bebeda. Semuanya butuh penyesuaian diri, begitulah kata istrinya yang cantik.
Angela selalu mengajarkan semua hal itu padanya.
“Jadi, semua sudut telah sesuai dengan permintaan revisi dari pihak tim kontarktor pusat?” tanya wanita itu membuat Aldrich tampak berpikir seraya mengusap dagunya.
“ya, aku rasa semua sudut bagian telah benar dan sesuai...” ucap Aldrich memutuskan.
“Apakah anda tertarik dengan bukaan pintu jalan utama seperti ini, Mr. Spanos?” tanya wanita itu membuat Aldrich mengangguk ragu.
“Saya lebih senang jika ada sayap kanan dan kiri untuk jalur keluar masuk pribadi khusus staf dan pengunjung dari pintu utara dan selatan. Aula gedung disebelah barat dan dua space besar untuk taman bermain dan kebun.” ucap Aldrich membuat wanita itu menganggukkan kepalanya seraya mencatat sesuatu.
“Jangan lupa sisakan beberapa kilometer halaman besar untuk membangun gedung khusus gedung olahraga nantinya.”
“Jalur besar untuk pembagian setiap destinasi!” seru Jonathan menimpali.
“Gudang besar dilantai dasar untuk alat berat dan gudang atas untuk properti yang mudah diangkat.” Sambung Vivian Park.
“Kita membutuhkan space untuk lift yang menghubungkan dua gudang.”
“Mulai dari lantai dasar hingga keatap gedung?” tanya wanita cantik itu membuat Aldrich menganggukkan kepalanya.
“Tepat sekali...” ucap Aldrich turut tersenyum ketika wanita blasteran itu tersenyum dengan indahnya. Tapi tak sebanding dengan kecantikan istrinya, tak ada duanya.
Kecantikan yang biasa bagi Aldrich, namun bagi wanita cantik itu, senyuman Aldrich sungguh mendebarkan hatinya pertemuan pertama itu membuat keduanya terkesan. Aldrich terkesan dengan Vivian Park yang pintar dengan gambaran desainnya yang sempurna. Lain halnya dengan Vivian Park yang terkesan dengan ketampanan pria pemilik perusahaan besar itu.
Entah wanita itu ketahui atau tidak, pria yang memberi kesan pertama dalam pertemuan ini adalah seorang suami untuk wanita lain.
“Besok, sebelum rapat besar bersama tim kontraktor pusat. Kau bisa melihat hasil desain sementara gedungnya dan kita bisa mendiskusikannya lagi.” ucap Vivian menawarkan waktu luangnya.
“Terima kasih atas saran baikmu.” ucap Aldrich membuat wanita itu tersenyum dengan indahnya.
“Aku selalu ingin memastikan semua pekerjaanku telah kulakukan dengan baik dan sempurna...” ucap Vivian membuat Aldrich tergelak ringan.
“Aku sangat senang bekerja sama dengan seorang yang perfeksionis...”
Jonathan menjentikan jarinya, “Dia memiliki ambisi yang menggebu seperti Angela, bukan?”
“Istriku tiada duanya...” gumam Aldrich kontan merenggut semua senyuman indah Vivian Park.
“Ya begitulah, istri memang harus selalu menjadi nomor satu...” ucap Jonathan terdengar menggoda membuat Aldrich tersenyum senang saat harus mengingat sang istri disela kesibukannya.
Sementara wanita cantik berdarah Korea-Amerika itu tersenyum hambar kala menyadari cincin yang melingkar dijari manis pria itu.
“Apakah kau baru saja menikah, Mr. Spanos?” tanya asisten Vivian Park bernama Jessica Yang itu.
“Ya, tepat sekali. Wajah pengantin baru memang tidak sulit untuk ditebak, bukan?” tanya Jonathan membuat Aldrich menatapnya tak suka dan semua orang disana tergelak renyah.
Aldrich mengumpat dalam hati, Jonathan Briks selalu sukses membuatnya terlihat seperti sebuah lelucon. Dirinya memang harus berusaha menyesuaikan diri untuk ini.
“Pria ku yang hebat dan berharga. Aku sangat mencintaimu, suamiku...”
Kala ucapan Angela terputar ulang diingatannya, Aldrich lantas tersenyum seraya mengusap cincin di jari manisnya. Angela Sharon selalu mengusap hatinya dalam berbagai suasana dan kini dia teriangat akan satu hal, sepertinya dia telah melupakan sesuatu, menemani Angela untuk Check-up rutin kandungannya.
Brak!
Aldrich sontak berdiri dari kursinya, “Ada apa, Aldrich?” tanya Jonathan membuat Aldrich hanya dapat bergedik.
“Aku melupakan janji untuk Check-up rutin kandungan, Angela. Aku harus pergi sekarang...” ucap Aldrich membungkukkan tubuhnya seraya berlalu.
Vivian Park kontan merasa kesal, mengetahui konglomerat tampan itu telah beristri. Tapi bukankah pria beristri terkadang juga sangat mudah untuk menjalin dan terikat karena hubungan cinta satu malam?
Muslihat tak terlihat terbit, dari seorang wanita yang terlalu menikmati ketampanan suami orang lain dihadapannya kini.
Langit redup pertengahan Musim gugur di New York akankah memulai sebuah kisah yang penuh akan muslihat?