Bukan siapa yang datang dari awal tapi siapa yang akan bertahan sampai akhir - Alaina.
...
"Dih ya ampun ya gak lah bang, masa gue suka sama mbak Alaina sih."
Gue pun langsung mendesah lega saat dengar perkataan Franklin. Serius deh, dari kemaren bercandaan dia itu gak lucu sama sekali.
"Terus maksud omongan lo tadi apa?" Duncan masih gak percaya sama Franklin.
"Ya gue bercanda lah bang."
"Lo gak gay beneran kan Lin?" Tanya Alden.
"Maksud lo?"
"Kan kata lo tadi orang yang lo galauin sekarang malah ngetawain lo. Berarti kalau bukan mbak Alaina... Gue dong ya?"
Pletak
"b*****t gue bercanda anjir, sumpah ya pemikiran ampas lo itu menjijikkan Den." Franklin langsung jauh-jauh dari Alden.
"Ya lo demennya bercanda mulu sih." Alden natap Franklin datar bikin gue geleng-geleng kepala aja lihatnya.
"Udah lah sekarang kalian pulang aja, gue ada urusan sama Alaina." Kata Duncan sembari ninggalin kita.
"Mpos lo Lin bang Duncan ngamuk." Kata Alden.
"Lo sih ah dari kemaren bercandaan mulu. Untung Duncan nganggepnya bercanda, eh ya emang bercanda kan."
"Padahal gue serius."
"Udah g****k jangan bercanda lagi." Kata Alden sambil noyor kepala Franklin.
Sedangkan Franklin hanya bisa menunduk sekaligus tersenyum tipis yang masih bisa gue lihat. Kenapa gue ngerasain sesuatu yang aneh ya.
---
Saat ini gue lagi ada di kamar sama Duncan. Setelah Franklin Alden pulang gue langsung beranjak ke kamar dengan bawa makanan buat Duncan.
"Can makan dulu ya, terus minum obat lagi."
"Suapin." Kata Duncan sambil masang wajah unyu.
"Yaudah sini aku suapin, kamu masih pusing?"
Duncan ngangguk dan meraih tangan gue buat diarahin ke dahinya.
"Iya masih panas, yaudah habis ini istirahat dulu."
Gue pun langsung duduk di tepi ranjang buat nyuapin Duncan.
"Na adek tingkat kamu beneran suka sama kamu?" Tanya Duncan tiba-tiba.
"Ya gak lah Can, Franklin itu emang ogeb. Kalau bercandaan pasti kelewatan."
"Tapi aku lihatnya dia kayak serius gitu." Kata Duncan sambil menerima suapan gue.
"Ya ampun dia mah udah aku anggep adek sendiri."
"Baguslah, pokoknya jaga hati kamu buat aku. Cuman buat aku aja Na."
Gue pun hanya tersenyum menanggapi perkataan Duncan. Kalau gue harus jaga hati buat dia. Apa Duncan bisa jaga hati juga buat gue?
"Na."
"Hmm."
"Maaf."
Perkataan Duncan sukses membuat tangan gue berhenti menyendokkan makanan yang akan gue suapkan ke Duncan.
"Mungkin kamu udah bosen sama kata maaf yang udah terlontar di bibir aku."
"Makan dulu Can."
Gue mau memasukkan makanan ke mulut Duncan tapi tangan Duncan langsung menahannya dan menaruh sendok itu ke piring. Setelah itu kedua tangan gue udah digenggam sama dia.
"Aku harus gimana Na buat bisa yakinin kamu lagi?"
"Can kam-"
"Aku harus gimana buat bisa dapetin kepercayaan dan hati kamu lagi?"
"Can dengerin aku tap-"
"Aku harus gimana biar bisa bikin kamu jatuh cinta ke aku, seperti aku yang udah jatuh ke pelukan kamu."
Kata-kata Duncan barusan mampu membuat sekujur tubuh gue menegang. Apa gue gak salah denger kalau barusan Duncan nyatain perasaan sesungguhnya ke gue.
"Can maksud kamu?"
"Mungkin ini terlihat bodoh dan manis diwaktu bersamaan."
Gue merasa genggaman Duncan makin mengerat.
"Mungkin aku terlalu bodoh untuk menyadari perasaan aku selama ini ke kamu. Iya aku akuin aku sayang sama kamu Na. Dan entah kenapa semua terlalu manis saat selama ini kita menjalani kehidupan berumah tangga bersama."
"Can maksud kamu apasih?"
"Aku sayang kamu."
Tiga kata mampu membuat gue terbang ke langit ketujuh. Jika sekarang gue bisa terjun udah gue jabani dah.
"Na tolong rubah aku."
Gue mengernyitkan dahi gue saat melihat air mata Duncan sudah menetes.
"Tolong jadiin aku imam yang pantes buat kamu. Ajarin aku jadi kepala rumah tangga yang baik buat kamu. Dan tolong jauhin Hyunki dan jangan lihat lelaki selain aku."
"Can."
"Aku tau Hyunki itu cinta pertama kamu, lelaki pertama yang udah masuk di hati kamu. Lelaki baik dan bukan b*****t kayak aku. Tapi asal kamu tau Na, saat ini lelaki b*****t dihadapan kamu ini tengah memohon cinta kamu."
Tak terasa air mata yang menggenang di pelupuk mata gue mulai jatuh. Langsung saja Duncan mengusapnya.
"Can bukan karena kak Hyunki datang dari awal. Tapi aku ingin seorang Kang Duncan lah yang mampu bertahan sampai akhir. Aku bakal ngasih kepercayaan dan kesempatan lagi buat kamu Can, tolong jaga itu buat aku."
Mendengar itu Duncan gak bisa menyembunyikan senyuman senangnya. Gue harap setelah ini rumah tangga gue sama Duncan bisa damai tanpa ada pertengkaran lagi.