Pertemuan Dia Keluarga

1845 Words
Sejak pukul sembilan pagi, suasana di rumah keluarga Samantha terasa jauh lebih sibuk dan hidup dari biasanya. Beberapa pembantu rumah tangga hilir mudik membawa nampan berisi perlengkapan makan. Petugas keamanan terlihat lebih siaga dan berhati-hati di setiap sudut. Bahkan tukang kebun sudah merapikan taman dan memotong rumput sejak subuh tadi agar tampak indah. Hari ini bukanlah hari biasa. Sebab hari ini, keluarga Aditya Pratama akan datang berkunjung. Bukan sekadar sebagai mitra bisnis, bukan pula sebagai relasi perusahaan, melainkan sebagai calon keluarga baru, calon besan mereka. Di dapur utama yang luas, Maya Samantha masih sibuk berdiri di dekat meja panjang sambil memeriksa dan memastikan segala hidangan sudah siap dengan sempurna. "Bibi, mie soup Medannya sudah matang dan siap disajikan?" tanya Maya memastikan. "Sudah, Nyonya. Semuanya sudah pas," jawab pembantu itu dengan sigap. "Terus bagaimana dengan gorengannya?" "Baru saja diangkat dari penggorengan, masih panas dan renyah." Maya mengangguk puas melihat hasilnya. Di meja makan yang panjang dekat dapur itu sudah tersusun rapi berbagai macam hidangan lezat: mie sop Medan, bakwan udang, tahu isi, risoles, lumpia, gado-gado, serta piring-piring berisi buah potong segar seperti semangka, melon, pepaya, dan nanas. Semuanya tampak sangat menggugah selera. Tak lama kemudian Jonathan masuk ke dapur, melihat pemandangan itu lalu tertawa kecil. "Maya..." panggilnya lembut. "Hm? Ada apa papa?" tanya Maya tanpa menoleh, masih sibuk mengatur tata letak piring. "Kita ini sebenarnya mau menerima tamu penting apa mau membuka restoran besar?" canda Jonathan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Maya langsung menoleh dan melototkan matanya. "Maksud lo? Besan lo ini Jonathan." Jonathan tertawa lepas. "Aku serius lho, isinya penuh sekali." "Ini hal yang sangat penting, Jonathan. Jangan bercanda," jawab Maya serius. "Iya, aku tahu kok, Sayang," jawab Jonathan lembut. Tanpa sadar Jonathan bergerak mengambil satu buah bakwan udang yang masih hangat. Namun belum sempat makanan itu masuk ke mulutnya— Plak! Tangannya langsung dipukul pelan namun tegas oleh Maya. "Aduh, sakit lho," protes Jonathan sambil menarik tangannya. "Belum tamunya datang, jangan diambil dulu," tegur Maya. "Kan cuma satu saja, Sayang..." "Jonathan..." panggil Maya dengan nada peringatan. "Baik, baik, aku mengalah," Jonathan langsung menyerah sambil tersenyum pasrah. Maya menghela napas panjang lalu menatap suaminya. "Jujur saja... aku merasa sangat deg-degan hari ini," ucapnya pelan. Jonathan langsung menghampiri istrinya dan tersenyum hangat. "Kenapa harus gugup, Sayang?" "Karena anak semata wayang kita... sebentar lagi akan dilamar orang," jawab Maya dengan suara bergetar haru. Jonathan ikut terdiam sejenak. Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang penuh makna, lalu ia tersenyum kecil. "Iya ya... rasanya baru kemarin," gumamnya. "Aku sendiri masih belum percaya rasanya," sambung Maya. "Padahal rasanya baru kemarin kita lihat dia berangkat sekolah pakai seragam SMA." Maya mengangguk setuju. "Betul sekali... waktu berjalan sangat cepat." Mereka berdua saling berpandangan, lalu tertawa kecil sendiri merasakan betapa berharganya waktu yang berlalu itu. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang berjalan agak cepat dari arah tangga lantai atas. "Lili..." panggil Maya menoleh ke sumber suara. Putri tunggal mereka itu muncul dengan penampilan yang sederhana namun sangat anggun mengenakan gaun berwarna biru muda. Rambut panjangnya dibiarkan terurai indah, namun wajahnya terlihat bercampur antara cerah dan gugup luar biasa. "Mama..." sapanya pelan. "Iya, Sayang?" "Aku... aku kelihatan aneh atau tidak pantas nggak, Ma?" tanyanya dengan ragu. Jonathan langsung menjawab tegas tanpa ragu sedikit pun. "Tidak sama sekali." "Papa serius?" "Serius sekali." "Benar-benar tidak ada yang salah?" "Benar, Sayang. Kamu terlihat cantik sekali." "Tapi... rasanya ada yang kurang..." "Lili..." potong Jonathan lembut namun tegas. "Kamu sudah bertanya hal yang sama hampir sepuluh kali sejak pagi tadi." Maya langsung tertawa melihat tingkah putrinya itu. Lili mengerucutkan bibirnya sedikit. "Kan aku gugup sekali, Pa..." "Itu hal yang sangat wajar, Sayang," hibur Maya. "Sangat wajar dan manusiawi." Lili pun duduk di samping mamanya. "Mama juga merasa gugup seperti aku?" "Iya, Mama juga merasa sama persis," jawab Maya jujur. Jonathan langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Dan Papa juga masuk dalam daftar itu." Lili langsung melongo kaget menatap ayahnya. "Papa juga gugup?" "Tentu saja dong," jawab Jonathan tersenyum. "Kenapa Papa bisa gugup?" "Karena ini pertama kalinya ada seorang laki-laki datang secara resmi ke rumah kita untuk melamar putri kesayangan Papa," jawab Jonathan lembut dan penuh makna. Wajah Lili seketika memerah padam karena malu. "Papa ini ada-ada saja..." "Tapi apa yang Papa katakan itu benar, Sayang," ucap Jonathan sambil mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang. "Yang paling penting dan utama bagi kami hanyalah satu hal: apakah kamu bahagia?" Lili mengangguk kecil dengan mantap. "Aku bahagia sekali, Pa, Ma." Maya tersenyum lega dan bahagia melihat ekspresi wajah itu. Ia tahu betul, senyum tulus seperti itu tidak bisa dibuat-buat atau dipalsukan oleh siapa pun. Sementara itu, di sisi lain kota... Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam sedang melaju tenang menuju kediaman keluarga Samantha. Di dalam kendaraan itu duduk keluarga Pratama: Ayah Adit bernama Richard Pratama, seorang pengusaha yang cukup disegani di kalangan bisnis, serta Ibunya, Veronica Pratama, seorang wanita yang sangat elegan, lembut, dan terkenal ramah kepada siapa saja. "Kamu juga merasa gugup, Nak?" tanya Veronica lembut kepada putranya yang duduk di kursi pengemudi. Adit yang sedang fokus melihat jalan di depannya langsung tersenyum tipis. "Sedikit saja kok, Bu," jawabnya pelan. Richard yang duduk di kursi belakang langsung tertawa renyah mendengar jawaban itu. "Akhirnya... ada juga hal atau kejadian yang mampu membuat kamu merasa gugup, Adit," ujar Richard penuh makna. "Apa maksud Papa?" "Biasanya kamu selalu jadi orang yang paling tenang, paling dingin, dan paling tidak mudah goyah dalam situasi apa pun," tambah Richard sambil tersenyum. Veronica ikut tertawa mendengarnya. "Biarkan saja, Mas. Wajar sekali rasanya. Anak kita ini mau datang secara resmi untuk melamar calon istrinya," ucap Veronica lembut. Adit tersenyum tipis mendengar kata-kata ibunya itu. Hatinya terasa hangat, damai, dan penuh haru setiap kali mendengar kata 'istri' yang disandingkan dengan namanya. Beberapa minggu terakhir ini berlalu begitu cepat dan indah, dan sekarang... ia sedang dalam perjalanan menuju rumah Lili, untuk menyampaikan niat tulusnya secara resmi kepada kedua orang tua gadis yang dicintainya itu. Tepat pukul sebelas siang, mobil hitam itu perlahan masuk dan melaju menuju halaman depan rumah keluarga Samantha. Petugas keamanan segera membukakan gerbang utama dengan sigap. "Mereka sudah datang!" seru salah satu pembantu yang melihatnya dari jendela. Maya langsung berdiri tegak dengan refleks. Jonathan ikut bangkit berdiri di samping istrinya. Sementara Lili di belakang mereka langsung menarik napas panjang dan dalam untuk menenangkan diri. "Ya Tuhan..." bisiknya lirih. "Mereka benar-benar datang..." Maya menggenggam tangan putrinya dengan erat dan lembut. "Tenang saja, Sayang. Semuanya akan berjalan baik-baik saja." "Aku benar-benar sangat deg-degan, Ma..." "Itu hal yang normal dan wajar, Nak. Tenanglah," hibur Maya. Suara mesin mobil akhirnya mati dan hening. Beberapa detik kemudian terdengar suara langkah kaki mendekati pintu utama. Pintu rumah pun dibuka. Jonathan berjalan lebih dulu maju menyambut, diikuti Maya di sampingnya, sedangkan Lili berjalan sedikit di belakang kedua orang tuanya. "Selamat datang di rumah kami," ucap Jonathan dengan senyum hangat dan tulus. Richard langsung menyambut dan menjabat tangan sahabat lamanya itu dengan erat. "Terima kasih banyak, Jonathan," jawabnya ramah. Veronica juga tersenyum sangat hangat menyapa. "Maya, apa kabar, Sayang?" "Kabar baik sekali, Veronica. Terima kasih sudah berkenan datang," jawab Maya sopan. "Senang sekali rasanya akhirnya bisa berkunjung ke sini," ujar Veronica. Maya mengangguk. "Kami pun demikian, sangat senang sekali." Tak lama kemudian pandangan mata Veronica beralih dan menemukan sosok Lili yang berdiri agak di belakang. Senyum wanita itu langsung melebar dan terlihat sangat tulus. "Halo, Sayang..." sapanya lembut. Lili tersenyum malu namun sopan. "Halo, Tante Veronica." "Astaga..." Veronica langsung melangkah mendekat menghampiri gadis itu. "Kamu cantik sekali hari ini, Nak." Wajah Lili seketika memerah padam karena tersipu malu. "Terima kasih banyak, Tante," jawabnya pelan. Di sisi lain, Richard memperhatikan putra semata wayangnya yang berdiri tak jauh dari situ. Ia tersenyum lalu berbisik pelan menahan tawa. "Adit..." "Iya, Pa?" "Kamu terlihat sangat bahagia sekali hari ini," ujar Richard penuh makna. Jonathan yang mendengarnya langsung ikut tertawa lepas. "Sangat terlihat jelas sekali, Pak Richard," tambah Jonathan. Adit hanya bisa menghela napas panjang pelan. Ternyata ia dikerjai dan digoda oleh dua orang ayah sekaligus. Memang tidak mudah posisinya saat ini. "Ayo silakan duduk, mari kita masuk ke belakang," ajak Jonathan ramah. Mereka semua pun berjalan menuju area taman di belakang rumah yang terletak di dekat kolam renang. Tempat itu memang menjadi lokasi favorit keluarga Samantha karena suasananya yang sangat nyaman. Udara terasa sejuk, angin berhembus pelan menyapa, dan pepohonan rindang di sekelilingnya membuat suasana semakin damai dan teduh. Di tengah area itu sudah tersedia meja panjang yang penuh dengan hidangan lezat. Begitu melihat tumpukan makanan yang tersaji lengkap itu, mata Veronica langsung membelalak kaget. "Ya ampun... banyak sekali persiapannya," serunya kagum. Richard ikut tertawa melihatnya. "Benar sekali. Sangat banyak dan lengkap sekali isinya." Maya tersenyum ramah. "Hanya makanan-makanan sederhana buatan rumah saja kok." "Sederhana dari mana maksudnya, Maya? Ini tampak sangat istimewa dan lengkap sekali," jawab Richard sambil tersenyum. Semua orang pun ikut tertawa renyah. Mereka mulai duduk mengelilingi meja panjang itu, lalu mencicipi satu per satu hidangan yang tersaji. Veronica mencoba mie soun Medan yang ada di piringnya, dan begitu merasakan rasanya matanya langsung berbinar senang. "Enak sekali rasanya, Maya. Sungguh lezat," puji Veronica tulus. "Syukurlah kalau Bunda suka," jawab Maya lega. Richard terlihat sangat menikmati hidangan itu, terutama gorengannya. Ia mengambil satu potong, lalu tak lama kemudian mengambil lagi, dan sekali lagi. Jonathan yang melihatnya hanya bisa tertawa kecil. "Ternyata Pak Richard sangat menyukai gorengan ya rupanya," ujar Jonathan menyadari hal itu. "Sangat menyukainya sekali," jawab Richard dengan jujur tanpa ragu. Sementara itu, di ujung meja yang agak jauh, Lili dan Adit hanya diam sambil sesekali saling mencuri pandang diam-diam, berusaha menyembunyikan rasa bahagia yang meluap-luap. Hingga akhirnya Veronica memergoki tingkah laku mereka berdua itu. "Hm..." suara deheman Veronica membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya. Wanita itu tersenyum penuh arti lalu menunjuk ke arah dua anak muda itu. "Dari tadi lho... saling lirik-lirikan terus, nggak habis-habisnya," godanya lembut. Lili yang sedang minum langsung tersedak kaget dan terbatuk kecil. "Bu... Tante!" serunya malu setengah mati. Adit hanya bisa menutupi sebagian wajahnya dengan tangan sejenak karena merasa sangat malu namun tersenyum bahagia. Richard tertawa sangat keras dan lepas mendengar kejadian itu. "Biarkan saja mereka berdua, itu hal yang wajar," ujarnya. Jonathan ikut tertawa setuju, begitu juga Maya yang tersenyum melihat tingkah polah putrinya. Sementara Lili rasanya ingin sekali menghilang ke dalam tanah saat itu juga karena rasa malunya yang luar biasa. "Malu sekali..." gumamnya pelan hampir tak terdengar. Adit berani menatap gadis itu sekilas, lalu memberikan senyum paling tulus dan lembut yang ia miliki. Dan senyuman itu cukup membuat pipi Lili semakin merah merona. Suasana makan siang itu berlangsung sangat hangat, akrab, penuh tawa, serta obrolan ringan yang menyenangkan. Namun akhirnya, setelah semua orang selesai menikmati hidangan dan minuman yang tersaji, suasana perlahan berubah menjadi lebih tenang. Jonathan meletakkan gelasnya dengan perlahan di atas meja. Richard juga melakukan hal yang sama persis. Mereka berdua saling berpandangan, lalu tersenyum penuh makna. Semua orang yang hadir di sana sudah paham betul: tujuan utama pertemuan besar dan hangat hari ini bukan sekadar untuk makan siang bersama, melainkan untuk membicarakan langkah besar yang akan segera mengubah kehidupan kedua keluarga ini selamanya. Dan suasana pun perlahan berubah menjadi lebih serius dan penuh harapan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD