Ponsel Adit bergetar pelan tepat saat ia melangkah keluar dari ruang rapat. Layar w******p menampilkan satu pesan suara dari Lili. Seketika senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia masuk ke dalam lift khusus direksi sambil menekan tombol putar.
Suara Lili terdengar ceria dari pengeras suara:"Mas Aditya... sudah pulang kerja belum?"
Adit segera menekan tombol rekam.
"Sudah, Sayang. Ini Mas lagi di jalan keluar kantor sekarang. Kenapa? Calon istri Mas lagi pengen apa, hmm?"
Belum semenit berlalu, balasan pesan suara masuk kembali.
"Mas..."
"Iya?"
"Kita kulineran yuk, Mas."
"Kulineran?"
"Iya, cari jajanan pinggir jalan gitu."
Adit tertawa kecil sambil melihat ke luar jendela lift."Serius?"
"Iya nih, aku lagi pengen banget jajan."
"Ya ampun, kirain mau diajak makan di restoran mewah. Boleh dong, tentu saja boleh. Habis itu kita mau ke mana lagi?"
Suara Lili terdengar semakin bersemangat.
"Terserah Mas aja deh. Atau... gimana kalau kita main padel?"
"Padel malam-malam gini?"
"Kenapa enggak? Sekalian gerak badan."
"Boleh juga idenya. Habis makan keliling, kita main satu-dua pertandingan aja ya."
"Siap, Mas! Kayaknya bakal seru banget deh."
Adit sudah sampai di parkiran kantor dan membuka pintu mobilnya."Ya sudah, Mas langsung meluncur jemput kamu ke rumah ya."
"Siap! Eh tapi Mas..."
"Kenapa?"
"Aku belum siap lho, masih milih baju yang mau dipakai."
Adit tertawa renyah."Lho, cuma mau kulineran kok sampai sibuk milih baju segala?"
"Harus tetap cantik dong kalau sama Mas."
"Kamu pakai kaos oblong dan celana pendek pun tetap cantik di mata Mas."
"Halah... gombal ya Mas."
"Itu bukan gombal, itu fakta kok."
Terdengar suara tawa malu dari seberang telepon."Mas ini deh... bikin aku jadi salah tingkah gini."
"Mas cuma ngomong jujur kok."
"Ya sudah deh, aku lanjut siap-siap dulu ya."
"Oke. Mas kira-kira lima belas menit lagi sampai rumahmu."
"Siap. Oh iya Mas..."
"Hm?"
"Jangan lupa bawa jaket ya, katanya malam ini udaranya agak dingin."
"Iya, Mas ingat. Kamu juga pakai yang tebal sedikit."
"Siap, Mas."
"Anak pintar."
"Mas juga hati-hati nyetir ya."
"Siap. Kalau sudah sampai depan rumah, Mas kabarin dulu."
"Oke Mas."
Belum selesai pesan itu terkirim, Lili kembali menyapa.
"Mas?"
"Iya Sayang?"
"Terima kasih ya."
"Terima kasih untuk apa?"
"Sudah selalu sabar dan mau nemenin aku ke mana saja."
Adit tersenyum hangat menatap layar ponselnya.
"Selama sama kamu... ke mana pun Mas pasti ikut."
Beberapa detik kemudian balasan masuk lagi.
"Berarti nanti kalau aku ngajak makan cilok pinggir jalan juga mau?"
"Mau."
"Bakso gerobakan?"
"Mau."
"Seblak pedas banget?"
"Tentu saja mau."
"Kenapa semuanya Mas mau?"
"Karena yang terpenting bukan makanannya, Sayang. Tapi siapa yang menemani."
Di rumah, Lili tersenyum lebar sampai pipinya terasa panas mendengar jawaban itu.
"Yaudah deh. Sampai ketemu sebentar lagi ya, Mas."
"Iya, sampai ketemu, Sayang."
Panggilan pun berakhir. Adit menyalakan mesin mobil sambil masih tersenyum sendiri, lalu perlahan melajukan kendaraannya menuju rumah Lili.
Sementara itu di dalam rumah, Lili langsung berlari kecil ke ruang tengah.
"Mama!" teriaknya riang.
Maya yang sedang membaca majalah di sofa langsung menoleh."Kenapa sih heboh sekali?"
"Aku mau keluar sebentar ya, Ma."
"Ke mana?"
"Mau kulineran sama Mas Adit."
Maya tertawa geli."Lagi-lagi wisata kuliner?"
"Iya nih. Habis itu kita rencananya mau main padel sebentar."
Jonathan yang baru saja turun dari lantai atas ikut menyahut.
"Jam berapa kira-kira pulangnya?"
Lili berpikir sejenak."Mungkin sekitar jam dua belas malam, Pa."
"Baiklah. Yang penting jangan lupa kabarin kalau ada apa-apa."
"Siap, Pa!"
Maya tersenyum melihat wajah putrinya yang tampak begitu bersemangat.
"Kalau gitu sana cepat siap-siap. Nanti Mas Adit nunggu lama di depan."
"Siap, Ma!" jawab Lili sambil berlari kembali ke kamar dengan senyum yang tak kunjung hilang.
Malam itu belum benar-benar dimulai, namun hati mereka berdua sudah terasa ringan dan penuh bahagia. Tidak ada rencana mewah atau tempat yang mahal hanya berburu jajanan pinggir jalan, sedikit olahraga, dan waktu berdua. Bagi mereka, kebersamaan yang sederhana justru sering menjadi momen yang paling berkesan.