-Townhill Cafe-
”Nomor yang anda tujui tidak menjawab panggilan, anda akan terhubung ke kotak pesan suara.”
Pip!
Hembusan pelan itu tercipta dengan tangan yang mengusap perutnya wanita itu menghembuskan napasnya kasar, “Sayang, aku sudah sampai di kedai kopi seberang kantormu untuk menemui Brenda. Apa kau sedang sibuk? Nanti jika sudah melihat ponselmu, kau bisa menyusulku di Townhill cafe, kita bisa makan terlebih dulu sebelum menemui dr. Rudolph...” ucap Angela berakhir memutus dan mengirim pesan suara tersebut.
“Terkadang aku sangat menghawatirkanmu yang begitu sibuk seperti ini...” desis Angela seraya menyugar rambutnya dan kini menatap Karl yang memperhatikannya melalui spion depan.
“Karl, kau lebih baik pulang saja. Aku akan bertemu Aldrich dan pulang bersamanya...” ucap Angela membuat pria paruh baya itu mengangguk patuh.
“Baik, Mrs. Spanos...”
“Terima kasih, Karl...” ucap Angela melemparkan senyuman manisnya seraya keluar dari mobil tersebut.
Angela memang bukanlah wanita yang gila untuk di istimewakan, sedari menjalin hubungan dengan Aldrich dia tak pernah meminta Karl untuk membukakan pintu mobil untuknya, kecuali Aldrich yang memaksa untuk melakukan semua itu padanya.
Suaminya yang tampan, panas dan sangat posesif nan overprotektif terhadapnya. Terkadang Angela sangat merindukan Aldrich yang dua puluh empat jam stanby untuk memastikan keadaan dan kondisinya seperti beberapa bulan terakhir, namun dalam tiga bulan terakhir suaminya menjadi sangat sibuk.
Terkadang kata pengertian dan keinginannya untuk mengerti akan kesibukan sang suami mengalahkan rasa rindu dan segala inginnya untuk mendapatkan semua perhatian suaminya seperti dulu sebelumnya. Hingga semua rasa ingin itu terasa sangat menyesakkan, padahal dia tahu bagaimana Aldrich harus lembur dalam mengurus lelang proyek itu hingga mendapatkannya.
“Mrs. Spanos!” teriak wanita berambut oranye kemerahan itu berdiri seraya melambaikan tangannya.
Senyuman Angela lantas terbit begitu, bahkan semburat merah terbit diwajahnya saat beberapa orang karyawan Aldrich yang berpas-pasan dengannya membungkuk sopan dan menyapanya dengan begitu ramah.
Berjalan cepat kearah Brenda dengan wajah yang memasam, “Haruskah kau berteriak seperti itu, Gonzalez?” tanya Angela dengan mata yang melotot marah.
Tergelak tanpa dosa, “Rasanya menggelikan sekali membuat orang-orang terkejut dengan panggilan Mrs. Spanos. Hahahhaha!!!” ucap Brenda disela gelaknya.
Memutar kedua bola matanya malas, “Semua hal akan menjadi lelucon ditanganmu, Brenda...” desis Angela membuat Brenda medesah lelah.
“Kau tahu? Aku kehilangan begitu banyak selera humor semenjak bekerja di MARC Group?” tanya wanita itu membuat dahi Angela lantas berkerut.
“Kenapa? Apakah tak ada rekan kerja yang menyenangkan seperti Isabella?” tanya Angela memastikan.
“Ya, itu salah satunya...” desis Brenda seraya meremas rambut keritingnya itu seraya menggeram kesal, “Pekerjaan yang menumpuk, rekan kerja yang seperti robot, pria-pria kutu buku yang sibuk dan begitu penjilat. Ah menyebalkan sekali...”
“Apakah separah itu?” tanya Angela setengah percaya dengan apa yang brenda ucapkan.
Wanita itu mendengus seraya meneguk es kopinya denga rasa putus asa yang tergambar dengan sangat jelas, “Kau tahu? Mereka semua memakai topeng dan bertingkah seperti robot, menjilat orang-orang yang mempunyai jabatan demi jenjang karier yang lebih baik, pokonya kau akah merasa gerah ingin memanusiakan para manusia yang bersikap seperti binatang peliharaan di dalam sana. Menjilat kesana kemari dan bermuka dua...” ucap Brenda menggebu-gebu.
Tersenyum seraya mengusap pundak Brenda agar bersikap lebih tenang, “Sekarang, belum setahun kau bekerja disini, mereka bekerja dalam target, sebagai perusahaan pusat yang memegang managemen global sekaligus menangani beberapa pembangunan besar yang sangat vital, setiap tahunnya para pegawai memiliki nilai adtas kinerja mereka dan akan di rolling ke perusahaan cabang atau di pertahankan di perusahan pusat dengan kenaikan jabatan, stagnan atau malah mengalami penurunan. Banyak karyawan magang maupun tetap yang menginginkan posisimu sebagai Sekretaris utama CEO dan direkrut secara langsung tanpa perlu evaluasi kinerja tahunan.” ucap Angela panjang lebar memberikan pandangan terhadap keluhan sahabatnya itu.
Brenda mendengus kesal berakhir mengerucutkan bibirnya, “Aku memang manusia yang kurang bersyukur sepertinya...” desisnya membuat Angela sontak tergelak ringan.
“Aish, wajar saja jika kau berada di posisi jenuh untuk beradaptasi, terkadang kita semua mengalaminya. Tidak Aneh...” ucap Angela membuat Brenda tersenyum tipis.
“Oh Angela, kau selalu memberikan positive vibes untuk semua orang sejak dulu dan aku merasa beruntung karena mendapatkannya sekarang...” ucap Brenda membuat Angela terkekeh geli.
“Kau selalu berlebihan, Brenda...” desis Angela seraya menggeleng samar.
Berdecak pelan, “Sungguh, aku berada dititik yang benar-benar sangat jenuh hingga menyerah. Aku rasanya ingin kembali ke MC Company dimana terdapat Isabella yang selalu menjadi temanku untuk membicarakan apapun itu. Jason dan Alberto yang manis terlebih CEO tampan seperti Jonathan Briks yang belum sold-out. Oh Tuhan, MC Company adalah surga terindah, terlebih sekarang sangat sulit untuk melihat Mr. Hot Spanos diruangannya. Aku sangat kesepian, ingin rasanya menjadi sekretaris pribadi sepertimu yang dia bawa kemanapun...” ucap Brenda berakhir tergelak melihat Angela yang tertegun menatapnya.
“Aku hanya bercanda, Angela. Aku bukan wanita yang manis dan sanggup membuat suamimu ingin memadu...” kelakar Brenda disela gelaknya.
Angela pun turut tergelak seraya menepiskan tangannya, “Tidak, Brenda. Tidak sedikitpun aku merasa cemburu atas ucapanmu, hanya saja aku tiba-tiba merasa sangat merindukan mendampingi Aldrich kemanapun...” ucap Angela membuat Brenda berdecak pelan.
“Pasti sangat menyenangkan saat mendapingi pria yang sangat kau cintai, bukan? Kau dapat memperhatikannya, terlebih disaat sibuk terkadang dia hanya dapat memakan burtito dan burger, sisanya kopi dan kopi. Ah ya, kau bahkan belum memesan apapun, apakah kau boleh meminum kopi? chocolate perfait mousee disini sangat enak, apa kau ingin dessert?” tanya Brenda membuat Angela mengibaskan tangannya.
“Aku sudah meminum segelas s**u coklat dan puding caramel yang lezat, rasanya aku ingin sesuatu yang segar dan mengenyangkan sekarang...” ucap Angela membuat Brenda memberikan buku menu padanya.
“Mereka memiliki pastrami sandwich yang lezat dan caesar salad yang nikmat, blue lemonade yang segar mampu membuatmu merasa lebih baik. Aku terkadang memesannya...” ucap Brenda merekomendasikan menu terbaik menurutnya.
Tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Apakah rapat Aldrich belum usai? Rasanya aku ingin menunggunya untuk makan siang bersama...” ucap Angela membuat Brenda sontak membelak.
“Apa dia tak mengabarimu ada pertemuan sekaligus makan siang diluar bersama tim Arsitektur dari Korea Selatan? Bahkan dia sudah pergi sejak pukul sepuluh tadi...” ucap Brenda membuat senyuman diwajah cantik Angela kontan memudar.
“Begitukah? Dia takmemberitahukannya padaku, padahal dia sudah berjanji untuk menemuiku disini, kami memiliki janji temu dengan dokter kandungan siang ini..” ucap Angela membuat Brenda mengerutkan dahinya.
“Mungkin dia melupakannya, soalnya aku mendengarkan beberapa hasil rancangan untuk pembangunan nanti memerlukan beberapa revisi. Tunggu saja, mungkin dia akan kembali sesuai janjinya padamu...” ucap Brenda membuat Angela tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
“Ya, aku akan menunggunya disini. Aish, dia pasti meninggalkan ponselnya di mobil...” desis Angela sembari menatap ponselnya yang sepi tanpa notifikasi.
Tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, “Hidup juga terasa serba salah ya, memiliki suami yang sangat berdedikasi pada pekerjaan juga bisa membuat kita merasa terabaikan. Ah, itulah kenapa aku memilih untuk bersenang-senang darpada menikah...” ucap Brenda membuat Angela mendesah pelan.
“Ingin bersenang-senang sampai kapan?” tanya Angela membuat Brenda mengangkat kedua pundaknya tanpa beban.
“Tidak tahu, mungkin sampai aku bosan dengan pria seumuran hingga yang lebih tua dan mencari berondong yang mampu menyenangkan hati...” ucap Brenda tergelak ringan.
Tersenyum seraya menggelengkan kepalanya tak habis pikir, “Kau ini memang ada-ada saja, tapi aku yakin saat kau bertemu dengan pria yang tepat, kau akan memilih untuk menuntut kepastian akan hubungan kalian...” ucap Angela membuat Brenda meghembuskan napasnya kasar.
“Maybe yes or mayne no. Sudahlah, sekarang kau harus memesan makanan jika tak ingin melihat suamimu mengomel karena kau melewatkan jam makan siang. Pelayan!” teriak Brenda membuat Angela hanya dapat tersenyum seya menggelengkan kepalanya.
Brenda benar adanya, lebih baik dia makan siang sekarang agar saat Aldrich menghubunginya dan kemari, dia sudah selesai makan dan mereka langsung bisa pergi kerumah sakit untuk check-up rutin kandungannya. Angela sangat tahu bahwa waktu luang suaminya sangat terbatas dan dirinya tak boleh membuang sedikitpun waktu yang sangat berharga itu...
-
Namun semuanya terasa seperti omong kosong, detik demi detik berlalu hingga jam pun berganti. Mengharapkan kedatangan Aldrich hanya seperti mengharapkan sesuatu yang tak akan pernah terjadi. Bahkan Brenda telah meninggalkannya seorang diri untuk kembali bekerja, kini Angela hanya menatap kosong dalam semua rasa kecewanya, menanti notifikasi balasan pesan singkat sang suami hingga lelah.
Kini dirinya berada dalam persinpangan bimbang, haruskah ia menunggu Aldrich dan melewatkan jadwal check-up untuk hari ini? Bagaimana jika dilain hari suaminya itu tetap tak dapat menepati janji karena kesibukannya.
Menghembuskan napasnya kasar, Angela memilih meninggalkan tempat duduk yang membuatnya larut dalam ikiran selama satu jam lebih. Dirinya pun meringis saat merasakan nyeri pada pinggangnya, dan berjalan sedikit tertatih meninggalkan kedai kopi tersebut.
Menatap layar ponselnya dengan penuh pertimbangan, Angela pun medesah lelah seraya melanjutkan langkahnya ke trotoar. Tangannya pun melambai untuk memanggil taksi yang lewat, entah mengapa rasanya dia hanya ingin sendirian saat ini dan semuanya akan baik-baik saja.
Tidak masalah, dirinya akan terbiasa...
Angela tersenyum seraya memasuki taksi tersebut, “Severance International Hospital...” ucapnya kepada pengemudi taksi itu.
“Baik, Nyonya...”
Angela hanya dapat menghembuskan napasnya dalam senyap, menatap keluar jendela, melihat jalanan yang sedikit lengang dalam kehampaan, sama seperti hatinya saat ini.
Tidak dipungkiri kini dirinya merasakan kecewa, andai saja Aldrich memberitahukan padanya bahwa tak bisa menemaninya untuk memeriksakan kandungannya, dia rasa hatinya tak akan merasa kecewa seperti ini dan semuanya akan baik-baik saja.
Sungguh ini adalah siang hari yang cukup mengecewakaan untuknya...
***
-Bruchy Luncy Rard Hotel-
Langkah kaki pria itu terhenti saat petugas hotel itu memberikan kunci mobil padanya, dengan napas terengah Aldrich memasuki mobilnya. Berdecak kesal seraya menyambar ponselnya yang tergeletak di dasbor mobil dan melihat 18 panggilan tak terjawab serta beberapa pesan singkat dan juga sebuah pesan suara.
Pip!
“Sayang, aku sudah sampai di kedai kopi seberang kantormu untuk menemui Brenda. Apa kau sedang sibuk? Nanti jika sudah melihat ponselmu, kau bisa menyusulku di Townhill cafe, kita bisa makan terlebih dulu sebelum menemui dr. Rudolph...”
Pip!
Menghembuskan napasnya kasar, “Sialan, aku melupakannya...” desis Aldrich seraya melakukan panggilan suara pada Angela, namun bagai karma instan, operator yang menjawab pangilannya.
“Nomor yang anda hubungi sedang berada diluar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi...”
Menghembuskan napasnya kasar, “Mengapa kau mematikan ponselmu, sayang?” desis Aldrich kini beralih menelpon Mr. Karl supir kepercayaannya yang bertugas untuk mengantar jemput istrinya kemanapun.
“Selamat siang, Mr. Spanos...”
“Karl, apakah Angela bersamamu?” tanya Aldrich kini memacu mobilnya meninggalkan kawasan hotel tersebut.
“Maaf, bukankah Mrs. Spanos mengatakan akan menunggu anda di kedai kopi tepat di depan kantor dan dia meminta saya untuk pulang.”
“s**t! Kau seharusnya-ah sudahlah. terima kasih...”
Pip!
Aldrich memutuskan panggilan tersebut seraya menghembuskan napasnya kasar, dia tak seharusnya memarahi Karl karena ini bukan sepenuhnya salah pria paruh baya itu maupun Angela, semua ini salah dirinya.
Aldrich memacu mobilnya menuju kearah kedai kopi yang Angela maksud dengan sesekali mencoba menghubungi ponsel istrinya itu, namun tetap saja operator yang begitu rajin mengambil alih.
“Apakah kau masih menungguku, Angela?”
***
Aldrich memarkirkan mobilnya tepat di depan kedai kopi tersebut dan berlari kedalamnya, pandangannya mengedar keseluruh ruangan kedai kopi yang sepi itu, namun tetap saja ia tak menemukan sosok Angela.
“Apa yang bisa saya bantu, Tuan?” sapa pelayan kedai kopi itu menarik Aldrich dari segala rasa bingung dan bimbangnya.
“Apakah kau melihat seorang wanita berwajah Asia-Amerika yang sedang mengandung disini?” tanya Aldrich membuat wanita bertubuh pendek itu tampak berpikir.
“Ah, mungkin sekitar satu jam yang lalu dia meninggalkan kedai kopi ini...” ucap wanita itu membuat Aldrich menganggukkan kepalanya.
“Terima kasih untuk informasinya...” ucap Aldrich seraya kembali berlari keluar menuju mobilnya sembari menelpon.
“Selamat siang, kediaman Spanos disini...”
“Mr. Spencer, apakah Angela ada dirumah?” tanya Aldrich seraya mengusap wajahnya kasar.
“Maaf, Mrs. Angela belum kembali sejak pagi tadi...”
Pip!
Memutus panggilan tersebut seraya mengusap wajahnya kasar, “Dimana dirimu, sayang? Maafkan aku...” desis Aldrich kini memacu mobilnya menuju kerumah sakit, dirinya berharap dapat menemukan Angela.
-
Lebih dari 30 menit dirinya mencari Angela dirumah sakit, asisten dokter kandungan yang Angela kunjungi mengatakan bahwa istrinya telah pergi sekitar beberapa puluh menit yang lalu dan Aldrich telah menyusuri jalanan, namun tak menemukan Angela. Sementara jawaban orang rumah masih sama, bahwa Angela belum kembali.
“Sayang, apakah kau marah padaku?” tanya Aldrich kini dengan rasa putus asa yang memenuhi hatinya hingga dering ponsel menginterupsi dirinya yang di landa rasa cemas.
“Ya?” tanya Aldrich tanpa selera.
“Mr. Spanos, istri anda sudah kembali kerumah...”
“Terima kasih, Mrs. Spencer. Saya akan kembali kerumah sekarang.”
Pip!
Aldrich membawa mobilnya memutar arah untuk kembali kerumahnya, “Mengapa kau pergi sendiri tanpa Karl, Angela? Kau pasti marah denganku...” lirihnya berharap kemarahan Angela tak berlangsung lama.
Jikalaupun lama, dirinya tak keberatan untuk menerima semua amarah istrinya itu karena ini adalah kesalahannya...