Seni

1279 Words
Berbeda tempat dengan Yuline, Edbret tak begitu memukau para teman se-kelas nya, Edbret hanya menjadi siswa biasa saja sebagian anomali dari gambaran anak introvert, jarang mau berbaur berpakaian biasa, penampilan umum, tak ada yang spesial dari nya. " Kau ke sulitan dalam mengerjakan nya?" Seseorang bernama Kurt, menanyai Edbret. Edbret menghela nafas mengangguk jemari nya meremas helaian rambut kecoklatan milik nya menumpukan dahi ke meja milik nya Bagi bocah malas berfikir yang berat, seperti Stone, cukup membuat nya tertekan melihat angka-angka bertebaran tersirat dalam tulisan papan putih, kepala ku mau pecah padahal ini hari pertama ku masuk sekolah. Nanar nya. Teman baru di miliki oleh nya hanyalah Kurt, anak seusia berambut dark Burnett hampir sama dengan milik nya hanya saja milik nya coklat muda kehitaman, gaya pakaian Kurt termasuk kategori nerd, pakaian ter-rapi menurut Edbret namun baru anak lelaki itu yang terlebih dahulu menyapa nya " Ed-" Kurt memangil-manggil teman baru nya pelan. Edbret menoleh 'apa yang mau kau katakanlah' Edbret membalas dengan gerak bibir, engan mengeluarkan suara terlalu keras hingga membuat atensi si guru mereka terfokus pada dua anak lelaki tengah berbincang dalam kelas. Kurt menyamping kan kertas lembar jawab milik nya, diri nya hampir menyelesaikan soal-soal sulit, Edbret terperangah kagum, berteman dengan orang Junius, puji nya dalam hati. 'Apa kau yang mengerjakan semua soal ini' Edbret sesekali memantau kondisi guru nya tengah membuka lembar buku, mungkin membuka bab soal materi untuk para murid kesayangan nya. ' tentu' balas nya singkat, Edbret tersenyum senang, berhati-hati mereka saling lempar pandang mengamati pergerakan guru perempuan mereka agar tak ketahuan, Edbret merebut lembar jawaban di dapat nya secara cuma-cuma, Edbret menyalin soal matematika begitu agresif mengisi isian soal. Wanita sekitar 30'an awal beranjak dari tempat duduk nya, guru cantik tersebut mulai berjalan mengelilingi bangku per-bangku murid didik nya, dimulai dari pojok ruangan dimana di isi seorang anak berkepala plontos bergigi kelinci nampak anak lelaki itu adalah anak rajin sampai dapat membuat guru nya tersebut melihat jawaban soal milik nya Telapak halus milik nya mengusap bahu siswa nya, menyalurkan semangat, Stuart muda menatap guru ayu nya dengan senyum cerah khas anak-anak sopan, " Kau melakukan hal yang terbaik lagi Stuart" puji guru muda pada nya. " Bagai mana ini" Edbret berujar lirih saling melempar pandang pada Kurt, anak itu juga terlihat berkeringat hebat beberapa kali mengelap lelehan air alami nya gugup, sedangkan Kurt mencoba berpura-pura menulis di atas kertas kosong, Edbret tengah sibuk menyalin yang belum banyak terisi dari lembar jawab nya Kurt memiringkan kepala nya menatap tajam seolah berkata, Mati aku!!! Dapat tertangkap dari tatapan manik hitam milik nya " Apa ada yang mencontek!!" Seru guru nya mengamati wajah tegang satu per-satu murid kelas nya. " Tidak..." Serempak kata mereka kompak. ' srekkk..' Kembar jawaban Kurt kembali ke pada pemilik jawaban, sebelum nyonya Fanny guru mereka sempat melihat tindakan curang kedua murid didik nya " Baik lah, segera kumpulan di atas meja saya, dan.. ini adalah jam istirahat kalian" nyonya Fanny melihat jam di pergelangan nya, menyuruh agar semua murid nya menyelesaikan tugas dari nya segera. Berbarengan dengan bel istirahat berbunyi lembar soal telah terkumpul, mereka pun segera bubar masing-masing ke arah kantin sekolah, mengambil jatah makan siang nya. Kurt tahu teman nya, Edbret. Pasti akan kebingungan denah sekolah mengusulkan diri nya sendiri untuk mengajak berkeliling sekalian menuju kantin sekolah mengambil makanan mereka. Seperti Toure gaet yang baik, Kurt berjalan secara berlahan sesekali berjalan mundur menunjukkan ruang per ruangan telah mereka temui, Kurt terdiam sebentar menunjuk ke arah sebuah ruangan nampak suram, pintu kaca nya cukup buram hingga mereka tak akan tahu apa di balik sana, kata Kurt ruangan tersebut adalah ruang konseling juga ruang se-korsing bagi mereka menyalahi aturan tertulis. " Di sebelah kiri mu adalah ruang untuk para murid bermasalah di kumpulkan" Kurt mulai menjelaskan ruangan yang tak ingin Edbret sentuh ataupun datangi, terakhir dia masuk ke ruangan seperti itu ketika di sekolah lama nya, hal tersebut di karenakan ayah nya protes pada diri nya karena diam-diam mengambil kelas khusus seni menggambar serta lomba, bukannya ayah nya mendukung yang di ingat oleh ingatan nya sampai sekarang adalah. " Bagai mana gambar ku bagus kan" pamer Edbret pada gadis berbintik-bintik yang memperindah wajah nya. Dengan Banga memamerkan selembar kertas yang sudah ia warnai, sungguh artistik. Emeliy nampak tersenyum senang, " kapan memang nya gambaran mu jelek" gadi itu merangkul Edbret yang memiliki tinggi hampir sama dengan nya " Ayah mu tahu ini " Kalimat dengan tawa, nyata nya menyiratkan berbagai hal dalam benak anak lelaki, ragu memberitahu orang atua nya Emeliy nampak paham dengan pikiran si teman mulai mengatakan hal-hal menyengangkan dirinya, " coba dulu, siapa tahu pak Amstrong malah memuji mu, ya kan!! Kedua anak nya itu berprestasi, nah di sini kita memiliki calon seniman muda bahkan calon chef handal, kurang apa lagi coba? Beruntung nya pasti ayah mu" emeliy berbalik menghadap Edbret. Sangat enteng sekali tangan gadis muda itu mencubit kuat-kuat pipi tembam Edbret bahkan sampai memerah enggan menghiraukan jeritan kesakitan si korban Emeliy memang terkenal dengan tenangnya cukup kuat, baru sampai dia puas dengan pipi empuk milik Edbret dilepaskan " Auch! Sakit" tak terima dengan perlakuan anak perempuan terhadap diri nya, tapi ia juga tak akan marah dengan sahabat karib juga tetangga tercinta nya. Masih dengan tawa sembari memegangi perut melihat Edbret manyun kesal dengan pipi merah bekas cubitan nya tak dapat menahan rasa puas setelah berhasrat men-jahili anak lelaki terkenal sifat anti sosial nya. Candaan mereka terganggu dengan suara klakson mobil tak jauh dari tempat mereka berdiri, ngomong-ngomong mereka memang menunggu jemputan Tuan Amstrong menyembuhkan kepal lonjong nya keluar dari jendela mobil " Ayo pulang!" Pangil nya kencang pada Edbret, Edbret menoleh ke samping bertanya, " kau tak mau ikut gabung? Rumah kita kan se-arah" Emeliy menggeleng dengan senyum terpatri, menolak ajakan Edbret dirinya lebih baik menunggu jemputan keluarganya dari pada satu mobil dengan keluarga stone, " kau tau alasan ku" jawab nya pasti walaupun cukup di sayangkan, rumah mereka berdampingan namun alasan emeliy engan mengambil kesempatan jawaban nya juga Edbret ketahui, emeliy tak mau melihat suasana canggung dari percakapan ayah anak menurut nya tak sehat, memang benar Yuline berprestasi tapi bukan berarti Edbret tak pantas untuk di banggakan. Emeliy menghindari suasana di mana seorang ayah pilih kasih, diri nya berharap kali ini ketika melihat perjuangan anak nya dapat membuka mata hati nya. Edbret berlari-lari kecil melambai ke arah emeliy masuk ke dalam mobil. Amstrong merasa keheranan teman anak nya juga adalah tetangga mereka namun sering kali anak perempuan tersebut menolak ajakan nya pulang bersama. " Kenapa dia tak mau bareng kita" Amstrong mulai melajukan mobil nya menempuh berjalan pulang " Entah lah" Edbret berujar pendek. Tak sengaja Amstrong melihat kertas di bawa Edbret, dia bertanya dengan dingin, " punya siapa?" Entah pertanyaan atau pernyataan nada nya terlalu datar. " Ah ini" Edbret baru tersadar dia ingin pamer pada ayah nya, " ini gambaran ku dan ini masuk juara satu di lomba, keren kan" mobil terhenti mendadak, bersukur mereka sama-sama menggunakan sabuk pengaman sebelum berjalan jika tidak pasti kedua manusia itu akan mengantup setir maupun dasbor mobil. " Sejak kapan". Hal ini sama sekali tak dapat di prediksi oleh Edbret, ia kira ayah nya akan bangga dengan perolehan nya, namun keesokan pagi nya si ayah menyeret nya ke ruangan konseling, Amstrong tegas mem-protes gurunya untuk tak lagi mengijinkan anak lelaki nya ikut lomba ataupun berbau kesenian di luar jam belajar. Edbret ingat betul, itu adalah saat di mana rasa percaya diri nya di runtuh kan, oleh ayah nya sendiri. " Woah! Di sini ada kelas menggambar" dia mengangkat kepala nya melihat ruang kesenian penuh lukisan, seni dari hasil kerajinan tangan tentu nya membuat secara sepontan kegirangan bak anak kecil, " kau suka" " Tentu" balas nya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD