Hari Kelulusan Lili

1095 Words
Pagi itu langit Jakarta tampak cerah sempurna. Tak ada hujan, tak ada gumpalan awan kelabu, seolah alam pun ikut merayakan momen yang telah ditunggu selama tiga tahun terakhir: hari kelulusan. Sejak pukul tujuh pagi, aula sekolah sudah penuh sesak oleh siswa dan orang tua. Semua tampak berbusana rapi, dan senyum bahagia tak lepas dari wajah mereka. Di antara kerumunan itu, kehadiran Lili Samantha langsung menyita perhatian begitu ia melangkah masuk. Ia mengenakan kebaya modern berwarna biru muda, rambut hitam panjangnya disusun sederhana namun tetap memancarkan pesona yang tak bisa diabaikan. Cantik. Elegan. “Buseeeet…” Keira yang melihatnya langsung memegang d**a tak percaya. “Lili, lu mau wisuda apa mau nikah?” Bella yang berdiri di sampingnya langsung mengangguk setuju. “Gila. Cantik banget.” Lili tertawa malu. “Kalian lebay.” “Kita cuma realistis,” sahut Keira. “Betul,” timpal Bella. Keira langsung menepuk bahu sahabatnya. “Demi apa pun ya…” “Hm?” “Kalau aku jadi cowok, aku udah nembak lu sejak kelas sepuluh.” “KEIRA!” Ketiganya pun tertawa lepas. Tak jauh dari tempat mereka berdiri, beberapa siswa laki‑laki memang sempat melirik ke arah Lili. Sudah menjadi hal biasa baginya menjadi pusat perhatian—bukan hanya karena parasnya, tapi juga karena sikapnya yang ramah, cerdas, rendah hati, dan tak pernah mencari masalah. “Banyak yang foto diam‑diam tuh,” bisik Bella. Lili langsung menoleh kaget. “Bella!” “Aku serius.” Keira ikut menoleh sekilas. “Woi, bener lagi tuh.” Lili buru‑buru menutupi wajah. “Malu, tahu.” “Berat rasanya jadi gadis populer,” ledek Keira. “Diam, kalian berdua.” Belum sempat percakapan itu berlanjut, sebuah suara yang sangat dikenalnya terdengar memanggil. “Lili!” Gadis itu seketika berbalik, dan matanya langsung berbinar. “Mama!” Seorang wanita cantik berusia awal empat puluhan berjalan mendekat sambil tersenyum lebar—Maya Samantha. Di belakangnya menyusul sosok pria jangkung dengan wajah tegas namun hangat, ayahnya, Jonathan Samantha. “Papa!” Lili langsung berlari kecil memeluk kedua orang tuanya. “Astaga…” Maya tertawa lembut sambil mengusap pipi putrinya. “Anak Mama hari ini cantik sekali.” “Pasti lah,” sahut Jonathan tak mau kalah. “Itu kan anak Papa.” Maya melotot bercanda. “Anak saya juga.” “Tapi lebih mirip saya.” “Mukanya jelas‑jelas mirip saya.” “Matanya mirip saya.” Lili terkikik mendengar perdebatan kecil itu. “Kalian mulai lagi ya?” Keira dan Bella yang menyaksikan pemandangan itu ikut tersenyum. Keluarga Samantha memang dikenal sangat hangat; meski keduanya sibuk mengurus bisnis, waktu untuk putri tunggalnya tak pernah terabaikan. “Om Jonathan, Tante Maya,” sapa Keira dan Bella sambil menyalami mereka. “Halo, sayang,” balas Maya ramah. “Keira makin cantik saja.” Keira tersenyum lebar. “Terima kasih, Tante.” “Lho, Bella juga sama saja,” tambah Maya. Bella tersenyum malu. “Terima kasih, Tante.” Tak lama kemudian, beberapa pasang orang tua lain mulai menghampiri. “Keira!” Seorang wanita berpakaian elegan melambaikan tangan. “Mama!” Keira segera beranjak menyambut Diana Wijaya dan suaminya, Arman Wijaya. Di saat yang sama, Bella pun dipanggil. “Bell!” Bella menoleh. “Mama.” Ratna Pradipta yang berhijab cantik tersenyum diiringi suaminya, Fajar Pradipta. Semua berkumpul menjadi satu, suasana pun makin riuh. “Akhirnya anak‑anak kita lulus juga,” ujar Diana sambil tertawa. “Iya ya,” sahut Ratna mengangguk. “Rasanya baru kemarin mereka masuk SMA, padahal sekarang sudah bersiap kuliah.” Jonathan menatap putrinya dengan sorot mata penuh kebanggaan. “Kami sangat bangga sekali sama Lili.” Lili tersenyum malu. “Papa…” “Bener,” timpal Maya. “Kamu sudah bekerja keras.” Lili menggenggam tangan ibunya. “Terima kasih sudah datang.” Maya langsung menariknya ke dalam pelukan. “Mama nggak mungkin tidak datang. Kami pulang khusus dari Jepang cuma buat hari ini.” Jonathan menambahkan, “Bahkan jadwal rapat Papa pun dibatalkan.” Lili membelalak tak percaya. “Serius?” “Tentu saja,” jawab Jonathan tegas. “Hari kelulusan anak satu‑satunya jauh lebih penting.” Mata Lili perlahan berkaca‑kaca. Ia tahu betul betapa berartinya dirinya bagi kedua orang tuanya. Tak lama kemudian, acara inti pun dimulai. Nama‑nama siswa dipanggil satu per satu disertai gemuruh tepuk tangan. Hingga akhirnya suara kepala sekolah menggelegar memenuhi ruangan. “Selanjutnya… siswi dengan peringkat ketiga tertinggi tahun ini…” Lili langsung menegakkan tubuh. Keira dan Bella saling berpandangan. “Eh…” “Jangan‑jangan…” Kepala sekolah tersenyum lebar. “Lili Samantha.” Deg! Satu ruangan langsung bertepuk tangan lebih keras dari sebelumnya. Keira seketika berdiri bersemangat. “WOIIII!” Bella ikut tersenyum bangga. “Tuh kan, benar dugaanku.” Lili tertegun sejenak. “Hah?” “MAJU!” teriak Keira menyemangati. Lili pun berjalan gontai namun penuh rasa haru ke depan. Jantungnya berdegup kencang saat menerima piagam penghargaan. Saat ia menoleh ke arah barisan orang tua, matanya menangkap pemandangan itu: Maya sedang mengusap air mata yang menetes. “Ma…” Maya buru‑buru tersenyum di sela isaknya. Sementara Jonathan, yang biasanya tenang, tampak sedikit bergetar. “Papa nangis tuh,” bisik Diana. “Enggak,” bantah Jonathan cepat. “Cuma matanya kemasukan debu.” “Di dalam aula tertutup?” Semua yang mendengarnya ikut tertawa. Setelah upacara selesai, halaman sekolah berubah menjadi lautan jepretan kamera. Semua ingin mengabadikan momen terakhir ini. “Lili, sini!” “Foto dulu sama kita!” “Lili jangan kabur!” “Selfie dulu dong!” Lili sampai pusing menanggapi seruan itu, untung Keira langsung menarik lengannya. “Foto bertiga dulu, cepat!” Bella mengangguk setuju. “Wajib.” Mereka berjejer, dan kamera berkedip berkali‑kali. Tak lama kemudian, orang tua mereka pun ikut bergabung dalam bingkai foto. Jonathan, Maya, Arman, Diana, Fajar, dan Ratna mengelilingi ketiga gadis itu. “Hari ini benar‑benar bersejarah,” ujar Fajar pelan. “Sangat,” sahut Arman mengangguk. “Anak‑anak kita sudah besar ternyata.” Keira langsung protes. “Aku masih muda, lho.” “Tapi paling berisik,” celetuk Bella. Suasana kembali riuh oleh tawa. Matahari makin meninggi, namun tak ada yang berniat pulang cepat. Mereka sadar, momen ini hanya terjadi sekali seumur hidup: hari terakhir mengenakan seragam abu‑abu, hari yang penuh kebanggaan dan kenangan indah. Bagi Lili Samantha, hari ini adalah gerbang menuju babak baru. Tanpa ia sadari, di luar sana takdir mulai bergerak perlahan, menuntunnya pada jalan yang sama sekali tak pernah ia duga sebelumnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD