" bagai mana sekolah kalian?" Amstrong kali ini membuka percakapan pada kedua anak nya, ngomong-ngomong si bungsu Eland sudah di jemput lebih dahulu oleh sang ayah mereka.
"Kami baik kok yah" Elbert menjawab nya, namun tak ada balasan dari sang ayah pada nya, terdengar hanyalah gumaman sebagai balasannya.
" Lalu, bagaimana dengan mu?" Tanya ayah kembali kini terdengar riang pada Yuline
" Ada beberapa teman yang mengasikkan juga kok yah, aku suka sekali di sana" lapor nya pada ayah mereka, ketara sekali dia sangat menikmati hari-harinya saat di sekolah.
Mendengar percakapan ayah dan putri nya sangat menyenangkan kan? Andai ayah juga bisa begitu dengan ku, mungkin aku akan menceritakan bagai mana cara ku bisa hidup sehat, aku memutar bola mata ku, bosan. Jerit ku dalam hati, hanya mendengar percakapan hangat antara mereka dan tidak dnegan ku ini, menyedihkan bukan?
Aku berpangku dagu mengalikan pandangan ku ke arah pepohonan yang terasa berjalan karena ilusi optik dimana mobil kami lah yang bergerak dikarenakan nya. Menyediakan sekali aku duduk di belakang sedang pasangan putri dan ayah tengah asik bercengkrama, lupa. Akan atensi ku di sini.
Mobil berhenti di depan perkarangan rumah bertepi menuju samping rumah, memarkir kan nya di sana.
" Ed- ayah ingin bicara dengan mu" tegur nya sebelum mereka semua turun, Yuline terdiam mengamati wajah ayah nya, tersirat keseriusan di sana, " Yuline.. kau masuklah ke dalam secepat nya" usir nya menanti kepergian gadis remaja itu tak kunjung beranjak.
Yuline melirik ke arah jok belakang melihat Edbret memasang wajah cemberut dan muak, merasa tak di perlukan lagi Yuline pamit pergi,
" baiklah kalau begitu aku akan pergi.. segeralah kembali, ibu sudah masak makanan enak kurasa"
"Tentu saja honney, cepat sana" Amstrong memanggil dengan penuh kasih membuat Edbret melirik sinis, pangilan apa-apa itu, ingin muntah.
Amstrong menoleh ke belakang mengamati Edbret yang masih setia duduk di sana, "aku ingin bicara dengan mu" kata nya datar, "kita bisa bicara sekarang yah" jawab nya mengiyakan bahwa mereka masih dalam satu mobil dan memudahkan untuk saling berbicara satu sama lain.
"Duduk lah ke depan, kau tak akan senang aku punya sakit leher gara-gara berbicara dengan mu sambil menoleh ke belakang terus-menerus"
Aku akan sangat senang sekali, kalau saja itu bisa akan ku Do'a kan
Edbret meraih tas punggung nya membuka pintu dan kembali duduk ke depan dekat sang pengemudi, dia mendapat tatapan asing dari ayah nya sekarang, sudah biasa.
Edbret sama terdiam nya, engan mulai bertanya pada ayah nya, bukan kah orang itu sendiri yang mengajak nya berbicara, "selama kau ku tinggalkan sejak pertama kita pindah kau selalu bertindak aneh, kau tau itu"
Edbret melihat lelaki yang mengaku sebagai ayah nya, dia sama sekali tak mengerti apa maksud nya, "aku tak mengerti apa yang kau bicarakan"
Amstrong sedikit memiringkan tubuhnya agar salah satu anak lelaki nya ini menatap langsung wajah nya
" Kau belakangan suka pergi menghilang, memang nya kau pergi kemana" tanda sang ayah meminta penjelasan lengkap dari sang tertuduh.
Ku pikir apa yang salah dari nya kenapa Secara tiba-tiba mengajak ku berbicara ternyata ini, apa yang ku jawab? Otak ku berusaha mencari jawaban yang tepat, "aku bermain di hutan" jawab ku jujur akhirnya.
Nampak ayah melihat ku tak percaya dia memegang kedua bahu ku kuat, aku Manahan rasa nya, ku rasa akan meninggalkan sakit jika sekuat ini.
Amstrong memegang kedua bahu kurus Edbret, meremat nya kuat dengan berkata, " kau mau membuat kesulitan pada ku? Dan kau dengar kata ibu mu kau sempat memarahi nya, apa itu benar!!" Teriak nya tepat di depan wajah Edbret.
Jantung ku berdetak puluhan kali lebih cepat terpacu, tubuh ku menghindar untuk tak lebih dekat dengan nya, tapi nihil jika kedua tangan berurat tersebut menghalangi pergerakan ku, aku pejamkan mata ku kuat-kuat, takut tentu saja, ini baru pertama kalinya dia berteriak sekeras ini dan se-menyeramkan ini.
Tersentak kembali ke sandaran nya ayah tiga anak tersebut mengendur kan tanggan nya melepas pegangannya pada si anak, " M-maaf.." lirih nya menyesal
Terlihat sekali anak remaja itu memerah mata nya menahan tangisny,
" Ku rasa aku aku harus masuk rumah, perbincangan kita sudah selesai kan" selesai menjawab seperti itu Edbret dengan cepat membuka pintu mobil tersebut
'brakk' membanting nya dengan kuat menyisakan ayah nya di dalam sana.
Edbret terdiam kaget melihat Yuline ternyata belum masuk ke dalam rumah, sedari tadi dia hanya diam mematung, jadi selama ia menjadi sasaran amukan ayah mereka dia melihat semua nya sendiri, Edbret tersenyum simpul
" Kau sedang menonton tontonan gratis rupa nya" sindir Edbret, " aku tidak -" elak nya walaupun itu semua benar nyatanya
" Sudah lah" Edbret berjalan melewati Yuline yang masih mematung di sana.
Setir mobil tak bersalah menjadi sasaran amukan pria dewasa itu, beberapa kali diri nya memukul nya
" Apa yang kau lakukan, dia anak mu... Akhh.." Amstrong menjerit tertahan pukulan ceroboh nya membuat jemari nya lecet.
Aku heran mendengar ayah buru-buru mengusir ku dari mobil dan menyuruh Edbret untuk tinggal, melihat wajah ayah yang serius cukup membuat ku takut, sungguh. Walaupun begitu aku tetap keluar dari mobil, aku berjalan berlahan ku paling kan wajah ku melihat ke belakang namun ayah terlihat memberi kode untuk aku segera pergi
Berjarak agak jauh di mana ayah tak menyadari ku namun aku masih dapat melihat mereka dari balik kaca jendela mobil yang bening, " kenapa dengan mereka" monolog ku seorang diri
Ku perhatikan Edbret Nampak kesal dan diam saja tanpa percakapan setelah dia pindah duduk di depan kemudi, jarak mata ku yang tentu punya keterbatasan sama sekali tak dapat melihat ekspresi ayah dari balik kemudi.
Yuline berjingkat kaget melihat ayah mereka memojokkan Edbret dan membentak nya, bagai mana dia tahu padahal jarak mereka cukup jauh? Tentu teriakan dari balik mobil cukup sangat keras hingga samar terdengar hingga keluar, Yuline khawatir dengan keselamatan adik nya tentu dialah korban nya sekarang.
Edbret membanting pintu dnegan keras berjalan cepat ke arah ku, aku ingin menanyai keadaan nya tapi jawaban ketus ku dapat kan, tentu ini salah ku, bagaimana tidak... Aku seperti penguping diantara mereka sekarang.
Edbret melewati diri ku, ingin ku susul segera namun aku tahu punggung kecil itu tengah terluka, aku engan untuk menambah emosi anak itu, ku lihat secara tak sengaja ayah ku di sana nampak frustasi, aku harap dia tak mudah memarahi Edbret bagaimana pun dia juga anak nya, walaupun aku berselisih paham
Ku susul Edbret masuk ke dalam rumah