Honeymoon

1521 Words
Tentu, aku akan membantu memperbaiki naskahmu. Berikut ini naskah yang sudah aku perbaiki: Akhirnya aku dan Bang Rangga Baxtier pun menikah, pesta kami sederhana. "Selamat ya, Indah. Semoga langgeng hingga maut menjemput," ujar Sania datang menyalamiku. "Sudah keduluan saja sama senior," sahut Haga Caroline dan Irene Beauty. Banyak teman dari kampus Bang Rangga datang ke pesta pernikahan kami. Dion Victory juga datang bersama Blue Queen yang sedang hamil besar. Aku sampai terkejut melihatnya. "Selamat ya, Princess Indah Larasati, akhirnya menikah juga," bisik Blue Queen sambil tersenyum. Dion Victory melihat Bang Rangga dengan tatapan sinis. Steven William juga datang dan masih sendiri, menyalamiku dan tersenyum. Setelah pernikahan selesai, aku dan Bang Rangga langsung pergi untuk honeymoon kami. " Bang kemana kita akan honeymoon?" " Abang sudah ada beberapa rekomendasi ini, coba indah pilih dulu. " 1. Pura Uluwatu 2. Gunung Batur 3. Bar Old Man's Canggu di tepi pantai Canggu 4. Crystal Beach di Pulau Nusa Penida 5. Waterbom Bali yang memiliki wahana seperti Fast and Fierce dan Green Vipers 6. Bali Zoo 7. Pura Tanah Lot 8. Goa Gajah 9. Pura Besakih yang terletak di lereng barat daya Gunung Agung 10. Pura Ulun Danu di sisi barat Danau Beratan di Bedugul 11. Hutan Monyet Ubud 12. Tirta Gangga. "Banyak sekali rekomendasi honeymoon di Bali, ya. Sampai aku bingung mau memilih yang mana. Menurutmu, Bang, yang mana yang paling bagus?" "Atau kita kelilingi satu per satu, Indah?" "Yakin, Bang?" "Iya, kapan lagi kita bisa kelilingi Bali. Ini sekalian dapat cuti dari tempat kerja Bang." Setelah berdiskusi, aku dan Bang Rangga akhirnya memutuskan untuk kelilingi satu per satu tempat di Bali. Kami ingin menikmati setiap momen dan keindahan yang ditawarkan pulau ini. Hari pertama, kami memulai perjalanan kami dengan mengunjungi Pura Uluwatu. Kami terpesona oleh keindahan pura yang terletak di tebing dan pemandangan laut yang memukau. Suasana yang tenang dan spiritual membuat kami merasa begitu damai. Keesokan harinya, kami memutuskan untuk mendaki Gunung Batur. Meskipun perjalanan cukup menantang, pemandangan matahari terbit yang memukau dari puncak gunung membuat segala usaha kami terbayar dengan indah. Selanjutnya, kami mengunjungi Bar Old Man's Canggu di tepi pantai Canggu. Kami menikmati suasana santai, bersantai di pantai sambil menikmati minuman segar dan musik live yang mengalun. Kami juga tidak melewatkan kesempatan untuk mengunjungi Crystal Beach di Pulau Nusa Penida. Pantai yang indah dengan pasir putih dan air jernih membuat kami terpesona. Kami bahkan mencoba snorkeling dan melihat keindahan bawah laut yang menakjubkan. Tidak hanya itu, kami juga mengunjungi Waterbom Bali yang menawarkan berbagai wahana seru seperti Fast and Fierce dan Green Vipers. Kami merasakan sensasi kecepatan dan adrenalin yang membuat kami terus terhibur. Selama di Bali, kami juga mengunjungi Bali Zoo dan berinteraksi dengan berbagai hewan yang lucu dan menggemaskan. Kami merasa seperti anak kecil lagi dan sangat bahagia. Pura Tanah Lot, Goa Gajah, dan Pura Besakih juga menjadi bagian dari perjalanan kami. Kami merasakan kekuatan spiritual dan keindahan arsitektur pura-pura ini yang begitu memukau. Tidak lupa, kami juga mengunjungi Pura Ulun Danu di sisi barat Danau Beratan di Bedugul. Pemandangan danau yang indah dengan pura yang berada di atasnya membuat kami takjub. Hutan Monyet Ubud menjadi tempat yang menyenangkan bagi kami. Kami berjalan-jalan di tengah hutan yang hijau dan bertemu dengan para monyet yang lucu. Momen ini membuat kami tersenyum dan terhibur. Terakhir, kami mengunjungi Tirta Gangga. Kami terpesona oleh keindahan taman air ini dengan kolam-kolam yang indah dan arsitektur yang megah. Perjalanan kami di Bali benar-benar tak terlupakan. Kami merasakan kebahagiaan dan kedekatan yang semakin mempererat hubungan kami. Bali memberikan kami pengalaman yang luar biasa dan kenangan yang akan selalu kami simpan dalam hati. " Indah senang?" tanya nya sama ku ketika malam pertama kami " Senang bang. " ujar ku deg-degan Bang rangga menciumku dengan lembut lalu membuka baju ku, aku pun membuka baju bang rangga, lalu kami pun melakukan hubungan intim yang panas dan liar malam itu. Bang rangga tidak puas bermain sekali, malam itu saja sudah 4 ronde sampai aku pun kelelahan dan langsung ketiduran. Setelah hampir sebulan menjalani honeymoon di Bali dan mengunjungi berbagai tempat, aku menyadari bahwa aku tidak menstruasi pada malam pertama kami. Ketika sudah memasuki akhir bulan kedua dan masih belum menstruasi, aku memutuskan untuk melakukan tespek dan hasilnya positif, aku hamil. "Pagi, Bang. Aku hamil," kataku sambil menunjukkan hasil tespek pada Bang Rangga setelah selesai memeriksanya di kamar mandi. "Yakin, Indah?" tanya Bang Rangga sambil memicingkan matanya padaku. "Jadi, maksudmu apa?" tanyaku dengan nada yang agak meninggi. "Lho, kok Indah marah? Kan aku cuma bertanya," ujar Bang Rangga Baxtier mencoba menenangkanku. "Iya, Bang, aneh... Kenapa pertanyaannya seperti tidak percaya padaku," pekikku kesal. "Hari pertama haid terakhir Indah kapan?" tanya Bang Rangga seolah sedang menginterogasiku. "Lupa, Bang. Bulan lalu, saat kita menikah, aku memang belum menstruasi," jawabku dengan kurang antusias. "Ya sudah, nanti kita periksa dengan USG setelah sampai di Medan," ujar Bang Rangga sambil memelukku. Tidak ada ucapan selamat atau kegembiraan yang terlihat dari wajahnya. Malam itu, Bang Rangga tidak pulang ke villa. Handphone-nya juga tidak aktif. Esok paginya, dia pulang dan kami tidak berkomunikasi hingga sampai di Kualanamu, Medan. "Bang..." akhirnya aku membuka pembicaraan. "Ya?" jawabnya singkat sambil mengambil koper kami. "Abang, kenapa tidak pulang semalam?" tanyaku. "Abang jalan-jalan, tapi karena lagi hamil, abang sendiri jadinya," jawabnya yang kusangka hanya sebagai alasan belaka. Setelah itu, kami naik taksi ke rumah Bang Rangga. Setelah menikah, kami tinggal di rumah orang tua Bang Rangga. ***** Setelah sampai di Kualanamu, Medan, suasana di antara kami masih tegang. Kami tidak berkomunikasi selama perjalanan pulang, dan suasana menjadi semakin canggung di rumah. Beberapa hari berlalu, aku memutuskan untuk mencoba menghubungi Bang Rangga untuk membicarakan kehamilan kita. Namun, panggilan teleponku tidak diangkat dan pesan-pesan yang aku kirim tidak mendapatkan balasan. Hatiku mulai gelisah dan khawatir. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi dan mengapa Bang Rangga tiba-tiba menjauh. Akhirnya, aku memutuskan untuk mengunjungi rumah orang tua Bang Rangga untuk mencari tahu apa yang terjadi. Ketika aku tiba di sana, suasana terasa tegang dan mereka terlihat cemas. "Mama, Papa, ada apa dengan Bang Rangga? Mengapa dia tidak pulang dan tidak menghubungi aku?" tanyaku dengan hati yang penuh kekhawatiran. Mama dan Papa Bang Rangga saling pandang sejenak sebelum akhirnya Mama memberanikan diri untuk berbicara. "Indah, sebenarnya ada sesuatu yang harus kami sampaikan padamu. Bang Rangga sudah mengambil keputusan untuk pergi, meninggalkanmu dan kehamilanmu," ujar Mama dengan suara yang penuh duka. Aku terdiam, tidak bisa mempercayai apa yang aku dengar. Air mata mulai mengalir di pipiku, perasaan kecewa dan hancur begitu mendalam. "Mengapa? Apa yang salah? Aku tidak mengerti," desisku dengan suara yang tercekat. Papa Bang Rangga mencoba menjelaskan, "Indah, Bang Rangga merasa tidak siap untuk menjadi seorang ayah. Dia merasa terjebak dan tidak mampu menghadapi tanggung jawab ini. Dia ingin menemukan dirinya sendiri dan mengejar impian-impian pribadinya." Aku merasa seperti dunia runtuh di hadapanku. Aku tidak pernah membayangkan bahwa pernikahan kami akan berakhir seperti ini. Aku merasa kesepian, terluka, dan takut menghadapi masa depan yang tidak pasti. Mama dan Papa Bang Rangga mencoba memberiku dukungan dan menghiburku sebaik yang mereka bisa. Mereka menjanjikan untuk selalu ada di sisiku dan mendukungku dalam menghadapi kehamilan ini. Meskipun hatiku hancur, aku harus tetap kuat untuk anak yang ada di dalam rahimku. Aku harus menemukan kekuatan dalam diriku sendiri untuk melangkah maju dan mempersiapkan diri menjadi seorang ibu yang baik. ***** "Indah indah... kita sudah sampai," ujar Bang Rangga membangunkanku dari mimpi. Syukurlah itu hanya mimpi, batinku. Kukira aku akan menjanda dalam waktu sebulan dalam keadaan hamil dan baru selesai honeymoon. Aku ketiduran saat perjalanan dari Kualanamu ke rumah Bang Rangga karena kami sama sekali tidak berkomunikasi sepanjang perjalanan. Bang Rangga mengelap keringat dari dahiku, tanpa kusadari bajuku sampai basah padahal AC mobil menyala. "Kamu mimpi buruk?" tanya Bang Rangga. "Hmm, iya Bang," aku menganggukkan kepala. Bang Rangga turun mengambil koper dari bagasi kami, dan aku turun dari mobil serta masuk ke dalam rumah yang disambut oleh Papa dan Mama mertuaku yang sudah berdiri di depan pintu setelah mereka mendengar aku membuka pagar rumah. "Bagaimana honeymoon-nya?" tanya Mama mertuaku begitu aku tiba di rumah. "Bukan nya kalian terlalu cepat kembali ya dari honeymoon kalian?" tanya papa mertuaku Aku menyalami kedua mertuaku dan mencium pipi mereka dan masuk ke dalam rumah, duduk di ruang tamu. "Menyenangkan ma pa, banyak tempat di bali yang asyik untuk liburan. Kami pergi ke kebun binatang yang isinya semua monyet, kami ke pantai berjemur, kami snorkeling, banyak pura dengan arsitektur yang memukau" ujar ku tersenyum "Ayo masuk, kamu pasti lelah setelah honeymoon, rangga kamu bisa bawa semua koper nya sendiri kan?" papa mertua ku tidak membantu bang rangga mengangkat kopernya ke dalam rumah, malah bersama mama mertuaku menemani ku masuk ke dalam rumah. Belum sempat aku terduduk di ruang tamu, aku merasa mual dan langsung berlari ke kamar mandi. "Indah, tidak apa-apa?" tanya Mama mertuaku sambil mengetuk pintu kamar mandi. Iya, Ma," jawabku. Rasanya perutku sangat mual, mungkin karena perjalanan atau karena kehamilanku. Setelah keluar dari kamar mandi, Papa dan Mama mertuaku sudah duduk di meja makan, menungguku. "Indah, lagi hamil ya?" tanya Mama mertuaku sambil menatapku. Aku mengangguk pelan, masih merasa sedikit khawatir dengan reaksi mereka. Namun, senyum hangat terpancar dari wajah Mama mertuaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD