Bukan Saya

1058 Words
Setelah beristirahat sebentar, kami mengantar Mas Ahmad ke kosannya tanpa sepatah kata pun yang terucap dari mulut kami bertiga. Kami membisu. Padahal banyak hal ingin kutanyakan kepada Mas Ahmad. “Kamu tahu apa yang ada di pikiranku? tanyaku kepada Yusuf saat sampai di kamar kos. “Haha, ya tahulah. Renyah sekali laki-laki berhidung bangir ini tertawa. Apa? tanyaku seraya merebahkan diri di kasur. Kalau setiap malam seperti ini bisa hancur tubuhku kecapekan. Ada, deh, haha, ledeknya, Yusuf menggelar kasurnya dan merebahkan diri di atasnya. Kini Yusuf berada di sampingku, menatap langit-langit kosan. “Kamu pasti berpikir Mas Ahmad pembunuhnya, 'kan? tanya Yusuf tiba-tiba setelah beberapa menit kami tak bersua. Iya, kamu juga? Aku balik bertanya. Yusuf menghela napas dan mengiyakan pertanyaanku. Ia masih menatap langit-langit kosan. Kami membisu kembali. Suasana malam ini sangat mencekam, hening, dingin dan ya, tak enak saja rasanya. Aku memikirkan Mas Ahmad. Si demit mencekiknya sampai hampir kehilangan nyawa. Sepertinya ia murka sekali dan dendam. “Kita interogasi saja ia, celetuk Yusuf, memiringkan tubuhnya menjadi menghadapku. Aku mencerna rencana Yusuf sejenak. Kami belum memiliki bukti bahwa benar Mas Ahmad pelakunya. Tak mungkin ia mengaku kalau tak ada bukti yang kuat. Aku menggeleng. Kenapa? “Enggak ada bukti, nanti disangka menuduh, kataku masih dengan posisi yang sama. “Bukan begitu maksudku. Kita tanya baik-baik saja. Kalau memang ia mengelak, ya biarkan. Kita baru cari bukti dulu, jelasnya. “Gimana besok sajalah, sekarang kita istirahat dulu, besok kerja, kataku seraya memunggunginya. Aku benar-benar lelah dan mengantuk, besok harus kerja. Badan rasanya hancur, tak hentinya setiap malam menghadapi kuntilanak di sini. Baru saja kupejamkan mata sudah terdengar suara aneh di belakangku. Ah, ternyata Yusuf sudah ngorok. Secepat itu ia terlelap. Perasaan barusan masih bicara. Aku yang ngantuk, ia yang tidur duluan. *** “Jadi enggak nanti kita interogasi Mas Ahmad? tanya Yusuf, tangannya sibuk merapikan rambut yang ia olesi gel. “Enggak tahu, aku takut jadi fitnah kalau tak ada bukti, ucapku ragu. “Kita ngobrol santai saja, deh. “Ya sudah, ucapku mengunci pintu. Kami berjalan ke depan gang, pergi kerja di pagi hari. Lelah seharian di tempat kerja, sore pulang disuguhi dedemit. Hidupku terjebak di tempat angker. “Hei, Ton. Ke mana saja, baru buka lagi? sapa Yusuf lalu menghampiri Toni yang sedang membuka bengkelnya. “Ada, abis libur dululah istirahat, sahut Toni. “Nah gitu, dong. Badan juga lelah kalau kerja terus. Jaga kesehatan, Ton, ucapku. “Siap, nanti aku main ke kosan, ya, ujarnya. Aku tersenyum dan mengangguk lalu naik angkutan umum meninggalkan kedua temanku yang masih berbincang. *** Aku pulang cepat hari ini karena kurang enak badan, rasanya tulang seperti mau rontok. Sesampainya di kosan ternyata Yusuf sudah ada bersama Toni dan Arya. Ia pun pulang cepat, mampir ke bengkel Toni. Kebetulan ada Arya, mereka ngobrol di sana dan tak lama langsung ke sini katanya. “Terus bengkel kamu siapa yang jaga? tanyaku kepada Toni. “Ada orang yang jaga, sahutnya. “Punya karyawan ia sekarang, ledek Arya menyenggol bahu Toni. “Udah jadi bos, nih, sekarang haha, timpal Yusuf. “Ah, enggak biasa saja,” ucap Toni nyengir. “Semoga usahamu semakin maju. Doaku untuk Toni. Toni mengambil gitar dari kamarku. Ia mulai memetik senarnya dengan merdu. Arya menyanyi lagu Yang Terlupakan dari Iwan Fals, disambung oleh Yusuf. Saat kami sedang bersenandung ria, Bu Salmah dan seorang pria datang. Bu Salmah hendak menagih uang sewa kosan sebelah yang katanya baru membayar separuh. Sementara pria yang bersamanya ternyata suaminya, Pak Sahya. “Lanjutkan, saya mau ke sebelah dulu, ucap Bu Salmah setelah mengenalkan suaminya. Kami hanya mengangguk dan tersenyum, Toni lanjut memainkan gitar diiringi suara merdu Yusuf. “Wah suara kamu merdu, ucap Pak Sahya. “Terima kasih, Pak, ucap Yusuf. “Kalau ada anak-anak muda begini, jadi enggak sepi gang ini, ujar Pak Sahya. “Iya, Pak. Hantu juga pada minggat, ya, celetuk Yusuf. Bisa saja, balas pria paruh baya itu seraya terkekeh. Saya mau bersihin kebun dulu ya, rumputnya udah tinggi sekalian mau ditanami ubi atau singkong, imbuhnya sambil tersenyum. Ternyata suami Bu Salmah ini cukup ramah juga. Sesuai dengan wajahnya terlihat menyenangkan. Sedikit berbeda dengan istrinya yang sedikit cerewet apalagi masalah uang sewa kosan. “Eh, gimana kalian masih suka diganggu makhluk halus? Orang ini cerita banyak,” tanya Arya, tangannya menunjuk Toni. “Haha, bukan diganggu lagi. Kami sudah bersahabat dengan dedemit di sini, celetuk Yusuf. Anak ini mulutnya tak pernah dijaga. Aku senggol ia yang kebetulan duduk di sampingku. Sementara Arya berdecak kesal dengan jawaban Yusuf. “Malah semakin parah, bukan lagi diganggu, tapi kuntilanak itu malah minta tolong kepada kami. Maria, anak yang kos di sebelah sering kesurupan. Katanya, sih, itu kunti dibunuh, jelasku membuat Toni berhenti memainkan gitarnya dan Arya tersedak saat minum. “Hah, yang benar? tanya Toni. “Iya, tadi malam Mas Ahmad yang kos di belakang dicekik Maria yang kerasukan kunti itu. Terus aku langsung menolong mereka. Kalau aku enggak ada Mas Ahmad udah keeeeek, ungkap Yusuf sok pahlawan sembari tangannya ia letakkan di leher. “Hahaha, paling kamu ngacir, ejek Arya. Yusuf mencebik dan mengerling diejek Arya. Ia memasukkan sepotong roti ke mulutnya. “Kok, Mas Ahmad dicekik?” tanya Toni. “Entah, aku enggak tahu. Aku sama Yusuf mengira Mas Ahmad pelakunya, tapi kami enggak punya bukti dan belum tentu juga Mas Ahmad yang membunuh, kataku. Bu Salmah keluar dari kosan sebelah, ia tersenyum dan berlalu. Sementara Pak Sahya masih membersihkan rumput di kebun. “Apa mereka tahu ada pembunuhan di sini? tanya Arya matanya bergantian melihat Bu Salmah yang sudah sudah hilang masuk gang dan Pak Sahya. Aku dan Yusuf mengangkat bahu. Kami tak tahu mereka mengetahui pernah ada pembunuhan di sini atau tidak. Bisa saja si pembunuh menghilangkan jejak agar tak ada seorang pun yang mengetahuinya atau bisa jadi si kunti hanya mengada-ada, tetapi kata Maria kunti itu jin qorin perempuan yang dibunuh. Ah, pusing aku memikirkan semuanya. Kami hening seketika mendengar suara azan Magrib. Setelah itu Toni dan Arya pamit, Toni ada jadwal belajar ngaji selepas Magrib katanya. Mereka akan kembali besok. Ternyata dua orang itu penasaran juga. “Mas, panggil Yusuf saat aku sedang di kamar mandi. “Hei, sini sebentar, teriaknya lagi menyuruh seseorang menghampirinya. Itu anak Magrib begini teriak-teriak. Bukannya cepat wudhu dan salat. Sepertinya Yusuf keluar, terdengar suara sandal beradu dengan teras. “Bukan saya, bukan saya, ucap suara orang yang sudah kukenal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD