Pintu terbuka menampilkan sosok bocah laki-laki manis keluar dari sana, terlihat sekali wajah ragu nya
" kau yakin dengan ini" kikuk akan penampilan nya kini, selama ini dia hanya berpakaian kaos serta celana pendek selutut saja, tiba-tiba Yuline mendadani nya dengan kemeja serta jeans abu-abu jarang di pakai nya kalau tidak ke luar jauh dari rumah.
Yuline merangkul pundak adik kecil nya itu, dia memuji nya, "Kau tampan" beritahu Yuline pada Edbret kecil.
Anak pendiam Seperti dia mana mau berpakaian seperti ini jika tak di paksa oleh gadis di sebelah nya kini, huftt... Kau harus sabar Ed.
Edbret melepas rangkulan tangan putih milik Yuli, berbalik dengan ogah-ogahan "Aku harus bagai mana?" Ketus Edbret, walaupun begitu Yuline hanya tersenyum.
" Kau haru menyapa tetangga kita, bagai mana?" Usul Yuline pelaku sebenarnya membuat dirinya terpaksa Menganti style kesukaan nya
Edbret mendengus sebal, dia merasa di permainan oleh sang kakak, ayolah siapa yang di suasana panas seperti sekarang memakai jeans dan kemeja hanya sekedar menyapa seolah gadis tetangga? Aku belum berniat melamar anak orang.
" Kau mau kemana, keluar lah.. dasar bocah, ed-" panik Yuline
Edbret memutar badan nya kembali memasuki kamar meningalkan kakak perempuan nya di belakang, entah peduli setan ia kini membuka pakaian menyisakan celana dalam beragam Spider-Man
Edbret lupa dia sama sekali tak mengunci pintu kamar nya dan ada orang lain selain diri nya.
" Ouch!! Sial, kau kenapa di sini!! Keluar lah" histeris Edbret panik, tentu bagai mana tidak dia belum selesai memakai baju, menangkal semua dan tersisa sepotong celana dalam saja
Gadis pirang itu tengah bersandar di samping pintu kamar, menyilang kan tanggan nya, menatap datar sang adik tengah panik
Edbret mengumpati anak pertama keluarga Stone itu sembari menutupi bagian sensitif nya
" Tenang saja, kau tidak sexy itu untuk menarik perempuan" ledek Yuline melenggang santai ke kasur milik Edbret
Wajah memerah malu, Edbret berbalik menghadap lemari coklat nya, melirik sesekali belakang punggung nya dimana Yuline tengah santai bersila di atas kasur nya.
" Kau itu sama sekali tidak bisa di ajak kerja sama"
" Nanti saja tak bisa kah? Aku mau ganti pakaian dulu" mohon nya tetapi tetap tak di indahkan Yuline, " aku tak melihat mu, cepatlah berganti pakaian" suruh Yuline segera
Yuline segera memilih berbalik memunggungi si adik, dirasakan tak ada suara Edbret menoleh hati-hati mendapati Yuline sama sekali tak menoleh ke arah nya, sesegera mungkin menyambar pakaian kesukaan diri nya
Sepotong kaos abu-abu serta celana pendek berwarna navy, jantung nya berdegup cepat Edbret memegangi d**a nya sendiri, mengipas wajah nya dengan kibasan tangan
Melihat dari ekor mata nya, Yuline hanya bersenandung seperti janji nya dia belum berbalik, " aku sudah selsai" beritahu nya .
Perasaan sedikit kesal agak menyelimuti nya saat ini, sudah susah payah ia mencari kan pakaian untuk diri nya agar anak itu bisa memulai mendapatkan teman di sekitaran rumah mereka
Ayolah, perlu ku jelaskan. Aku punya adik lelaki dan dia sama sekali tak punya teman, yah. Dia anak pendiam itu pertama, yang ke-dua dia itu malas sekali berbaur dengan orang lain jika tak ada yang mengawali nya sedangkan dia itu pendiam kadang yang lucu anak itu terlalu pemalu bagi ku, rencana nya hari ini aku menyuruh dia berpakaian bagus agar bisa menarik anak perempuan tetangga baru kita.
Apa yang di lakukan? Bocah menyebalkan itu malah berbalik ke kedalam kamar milik nya lagi, oh ho, dia lupa mengunci pintu nya ini.
Tentu aku masuk berlahan menemukan dia sedang berganti pakaian, ya tuhan apa ini, batin ku saat ini ingin di buat tertawa.
Gambar superhero tercetak jelas di pakaian dalaman pendek nya, lucu sekali adik ku ini.
Edbret seketika menjerit sampai rasa nya telinga ku akan sakit di buat nya, kenapa anak itu punya suara melengking sih, Seperti anak gadis mana wajah nya manis.
Berjalan dengan malas menuju ranjang kamar Edbret ku nyaman kan tubuh ku di sana, bersila dengan kedua tangan bertumpu kebelakang, dari pada mendengar protes-an anak itu aku suruh segera berganti pakaian lalu aku berbalik badan mengarah tembok putih di depan ku.
Rasa penasaran ku membuat aku melirik sekilas, tentu nya dengan hati-hati agar tak tertangkap basah, sesekali aku tersenyum kecil setelah melihat tubuh adik ku, tak terasa dia ternyata sudah sebesar itu tapi tinggi nya sama sekali belum menyalip ku, mungkin karena kita terlalu kecil.
" Sudah"
'hemm..hemm' jawaban apa itu? Aku segera menarik kerah baju nya berjalan memimpin kami, " Yuline, yull.. hey, jangan seret aku" marah nya.
" Sudah ikut saja" jawab Yuline, " kita akan temui si tetangga baru"
Edbret memberontak melepas cengkeraman tangan Yuline ketika sampai di depan rumah, kusut sudah pakaian nya sekarang, "bisakah aku hari ini mendapat kan waktu ku sendiri? Aku ingin sekali menghabiskan waktu ku sebentar saja dalam kamar" beritahu nya mengaku.
Ingin sekali aku mengamuk pada adik ku tak tahu diri ini, setidaknya punya satu atau dua teman dekat itu akan lebih baik, kadang dalam otak ku ini berfikir di luar nalar nya, bagaimana tidak aku bahkan pernah berfikir adik ku ini sudah jatuh cinta dengan kamar nya hanya kamar, sekolah dan ruang makan menjadi rutinitas nya, aku ingin dia bergaul.
Sekarang malah berani protes dengan hal sepenting ini, aku menghela nafas sesaat memastikan emosi ku tak membuat dia ikut mengamuk, satu adik saja membuat aku pusing di tambah ibu kamu sedang hamil anak ke tiga nya, aku akan mendapat dua adik.
Di tengah asik nya perdebatan kakak- adik secara live tak sengaja terganggu oleh intrupsi seseorang
" Hey! Kalian sedang apa?"
" Oh' Hay! Kau emeliy kan" Yuline menyadari gadis kecil itu adalah anak tetangga yang mau di kenalkan ke adik nya, emeliy menyapa kedua kakak beradik itu ramah.
" Habis dari mana" astaga itu adalah pertanyaan basa basi, di lihat dari mana pun gadis se-usia Edbret baru saja membeli sesuatu terlihat dari kantung keresek di bawa nya
Emeliy menyodorkan bawaan nya memperlihatkan dia baru saja membeli keperluan buku nya sendiri, toko buku tak jauh dari rumah mereka dan anak belum genap sepuluh tahun itu sangat mandiri sekali, " baru beli buku" katanya membalas
Yuline melirik samping nya, Edbret nampak malu-malu membuat pikiran jail Yuline muncul, " emeliy, kenalan ini adik ku, dia seusia mu... Dan kenalkan ini Edbret dan Edbret ini emeliy" beritahu Yuline mengenal kan kedua anak Adam dan hawa itu secara bergantian.