Mall mewah itu terasa ramai dipenuhi pengunjung yang berlalu-lalang. Di salah satu butik perhiasan ternama, Lili berdiri di depan etalase kaca sambil memperhatikan deretan cincin berlian yang berkilauan terkena cahaya lampu. Matanya sampai terasa bingung memilih.
“Ya ampun…” gumamnya pelan. “Semuanya terlihat bagus sekali.”
Di sampingnya, Adit hanya memperhatikan calon istrinya sambil tersenyum lembut.
“Hm?”
Lili segera menoleh.“Mas.”
“Iya, Sayang?
“Menurut Mas, yang mana yang paling bagus?”
Adit ikut melihat beberapa model cincin yang tersedia. Ada yang desainnya sederhana, ada yang penuh taburan berlian, dan ada pula yang bergaya klasik. Namun setelah beberapa saat, ia kembali menatap Lili.
“Kalau menurut Mas… apa pun yang kamu pilih pasti akan terlihat cantik.”
Lili langsung tertawa mendengar jawabannya.“Mas jawabannya sangat aman sekali ya.”
“Karena memang itulah kenyataannya.”
“Jadi Mas tidak mau membantu memilihkan?”
“Tentu saja mau.”
Adit kemudian mengambil satu cincin dengan desain yang terlihat elegan.
“Bagaimana? Suka yang ini?”
Lili mencobanya di jari, lalu menggeleng pelan.“Cantik sih… tapi rasanya kurang pas di hatiku.”
“Kalau yang ini, Nona?” tanya staf butik sambil mengeluarkan model lainnya.
Lili kembali memakainya, lalu mengangkat tangannya ke arah cahaya lampu. Butiran berlian kecil itu pun berkilau indah.
“Mmm…”
Ia masih terlihat ragu untuk memutuskan. Adit sama sekali tidak menyuruhnya untuk mempercepat keputusan. Ia justru duduk santai sambil terus memperhatikan setiap ekspresi yang terlihat di wajah Lili.
“Mas…”
“Hm?”
“Kalau aku memilih yang desainnya lebih elegant, tidak apa-apa kan?”
“Tentu saja boleh.”
“Aku memang tidak terlalu suka yang terlalu ramai atau berlebihan.”
Adit tersenyum mengerti.
“Itu memang ciri khas dirimu yang aku kenal.”
Setelah melihat-lihat lagi, Lili akhirnya mengambil satu cincin dengan gaya klasik yang terlihat anggun. Ia pun tersenyum lebar.
“Nah… yang ini pas sekali.”
“Cocok rasanya.”
Adit ikut melihat dengan saksama, lalu mengangguk setuju.
“Iya, benar sekali.”
Lili mengangkat tangannya kembali.
“Lihat deh… rasanya sangat cocok untuk menjadi cincin tunangan kita berdua.”
Adit memperhatikan sejenak, lalu tersenyum penuh rasa bangga.
“Kalau calon istri Mas sudah merasa suka dan cocok… berarti itulah pilihan yang paling tepat.”
Lili tersenyum semakin lebar.
“Aku merasa sangat senang sekali.”
Belum selesai sampai di situ, Adit kembali berbicara kepada staf butik.
“Selain cincin ini, saya juga ingin melihat koleksi perhiasan berlian yang satu set.”
Lili langsung menoleh dengan terkejut.
“Hah? Mas…”
Staf butik segera membawa beberapa kotak perhiasan yang tertata rapi. Di dalamnya terdapat kalung, anting, dan gelang dengan desain yang senada dan serasi.
Lili langsung menggeleng cepat.
“Mas… ini terlalu banyak.”
Adit tersenyum dengan tenang.
“Belum apa-apa kok.”
“Tapi ini terasa terlalu mewah sekali.”
Adit segera menggenggam tangan Lili dengan lembut.
“Anggap saja ini sebagai hadiah dari Mas.”
“Tapi…”
“Tidak setiap hari calon istri Mas memilih perhiasan untuk dikenakan nanti.”
Lili menggigit bibirnya sambil tersenyum malu.
“Aku jadi merasa tidak enak hati.”
“Kenapa begitu?”
“Karena Mas terlalu baik sekali kepadaku.”
Adit mengusap punggung tangannya dengan lembut.
“Itu karena kamu sangat berharga untuk Mas.”
Lili akhirnya mengangguk pelan.
“Iya, Mas. Terima kasih banyak.”
“Sama-sama, calon istri Mas.”
Pipi Lili langsung terasa memerah karena rasa bahagia dan malu bercampur menjadi satu.
Setelah semua urusan selesai, mereka pun berjalan keluar dari butik. Lili masih sesekali melirik ke arah kantong belanja yang dipegang oleh Adit.
“Mas…”
“Hm?”
“Rasanya semua ini masih terasa seperti sedang bermimpi saja.”
“Kenapa begitu?”
“Dulu aku masih memakai seragam sekolah menengah atas, tapi sekarang sudah sampai pada tahap memilih cincin tunangan.”
Adit terkekeh mendengarnya.
“Hidup memang penuh dengan kejutan yang indah, bukan?”
“Iya benar sekali.”
Belum sempat mereka melangkah lebih jauh, perut Lili tiba-tiba berbunyi pelan. Adit langsung menoleh sambil tersenyum.
“Kamu merasa lapar?”
Lili segera menutupi sebagian wajahnya karena malu.
“Hanya sedikit saja kok.”
“Hanya sedikit?”
“Iya, sungguh.”
Adit tertawa lepas.
“Kalau begitu, ayo kita cari makanan.”
“Mau makan apa yang kamu inginkan?”
“Sushi saja boleh?”
“Tepat sekali pilihannya. Kebetulan Mas juga sudah terbayang ingin makan sushi.”
Beberapa menit kemudian, mereka sudah duduk dengan nyaman di salah satu restoran Jepang yang menjadi favorit Adit. Lili tampak terlihat sangat bersemangat melihat daftar menu yang tersedia.
“Mas…”
“Iya, Sayang?”
“Aku ingin pesan salmon panggang, terus juga sushi, dan nanti setelahnya ingin pesan makanan penutup juga.”
Adit tertawa kecil mendengarnya.
“Baiklah, semuanya sudah Mas catat dengan baik.”
Makan siang mereka pun terasa menyenangkan, dipenuhi obrolan ringan dan tawa yang membuat suasana semakin hangat. Setelah semuanya selesai dinikmati, Adit menatap Lili dengan lembut.
“Kalau kamu belum merasa terlalu lelah… ada satu tempat lagi yang ingin Mas ajak kunjungi.”
“Ke mana lagi, Mas?”
“Ke apartemen tempat Mas tinggal.”
Lili tampak terlihat penuh rasa penasaran.
“Ke apartemen Mas? Belum pernah aku melihatnya sebelumnya.”
“Karena itulah sekarang waktunya kamu melihatnya.”
Tak lama kemudian, mereka pun tiba di apartemen pribadi milik Adit. Begitu pintu terbuka, Lili langsung berdecak kagum melihat suasana di dalamnya.
“Mas…”
“Hm?”
“Pemandangannya terlihat sangat indah sekali.”
Melalui jendela kaca yang berukuran besar, hamparan gedung-gedung tinggi di kota Jakarta terlihat jelas. Sinar matahari sore yang lembut membuat suasana di dalam ruangan terasa semakin hangat dan menenangkan.
Adit tersenyum melihat reaksi kekasihnya.
“Kalau sedang merasa lelah setelah bekerja, biasanya Mas akan duduk bersantai di sini.”
Lili segera melangkah menuju ke arah balkon. Angin sore yang sepoi-sepoi langsung menyambut kedatangannya.
“Terasa sangat nyaman sekali di sini.”
“Iya benar sekali.”
Adit kemudian menunjuk ke arah area fasilitas yang terlihat dari kejauhan.
“Di lantai bawah, terdapat kolam renang pribadi khusus untuk penghuni apartemen ini.”
“Wah, bagus sekali fasilitasnya.”
“Biasanya Mas akan berenang di sore hari jika sedang memiliki waktu luang.”
Lili mengangguk dengan perasaan kagum.
“Berarti Mas rajin sekali berolahraga ya.”
“Harus tetap menjaga kesehatan, supaya bisa selalu menjagamu kelak.”
Lili hanya bisa tersenyum mendengar ucapannya.
Adit kemudian kembali ke dalam ruangan untuk mengambil dua gelas jus buah yang sudah didinginkan terlebih dahulu.
“Ini untukmu.”
“Terima kasih banyak, Mas.”
Mereka pun berdiri berdampingan di balkon sambil menikmati minuman segar itu. Sesekali mereka membahas rencana pernikahan, kelanjutan kuliah Lili setelah menikah nanti, serta impian-impian mereka untuk membangun sebuah keluarga kecil yang penuh kehangatan dan kasih sayang.
Suasana sore itu terasa begitu tenang dan damai. Tidak membutuhkan kemewahan yang berlebihan. Bagi Adit, cukup bisa melihat senyum Lili selalu terukir di sampingnya sudah lebih dari cukup. Sedangkan bagi Lili, berada di sisi pria yang akan menjadi suaminya membuat masa depan yang dulu terasa jauh, kini perlahan mulai terasa semakin nyata dan dekat.
Beberapa saat kemudian, Adit menoleh sambil tersenyum penuh harapan.
“Ngomong-ngomong, Mas sudah ingin mengajakmu mencoba berenang di kolam itu sejak tadi. Kamu sudah siap?”
Lili sedikit tersipu malu sambil mengangguk pelan.“Iya, Mas. Kebetulan aku juga sudah membawa pakaian renang yang baru aku beli beberapa hari yang lalu.”
Adit terlihat semakin senang mendengarnya.“Benarkah? Pasti akan terlihat sangat cantik saat kamu memakainya nanti.”
Lili menunduk malu sambil tersenyum.
“Semoga saja… semoga Mas suka.”
Setelah keduanya bersiap dan berganti pakaian, mereka pun turun menuju area kolam renang. Lili tampak semakin percaya diri mengenakan bikini yang dipilihnya dengan sederhana namun tetap terlihat serasi. Adit menatapnya dengan tatapan penuh kekaguman, membuat jantung Lili berdebar lebih kencang dari biasanya.
“Kamu terlihat sangat cantik, Sayang.”
Lili hanya bisa tersenyum lebar sambil merasakan kehangatan rasa sayang yang semakin terasa kuat di antara mereka berdua. Sore itu pun terasa semakin indah, diisi dengan tawa, canda, dan kebersamaan yang akan menjadi kenangan manis yang tak akan pernah terlupakan.
Berikut kelanjutannya dengan gaya yang tetap lembut, mesra, dan sesuai alur ceritanya:
Setelah keduanya masuk ke dalam kolam, air yang terasa sejuk membuat suasana semakin terasa nyaman. Lili terlihat sedikit kesulitan menyesuaikan diri sekaligus merasa agak canggung dengan pakaian renang yang baru dipakainya.
Adit hanya mengenakan celana renang berwarna gelap, dengan tubuh bagian atas yang terbuka terlihat tegap dan segar terkena air. Ia segera mendekat, lalu dengan lembut memeluk pinggang Lili agar merasa lebih tenang.
Lili pun secara perlahan melingkarkan kedua tangannya ke leher Adit, menempelkan tubuhnya agar tetap seimbang sekaligus merasa aman.
“Cium aku, Sayang,” bisik Adit lembut.
Cup…
Keduanya saling mencium bibir dengan lembut dan penuh kehangatan. Suasana menjadi semakin mesra hanya di antara mereka berdua.
“Mmm… Mas, jangan sampai meninggalkan tanda di leher ya,” ucap Lili dengan suara pelan dan sedikit malu.
Adit tersenyum di sela-sela ciuman, lalu menjawab dengan nada menenangkan.
“Tidak akan, Sayang. Mas hanya ingin memelukmu saja, sambil menikmati kebersamaan kita di sini.”
“Mmm… baiklah, Mas,” balas Lili dengan suara lembut.
Mereka pun terus berpelukan erat di tengah air kolam yang tenang. Rasa hangat dan kenyamanan terasa menyelimuti keduanya, membuat momen sore itu terasa semakin indah dan tak terlupakan.