Lili Centil

1553 Words
Pagi itu pukul delapan lebih sedikit. Sinar matahari mulai masuk menerobos lewat celah tirai jendela kamar Lili Samantha, membuat suasana terasa hangat dan nyaman. Hari ini jadwalnya benar-benar kosong; tidak ada pertemuan dengan Adit, tidak ada urusan keluarga, dan tidak ada lagi fitting gaun pengantin yang biasanya membuatnya sedikit lelah. Hari ini adalah waktunya khusus untuk merawat diri. Lili berdiri di depan cermin besar, menyisir rambut panjangnya yang terlihat berkilau. Ia mengenakan blouse berwarna putih lembut dipadukan dengan celana jeans biru muda yang pas di badan. Riasannya sangat tipis, hanya cukup menggunakan pelembap, bedak tipis, dan sedikit lip balm agar terlihat segar saja. Sambil tersenyum melihat pantulan dirinya, ia bergumam sendiri dengan nada sedikit centil. “Pagi ini harus semangat ya. Sudah janji sama dokter kecantikan untuk perawatan wajah dan seluruh tubuh, termasuk area sensitif sekalipun. Biar nanti kulitnya tetap halus, lembut, dan terawat sempurna. Pokoknya biar Mas Adit makin cinta mati sama aku, supaya hatinya tetap lengket dan nggak ada celah sedikit pun buat digoda atau tergoda sama pelakor mana pun. Hehe.” Ia melangkah mendekati meja rias, lalu memasukkan beberapa barang ke dalam tas kecilnya. “Setelah selesai dari klinik nanti, baru gue langsung ke salon buat merapikan rambut. Cukup dipotong sedikit saja dan dirawat biar makin berkilau, nggak perlu dipendekkan terlalu banyak. Sudah cukup rencananya, semuanya harus sempurna buat hari besar nanti.” Setelah memastikan semua kebutuhannya sudah siap, Lili bergegas turun ke lantai bawah. Di ruang makan, kedua orang tuanya sudah duduk menikmati sarapan pagi. “Lho, tumben sudah siap berangkat pagi-pagi sekali?” tanya Maya sambil tersenyum melihat putrinya yang terlihat bersemangat. “Iya, Ma. Hari ini ada jadwal merawat diri supaya tetap segar dan bugar menjelang hari pernikahan nanti,” jawab Lili sambil mendekat. “Mau ke mana saja?” tanya Maya lagi. “Pertama ke klinik kecantikan langganan dulu buat perawatan lengkap, terus nanti siang baru lanjut ke salon buat merapikan rambut. Biar semuanya terasa nyaman dan maksimal,” jelas Lili dengan nada ceria. Jonathan yang sedang membaca koran sambil menyeruput kopinya ikut menyahut sambil tersenyum. “Papa kira mau berangkat belanja lagi sampai menghabiskan banyak uang. Kalau cuma merawat diri, itu bagus sekali.” Lili langsung tertawa mendengar candaan ayahnya. “Nggak terus-terusan belanja kan, Pa. Kali ini investasi buat diri sendiri supaya lebih percaya diri dan terasa istimewa di hari bahagia nanti.” “Syukurlah kalau begitu. Papa sempat khawatir melihat kartu kredit terasa sering bergetar akhir-akhir ini,” canda Jonathan lagi sambil tertawa kecil. “Ya ampun, Papa ini suka bercanda saja,” kata Lili sambil memukul pelan lengan ayahnya dengan wajah sedikit cemberut tapi tetap tersenyum. Maya ikut tertawa melihat interaksi mereka. “Sudah-sudah. Lili, jangan lupa sarapan dulu sebelum pergi ya. Perut kosong nanti malah pusing kalau sudah lama dirawat.” “Sudah kok, Ma. Tadi sudah makan sedikit di kamar supaya tenang. Ini sudah siap berangkat benar-benar,” jawab Lili sambil mencium tangan kedua orang tuanya sebagai tanda berpamitan. “Baiklah, hati-hati di jalan ya. Bawa mobil sendiri harus lebih waspada, jangan ngebut,” pesan Maya dengan lembut. “Iya, siap. Hati-hati pasti, nggak akan berani melaju kencang,” jawab