VC + Make Up

1006 Words
Lili duduk di depan meja riasnya sambil memegang beauty blender. Lampu-lampu kecil di sekeliling cermin menyala hangat. Di atas meja berjejer skincare, lip tint, parfum, dan berbagai peralatan make up yang membuat kamarnya terlihat berantakan. Ponselnya disandarkan di depan cermin. Di layar terlihat wajah Clara yang sedang rebahan di kamar hotel. "Astaga..." Clara menyipitkan mata. "Lo make up dari tadi satu jam nggak selesai-selesai." Lili langsung tertawa. "Kan harus cantik." "Lah emang biasanya jelek?" "Enggak sih." "Nah." "Ini beda." Clara langsung mengangkat alis. "Oooo..." Lili pura-pura tidak mendengar. Ia mengambil cushion lalu menepuk-nepuk pipinya pelan. "Warna yang ini bagus nggak?" Clara mendekat ke kamera. "Boleh." "Natural?" "Iya." "Halah." "Lili." "Hm?" "Lo cantik bahkan pas bangun tidur." Lili langsung tertawa keras. "Pembohong." "Serius." "Kalau serius kenapa kemarin pas gue bangun di villa lo bilang kayak pocong habis begadang?" Clara langsung terdiam. "Lupa." "Lupa katanya." Mereka tertawa bersamaan. Sudah bertahun-tahun bersahabat. Jadi hampir tidak ada rahasia di antara mereka. "Kemarin gue sedih tau." Clara tiba-tiba bicara. Lili menoleh. "Kenapa?" "Hari kelulusan nggak bisa datang." "Oh itu." "Iya." Clara menghela napas. "Padahal gue pengen foto." "Ya ampun." Lili tersenyum. "Nanti kita foto lagi." "Beda." "Kenapa?" "Kelulusan cuma sekali." Lili memahami maksud sahabatnya. Kemarin Clara memang harus ikut kedua orang tuanya ke Singapura untuk urusan keluarga yang mendadak. Mau tidak mau ia harus melewatkan acara kelulusan. "Tapi gue lihat foto-fotonya." "Hah?" "Lo cantik banget." Lili langsung tertawa. "Keira juga bilang gitu." "Karena memang." Clara menunjuk layar. "Coba putar." Lili berdiri lalu memutar badan. Gaun putih sederhana yang dikenakannya malam itu terlihat anggun. Tidak berlebihan. Tapi tetap membuatnya terlihat menawan. "Wuih." Clara bersiul. "Pantes ada yang nggak bisa tidur." "Apaan sih?" "Lah." Clara langsung tertawa. "Si om ganteng lo itu." Lili refleks memukul udara. "Jangan panggil om." "Ya terus apa?" "Mas." "Oke." Clara menahan tawa. "Mas." "Nah gitu." "Mas Aditya." Lili langsung tersenyum sendiri. Melihat ekspresi itu Clara langsung memegang d**a. "Astaga." "Kenapa?" "Bahaya." "Apa yang bahaya?" "Lo senyum." "Ya terus?" "Lo kalau senyum begini biasanya udah suka." Lili berhenti merapikan rambut. Pipinya sedikit memerah. "Ya memang suka." "NAHHHH!" Clara langsung teriak. "AKHIRNYA NGAKU." "Apaan sih." "Biasanya lo paling cuek." Lili kembali duduk. Tangannya mulai memakai lip tint. "Kali ini beda." Clara memperhatikan wajah sahabatnya. Memang berbeda. Biasanya kalau membahas laki-laki, Lili tidak pernah terlalu tertarik. Tapi setiap nama Aditya disebut... Mata gadis itu langsung berbinar. "Lo bahagia ya?" tanya Clara pelan. Lili tersenyum. "Iya." Sesaat Clara ikut tersenyum. Sebagai sahabat. Ia tahu betul perjalanan Lili. Gadis itu selalu menjadi tempat semua orang bersandar. Tapi jarang ada orang yang benar-benar menjaganya. "Lalu?" tanya Clara. "Hm?" "Gimana perkembangan hubungan kalian?" Lili langsung tertawa malu. "Malu gue." "Cepetan cerita." "Dia baik." "Detail." "Dia perhatian." "Detail." "Dia lucu." "DETAIL." Lili akhirnya menyerah. "Oke." "Nah." "Kemarin dia nganter gue makan." "Hm." "Terus pas gue bilang pengen dessert..." "Hm." "Dia muter hampir setengah jam nyari tempat yang masih buka." Clara langsung mengangguk. "Bagus." "Terus pas gue kedinginan..." "Hm." "Dia nyuruh gue pakai jaketnya." "Wajar." "Terus pas gue batuk dikit..." "Hm." "Dia panik." Clara langsung tertawa. "Oke." "Kenapa?" "Fix." "Apa?" "Dia suka banget sama lo." Lili tersenyum kecil. Jujur saja. Ia juga merasakannya. Dan anehnya... Ia menyukainya. "Om gue cakep lo, Cla." ucap Lili genit sambil merapikan bulu mata. Clara langsung melempar bantal ke kamera. "Ya iyalah." "Ganteng banget." "Iya." "Tinggi." "Iya." "Suaranya juga bagus." "IYA." "Terus kalau senyum..." "LILI." "Hahaha." Clara menggeleng-geleng kepala. "Gue nggak kuat." "Apa?" "Lo bucin." Lili langsung tertawa sampai bahunya berguncang. "Aku tidak bucin." "Lo baru ngomong lima menit." "Terus?" "Empat menitnya bahas Aditya." Lili langsung menutup wajah. "Malu." "Baru sadar?" "Diam." Mereka kembali tertawa. Lalu suasana perlahan berubah lebih tenang. Clara menopang dagu. Sementara Lili mulai menyemprotkan parfum. "Gue jadi takut deh." ucap Clara tiba-tiba. Lili menoleh. "Kenapa?" "Kalau lo tiba-tiba nikah gimana?" Lili terkekeh. "Gapapa dong." "Hah?" "Gue suka-suka aja." Clara langsung membulatkan mata. "Serius?" "Kalau memang waktunya." "Buset." Lili tertawa. "Kenapa?" "Lo santai banget." "Ya kenapa harus panik?" "Karena kalau nikah berarti pindah fase hidup." Lili diam sebentar. Memikirkan ucapan sahabatnya. Memang benar. Tapi entah kenapa ia tidak merasa takut. "Mungkin karena gue nggak sendirian." "Hm?" "Kalau sama orang yang tepat kayaknya nggak terlalu menakutkan." Clara tersenyum kecil. Jawaban itu terdengar sangat dewasa. "Ya juga sih." "Kan?" "Tapi kalau nanti nikah..." Clara menunjuk layar. "Jangan lupain gue." Lili langsung melotot. "Lo ngomong apaan?" "Takut aja." "Clara." "Hm?" "Mau gue nikah." "Iya." "Mau gue punya anak." "Iya." "Mau gue punya cucu." "WOI." Lili tertawa. "Lo tetap sahabat gue." Mata Clara langsung melunak. "Dasar." "Kenapa?" "Jadi terharu." "Jangan nangis." "Siapa yang nangis." Padahal matanya mulai berkaca-kaca. Lili mengenalnya terlalu lama. Jadi langsung tahu. "Cla." "Hm?" "Terima kasih ya." "Buat apa?" "Udah selalu ada." Clara tersenyum. "Lo juga." Sunyi beberapa saat. Tapi sunyi yang nyaman. Sunyi yang hanya bisa dimiliki sahabat lama. "Oh iya." kata Clara. "Apa?" "Keira tadi spam gue." "Hah?" "Iya." "Bilang apa?" Clara langsung tertawa. "Katanya kalau kalian nikah dia mau jadi bridesmaid paling cantik." Lili langsung terbahak. "Dia emang nggak ada obat." "Nah itu." "Terus Bella?" "Katanya dia yang bakal ngurus semua rundown." "HAHAHA." "Itu si Bella banget." Mereka kembali tertawa. Lalu terdengar ketukan di pintu kamar. Tok. Tok. Tok. "Lili?" Suara Bibi Sari terdengar dari luar. "Iya Bib?" "Katanya tamunya sudah datang." DEG. Lili langsung membeku. Clara yang melihat reaksinya langsung teriak. "WOIIII." Lili menutup wajah. "Dia datang." "Ya iyalah." "Cla." "Apa?" "Gue deg-degan." "Bagus." "Cla serius." "Santai." "Tapi..." "Lo cantik." "Hm." "Lo wangi." "Hm." "Lo pintar." "Hm." "Dan dia jelas senang ketemu lo." Lili tersenyum. Entah kenapa. Ucapan Clara selalu berhasil membuatnya tenang. "Oke." "Nah." "Kalau gitu gue turun." "Jangan lupa foto." "Pasti." "Dan kalau dia bikin lo senyum terus..." "Hm?" Clara tersenyum jahil. "Berarti gue benar." "Apaan?" "Lo bucin." "CLARAAA!" Panggilan langsung ditutup. Dan suara tawa Clara masih terdengar sampai layar menghilang. Sementara di depan cermin. Lili menarik napas panjang. Memperbaiki rambutnya sekali lagi. Lalu tersenyum pada bayangannya sendiri. Malam ini adalah malam yang ia tunggu. Dan untuk pertama kalinya setelah kelulusan... Jantungnya berdebar bukan karena ujian. Melainkan karena seseorang yang sedang menunggunya di bawah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD