bc

Mbak Janda, Nikah Yuk!

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
heir/heiress
sweet
bxg
witty
addiction
assistant
like
intro-logo
Blurb

Zenita dikejar oleh anak atasan di tempatnya bekerja. Sejak dia masih bersuami sampai menjadi janda. Perbedaan status sosial yang lumayan jauh menjadi penghalang hatinya untuk menerima Enrico.

Satu jam setelah dia resmi menjanda, Enrico melamarnya. Hal itu menjadi gosip tak enak merebak di tempat kerjanya. Hingga dia dipecat secara tidak hormat atasannya karena fitnah yang dilayangkan oleh keluarga mantan suaminya.

Bagaimana perjuangan Enrico untuk meyakinkan Zenita? Dan apakah keluarga Enrico bisa menerima Zenita?

**

Sosial media author:sss: Shabira ElnaflaIg: Shabira_Elnafla

chap-preview
Free preview
Calon Janda dan Anak Bos
"Gila, capek banget. Mau istirahat aja gak sempat. Lama-lama habis masa mudaku di sini," keluh Zenita pada rekan kerjanya. "Yang penting gajinya bisa buat hidup sebulan, Mbak. Daripada nganggur. Banyak loh yang pengen kerja tapi gak keterima. Intinya semua harus disyukuri." Zenita mencebik. "Iya deh! Syukuur!" "Heh, bukan gitu konsepnya. Dasar calon janda koplak." Zenita meringis, kemudian dia mengambil nampan yang berisi pesanan meja nomor lima. Siang ini resto ramai pengunjung, apalagi di jam makan siang seperti ini. Beberapa bangku terisi para pegawai kantoran yang sedang merehatkan otaknya dari aktifitas kejar laporan. Hanya tinggal satu bangku yang belum terisi. Letaknya di paling belakang dekat dengan tempat minuman. Semua pelayan sibuk mengerjakan job-nya masing-masing, tak ada yang menganggur, pun sekedar meluruskan tulang juga tak sempat. Zenita, karyawan yang baru empat bulan bekerja di sana pun demikian. Piring-piring kotor diangkatnya ke belakang, lalu meja dia bersihkan dengan serbet yang tersampir di pundak. Dari arah pintu masuk tampak dua lelaki berjas hitam dan biru tua yang celingukan mencari kursi kosong, dengan segera Zenita memberi tahu satu tempat yang masih belum bertuan. "Terima kasih Nona Manis. Tolong saya minta buku menunya," kata salah satu lelaki yang memakai kaca mata. Zenita segera mengambil buku menu yang berada di tengah meja. Ish, padahal tinggal ngambil apa susahnya. Dasar orang kaya, manja. Zenita menggerutu dalam hati, tapi tetap di tampakan senyum manis kepada pembeli. "Menu yang paling enak di sini apa, Nona?" tanya si lelaki kacamata lagi. "Semua enak, Tuan. Tapi biasanya orang-orang suka ingkung ayam kampung. Rasanya khas dari Jawa, dengan paduan bumbu rempah yang pas dijamin pasti Tuan suka." "Hmmm. Baiklah kalau Nona merekomendasikan itu. Lo mau makan apa, Bro?" tanya si kacamata kepada temannya. Lelaki jas biru tua yang duduk di seberang meja meletakan HP-nya, lalu melirik sekilas. "Apa aja. Yang penting jangan ayam." "Tapi ayam di sini enak loh, Tuan. Dijamin ketagihan." "Oh ya, emang kelebihannya apa?" "Dagingnya lebih empuk sih, terus bumbunya juga meresap ke daging." "Kelebihan lain?" Zenita berpikir sejenak, mencari jawaban yang pas untuk dia katakan pada lelaki berjas biru tua. "Ya, kalau ingkung sih yang penting bumbunya meresap, Pak, jadi rasa dagingnya itu gak hambar kalau orang Jawa menyebutnya sepo." "Hmmm. Oke oke. Kalau begitu saya pesan es teh dikasih jerus nipis." "Baik, Pak. Untuk makannya?" "Gak, udah kenyang." What the .... lah terus ngapain tadi tanya-tanya kalau gak pesen. Asem sekali memang ini orang. Udah tampang jutek, gak punya senyum, ngeselin. "Ya ... ya. Saya memang ganteng. Tapi gak usah sampai melolot begitu ngelihatinnya." Najis gak sih? Zenita mencebik kecil. Dia langsung ngibrit ke belakang. Kesel! Sedangkan lelaki berkacamata tertawa yang mungkin saja menertawakannya. Dilihat-lihat lagi emang ganteng sih, dengan setelan fashion yang mirip aktor korea, ditambah kaca mata bertenger di hidung bangirnya. Zenita tersenyum sendiri, menyembunyikan rona merah yang mungkin saja menghiasi pipinya. Lelaki berjas biru tua dengan rambut gondrong dikuncir itu bernama Enrico. Lelaki berdarah Jawa-Korea. Ibunya asli dari negeri gingseng, sedangkan sang ayah asli Jawa, tepatnya Jogja. Resto ini milik ayahnya, dan ia yang diberi tanggung jawab mengurus usaha ini, mulai tadi malam. *** Malam sebelum Enrico ke Jakarta. "Tapi Dad, aku gak mau kerja ngurusin restoran Jawa itu." "Dad Dod! Bapak. Panggil Bapak. Terus kamu mau ngapain setelah lulus kuliah? Mau main-main terus? Ngabisin duit bapakmu yang sudah tua ini? Umur sudah gak muda lagi, belum juga bisa mandiri." "Tapi, Dad .... " "Bapak. Ojo dad dod dad dod." "Bapak ki ndeso." "La iya emang bapak orang desa. Mau apa kamu? Nyatanya ibukmu yang cantik seperti artis korea kesensem sama bapakmu yang ndeso ini." "Bapak main dukun kali." "Sembarangan kalau ngomong! Pokoknya mulai besok kamu harus ke restoran. Bapak gak mau tahu." "Iyo, sendiko dawuh Romo." Rico menangkupkan kedua tangan di depan d**a. Lalu ngacir berlari ke kamarnya sebelum diomeli bapaknya lebih panjang. Dia heran, bagaimana bisa mommy-nya yang cantik bisa jatuh cinta sama bapaknya yang ndeso seperti itu. Bahkan sampai mempunyai anak lima, dan Enrico yang terakhir. ** "Kamu ini bapak suruh ke sini buat memantau resto. Bukan malah senang-senang main game, makan-makan, bercanda seperti gak punya beban. Dasar emang gak bisa diandalkan." Dedi Baskoro, sang pemilik resto sekaligus ayah Enrico datang langsung ngomel ke anaknya. Dia mendengar laporan dari karyawan resto, jika dari siang Enrico dan teman-temannya di dalam ruangan khusus. Mereka sedang makan-makan, ngonrol dan bercanda dengan tawa yang cukup keras, hingga mengganggu pengunjung yang lain. Apa lagi banyak makanan resto yang dia pesan untuk dimakan bersama teman-teman Enrico. "Cukup sabar bapak ini menghadapi kamu. Kuliah enam tahun baru lulus, kerjaan cuma hura-hura, disuruh memantau resto malah pesta. Ngidam apa ibukmu dulu sampai punya anak seperti kamu." "Ya elah, Dad, dikit doang kok. Anggap saja ini pesta penyambutan boss baru kan?" "Gundulmu kui. Kalau seperti ini caranya bisa bangkrut bapak, Ko. Sudah sana kalian pulang! Enrico tetap di sini. Bapak mau ngomong." Semua teman Enrico beranjak lari keluar dari ruang khusus. Takut dengan kemarahan ayahnya Enrico. Sedangkan sebagian karyawan resto sudah beranjak pulang, karena memang sudah waktunya tutup. Beberapa masih stay, menyelesaikan pekerjaan mereka. Salah satunya Zenita. "Mulai sekarang, semua kartu kredit dan atm kamu bapak ambil. Semua tanpa terkecuali. Dan kamu harus bekerja di sini, bukan sebagai bos. Ngerti!" "Tapi, Dad .... " "Apa tapi? Bapak dan ibukmu sudah memutuskan, kalau kamu gak mau nurut sama kami gak papa, besok bapak pesankan tiket ke Jogja. Tinggal di sana sama nenek." "Dad, Rico udah dewasa bisa membedakan mana yang baik buat Rico, bukan seperti ini caranya." "Terus seperti apa? Seperti pesta habisin duit gitu?" "Ya udah, gaji manajer di sini berapa? Oke lah, aku juga bisa kerja. Cari uang sendiri." "6 juta. " "Oke. Itu gaji pokok ya? Belum lembur kan? Bisa ... bisa. Oke aku mau kerja jadi manajer." "Manajer sudah ada Pak Benu. Kamu pelayan!" "What?" Secara bersamaan suara dari Zenita dan Enrico memecah sunyinya malam di dalam restoran. "Dad, aku ini anak pemilik restoran loh, masa jadi pelayan!" Enrico mencoba bernegosiasi. "Malu loh sama teman-teman." "Malu gak bikin kaya. Semua itu berawal harus dari bawah. Biar kamu ngerasain namanya kerja keras. Semua fasilitas yang selama ini kamu nikmati bapak ambil lagi, termasuk mobil dan kartu kredit. Kamu hanya akan dapat uang dari hasil kerjamu!" "Dad, ini namanya penyiksaan! Aku gak mau!" "Gak masalah, itu berarti kamu gak akan dapat uang sama sekali." "Tapi aku ini anak pemilik loh, Dad. Anak pemilik restoran, masa jadi pelayan. Minimal Manager kek." Zenita yang masih shock seperti tidak percaya saat mendengar kalau laki-laki berjas biru tua itu adalah anak pemilik restoran ini. Apa lagi akan mulai kerja di sini, dan hanya sebagai pelayan. Sama seperti dirinya. Agak aneh sih, masa anak pemilik disuruh jadi pelayan. Eh ... atau jangan-jangan ... "Jangan-jangan anak pungut," ujar Zenita lirih. Tapi ucapan Zenita terdengar di telinga Enrico. "Hah? Aku anak pungut, Dad? Jadi aku bukan anak kandung? Makanya Daddy kejam sama aku?"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.8K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook