4. Kejadian di Kantin

972 Words
"Ca, ayo ke kantin, Lo jangan belajar mulu." Vanesha berdiri di samping meja Bianca. Gadis itu sudah siap dengan dompet birunya juga rambut yang sudah digerai dan ditata sedemikan rupa. Fyi aja, di sekolah mereka selama proses belajar mengajar berlangsung, rambut yang perempuan harus diikat agar tidak mengganggu. Jadi kebanyakan dari mereka akan mengikat rambut hanya saat ada guru, setelah itu membiarkannya tergerai diterpa angin. Bianca menoleh, menatap malas sahabat centilnya itu, "bentar, sedikit lagi." Vanesha hanya berdecak malas melihat perilaku sahabatnya ini. Padahal masih hari pertama sekolah, tapi Bianca sudah sibuk begitu. Lagian catatan yang di papan tulis juga tidak begitu penting, menurutnya. Setelah beberapa saat, Bianca bangkit dan melangkah keluar, meninggalkan Vanesha yang menatapnya tajam seolah laser merah keluar dari matanya dan menusuk punggung mungil Bianca. *** Berpasang-pasang mata kini menatap ke arah dua pemuda yang sedang melangkah dengan santai. Pesonanya yang kuat dan wajah yang mendekati kata sempurna membuat semua perhatian tertuju pada keduanya. Mereka berdua berjalan dengan angkuhnya tanpa mempedulikan tatapan yang diberikan orang-orang. Jonathan dan Christian, dua sahabat yang sudah bersama sejak kecil. Dua orang yang paling disegani di sekolah ini, yang paling dipuja-puja kaum hawa dan yang paling membuat kaum Adam iri. Dengan pesona yang hampir sama keduanya duduk di bangku kekuasaan mereka. Bangku paling ujung di bagian selatan. Beberapa gadis berseragam ketat juga riasan yang sedikit menor dengan sengaja duduk dan bergerumun di sekitar mereka. Membuat Christian, si berandal sekolah yang emosinya mudah meledak dan selalu membuat keributan, marah. Ia mengusir para pengganggu itu dengan kasar. "Pergi!" Sarkasnya. Melihat kilat marah di mata Christian, semua gadis pergi dan menjauhi meja mereka. Meninggalkan keduanya dengan perasaan gondok. "Apa-apaan sih, ganggu aja." Kesal Christian. Ia kembali mendudukan dirinya dan menatap nyalang pemuda dihadapannya. "Apa? Kenapa?" Tanya Jonathan. Ia masih tersenyum geli mengingat bagaimana para gadis itu mendekati dan menggodanya. Benar-benar menjijikan. Jonathan mengeluarkan ponsel pintar dan dompetnya, melempar selembar uang lima puluh ribu lalu sibuk dengan ponsel dan dunianya sendiri. Tidak mempedulikan Christian yang sudah siap menyantapnya saat itu juga. "Sialan!" Umpat Christian. Irishnya tak sengaja melihat seorang gadis yang sedang berjalan sedikit jauh dari mejanya. Dengan segera Christian memanggil gadis itu dan menyerahkan uang lima puluh ribu Jonathan, "belikan kami es jeruk dingin dan beberapa cemilan, cepat." Perintahnya. Christian segera duduk dan mulai mengeluarkan ponselnya mengikuti jejak Jonathan sebelum gadis bersurai cokelat itu, Bianca, mengeluarkan suara manisnya. "Beli sendiri sana, masih punya kaki-kan?" Pergerakan tangan Jonathan berhenti, mendongakkan kepala melihat Christian yang sedang menatap tak percaya pada gadis dihadapannya. Tatapan Christian sangat mengerikan. Jonathan jelas mengenal Bianca. Pertemuan pertama mereka di gerbang sekolah yang tidak mengenakan akan selalu menjadi kenangan buruk baginya. Pandangan matanya sempat bertemu dengan Bianca, tapi gadis itu hanya meliriknya sekilas dan kembali menatap Christian dengan nyalang. Jonathan bahkan bisa melihat seberapa beraninya Bianca, pandangan mata yang tidak goyah dan tubuh yang berdiri tegak menandakan ia tidak takut sama sekali. "Apa?!" Christian menatap Bianca dari atas sampai bawah, memberi tatapan penilaian kemudian menyungging senyum sinis, "cepat! Ga pakai lama." Christian kembali duduk dan mengusir Bianca dengan gerakan tangannya. Tetapi yang terjadi justru diluar dugaan, Bianca memberi kembali uang lima puluh ribu itu sambil memukul meja kuat-kuat. "Beli sendiri tuan terhormat! Permisi." Sambil menekankan kalimat 'Tuan Terhomat', Bianca menatap tajam pada Christian dan pergi dengan santai. Meninggalkan pandangan tak percaya dari warga kantin yang sengaja menyaksikan kejadian barusan. "Kurang ajar." Sungut Christian, ia menatap sekelilingnya dengan kesal, "apa liat-liat?!" Jonathan mendengus melihat Christian yang kembali menyuruh siswa yang berada paling dekat dengannya sambil membentak. Sejujurnya ia tidak percaya bahwa Bianca mampu menolak Christian yang notabenenya orang paling ditakuti di Starlight Hight School. Tidak ada yang berani menatap matanya, dan Bianca justru menolak secara terang-terangan, membuat sahabatnya menanggung malu di ujung kantin. Jonathan menyungging senyum manisnya yang justru terkesan mengerikan. 'Gadis menarik.' *** "Kenapa sih? Apa?" Vanesha menatap tak percaya pada Bianca yang kini terlihat santai sambil memakan roti cokelat yang tadi sempat dibelinya di kantin. "Lo sehat-kan, Ca? Lo tau siapa yang Lo tolak itu?" Bianca melirik Vanesha sekilas, kemudian kembali sibuk memperhatikan seseorang yang sedang memasukan bola basket ke dalam ring, "siapa yang nolak sih? Ditembak aja gua nggak." Vanesha menepuk dahinya pelan, bagaimana bisa Bianca setenang ini? Bagaimana bisa Bianca tidak merasa takut sama sekali? Nyawanya bisa saja hilang saat ini juga! Oke mungkin terkesan terlalu berlebihan, tapi itu benar-benar bisa terjadi mengingat bagaimana perlakuan Bianca pada Christian di kantin tadi. Ia ada disana dan menyaksikan sendiri Bianca yang mempermalukan Christian di hadapan umum, tapi ia hanya diam dan menatap Bianca dalam diam sampai di lapangan. Bianca dan Vanesha memang lebih suka menghabiskan waktu istirahat dengan duduk di tribun lapangan sambil melihat anak laki-laki yang sedang bermain basket, lebih menyenangkan dari pada hanya duduk diam di kantin, tidak melakukan apapun selain mendengar suara-suara berisik dari sekitar. Selain itu, ada hal mengapa mereka tidak suka istirahat atau makan di kantin. "Maksud gua Christian! Lo bisa-bisanya mempermalukan dia di kantin begitu! Otak Lo dimana, Ca?" Vanesha gemas. Bahkan ia mencengkram bahu Bianca agar gadis itu bisa melihat kepanikannya. Bianca menatap Vanesha malas lalu melepaskan cengkraman tangan Vanesha dengan sedikit kasar. Ia tidak mengerti kenapa sahabatnya ini bisa se-takut ini hanya karena dua orang yang tidak lebih dari seorang langganan Kepala Sekolah. Bukan hanya Vanesha, lebih tepatnya semua yang ada di sekolah ini, termasuk guru dan para staf sekolah. "Kenapa si, Nes? Gausah takut gitu, mereka siapa sih? Cuman orang songong yang berlagak hebat dengan sembunyi di balik nama keluarganya." Jawab Bianca acuh. Ia benar-benar tidak peduli dengan bagaimana kelanjutan hidupnya setelah ini. Toh mereka tidak akan berbuat macam-macam, karena dia ini Bianca. Bianca Bellvannie yang tidak takut apa-pun. "Lagian gua bukan robot yang bisa disuruh-suruh se-enaknya gitu. Dipikir gua bakal tunduk kali sama dia."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD