Siang hari Sabtu itu, sebuah kafe yang cantik dan nyaman di kawasan Jakarta Selatan tampak cukup ramai dikunjungi orang. Lagu-lagu lembut mengalun pelan dari pengeras suara, sementara aroma kopi yang baru diseduh dan kue-kue panggang memenuhi ruangan dengan wangi yang menggugah selera.
Di sudut dekat jendela besar, tiga orang gadis sedang duduk mengelilingi sebuah meja bundar: Lili Samantha, Keira Wijaya, dan Bella Pradipta. Hari itu mereka sengaja berkumpul untuk bersantai dan mengobrol sebelum memasuki masa perkuliahan yang baru. Atau setidaknya... sebelum dua orang di antara mereka memulai kehidupan kampus. Sebab satu orang lagi, yaitu Lili, kini menjadi topik pembicaraan utama yang paling hangat.
Keira yang sedang menyesap es kopinya tiba-tiba meletakkan gelas itu ke meja dengan gerakan tegas.
"Oke, cukup santainya," katanya.
"Apa nih?" tanya Lili.
"Sekarang kita mulai rapat resmi," seru Keira.
Bella langsung tertawa mendengarnya.
"Rapat apaan sih?"
"Rapat membahas masa depan," jawab Keira mantap.
Lili langsung memegang kepalanya yang terasa pening.
"Ya ampun, ada-ada saja kalian ini."
"Tidak ada yang 'ya ampun-ya ampun'," tolak Keira sambil menunjuk tepat ke arah Lili. "Kita bahas kamu sekarang."
"Kenapa harus aku?" tanya Lili tak habis pikir.
"Karena hidup kamu paling seru dan paling banyak berubah belakangan ini," jawab Keira santai.
Bella di sebelahnya langsung mengangguk setuju.
"Memang benar kata Keira."
Lili melongo menatap kedua sahabatnya itu.
"Kalian berdua kompak banget sih kalau sudah begini."
"Kita memang selalu kompak, itu sudah rahasia umum," jawab Keira dengan bangga.
Saat itu pelayan datang menghampiri membawa pesanan mereka: sepiring pasta untuk Bella, segelas cokelat dingin untuk Lili, serta croffle kesukaan Keira. Begitu pelayan pergi kembali ke dapur, Keira kembali membuka pembicaraan dengan serius.
"Oke, kita lanjut lagi."
"Iya, siap," jawab Lili pasrah.
"Lili..."
"Apa lagi sih?"
"Jadi... kamu serius dengan rencana itu?"
Lili sudah tahu betul pertanyaan apa yang akan terlontar. Memang sudah dua minggu terakhir ini, setiap bertemu sahabat-sahabatnya, pertanyaan yang sama selalu diajukan kepadanya.
"Aku serius," jawabnya sambil tersenyum tenang.
Bella menatapnya lekat-lekat.
"Udah mantap benar keputusannya?"
Lili mengangguk tegas.
"Mantap."
"Seratus persen yakin?"
"Seratus persen."
Keira langsung menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menghela napas panjang.
"Gila..."
"Kenapa lagi?" tanya Lili.
"Teman gue mau nikah," ucap Keira seolah tak percaya.
Lili tertawa kecil.
"Emangnya ada yang salah?"
"Rasanya baru kemarin kita masih duduk bareng di kelas, kamu masih sering pinjam penggaris aku," kenang Keira.
Bella ikut tertawa setuju.
"Itu benar juga sih."
"Iya kan?" Keira kembali menunjuk ke arah Lili. "Sekarang tiba-tiba saja kamu mau jadi istri orang lain."
Lili langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan karena tersipu malu.
"Kalian ini ya..."
Bella tersenyum hangat menatap sahabatnya itu.
"Tapi jujur saja... aku senang sekali melihat kamu terlihat bahagia begini."
Ucapan yang tulus itu membuat hati Lili terasa hangat. Ia tahu betul, Bella selalu menjadi sosok yang paling tenang, paling dewasa, sekaligus paling jujur di antara mereka bertiga.
"Makasih ya, Bel," ucap Lili lembut.
Bella mengangguk pelan.
"Asalkan kamu benar-benar yakin dengan keputusanmu itu."
"Aku yakin sekali," jawab Lili mantap.
Keira langsung menyela dengan nada bercanda.
"Kalau ternyata nggak yakin juga sih sudah telat, kan?"
"Keiraaa!" seru Lili protes.
Hahaha... Mereka pun tertawa bersama riang.
Beberapa saat berlalu, Bella membuka ponselnya yang ada di meja.
"Ngomong-ngomong soal masa depan... aku ada kabar," katanya. "Aku sudah diterima di Universitas Indonesia."
"WOHOOO! KEREN BANGET!" seru Keira sambil langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi penuh semangat.
Bella tersenyum malu namun bahagia.
"Masih agak deg-degan rasanya sih."
"Di jurusan yang memang kamu cita-citakan dari dulu kan?" tanya Keira memastikan.
"Iya, benar," jawab Bella.
Lili ikut tersenyum bangga.
"Selamat ya, Bel. Kamu memang hebat."
"Makasih, Li."
Lalu kedua gadis itu serentak menoleh ke arah Keira.
"Nah sekarang giliran kamu, Keira," kata Bella.
Keira berdeham pelan sambil membetulkan duduknya.
"Aku juga... diterima."
"Di mana?" tanya mereka penasaran.
"Di Binus."
"WAAAAH! HEBAT JUGA KAMU!" kali ini giliran Bella dan Lili yang bersorak gembira.
Keira langsung berdiri sebentar sambil pura-pura membungkuk hormat layaknya orang yang baru saja menerima penghargaan besar.
"Terima kasih banyak, terima kasih..."
"Lebay banget sih," celetuk Lili sambil tertawa.
"Memang," jawab Keira tak peduli.
Suasana kembali riuh dengan tawa mereka. Terasa hangat, damai, dan sangat nyaman persis seperti biasanya. Hingga akhirnya Keira kembali menatap tajam ke arah Lili.
"Nah sekarang... giliran pembahasan selanjutnya."
"Apa lagi sih?" keluh Lili sambil tersenyum pasrah.
"Kamu," jawab Keira tegas.
Lili menghela napas panjang.
"Aku sudah tahu arah pembicaraannya."
"Jawab pertanyaan kami dong," pinta Keira.
Bella ikut tersenyum lembut lalu bertanya.
"Terus soal kuliahnya bagaimana rencanamu, Li?"
Lili memainkan sedotan minumannya pelan-pelan. Jujur saja, pertanyaan ini memang sudah cukup sering ditanyakan kepadanya—bahkan dari lingkungan keluarga besarnya sendiri.
"Aku tetap mau kuliah," jawabnya tegas.
Keira mengangguk puas.
"Nah, itu baru bagus."
"Tapi mungkin... baru akan dimulai setelah aku menikah nanti," tambah Lili.
Bella dan Keira saling berpandangan. Wajah mereka tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun, karena memang sudah menduga hal itu akan terjadi.
"Kamu sudah bicara soal ini sama orang tua?" tanya Bella ingin tahu.
"Sudah," jawab Lili.
"Terus tanggapan mereka bagaimana?"
"Mama sama Papa mendukung sepenuhnya keputusanku itu."
Keira mengangkat alisnya kaget namun senang.
"Serius?"
"Iya, sungguh."
"Mereka sama sekali tidak keberatan?"
Lili menggeleng pelan.
"Mama bilang, yang paling penting dan utama adalah aku tetap melanjutkan pendidikan dan belajar setinggi mungkin."
Bella tersenyum lega.
"Itu pemikiran yang sangat tepat dan bagus."
Lili ikut mengangguk setuju.
"Aku juga tidak mau berhenti belajar, tidak mau berhenti menuntut ilmu begitu saja."
"Bagus sekali," puji Keira. Ia lalu menunjuk jari telunjuknya ke arah Lili. "Ingat ya, nanti kalau sudah jadi nyonya besar tetap harus jadi wanita yang pintar dan berwawasan luas."
Lili tertawa mendengar nasihat itu.
"Siap, Bu Guru Keira!"
"Bagus," jawab Keira puas.
Bella menatap wajah sahabatnya itu cukup lama dengan pandangan yang lembut dan penuh perhatian.
"Li... kamu takut nggak?"
Pertanyaan sederhana itu membuat Lili langsung terdiam sejenak. Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Jujur saja... pertanyaan serupa memang pernah muncul dan dipikirkannya sendiri.
"Ada sedikit rasa takut," akhirnya jawab Lili pelan dan jujur.
"Takut kenapa?" tanya Keira lembut.
"Takut karena rasanya semuanya akan berubah total," jawab Lili.
Bella mengangguk paham.
"Itu wajar sekali, sangat masuk akal kalau kamu merasa begitu."
Lili mengalihkan pandangannya ke luar jendela besar kafe itu. Melihat orang-orang yang berlalu-lalang di trotoar, kendaraan yang terus melintas di jalan raya... hidup memang terus berjalan maju tanpa henti.
"Aku kadang berpikir..." gumam Lili pelan.
"Hm? Berpikir apa?"
"Beberapa bulan yang lalu saja kita masih duduk seragam sebagai anak-anak SMA," kenangnya.
Bella tersenyum sendu namun manis.
"Iya, benar sekali."
"Tapi sekarang... tiba-tiba saja aku akan melangkah ke kehidupan baru, mau menikah," lanjut Lili.
Keira menyandarkan dagunya di atas meja sambil menatap sahabatnya itu.
"Kalau dipikir-pikir memang terasa berjalan sangat cepat."
"Iya kan?"
"Tapi..." Keira tersenyum lebar. "Aku melihat sesuatu yang jelas dari kamu."
"Apa itu?"
"Aku melihat kamu bahagia sekali," ucap Keira tulus. "Dan menurutku... itu adalah hal yang paling penting dari segalanya."
Bella ikut mengangguk mantap setuju.
"Aku setuju sekali dengan pendapat itu."
Lili membalas senyuman mereka dengan hati yang terasa hangat dan damai. Ia bersyukur luar biasa karena sejak awal persahabatan mereka, kedua sahabatnya ini tidak pernah menghakimi, tidak pernah memaksakan kehendak, dan tidak pernah menyuruhnya begini-begitu. Mereka hanya ada untuk mendukung dan menemani, persis seperti sahabat sejati yang sesungguhnya.
"Aku sangat beruntung sekali punya kalian berdua," ucap Lili dengan suara lembut dan penuh haru.
"Aaaa... terharu banget dengernya," seru Keira sambil pura-pura mengusap air mata.
"Drama banget sih kamu," celetuk Bella sambil tertawa kecil.
"Diam kamu," balas Keira tak terima.
Mereka pun kembali tertawa lepas bersama.
Tak lama kemudian, ponsel yang ada di hadapan Lili tiba-tiba bergetar. Nama Adit terlihat jelas muncul di layar.
"Wuihh... lihat tuh!" seru Keira langsung menunjuk.
Bella ikut melirik sekilas sambil tersenyum menggoda.
"Calon suami menelepon..."
Pipi Lili seketika memerah padam karena malu.
"Kalian berdua jangan berteriak-teriak begitu dong..."
"Angkat saja teleponnya," suruh Keira.
"Kenapa harus sekarang?"
"Biar kami dengar dan lihat saja," jawab Keira jahil.
"NGGAK MAU!" tolak Lili cepat.
Hahaha... tawa mereka pecah lagi.
Akhirnya Lili pun mengangkat panggilan itu.
"Halo..." sapanya pelan.
Suara lembut dan hangat Adit terdengar dari seberang telepon.
"Halo, Sayang..."
Keira langsung memegangi dadanya sendiri seolah mau pingsan karena gemas. Bella menutup mulutnya rapat-rapat menahan tawa yang meledak. Sementara Lili rasanya ingin sekali menghilang begitu saja dari tempat itu karena malu setengah mati.
"Kamu lagi apa, Sayang?" tanya Adit dari seberang.
"Aku... aku lagi sama Bella dan Keira," jawab Lili dengan suara yang masih agak tercekat.
"Oh, begitu rupanya. Salam hangat buat mereka berdua ya," pesan Adit ramah.
Belum sempat Lili menyampaikannya, Keira langsung berteriak kencang sekali.
"HALO KAK ADIT!"
Lili hampir tersedak minumannya sendiri karena kaget.
"KEIRAAAA!"
Dari seberang sambungan telepon terdengar jelas suara tawa renyah Adit.
"Halo juga, Keira..."
Bella ikut menyapa dengan sopan.
"Halo, Kak Adit."
Lili hanya bisa menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Sungguh, ia sudah sangat malu sekali.
"Teman-teman kamu seru dan asyik sekali ya," ucap Adit tertawa.
"Memang begitu saja kelakuan mereka dari dulu," jawab Lili pasrah.
Setelah berbicara beberapa menit lagi, panggilan telepon itu akhirnya berakhir. Begitu layar ponsel mati kembali, Keira langsung menepuk meja dengan keras.
"FIX!"
"Apa yang fix?" tanya Lili bingung.
"Kamu benar-benar bahagia sekali, Li. Itu sudah terbukti jelas," tegas Keira.
Lili tersenyum kecil dengan wajah yang merona merah.
"Iya... aku bahagia sekali."
Bella tersenyum hangat menyaksikan pemandangan itu.
Untuk pertama kalinya siang itu, mereka bertiga terdiam sejenak dalam keheningan yang damai. Mereka menyadari satu hal yang nyata: masa-masa indah sekolah menengah atas mereka benar-benar sudah usai. Sebentar lagi jalan hidup masing-masing akan berbelok ke arah yang berbeda. Bella akan melanjutkan studi ke kampusnya. Keira juga akan menempuh pendidikan di universitasnya. Dan Lili akan memulai babak baru yang besar dalam hidupnya: menjadi seorang istri.
Namun apa pun yang akan terjadi nanti, ke mana pun jalan hidup mereka akan membawa, satu hal yang pasti: mereka akan tetap menjadi sahabat baik seperti dulu, seperti saat ini, dan semoga... untuk waktu yang sangat, sangat lama.