Yuline mengibaskan rambut panjang nya pelan, melangkah dengan percaya diri seolah semua menjadi slow motion dia berjalan pelan serta tatapan kagum rasa tak percaya tertangkap dari ekspresi anak sekelas bahkan teman-teman nya menatap nya hebat seperti wonder woman baru menyelamatkan sebuah kota walaupun datang terlambat.
" Woah! Woah! Kau hebat" puji nya menutup mulut nya tengah ternganga, itu gadis ber-kuncir sedang gadis Asian di sebelah nya melempar senyum dan mengacungkan dua jempol tanda applaus untuk teman baru nya
" Terimakasih, ini tak begitu sulit kok" balas nya tanpa niat menyombong
" Hey.." pangil seseorang ternyata anak lelaki di depan Yuline
" Kau keren, tadi aku melihat mu seperti captain Marvel, gila itu keren sekali..he..he" anak itu sedikit menunduk menengok ke arah nya agar tak tertangkap basah oleh guru nya
Yuline tersenyum mendengar beberapa pujian di limpahkan pada nya secara tiba-tiba, rada aneh menurut nya karena semua hal di lakukan oleh nya adalah hal biasa namun jika menurut mereka hal di lakukan barusan, hanya... Mengerjakan beberapa soal adalah misi menyelamatkan dunia
' tskkk'
Sebuah lemparan pulpen mengenai anak gendut itu sampai meringis serta mengaduh sakit, " jangan bicara di kelas saya, Doni diam lah kau"
Oh! Naman nya Doni
Dia baru tahu nama anak itu adalah Doni jika sang guru tak berteriak dengan lantang Seperti barusan
" Kau anak baru, kau lumayan jangan besar kepala" ujar guru itu seolah mengintimidasi, cukup membuat se-isi kelas termangu diam serta membuat sebagian merasa tak nyaman namun itu bukan hal yang mampu membuat diri gadis Stone hilang percaya diri ataupun ketakutan pada guru tersebut.
Jam pelajaran telah usai namun begitu bel istirahat berbunyi banyak anak-anak berkumpul ke meja anak perempuan dari keluarga Stone tersebut, dirinya sampai tak sempat menjawab pertanyaan dari sekian anak yang telah mendatangi tempat duduk nya
" Kau tadi hebat sungguh, boleh kita berteman"
" Eh, ten-" jawab Yuline belum sempat selesai pertanyaan lain menyambar nya
" Ku dengar kau berasal dari Amerika ya"
"..."
" Itu guru pembunuh bagi kita"
Serta sahutan pertanyaan saling tumpang tindih baginya, dia sampai bingung yang mana dahulu Yang akan di jawab nya
' brakk!!' sebuah suara pukulan ke meja memekang telinga Hinga mengalihkan atensi ke bangku sebelah
Anak rambut ikonik berwarna kemerahan beserta gaya kuncir dua sangat membuat nya mirip tokoh anak kecil di ink monster Jika warna nya hitam
Anak itu berdiri dengan gaya bertolak pinggang nya dia menghardik orang-orang tengah marak berkumpul saling menyerobot mencari perhatian si primadona baru.
Mata abu-abunya membelalak dengan keras berkata, " kalian menganggu tau, aku tau kalian mau dekat-dekat murid baru hanya agar tak kena omel pak Alex kan? Lebih baik kalian belajar sana, kalau mau berkenalan juga bukan tradisi rakyat Inggris tak punya etiket"
" Maaf, kami menganggu mu... Kita akan berkenalan lain waktu, tapi kau keren" salah satu diantaranya meminta maaf dengan wajah tak enak hati, ujar nya menyesal
Suara lantang anak perempuan itu seketika membuat kumpulan tadi surut hingga hanya tertinggal empat orang di sana dirinya anak berambut bob dan termasuk si gendut yang masih setia diam di bangku nya
Yuline mengambil nafas sebanyak banyak nya, kulit muka nya terlihat memerah karena di kelilingi banyak anak kelas nya, tubuh nya sedikit merosot ke bawah
Mendapati sang penolong nya Yuline berucap terimakasih serta rasa bersyukur nya pada orang tersebut.
" Tak usah kaku begitu, ku dengar orang-orang mu adalah orang yang lebih santai"
" Tapi bukan berarti tak punya etiket" balas nya seperti seloroh nya tadi membuat kedua gadis di sana terkikik
Si gadis berambut merah mengulurkan tangannya pada Yuline, tentu di raih nya, " kita belum berkenalan, nama ku Anne" kata nya memperkenalkan diri.
" Hampir seperti nama ibu ku, ibu ku bernama Anna Clarkson"
" Waow, si nak panggil aku ibu mu" kelakar nya mencairkan suasana Hinga mereka tertawa terbahak mendengar penuturan anak bernama Anne tersebut
" Dan yang di sebelah ku ini.." Anne menyenggol si gadis berambut bob agar segera memperkenalkan diri nya
" Ha- hai, nama ku Chan Mey itu nama cina ku dan nama lahir ku Carolina"
Suasana hening, nama yang cukup jauh terdengar
" Kau memiliki nama mulltigual " celetuk tiba-tiba si anak gendut, kini ia ikut berbalik ke belakang agar bisa leluasa melihat wajah teman-teman nya.
"Kau berfikir begitu? Yah agak rumit menjelaskan nama ku sendiri, nama lahir ku Carolina hanya saja karena aku keturunan Chinese jadi aku juga punya nama seperti kebanyakan orang Asia"
" Oh iya, kau kan jarang bicara" Anne baru menyadari sosok yang ikut mereka nimbrung adalah geek filem
Yuline mengalihkan pandangannya ke arah Doni seraya bertanya, " bukan nya kau itu yang tadi merapal kan doa agar menjadi ikon super Hero"
Pria berpipi chubby bernama Doni itu kini berwarna merah muda menyeruak sesekali menggaruk belakang telinga nya, malu akan ucapan spontan gadis pirang di sebelah nya
"Memang kau tahu filem apa?"
Doni melihat Anne yang bertanya
" Aku suka menonton filem Marvel studios dan mengoleksi action figur nya"
Anne beserta gadis yang diketahui bernama Carollina kompak bertepuk tangan heboh
"Aku dan Carol juga menyukai filem keluaran Marvel" mereka sangat menyukai besutan perusahaan yang menciptakan tokoh keren seperti Avengers
" Kalau kau, apa yang kau sukai anak baru?" Carollina melempar pertanyaan
Yuline membuat pose berfikir mengingat ingat hal apa yang di sukai nya, "entah lahh" jawab nya ragu untuk sesat lalu segera dia melanjutkan perkataan nya, " aku lebih suka filem biografi dan filem horor untuk lucu-lucuan saja"
Ketiga nya menatap heran dengan dahi terlipat ketika mendengar fakta dari gadis muda barusan, sejak kapan filem horor berubah gendre jadi komedi, batin mereka hampir kompak.
" Kau demam atau salah baca gendre filem" perkataan Doni mewakili lainnya yang keheranan dengan selera si gadis pintar
Ia tau akan mendapatkan reaksi seperti ini Yulin menjawab dengan nada santai tanpa berfikir, "aku suka filem biografi atas suksesnya seseorang seperti.. mendiang penemu cerdik Albert Einstein, Thomas Alva Edison ataupun mendiang presiden terkenal. Mereka tokoh menginspirasi kita" bangga nya mengeluh-eluh kan kegiatan ajaib nya
" Kalau untuk filem horor bagi ku tak nyata karena aku suka dengan ilmu fisika jadi tak masuk akal keberadaan hantu atau makluk mitologi itu ada" jelas nya masuk akal
" kau benar-benar tak percaya hantu"
" Yapp" Yuline mengangguk membenarkan pertanyaan Anne, Anne merasa tertarik dengan Yuline, dia menarik bangku nya mendekat ke arah gadis pirang
" Kau tak percaya putri duyung? Mereka beneran ada loh kata pelaut, bahkan penemu benua seperti Christopher Columbus yang secara jelas adalah pelaut apakah dia salah kalau dirinya tak bisa membedakan antara putri duyung dengan ikan" pernyataan barusan cukup masuk di akal
Yuline berdehem menyetabilkan suara milik nya sebelum berbicara menerangkan kepada Anne
" Aku tak tahu apa yang terjadi saat itu, dan aku juga tak menyudutkan stedmen seorang pembuat sejarah, hanya saja... Kita tak tau kondisi saat itu atau apa yang mereka lakukan sampai melihat sosok yang dianggap putri duyung itu ada, bilang saja makluk mitologi itu ada.. mereka mungkin punah dari zaman kerajaan Inggris pertama"
Pemahaman barusan cukup bisa di cerna oleh ke-tiga nya dan tak lagi melanjutkan perdebatan mereka lagi.