Lili antusias. Beberapa menit kemudian, mobil putih milik Lili meluncur keluar dari garasi rumah. Ia menyetir dengan santai sambil memutar lagu-lagu kesukaannya yang lembut, membuat suasana terasa makin menyenangkan. Saat berhenti di lampu merah, ia melirik sekilas ke cermin spion, tersenyum sendiri sambil bergumam lagi. “Sebentar lagi benar-benar akan jadi istri orang. Rasanya masih seperti mimpi yang indah sekali. Semua perawatan ini biar nanti saat dekat dengan Mas Adit, aku bisa terasa paling istimewa untuknya saja. Supaya dia makin sayang dan nggak pernah melirik ke mana pun lagi. Ya, semuanya harus sempurna untuk dia.” Tak lama kemudian, mobil itu tiba di depan klinik kecantikan yang sudah sering ia kunjungi. Begitu masuk, resepsionis langsung menyambutnya dengan ramah. “Selamat pagi, Kak Lili. Sudah kami catat janji temu Anda hari ini dengan dokter. Silakan duduk sebentar, sebentar lagi dipanggil.” “Pagi juga. Terima kasih banyak,” jawab Lili sambil tersenyum manis. Beberapa menit kemudian, dokter yang biasa menangani Lili datang menyapanya. “Selamat pagi, Lili. Sehat selalu kan?” “Pagi, Dok. Alhamdulillah sehat-sehat saja,” jawabnya sopan. “Kabar baiknya, saya dengar sebentar lagi kamu akan melangsungkan pernikahan ya? Selamat ya, semuanya berjalan lancar dan bahagia selalu.” Lili tersenyum malu-malu, pipinya sedikit memerah. “Terima kasih banyak, Dok. Iya, tinggal menghitung hari saja rasanya.” “Bagus sekali. Hari ini kita akan melakukan perawatan menyeluruh, mulai dari wajah agar tetap cerah dan kenyal, perawatan seluruh tubuh supaya kulit tetap halus dan lembap, sampai perawatan khusus area sensitif agar tetap terjaga kebersihan, kesehatan, dan kelembutannya. Semua ini aman dan cocok supaya tubuh terasa nyaman, segar, dan terawat sempurna menjelang hari bahagia,” jelas dokter dengan tenang. “Siap, Dok. Itu yang saya inginkan. Biar nanti suami saya makin senang dan merasa puas melihat istrinya terawat dengan baik,” jawab Lili dengan nada sedikit centil tapi tetap sopan. Selama beberapa jam berikutnya, Lili menikmati setiap proses perawatan yang dilakukan dengan lembut dan hati-hati. Ia merasa sangat rileks, seolah seluruh rasa lelah perlahan hilang digantikan rasa nyaman yang menenangkan. Mulai dari pijatan lembut, masker wajah, lulur, hingga perawatan khusus yang membuat kulit terasa jauh lebih halus dan lembut dari sebelumnya. Setelah semua selesai, ia berdiri dan bercermin di kaca besar. Matanya terlihat berbinar melihat hasilnya. “Wah, rasanya tubuh jadi terasa jauh lebih ringan, segar, dan kulitnya terasa sangat halus sekali. Bagus sekali hasilnya,” serunya dengan senyum lebar. Dokter pun tersenyum melihat reaksi Lili. “Yang paling penting setelah ini tetap jaga kebiasaan ya. Banyak minum air putih, tidur cukup, dan jangan terlalu stres memikirkan persiapan pernikahan. Semua itu akan membuat hasil perawatan ini bertahan lebih lama.” “Siap, Dok. Pasti saya ingat semua pesanannya. Untungnya Mas Adit sangat pengertian dan banyak membantu, jadi saya tidak terlalu merasa terbebani,” jawab Lili sambil tersenyum mengingat tunangannya. “Bagus sekali, itu tandanya calon suami yang baik dan perhatian. Semoga rumah tangga kalian nanti selalu penuh kebahagiaan,” tambah dokter ramah. Keluar dari klinik, Lili melangkah dengan perasaan yang sangat ringan dan bahagia. Ia kembali melirik jadwal di ponselnya. “Berikutnya menuju salon. Cukup merapikan saja, sedikit dipotong ujungnya supaya terlihat lebih sehat, lalu diberi perawatan rambut biar makin berkilau dan lembut saat disentuh. Biar nanti saat dipeluk Mas Adit, rambutku terasa harum dan menyenangkan untuknya.” Sesampainya di salon kesayangannya, para penata rambut langsung menyambutnya dengan antusias. “Selamat datang, Kak Lili. Sudah lama sekali tidak melihat Anda datang ke sini.” “Iya, memang agak sibuk dengan persiapan hari besar nanti. Sekarang baru ada waktu luang lebih banyak,” jawab Lili sambil duduk di kursi penata rambut. “Mau dipotong berapa banyak ya? Atau sekadar diratakan saja?” tanya salah satu penata rambut sambil menyisir rambut panjangnya. “Cukup dipotong sedikit saja ujungnya yang sudah agak kering, jangan terlalu pendek. Saya masih sangat sayang dengan rambut panjang ini. Terus berikan perawatan biar lebih lembut dan berkilau lagi ya,” pesan Lili dengan nada lembut namun jelas. “Siap. Biasanya calon pengantin memang hanya ingin merapikan saja supaya tetap terlihat alami dan indah saat hari pernikahan nanti,” jawab penata rambut itu sambil mulai mengerjakan tugasnya. Selama proses berlangsung, Lili duduk santai sambil menikmati secangkir teh hangat yang disajikan. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Begitu melihat nama pengirimnya, senyumnya langsung mengembang lebar. Mas Aditya: “Lagi di mana dan sedang apa, Sayang? Semoga harimu menyenangkan ya.” Lili langsung mengetik balasan dengan cepat sambil sesekali tersenyum sendiri. Lili: “Lagi di salon nih, Mas. Baru saja selesai dari klinik kecantikan juga. Hari ini merawat diri sepenuhnya supaya nanti pas hari pernikahan, Mas punya istri yang kulitnya halus, wangi, dan cantik maksimal khusus buat Mas saja. Biar nggak ada alasan buat melirik yang lain ya.” Beberapa detik kemudian balasan masuk. Mas Aditya: “Buat Mas, kamu sudah cantik dan sempurna apa adanya tanpa perlu perawatan apa pun. Tapi tetap saja senang mendengarnya, semoga nyaman dan menikmati harimu. Jangan terlalu lelah ya.” Lili membaca pesan itu berulang kali, sampai wajahnya terlihat semakin berseri-seri. Ia tertawa kecil yang membuat penata rambut di sampingnya penasaran. “Kelihatannya sangat bahagia sekali, Kak. Pesan dari calon suami ya?” Lili mengangguk malu-malu sambil tersenyum centil. “Iya, dia selalu tahu cara membuat hatiku senang. Rasanya semua usaha merawat diri ini jadi terasa lebih berharga hanya untuknya seorang.” “Pantas saja senyumnya tidak pernah hilang. Pasti sangat bahagia menunggu hari pernikahan nanti,” kata penata rambut itu sambil ikut tersenyum. “Benar sekali. Semua yang saya lakukan hari ini bukan sekadar mengubah penampilan, tapi supaya saya merasa lebih percaya diri, lebih nyaman, dan bisa memberikan yang terbaik hanya untuk Mas Adit. Biar dia makin cinta, makin lengket, dan nggak pernah berpaling ke mana pun. Ingin menjadi satu-satunya wanita yang paling dia cintai selamanya,” gumam Lili lembut sambil memandang bayangannya di cermin. Saat semua perawatan selesai, ia mengusap lembut rambutnya yang terasa jauh lebih halus dan berkilau. Rasanya puas sekali melihat hasilnya. Hari ini terasa sangat menyenangkan dan bermanfaat baginya. Sebagai penutup, ia berjanji dalam hati bahwa dirinya akan selalu menjaga penampilan dan kesehatan, bukan hanya sekarang tapi juga selamanya, agar kebahagiaan bersama Adit bisa terus terjaga dengan indah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD