Laper Lagi

1130 Words
Langit Jakarta perlahan berubah warna menjadi jingga keemasan. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, menerangi area klub olahraga yang kini mulai lengang. Beberapa pengunjung masih terlihat duduk santai di kafe kecil sambil menikmati minuman dingin setelah berolahraga. Di ruang ganti, Lili baru saja selesai mandi. Ia mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk, lalu mengenakan atasan tanpa lengan berwarna putih yang dipadukan dengan rok mini hitam. Karena udara malam mulai terasa sejuk, ia menambahkan jaket longgar berwarna krem. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai bebas di punggung. Tak lama kemudian, pintu ruang tunggu terbuka. Adit keluar lebih dulu dengan pakaian santai: kaus hitam polos, celana pendek olahraga, dan sepatu kets putih. Begitu melihat Lili berjalan menghampirinya, ia langsung tersenyum lebar. "Wah..." Lili mengangkat alisnya. "Kenapa sih?" "Calon istriku cantik banget hari ini." Lili langsung terkekeh gemas. "Mas mulai lagi deh." "Mas serius lho," ucapnya tulus. "Baru habis olahraga aja tetap cantik begini." Lili mendengus kecil menahan senyum. "Gombal." "Bukan gombal. Itu fakta." Lili menggeleng sambil tertawa. "Mas ini ya..." Adit segera meraih tas olahraga miliknya. "Sini tasnya, biar Mas yang bawa." "Aku bawa sendiri aja nggak apa-apa." "Nggak usah, biar Mas saja." Lili akhirnya tersenyum dan menyerahkan tasnya. Mereka berjalan berdampingan menuju area parkir. Begitu masuk ke dalam mobil, Adit langsung menyalakan pendingin udara, lalu melirik ke arah Lili. "Gimana, Sayang? Udah capek belum?" Lili menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil menghela napas panjang. "Capek sih..." Adit tersenyum kecil. "Tapi..." Lili memegang perutnya pelan. "Tapi jadi laper banget." Adit langsung tertawa renyah. "Memang begitu efeknya habis olahraga. Mas juga tadi rasanya lapar sekali." Lili menatap ke luar jendela, tiba-tiba matanya berbinar cerah. "Mas!" "Hm? Kenapa?" "Di depan sana ada warung sate Madura!" Adit melirik sekilas ke arah jalan. "Lho iya bener." "Mas..." Lili menatapnya memohon. "Apa?" "Beli sate yuk di sana?" Adit pura-pura berpikir sejenak sambil mengerutkan kening. "Hmm..." Lili langsung memasang wajah memelas. "Please ya Mas..." Adit akhirnya tertawa tak tega. "Boleh dong." "Yeay!" Lili bertepuk tangan kecil senang. "Tentu saja boleh, cintaku. Ayo kita ke sana." "Aku mau pesan sate ayam ya," kata Lili. "Kalau Mas sate kambing dua porsi," tambah Adit. "Sama lontong dua ya." "Siap, Mas!" Mobil pun berbelok menuju warung sate yang terlihat cukup ramai pengunjung. Aroma bumbu kacang yang gurih bahkan sudah tercium sejak mereka turun dari kendaraan. "Mas..." "Iya?" "Wanginya bikin perutku makin keroncongan," ujar Lili sambil tersenyum. Adit tertawa. "Kalau begitu kita cari tempat duduk dulu." Mereka memilih meja di sudut yang agak sepi. Tak lama kemudian seorang bapak penjual datang membawa buku pesanan. "Mau pesan apa ya, Nak?" Lili langsung menjawab semangat. "Pak, satu porsi sate ayam, pakai lontong ya." "Baik, terus untuk Bapak?" tanya penjual menoleh ke Adit. "Saya sate kambing dua porsi, Pak," jawab Adit. Penjual itu tersenyum lebar. "Wah, lapar sekali ya Bapak?" "Iya Pak, habis main olahraga tadi," jelas Adit ramah. "Pantesan banyak pesanannya." Lili masih melihat daftar menu. "Pak, tahu gorengnya ada kan? Sama tempenya?" "Ada semua, Mbak." "Yaudah tambah satu piring ya." Adit melirik heran. "Sayang, yakin sanggup habis sebanyak itu?" "Habis kok," jawab Lili percaya diri. "Kalau nggak habis gimana?" "Ya Mas yang bantu habisin." Adit tertawa pelan. "Boleh juga tawarannya." Tak lama kemudian asap mengepul dari piring yang disajikan. Tusukan sate yang masih hangat, bumbu kacang yang kental bercampur kecap manis dan irisan bawang merah, langsung membuat selera makan mereka bertambah berkali-kali lipat. "Selamat menikmati," ucap penjual sambil meletakkan piring di meja. "Terima kasih, Pak," jawab mereka berbarengan. Lili langsung hendak mengambil satu tusuk, tapi Adit menahannya pelan. "Tunggu dulu, Sayang." "Ada apa Mas?" "Kita berdoa dulu ya." Lili tertawa kecil. "Oh iya lupa." Mereka pun menunduk sejenak berdoa bersama. Setelah itu Lili segera menggigit potongan daging pertama. Matanya langsung membesar takjub. "Mas..." "Hm? Enak nggak?" "Enak banget lho!" Adit ikut mencicipi sate kambingnya. "Iya benar. Dagingnya empuk sekali, bumbunya juga pas banget rasanya." Lili mengangguk berkali-kali sambil mengunyah. "Sumpah Mas, ini enak banget." Adit memperhatikan Lili yang makan dengan sangat lahap. Pipi gadis itu sedikit menggembung saat mengunyah, dan tanpa sadar senyum terus terukir di wajahnya. Lili pun menyadarinya. "Mas..." "Iya Sayang?" "Kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi?" "Nggak ada apa-apa kok." "Pasti ada sesuatu," tuduh Lili gemas. Adit tersenyum tulus. "Mas cuma senang melihat kamu makan dengan lahap begitu." "Senang kenapa?" "Lucu deh. Kamu kalau makan kelihatan sangat bahagia." "Ya kan karena emang enak rasanya," jawab Lili santai. Adit mengambil tisu di meja, lalu tiba-tiba mengusap pelan sudut bibir Lili. "Nih, ada bumbu menempel di situ." Lili langsung tersipu malu. "Ih Mas... malu tau." "Malu kenapa?" "Kan banyak orang lihat." Adit tertawa renyah. "Yaudah deh, lanjut makan lagi." Beberapa menit berlalu, piring sate ayam milik Lili sudah hampir kosong. Adit melongo melihatnya. "Lho? Cepat sekali habisnya." Lili mengangkat bahu. "Kan tadi udah bilang laper." "Padahal porsi Mas belum sampai setengah," kata Adit geleng-geleng kepala. "Soalnya Mas kebanyakan ngobrol terus," canda Lili. Adit tertawa. "Terus sekarang gimana?" Lili langsung mengangkat tangan memanggil penjual. "Pak, tambah satu porsi sate ayam lagi ya!" Adit tertawa keras mendengarnya. "Serius nambah lagi?" "Iya Mas, laper masih ada!" Penjual sate ikut tersenyum melihat tingkah mereka. "Wah, makannya lahap sekali ya Mbak." Lili tersenyum malu. "Iya Pak, habis capek olahraga tadi." Sambil menunggu pesanan tambahan datang, Adit menatap Lili dengan tatapan hangat. "Mas jadi teringat sesuatu deh." "Ingat apa Mas?" "Waktu pertama kali kita makan bareng di warung sate juga. Kamu juga nambah porsi kan waktu itu?" Lili langsung tertawa. "Iya Mas ingat nggak? Aku juga nambah waktu itu." "Iya, Mas ingat sekali," jawab Adit lembut. "Dari dulu memang kamu anak yang doyan makan. Biar kuat kan?" "Betul sekali! Kan habis olahraga harus isi tenaga lagi," ujar Lili mantap. Tak lama kemudian sate tambahan pun datang. Lili kembali menyantapnya dengan semangat yang sama. Adit sampai geleng-geleng kepala tapi tetap tersenyum bahagia. "Sayang..." "Hm?" "Mas senang sekali lho sama kamu." Lili menoleh. "Kenapa lagi nih Mas?" "Karena kamu nggak pernah pura-pura jadi orang lain," jelas Adit tulus. "Banyak orang kalau lagi kencan biasanya makannya sedikit, takut dibilang rakus atau nggak sopan." Lili tertawa lepas. "Lah kalau emang lapar ya makan saja. Buat apa ditahan-tahan?" "Itulah yang paling Mas suka dari kamu," ucap Adit lembut. "Kamu selalu jadi diri sendiri di mana saja." Lili tersenyum hangat menatapnya. "Kalau sama Mas... aku memang nggak mau jaim atau pura-pura. Aku mau jadi diri aku yang apa adanya." "Nah itu baru yang terbaik," balas Adit tersenyum lega. "Mas juga begitu kok sama kamu." Malam itu mereka kembali menikmati sate hangat sambil bercanda riang, membahas rasa bumbu kacang, saling menyisihkan potongan daging paling empuk, hingga menebak siapa yang paling banyak makan malam itu. Akhirnya mereka pulang dengan perut yang kenyang dan hati yang sama-sama ringan. Bagi Adit, melihat Lili begitu menikmati hal-hal sederhana dengan senyum lebar sudah cukup membuat malam itu terasa jauh lebih istimewa dari apa pun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD