Bukan Saya 2

1088 Words
Aku segera keluar, ternyata Yusuf mengejar Mas Ahmad dan berhasil membawanya ke kosan kami. Ia terlihat gugup dan takut. Mas Ahmad duduk menyender ke tembok dekat pintu. Sementara Yusuf sudah mengunci pintu. Bukan saya, ucap Mas Ahmad bergetar. “Buka saya apa, Mas? tanya Yusuf, duduk di samping Mas Ahmad dan meletakkan tangannya di bahu Mas Ahmad. Laki-laki berkulit cokelat itu menggeleng dan memejamkan mata seraya menunduk. Yusuf terkekeh melihat tingkah Mas Ahmad. “Sudah, ayo, salat Magrib dulu, ajakku kepada dua orang yang masih menempelkan bokongnya di lantai. Yusuf bangkit dan ke kamar mandi, disusul Mas Ahmad. Kami bertiga salat Magrib berjamaah, Yusuf sebagai imamnya. Srek srek srek. Telingaku menangkap suara kaki berjalan di teras. Aku tak tahu dua orang yang sedang bersamaku mendengarnya juga atau tidak. Aku mencoba untuk tetap fokus salat. Tak kuhiraukan suara yang semakin jelas terdengar, ditambah lagi suara ketukan pintu. Saat sujud terakhir, ujung mataku menangkap kaki yang melayang di sebelah kananku. Jantung mulai bergemuruh saat Yusuf mengatakan Allahuakbar bangkit dari sujud, aku masih bertahan diposisiku. Mungkin mereka berdua tak menyadari kehadiran demit perempuan di kamar ini. Dengan d**a bergemuruh, aku menguatkan hati bangkit dari sujud. Ujung mataku masih terfokus ke samping, ternyata demit itu sudah tak ada. Entahlah, salatku sah atau tidak. “Mas, tolong jawab jujur, apakah Mas yang membunuh perempuan yang suka mengganggu itu? tanyaku selepas salat. “Bububukan, sahut Mas Ahmad gugup sembari menggerakkan telapak tangannya ke kiri dan kanan. “Terus kenapa si demit mencekikmu seperti itu? tanya Yusuf berlagak seperti detektif. Aaku enggak tahu, balasnya. Aku mengambilkan segelas air bening untuk Mas Ahmad yang segera diteguknya sampai tandas. Aku tak tahu yang sebenarnya terjadi. Kalau bukan Mas Ahmad kenapa juga si demit seperti dendam kepadanya. “Kalau bukan, Mas, lalu siapa?” tanyaku gemas. “Enggak tahu. Tolong, jangan libatkan aku dalam hal ini, ucapnya seraya bangkit hendak pergi. “Eits, tidak bisa, pintunya sudah kukunci,” ujar Yusuf terkekeh melihat Mas Ahmad menaik turunkan tuas pintu. Aku pun ingin tertawa melihatnya, padahal tadi ia melihat Yusuf menguncinya. Mungkin seperti itulah pikiran orang yang sedang ketakutan dan terpojok, kacau. “Aku enggak akan memaksa Mas Ahmad untuk mengaku sekarang. Tapi coba pikirkan lagi, kalau memang Mas pelakunya, tolong mengaku saja, kasihan perempuan itu. Jin qorinnya pun jadi mengganggu orang-orang, tapi kalau bukan Mas lalu kenapa demit itu mencekikmu. Panjang lebar aku bicara seolah seorang penyidik. “Sumpah! Bukan aku yang membunuhnya. Tolong aku mau pulang, pintanya mengiba membuat hati nuraniku tak tega. Aku memandang Yusuf yang mengangkat bahunya. Ih, orang ini, ia yang punya ide mengintrogasi Mas Ahmad, ia juga yang menyeretnya ke sini. Sekarang, malah berlagak tak tahu harus bagaimana. “Ya sudah, tapi tolong pikirkan baik-baik ucapanku tadi, kataku membuka pintu. Membiarkan Mas Ahmad keluar. Mas Ahmad pamit, ia melangkah menuju kosannya. Aku masih belum paham dengan si demit yang mencekik Mas Ahmad kalau ia bukan pelakunya atau ada yang Mas Ahmad sembunyikan. “Kamu ini gimana, sih, Git? Aku capek-capek menyeretnya ke sini malah kamu lepas begitu saja, protes temanku. “Loh, aku kan tadi nanya mau gimana? Kamu malah angkat bahu begitu, balasku. “Kamu enggak nanya apa-apa cuma mandang aku aja, timpal Yusuf dengan wajah kesal. “Iya itu isyarat nanya, Suf, kataku geram, aku kira Yusuf mengerti saat aku memandangnya. “Oh, aku kira cuma mandang aja,” ucapnya, nyengir. “Hah? Terus ngapain kamu angkat bahu begitu kalau enggak ngerti isyaratku? ucapku dongkol dengan orang satu ini. “Pengin aja, hahah. Yusuf ketawa renyah sekali membuatku ingin menoyornya. Aku mendengkus, membiarkannya yang masih terus tertawa. Mataku memperhatikan keramik beda warna itu. Memang aneh, sih, cuma enam keramik yang beda dan seperti tak sengaja memasangnya. “Suf, coba deh perhatiin keramik itu,” kataku menarik baju temanku. Kenapa? tanya Yusuf melihat enam keramik berwarna cokelat. “Kamu ingat enggak pernah bilang kosan ini lucu gara-gara keramik ini beda warna? tanyaku, tak mengubah pandangan terhadap keramik itu. “Ingat, orang aku yang ngomong dan memang lucu, 'kan?” Yusuf memperlihatkan gigi-giginya. “Jangan-jangan itu jasad si demit dikubur di sini, tebakku dengan jantung berdegup kencang. Ah, jangan ngada-ngada kamu, ucap Yusuf. Aneh memang kalau dipikir-pikir masa iya masang keramik kaya begini atau mungkin keramiknya hancur dan yang ada cuma warna cokelat ini. Namun, aku jadi curiga dengan keramik itu. “Ya mungkin, Suf, ujarku. “Kalau begitu Mas Ahmad menguburnya di sini, dong? Yusuf bergidik ngeri. “Entahlah, aku cuma aneh aja, timpalku tak melepas pandangan dari keramik itu. Aku dan Yusuf terus membahas keramik itu. Kami sepakat untuk menanyai Mas Ahmad lagi. Aku pikir ia menyembunyikan sesuatu. Kalau tidak, si demit tak akan mencekiknya seperti itu. Memang ini dugaanku sementara, tetapi tetap harus aku selidiki. Tiba-tiba Pak Sahya menyapa kami, kebetulan pintu kosan terbuka. Ia hendak ke warung beli kopi katanya. Sempat terpikir olehku untuk menanyakan keramik beda warna itu dan tentang pembunuhan di sini, tetapi niatku urung. Mulut ini seperti terkunci, aku lebih ingin menanyakan semuanya kepada Mas Ahmad terlebih dulu. Pak Sahya bilang dulu kosannya tak pernah kosong, selalu saja ada yang menyewa. Namun, sudah sekitar setahun setengah jadi jarang yang menyewa, baru kali ini penuh lagi. Menurutku Pak Sahya orang yang sangat ramah meskipun baru kali ini aku berinteraksi langsung dengannya. Pak Sahya baru keluar hari ini untuk membersihkan kebun. “Ini buat sekadar ngopi-ngopi," ucap Pak Sahya, menyerahkan dua bungkus kopi dan sekantong keresek gorengan. “Terima kasih, Pak, sering-sering saja, kata Yusuf nyengir. Tak terasa malam sudah semakin larut. Aku dan Yusuf menyusun rencana untuk menginterogasi Mas Ahmad agar ia mau buka mulut, menceritakan semuanya. Aku yakin ada yang disembunyikan. Aku tak kuasa menahan kantuk, segera merebahkan diri di kasur sedangkan Yusuf masih menonton televisi. Aku tidur duluan. Perasaan belum lama aku terpejam Yusuf membangunkan. Terdengar suara berteriak dari kamar sebelah. Sepertinya ada yang tidak beres di sana. Aku ingin semalam saja tidur dengan damai dan tenang, tanpa ada gangguan apa pun. Baru juga memejamkan mata sudah disuguhi Maria yang berteriak lagi. Pasti anak itu kesurupan lagi. Aku ingin membiarkanya saja, mungkin kalau tak digubris, si demit akan lelah sendiri. Akan tetapi, Yusuf malah menarik tanganku. Segera kami menuju ke sebelah yang ternyata Maria sudah tak ada di rumah. Maria lari ke sana, ucap Bu Safitri, menunjuk gang buntu ke kosan Mas Ahmad. Ia baru bangkit setelah dijambak dan digampar Maria yang tubuhnya diisi si demit. Kami mengejarnya, ternyata Mas Ahmad sudah mengunci pintu. Maria terus mengedor pintunya sambil berteriak memanggil nama Mas Ahmad. “Bukaan saya, teriak Mas Ahmad dari dalam memecah keheningan malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD