Lili Cemburu

1140 Words
Pagi itu Lili bangun dengan perasaan yang sangat senang. Semalam Adit pernah bercerita kalau jadwalnya hari ini sangat padat, bahkan mungkin tidak sempat keluar ruangan untuk mencari makan siang. Lili pun tiba-tiba mendapat ide menyenangkan. Ia segera memesan sushi favorit Adit, lalu dengan hati-hati membawanya menuju gedung perkantoran tempat kekasihnya bekerja. “Ini pasti bakal jadi kejutan yang menyenangkan,” batinnya sambil tersenyum lebar saat memasuki lobi kantor Adit. Petugas keamanan dan resepsionis sudah mengenali Lili, jadi ia diizinkan naik ke lantai paling atas tanpa kesulitan. Dengan langkah ringan, Lili berjalan menuju ruangan bertuliskan “Direktur Utama”. Ia tidak mengetuk pintu karena biasanya Adit memintanya langsung masuk saja jika datang ke sana. Lili memutar gagang pintu perlahan dan mendorongnya terbuka. “Dit, aku bawa—” Kalimatnya terhenti di tengah jalan. Di dalam ruangan itu, Adit sedang berdiri di samping mejanya. Di sebelahnya ada seorang wanita yang terlihat sebaya dengan mereka, mengenakan seragam kantor yang rapi dengan nama tag bertuliskan Sisil – Manajer Proyek. Posisi mereka berdua berdiri sangat berdekatan, kepala Sisil sedikit menunduk mendekati bahu Adit sementara tangan telunjuknya menunjuk sebuah bagian di layar laptop di atas meja. Dari kejauhan, pemandangan itu terlihat sangat akrab. Jantung Lili tiba-tiba berdegup kencang. Senyum di wajahnya perlahan memudar, meski ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat tenang. Adit dan Sisil serentak menoleh ke arah pintu. “Lili?” Adit tampak terkejut sejenak, lalu hendak melangkah mendekat. Namun Lili sudah lebih dulu berjalan mendekat dengan senyum yang dipaksakan sebaik mungkin. Ia meletakkan kotak makanan itu di sudut meja, berusaha tidak menatap terlalu lama ke arah Sisil. “Makan siang untuk kamu,” ucapnya singkat, suaranya terdengar biasa saja namun ada nada yang sedikit dingin. “Aku tidak mengganggu rapat kalian kan?” “Bukan rapat besar, cuma membahas sedikit detail,” jawab Adit. “Mau duduk dulu sebentar?” Lili menggeleng pelan. “Enggak usah. Aku masih ada urusan di tempat lain. Aku pamit pulang dulu ya.” Bahkan sebelum Adit sempat menjawab atau mengantarnya, Lili sudah berbalik badan dan berjalan keluar ruangan dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya. Pintu ruangan itu tertutup perlahan di belakangnya. Sepanjang jalan pulang, pikiran Lili berantakan. Ia tahu seharusnya tidak berprasangka buruk begitu, tapi melihat seseorang berdiri sedekat itu dengan Adit entah kenapa membuat dadanya terasa sesak. Ia biasanya bukan orang yang mudah cemburu, tapi hari ini rasanya berbeda. Ini adalah pertama kalinya ia melihat ada wanita lain yang begitu dekat dengan Adit di lingkungan kerjanya. Sesampainya di rumah, Lili langsung masuk ke kamar dan berbaring di tempat tidur. Ponselnya bergetar berkali-kali—pasti pesan dari Adit. Namun ia hanya membalas seperlunya, singkat dan padat. Adit: Sayang, tadi kamu terburu-buru sekali. Makasih sushi-ya ya, sayang banget deh kamu. Lili: Iya. Adit: Kamu sudah sampai rumah? Lili: Udah. Adit: Kamu lagi sibuk ya? Jawabnya pendek sekali. Lili: Lagi capek. Sore harinya Adit pulang lebih awal dari biasanya. Begitu masuk ke rumah, ia langsung mencari Lili dan menemukan gadis itu sedang duduk di teras belakang memandang taman tanpa banyak bergerak. Adit mendekat pelan, lalu duduk di sebelahnya. “Sayang,” panggilnya lembut. Lili menoleh sekilas. “Hm?” Adit menatap wajahnya lekat-lekat. “Kamu marah?” “Enggak.” “Yakin?” “Yakin.” Adit tersenyum tipis, tangannya bergerak menyentuh pipi Lili pelan. “Kalau enggak marah, kenapa dari tadi jawabnya cuma satu kata saja? Dan kenapa matanya menghindar kalau aku lihat?” Lili diam saja, bibirnya tanpa sadar mencucu maju sedikit. Adit tertawa kecil melihat itu. “Terus kenapa bibirnya maju begitu? Kayak mau ditiup angin.” Spontan Lili menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. “Mana ada.” “Ada.” “Enggak ada.” “Ada kok, jelas sekali.” Lili akhirnya mengembuskan napas panjang, lalu menurunkan tangannya. Ia menatap lurus ke arah halaman. “Aku cuma… agak kesel sedikit.” “Karena Sisil?” Lili langsung terdiam serentak. Tubuhnya yang tadinya santai kini menegang sedikit. Adit terkekeh pelan, lalu mengusap punggung tangan Lili dengan lembut. “Jadi benar kamu cemburu?” Lili segera memalingkan wajah ke arah lain agar Adit tidak melihat pipinya yang mulai memerah. “Aku cuma lapar saja tadi. Makanya buru-buru pulang.” “Ooh, lapar?” Adit sengaja memperpanjang suaranya. “Iya.” “Bukan karena cemburu melihat aku berdiri dekat dengan manajer proyek?” “Bukan.” “Kalau begitu sushi yang tadi itu biar Mas makan sendiri sampai habis ya. Tidak perlu berbagi sama kamu.” Mata Lili langsung terbuka lebar dan ia menoleh cepat ke arah Adit. “Jangan!” Adit tertawa renyah melihat reaksi kekasihnya itu. “Nah, sekarang baru jujur kan?” Lili mengembuskan napas pelan sekali, lalu akhirnya mengangguk kecil dengan wajah tertunduk malu. “Iya… sedikit cemburu. Cuma sedikit saja kok. Tadi posisinya kalian berdua terlihat dekat sekali, terus Sisil menunjuk-nunjuk ke arah kamu. Aku jadi merasa asing saja di sana.” Mendengar itu Adit tersenyum lembut, lalu menarik tubuh Lili agar bersandar di bahunya. “Dengar ya sayang. Sisil itu manajer proyek yang baru saja kita luncurkan minggu depan. Presentasinya ada kesalahan sedikit di bagian data, jadi dia datang melapor langsung ke ruangan. Tadi dia cuma menunjuk angka yang perlu diperbaiki di layar laptopku. Tidak ada yang lain, tidak ada pembicaraan pribadi, apalagi hal yang mencurigakan seperti yang kamu pikirkan.” Ia mencium ubun-ubun Lili pelan. “Bagi aku, di kantor maupun di luar kantor, semua orang hanyalah rekan kerja. Hanya kamu satu-satunya perempuan yang spesial di hati aku. Kalau ada yang berani mendekat terlalu jauh, aku yang akan menjaga jarak kok.” Lili mendongak menatap mata Adit. “Beneran?” “Beneran. Masa depan aku sudah kamu yang pegang. Tidak ada alasan buat aku melirik orang lain.” Perasaan sesak di d**a Lili perlahan hilang berganti rasa hangat. Ia tersenyum malu-malu, lalu memeluk lengan Adit erat. “Maaf ya kalau aku tadi jadi curiga begitu. Ini pertama kalinya aku merasa cemburu begini.” Adit tertawa geli. “Bukan salah kamu kok. Malah aku senang. Artinya kamu sayang banget sama aku sampai takut kehilangan. Tapi lain kali kalau ada yang bikin kamu bingung atau tidak nyaman, tanya langsung ke aku ya? Jangan dipendam sendiri sampai ngambek begini.” “Iya, janji.” “Nah, begitu dong.” Adit berdiri sambil mengajak Lili ikut berdiri. “Sekarang kita masuk ke dalam. Masakan Sushi yang kamu bawa tadi masih ada sebagian, ditambah puding kesukaan kamu yang aku beli sepulang kantor. Lumayan buat mengobati rasa cemburu yang tadi.” Lili tersenyum lebar, senyum yang tulus dan bahagia seperti biasanya. “Asyik! Terima kasih ya Mas Adit.” “Sama-sama calon istriku yang paling manis dan paling cemburuan.” “Hahaha, Mas Adit bisa saja!” Mereka pun berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, menyisakan kesalahpahaman yang ringan itu menjadi kenangan manis pertama tentang rasa cemburu yang sebenarnya adalah tanda cinta yang mendalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD