Seperti seharusnya kantin sudah banyak di penuhi anak-anak mengantre makanan ataupun sudah mendapatkan tempat duduk bersama kawanan mereka, Edbret menatap menu kantin sekolah mengambil garpu serta menusuk bunga kol hijau mengangkat nya
Kurt asik mengunyah hingga mirip hamster bertanya, " kenapa tak segera kau makan, " kembali mengambil suapan ke mulut lagi
Tak tau harus komentar seperti apa kali ini, tangan Edbret terasa lemas, wajah lesu nya sama sekali tak membuat Kurt ingin menghentikan aksi mengunyah, mencomot lauk nya seolah itu menu ter-enak
" Ini menu kantin nya" sergah Edbret di angguki saja oleh Kurt pipi anak itu mengembang berisi makanan
Edbret menatap nanar menu kantin pertama nya setelah sekian kali ia menatap sajian hijau dari sekolah baru nya, terdapat sayuran, nasi, kari yang kebetulan adalah berisi umbi-umbian
Dia sama sekali tak dapat melihat menu lain selain makanan tersebut, berbeda dari sekolah sebelum nya yang memiliki berbagai menu yang dapat di pilih oleh mereka, ini kali pertama menu yang sudah tersaji tanpa bisa protes
Sayur mayur bukan lah kesukaan anak ber mata coklat itu, apakah dia harus nya ber-do'a saja mereka sekeluarga pindah ke Prancis dia dengar negara di juluki negara romantis tersebut memiliki menu makan Roti ter-enak, dengar nya.
" Makan lah, kau akan suka karena Terpaksa, rasa nya juga tak buruk, serius" Kurt meyakinkan bahwa tumbuhan hijau bukan lah musuh bagi mereka, terakhir kali Edbret tak ingat kapan ia memakan berbasis sayur mayur yang memiliki selogan makanan sehat, seingat nya rasa sayur pahit dan keras terkadang lembek, jika ingat saja memicu nya muntah
Terpaksa Edbret memakan makan siang nya berlahan, raut wajah nya nampak ketakutan, sekali suap tiga kali suap ia merasa tak terlalu buruk makanan sukses di masak oleh ibu kantin di sana.
" Apa kita akan makan menu daging-dagingan lain hari" pipi penuh nya membuat nya terlihat mengemaskan
Kurt menelan makan nya terlebih dahulu sebelum menjawab Edbret nampak tersiksa, " menu nya akan ganti-gantian kok, tenang" jelas Kurt, "besok mungkin adalah sop sayur atau kalau beruntung kau juga akan mendapatkan sop buah, kare ikan, besok nya lagi mungkin roti beserta satu karton s**u, pasta, salad buah, salad sayur dan apa lagi ya" Kurt mulai mengingat menu lainnya lagi
Edbret menatap penuh harap ke Kurt, semoga ada menu lebih baik lainnya
" Ah! Kentang kukus juga kau akan mendapatkan sepotong pizza original sebagai bonus, ada juga jagung krim" Kurt nampak senang dapat mengingat segala menu harian mereka apa lagi menu jagung krim, apakah dia sangat suka jagung krim sampai nampak sekali wajah nya membayangkan menu mereka berbasis sayuran.
Melemas sudah tubuh Edbret, masa bodoh dengan masakan di rasa nya kurang kereatifitas bahkan nilai seni dalam meracik menu, atau dia saja yang telah terbiasa dengan fast food tersedia di kantin sekolah terdahulu
Kurt tak sengaja memandang seseorang gadis cantik di belakang Edbret, nampak rambut halus nya berkibar walaupun telah di ikat tinggi-tinggi, wajah feminim membuat Kurt terpesona oleh nya, anak itu yakin gadis tengah ia perhatikan adalah kakak kelas mereka karena bangku dan meja kantin sebagian di Khususkan untuk tiap-tiap kelas nya dan Gadis itu menempati tempat untuk kakak tingkat nya.
Edbret di buat bingung pada wajah konyol teman nya, dirinya mulai berbalik ikut melihat objek di lihat Kurt
Edbret menyadari arah pandang pada sosok yang dianggap menyedot perhatian Kurt sontak membalikan badan kembali ke depan, Yuline. Di sana ada Yuline, kakak nya
Semoga bukan dia yang di lihat nya. Edbret merapal kan Do'a dalam hati.
" Ed-" gumam Kurt tapi masih dapat terdengar karena jarak mereka tak terlalu jauh, " hemm" balas nya tanpa minta, malah menyibukkan pada nampan miliki nya seorang.
"Kau lihat gadis pirang dengan ikat ekor kuda di belakang mu" segera Edbret mengamati gadis lainnya selain kakak perempuan nya yang rambut nya di ikat, nihil. Satu-satunya perempuan berambut pirang dengan ikat rambut tunggal hanyalah Yuline, bukan nya tak ada anak lain yang mengikat rambut seperti itu hanya saja satu-satunya gadis berambut pirang dengan ikat rambut hanyalah dia.
" Emh-, mak- maksud mu gadis itu" ragu sebenarnya mengatakan bahwa wanita di lihat oleh Kurt adalah kakak perempuan nya.
Edbret menunjuk gadis yang di maksudkan dengan lirikan mata, menggunakan kode. Kurt mendekat wajah nya ke Edbret seolah percakapan mereka akan terdengar oleh gadis di sebrang mereka padahal letak meja ke-dua nya cukup berjauhan
" Iya, yang itu. Di lihat tempat duduk nya dia seperti nya Kaka kelas kita"
Tentu nya, dia lebih tua dari mu juga, dia kakak ku. Mata nya menatap bosan.
Kedua nya kompak menoleh, Yuline tadi nya duduk sendiri di datangi oleh ke tiga teman nya, nampak sekali mereka akrab dengan lelucon yang entah kedua pria kecil ini tak bisa dengar tapi terlihat sekali ke akrabnya.
Edbret berujar lirih, " Padahal baru juga masuk sekolah, tapi bukan hal mengagetkan dia kan selalu mudah bergaul"
Merasa tak begitu jelas mendengar kan perkataan Edbret, Kurt bertanya pada teman nya, apa yang barusan diri nya katakan, tentu segera Edbret hanya mengelak Pertanyaan bocah berambut dark Burnett, ia bersyukur sobat baru nya tak begitu banyak bertanya dan hanya mempercayai saja.
Kurt melihat sosok cantik baru ia lihat di kantin mengulum senyum, "apa kau kira aku bisa dekat dengan nya"
Perkataan ambigu, entah konotasi seperti apa yang pas menggambar kan pertanyaan mengambang seorang Kurt Yang sedang kasmaran.
" Kenapa tak kau coba" Edbret memilih menegak sebotol air putih, menelan suapan terakhir dari masakan yang entah terasa hambar di lidah nya usai memakan nya.
"Dia cantik, aku tak berani" jawaban Kurt cukup membuat nya bingung, bukan kah karena Yuline cantik, makannya kau suka? Lalu, kenapa harus takut. Tanya Edbret dalam hati
Dalam diam Kurt masih menatap gadis pujaan yang entah kenapa terasa cepat sekali menyelesaikan acara makan mereka dari pada mereka, kumpulan teman di mana Yuline di sana bergegas pergi dari kantin, Edbret menebak kumpulan teman baru nya akan memilih berjalan-jalan ataupun menjadi manusia membosankan ke perpustakaan.
"Aku ragu kalau di tolak"
Sungguh kasian sekali kau Kurt, Edbret sangat menyayangkan sikap pesimis tiba-tiba pada teman pertama nya, walau agak aneh lidah nya mengatakan hal ini tapi Edbret mencoba mengatakan nya, " kau coba dulu dekati dia, kalau kau cocok dengan nya baru sukai dia secara lanjut, kau tahu banyak gadis cantik, tapi mereka membosankan, kau juga tak buruk kok" Edbret meyakinkan teman nya dengan mengebu-gebu
Kurt sampai di buat hampir menangis dia buat nya, agak lelucon memang namun masuk akal, kebanyakan akan bilang jika penampilan nya bagus maka dia akan selalu menyenangkan namun tanggapan Edbret cukup masuk akal tapi termasuk dari sedikit orang yang dapat berfikir dari segi personaliti nya dari pada penampilan dimiliki nya