bc

Saat Dunia Tidak Lagi Nyata

book_age16+
1
FOLLOW
1K
READ
revenge
time-travel
system
brave
drama
serious
scary
campus
city
highschool
office/work place
kingdom building
war
like
intro-logo
Blurb

Dunia mulai berubah tanpa ada yang sadar kapan semuanya dimulai.

A’an, seorang pemuda biasa, terjebak bersama Dani, Maya, Arman, dan Pak Harun di dalam sebuah sistem misterius yang perlahan menghapus batas antara kenyataan, pikiran, dan identitas manusia.

Awalnya mereka mengira semua ini hanyalah kerusakan sistem biasa. Namun semakin dalam mereka mencari jawaban, semakin mereka sadar bahwa sesuatu sedang mengamati, berubah, dan bereaksi terhadap cara mereka berpikir.

Ketika konflik mulai muncul di antara mereka, satu pertanyaan menjadi semakin menakutkan:

Apakah dunia benar-benar masih nyata… atau mereka hanya terlambat menyadari bahwa semuanya sudah berubah sejak lama?

Dalam dunia yang terus retak, setiap jawaban justru melahirkan ketakutan baru.

chap-preview
Free preview
BAB 1 HUJAN DI ATAS SEKOLAH YANG HAMPIR ROBOH
Hujan turun sejak subuh. Langit di atas Desa Lamare tampak kelabu seperti wajah orang-orang yang sudah terlalu lama kecewa. Air hujan jatuh perlahan di atap seng sekolah dasar yang sudah berkarat. Bunyi tetesannya terdengar menyedihkan. Tok... Tok... Tok... Di beberapa bagian atap, air bahkan menetes deras seperti keran bocor. Ember-ember plastik berwarna kusam diletakkan di lantai kelas untuk menampung air hujan yang terus masuk. Dinding sekolah dipenuhi retakan. Catnya mengelupas. Sebagian jendela bahkan sudah tidak memiliki kaca. Namun pagi itu, seperti biasa, sekolah tetap berjalan. Karena bagi anak-anak miskin di desa itu, sekolah rusak masih lebih baik daripada tidak sekolah sama sekali. A’an duduk di bangku paling belakang sambil memandangi hujan dari jendela. Seragamnya sudah mulai sempit karena ia tumbuh lebih cepat daripada kemampuan orang tuanya membeli pakaian baru. Tasnya lusuh. Sepatunya mulai sobek. Tetapi matanya tajam. Di depan kelas, seorang lelaki kurus berdiri sambil memegang buku pelajaran yang sampulnya hampir lepas. Pak Rahmat. Ayah A’an. Guru honorer yang sudah mengajar selama dua puluh tujuh tahun. Namun sampai hari itu, statusnya tetap “sementara”. Gajinya sering terlambat. Kadang dua bulan. Kadang tiga bulan. Kadang hanya cukup membeli beras untuk seminggu. “Ayo buka halaman tiga puluh dua,” ucap Pak Rahmat pelan. Suara beliau lembut, tetapi kelelahan terlihat jelas di wajahnya. Beberapa murid membuka buku yang sudah basah di pinggirannya. Beberapa lagi tidak punya buku dan hanya mendengarkan. Angin dingin masuk dari celah-celah dinding. Di luar kelas, lumpur memenuhi halaman sekolah. Sementara dari kejauhan terdengar suara mesin berat. Dengung panjang yang makin hari makin dekat. BRRRRMMMM... A’an menoleh ke arah hutan di belakang desa. Sudah hampir sebulan suara itu terdengar. Pohon-pohon besar mulai tumbang satu demi satu. Truk-truk besar keluar masuk desa membawa kayu. Dulu hutan itu hijau dan sejuk. Sekarang perlahan berubah menjadi tanah merah penuh bekas roda alat berat. “A’an.” Pemuda itu tersadar. “Iya, Pak?” Pak Rahmat tersenyum kecil. “Kamu melamun lagi.” Anak-anak tertawa pelan. A’an menunduk malu. Namun Pak Rahmat kembali berbicara. “Kalau kamu besar nanti, kamu ingin jadi apa?” Kelas mendadak sunyi. Sebagian anak menjawab cepat ketika ditanya cita-cita. Ada yang ingin jadi polisi. Tentara. Dokter. Tetapi A’an berbeda. Ia diam cukup lama. Matanya melihat sekitar kelas. Meja yang patah. Atap bocor. Dinding retak. Lantai pecah. Lalu matanya berhenti pada ayahnya sendiri. Guru yang hidup miskin meski mengajar puluhan tahun. A’an merasa dadanya sesak. Kenapa orang baik selalu hidup susah di negeri ini? Ia menarik napas perlahan. “Aku ingin menjadi orang yang bisa menghentikan penderitaan rakyat kecil.” Suasana kelas mendadak hening. Beberapa murid saling memandang. Pak Rahmat sendiri tampak terdiam. Matanya sedikit memerah. Sebelum beliau sempat berbicara, suara keras tiba-tiba mengguncang sekolah. BRAAAAKKK!! Anak-anak berteriak. Sebagian dinding samping kelas runtuh. Debu beterbangan memenuhi ruangan. “Awas!” Pak Rahmat langsung melindungi murid-murid yang panik. Hujan masuk dari celah tembok yang roboh. A’an berdiri cepat. Jantungnya berdebar keras. Di luar sekolah, sebuah truk besar berhenti. Beberapa pria turun memakai helm proyek dan rompi berwarna oranye. Salah satu dari mereka membawa map tebal. Pria itu melihat bangunan sekolah sambil menggeleng kecil. “Bangunan ini sudah harus dikosongkan.” Pak Rahmat keluar dari kelas meski bajunya terkena hujan. “Maksud Anda apa?” Pria itu membuka map. “Berdasarkan surat keputusan pemerintah daerah, kawasan ini akan dijadikan pusat industri kayu.” Pak Rahmat mengernyit. “Tapi ini sekolah.” “Dan menurut data,” jawab pria itu datar, “tanah ini tercatat sebagai tanah kosong milik negara.” Kalimat itu membuat semua orang diam. Tanah kosong. Padahal di sana ada sekolah. Ada murid. Ada guru. Ada sejarah puluhan tahun. “Apa kalian buta?” bentak Pak Rahmat. “Anak-anak belajar di sini!” Pria itu tampak malas berdebat. “Kami hanya menjalankan perintah.” “Perintah siapa?” Pria itu menutup map. “Pemerintah provinsi.” Hujan semakin deras. Air mengalir dari atap sekolah seperti air mata. A’an mengepalkan tangannya kuat-kuat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan kemarahan yang begitu besar. Bukan karena lapar. Bukan karena miskin. Tetapi karena ia melihat ketidakadilan berdiri tepat di depan matanya. Seolah hidup rakyat kecil memang tidak dianggap ada. Salah satu murid perempuan mulai menangis. “Kalau sekolah ini dibongkar... kami belajar di mana?” Tak ada yang menjawab. Bahkan pria proyek itu hanya memalingkan wajah. Pak Rahmat menatap anak-anaknya satu per satu. Wajah beliau penuh rasa tidak berdaya. Aku guru... Tapi bahkan aku tidak bisa melindungi sekolah ini... Suara petir menggelegar. DUARRR!! Langit tampak semakin gelap. Pria proyek memberi isyarat kepada sopir truk. “Kita pergi dulu. Besok tim pengukur tanah datang.” Mereka kembali masuk ke mobil. Ban truk berputar di lumpur lalu pergi meninggalkan halaman sekolah. Anak-anak masih berdiri ketakutan. Pak Rahmat mengusap wajahnya yang basah oleh hujan. Atau mungkin air mata. Sulit dibedakan. “Ayo masuk dulu,” ucap beliau lirih. Namun belajar hari itu tidak lagi berjalan normal. Semua murid kehilangan semangat. A’an sendiri terus memikirkan satu kalimat. Tanah kosong. Ia memandang meja-meja tua di kelas. Papan tulis kusam. Foto presiden yang menggantung miring di dinding. Bagaimana mungkin tempat ini disebut kosong? Jam pelajaran selesai lebih cepat. Hujan belum berhenti ketika A’an berjalan pulang bersama ayahnya. Jalan desa berubah menjadi lumpur. Di kiri jalan, beberapa pohon besar sudah ditebang. Batang-batang kayu raksasa tergeletak seperti mayat. “Ayah,” kata A’an pelan. “Iya?” “Kenapa pemerintah membiarkan semua ini?” Pak Rahmat diam cukup lama. Angin dingin meniup pakaian mereka yang basah. “Ayah juga tidak tahu.” “Tapi ayah guru. Bukankah guru tahu banyak hal?” Pak Rahmat tersenyum pahit. “Kadang orang yang paling banyak belajar justru paling sadar bahwa negeri ini sedang tidak baik-baik saja.” A’an terdiam. Mereka melanjutkan perjalanan. Di pinggir jalan terlihat seorang nenek menjual pisang goreng di bawah payung bocor. Tak ada pembeli. Di warung kecil dekat pertigaan, orang-orang sedang membicarakan harga beras yang naik lagi. “Minyak juga naik!” “Katanya uang negara habis!” “Pejabat terus bangun proyek!” “Rakyat disuruh sabar terus!” Suara-suara itu bercampur dengan hujan. Sesampainya di rumah, Nurlela sedang menggoreng tempe dengan minyak yang tinggal sedikit. Rumah mereka kecil. Dindingnya papan tua. Beberapa bagian lantai masih tanah. “A’an sudah pulang?” tanya ibunya sambil tersenyum lelah. “Iya, Bu.” Pak Rahmat duduk perlahan. Wajahnya tampak jauh lebih tua hari itu. Nurlela langsung sadar ada sesuatu yang buruk terjadi. “Ada apa?” Pak Rahmat diam sebentar. “Sekolah mau dibongkar.” Sendok di tangan Nurlela jatuh. “Apa?” “Mereka bilang tanahnya milik negara.” Nurlela tampak tidak percaya. “Tapi sekolah itu sudah ada sejak sebelum kita menikah.” “Itulah masalahnya,” jawab Pak Rahmat lirih. “Di negeri ini, kenyataan sering kalah oleh surat dan stempel.” Malam turun perlahan. Listrik padam seperti biasa. Rumah-rumah desa tenggelam dalam gelap. Hanya suara jangkrik dan hujan yang terdengar. A’an berbaring di kamarnya yang sempit. Atap bocor membuat ember kecil di sudut kamar terus berbunyi. Tok... Tok... Tok... Ia menatap langit-langit kayu. Pikirannya kacau. Tentang sekolah. Tentang hutan. Tentang ayahnya. Tentang negeri yang terasa semakin aneh. Tiba-tiba suara kendaraan terdengar dari luar rumah. BRRRRMMMM... Tidak seperti biasanya. Banyak kendaraan. A’an bangkit lalu mengintip dari jendela. Matanya membesar. Beberapa truk besar masuk ke arah hutan malam itu. Di belakangnya ada mobil hitam mewah. Lampunya menyinari jalan desa yang gelap. Beberapa pria bersenjata turun dari mobil. Mereka berbicara dengan kepala desa. Lalu salah satu dari mereka menunjuk ke arah permukiman warga. A’an merasakan firasat buruk. Sangat buruk. Dan tanpa ia sadari, malam itu menjadi awal dari kehancuran panjang yang akan mengubah hidup seluruh desa mereka selamanya. Di dalam mobil hitam, seorang pria berjas menyalakan rokok. Wajahnya dingin. Matanya penuh ambisi. Ia membuka sebuah peta besar. Di atas peta itu, rumah-rumah warga diberi tanda silang merah. Termasuk rumah A’an. Pria itu tersenyum tipis. “Besok,” katanya pelan, “semua dimulai.”

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
725.6K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.6M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
961.8K
bc

A Warrior's Second Chance

read
348.4K
bc

Not just, the Beta

read
343.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook