"Iya, Ma," aku pun terduduk di kursi dengan lemas.
"Baguslah," sahut Papa mertuaku dengan tersenyum.
Tidak berapa lama kemudian, Bang Rangga diterima lamaran pekerjaan di rumah sakit Yogyakarta.
Aku pun hamil tanpa ditemani suami di rumah mertuaku. Syukurnya, mertuaku masih baik padaku.
"Indah, ada keinginan apa biar Mama belikan?" tanya Mama mertuaku suatu hari saat kehamilanku memasuki usia 12 minggu.
Kehamilan pertamaku ini membuatku sangat menderita karena mual yang terus-menerus, bahkan melihat makanan saja aku merasa mual.
Bang Rangga terlihat sangat sibuk saat kami melakukan video call. Akhirnya, aku memutuskan untuk menyusul Bang Rangga ke Yogyakarta.
"Yakin kamu, Indah? Kamu lagi hamil muda," ujar Papa mertuaku saat aku meminta izin mereka untuk pergi menjumpai suamiku.
"Yakin, Pa. Ya kan, Dek?" tanyaku pada bayi dalam perutku yang masih kecil.
Aku pun meminta mertuaku untuk melakukan USG ke dokter kandungan agar bisa mendapatkan surat izin naik pesawat.
Aku pun berangkat ke Yogyakarta dengan didampingi oleh mertuaku ke Bandara Kualanamu.
"Hati-hati ya, kabari kalau sudah sampai di Yogyakarta, jaga kesehatan," ujar kedua mertuaku saat sampai di bandara dan membantu menurunkan koperku.
Aku pun berjalan sambil mendorong trolley koperku dan check-in, kemudian menunggu di lounge. Bang Rangga tidak tahu bahwa aku hari ini berangkat ke Yogyakarta untuk menjumpainya.
Syukurnya, aku pernah menanyakan alamat tempat tinggal Bang Rangga di Yogyakarta.
****
Sesampainya aku di kediamannya, betapa terkejutnya aku melihat seorang wanita duduk di teras dengan pakaian minim dan hotpants.
"Mau cari siapa ya?" tanya wanita itu.
"Mana Bang Rangga Baxtier?" tanyaku sambil melepaskan sandalku dan menyeret koperku mencari Bang Rangga.
"Indah?" tanya Bang Rangga Baxtier terkejut melihat aku sudah muncul di depan kamar mandi.
"Itu siapa, Bang?" tanyaku dengan marah.
"Itu..." ujar Bang Rangga gelagapan sambil masih memakai handuk setelah mandi.
"Bang, aku pamit pulang ya," ujar wanita tadi mengintip ke dalam rumah dan melihat kami sedang bertengkar.
"Itu teman Abang, Indah. Indah, kenapa datang ke Yogyakarta tanpa memberi tahu Abang? Kan Abang bisa menjemput," ujarnya berdalih dan masuk ke kamar untuk berganti pakaian.
"Teman? Yakin Abang itu teman Abang? Kenapa dia menunggu di teras rumah dengan pakaian minim seperti itu? Abang tidak bilang ke tetangga bahwa kita sudah menikah?" tanyaku masih marah.
"Iya, Indah, jadi siapa? Abang jarang ada di rumah, kenapa tetangga harus tahu bahwa Abang sudah menikah atau belum?" ujar Bang Rangga dengan alasan yang tidak masuk akal bagiku.
Aku mengelus perutku dan terduduk di sofa ruang tamu. Rasanya aku ingin mengakhiri hubungan ini, tapi aku takut bahwa semua ini hanya pikiranku karena hubungan keluargaku yang tidak harmonis.
Saat aku terduduk di sofa ruang tamu, perasaan campur aduk memenuhi hatiku. Aku merasa sedih, marah, dan bingung dengan situasi yang terjadi. Aku ingin mencari kejelasan dari Bang Rangga, tapi juga takut dengan kemungkinan kebenaran yang akan terungkap.
Bang Rangga duduk di sebelahku, mencoba menjelaskan situasi dengan suara lembut. "Indah, abang minta maaf kalau abang membuatmu terkejut. Wanita itu sebenarnya teman lama abang. Kami tidak memiliki hubungan romantis, aku jamin."
Aku menatapnya dengan mata penuh keraguan. "Tapi kenapa dia menunggu di teras rumah dengan pakaian seperti itu? Dan kenapa abang tidak memberitahuku sebelumnya?"
Bang Rangga menggenggam tanganku dengan lembut. "Indah, aku tahu abang salah tidak memberitahumu sebelumnya. Abanh tidak bermaksud menyembunyikan apapun darimu. Wanita itu datang ke rumah karena ada masalah pribadi yang ingin dia bicarakan dengan abang. Abang tidak mengira kamu akan datang tanpa memberitahuku."
Aku masih merasa ragu, tapi melihat ekspresi Bang Rangga yang penuh penyesalan, hatiku mulai melembut. "Bang, aku merasa terluka dan khawatir. Aku ingin kita bisa lebih terbuka satu sama lain dan saling mempercayai."
Bang Rangga mengangguk dengan tulus. "Abang sepenuhnya setuju, Indah. Aku minta maaf atas kekhilafan abanh"
Kami berpelukan erat, merasakan kehangatan dan cinta yang masih ada di antara kami. Meskipun masih ada rasa sakit dan keraguan, kami berjanji untuk saling memperbaiki dan membangun kembali kepercayaan yang terganggu.
"Abang ga tugas hari ini kan?" tanya ku yang masih kelelahan sampai di yogyakarta
"Abang tugas malam ini indah, maaf ya, indah sudah makan siang?" tanya bang rangga baxtier tiba- tiba berubah baik setelah kejadian kemarin habis kami berbulan madu
Aku hanya menggelengkan kepala. Bang rangga kemudian masuk ke dalam kamar berganti pakaian jaga rumah sakit, lalu keluar dan bertanya pada ku ingin makan apa. Rasa amarah ku pun hilang karena perlakuan nya kembali seperti pria yang pertama kali membuat ku ingin menikahinya.
Setelah membelikan ku sate padang dan jus mangga , aku pun berniat untuk mandi dan berganti pakaian. Bang rangga tiba- tiba mengajak ku untuk berhubungan intim, mungkin karena sudah 3 bulan aku tidak memberinya jatah.
"Pelan- pelan ya bang, indah kan lagi hamil muda." ujar ku pada bang rangga ketika membaringkan ku di kasur tempat tidur
Bang rangga memang pelan bermain namun 2 ronde juga sehingga perutku pun agak kram sehingga setelah membersihkan kemaluan ku , aku pun berbaring saja tanpa mengantar nya keluar rumah untuk jaga malam di rumah sakit.
Diciumnya keningku dan aku membalasnya dengan salam. Lalu dia mengunci pintu rumah dan meninggalkanku sendirian di kamar.
Baru saja aku akan tertidur, tiba-tiba aku mendengar seseorang memanggil namaku.
Aku melihat keluar dari jendela kamar, tetapi tidak ada siapa-siapa di sana. Kemudian aku mematikan lampu dan dengan kaget aku melihat sesosok perempuan di dalam kamar.
Ahhhhhhhhh.... aku menjerit dan tersandung ujung tempat tidur, lalu keluar dari kamar.
Aku mencoba menelepon Bang Rangga, namun dia sedang berbicara di telepon dengan orang lain. Akhirnya, dengan berani aku memasuki kamar lagi dan menyalakan lampu. Tidak ada siapa-siapa di sana. Mungkin ini adalah ujian bagi seorang ibu hamil. Percaya atau tidak, aku kemudian menyalakan lampu kecil di samping tempat tidur dan memutar musik instrumental dari handphoneku.
Drrrrttt Drrrrttt Drrrrrt
Apa lagi suara itu? Jantungku hampir copot, lalu aku mematikan musik instrumental di handphoneku dan mencari sumber getaran itu. Aku membuka laci meja di sudut kamar dan menemukan sebuah handphone Android yang tidak terkunci.
Awalnya aku tidak ingin menyentuh handphone tersebut, aku takut akan prasangka yang ada dalam pikiranku, tapi rasa penasaran mulai menguasai. Akhirnya, aku mencoba mengabaikannya dan berbaring kembali di kasur. Namun, handphone itu kembali bergetar. Aku pun akhirnya membuka layar handphone tersebut dan melihat ada 30 panggilan tak terjawab dan 50 pesan w******p yang belum terbaca.
Apa ini... Kenapa ada begitu banyak panggilan dan pesan di handphone ini? Lalu, aku membuka riwayat panggilannya, dan semua nama yang muncul adalah nama-nama wanita. Yang paling sering muncul adalah nama Lilly, ada juga Carrie, Bella, dan Yura. Perasaanku mulai tidak enak, lalu aku membuka pesan-pesan w******p tersebut.
"Abang, lagi di mana? Lilly sudah di tempat biasa," itulah pesan terakhir dari wanita bernama Lilly. Seluruh 50 pesan tersebut berasal dari wanita itu. Aku bingung dengan maksud dari semua ini. Akhirnya, aku mematikan handphone tersebut dan meletakkannya kembali di tempatnya.
Ahhh, mungkin handphone itu milik teman Bang Rangga. Aku pun membuka aplikasi untuk menonton drama Korea agar pikiranku bisa teralihkan. Aku merasa kasihan pada anakku dalam kandunganku.
Lalu, pada malam itu akhirnya aku tertidur dengan nyenyak.
****
Esok paginya, Bang Rangga sudah berada di dapur memasak nasi goreng untuk kami. Aku pun terbangun dengan mencium aroma sedap yang berasal dari luar kamar. Aku segera keluar kamar, mencuci muka, dan duduk di meja makan bersama Bang Rangga.
"Bagaimana, Indah? Nyenyak tidurnya?" tanya Bang Rangga sambil meminum teh manisnya.
"Semalam, Indah tidak bisa tidur karena diganggu oleh makhluk halus penghuni kamar, jadi terpaksa aku menyalakan lampu kecil di samping kasur," ujarku sambil mulai bercerita.
"Oh ya? Selama ini, Abang tidur tidak ada masalah tuh. Apakah karena Indah lagi hamil?" tanya Bang Rangga sambil mengelus perutku.
"Bisa jadi, Bang. Kemarin, Mama memang menyuruhku membawa gunting kecil yang ditusukkan di baju, katanya karena lagi hamil rawan," ujarku sambil memperlihatkan gunting kecil dan peniti yang aku pakai setelah diganggu semalam.
"Ohhh, pakailah kalau memang merasa lebih aman. Abang juga tidak selalu bisa menemani Indah, karena Abang bekerja untuk kita," ujar Bang Rangga dengan penuh romantis dan manis.
"Bang, Indah baru ingat. Semalam ada handphone di laci meja kamar," ujarku teringat akan handphone tersebut.
"Ohhh, itu milik teman Abang. Kemarin dia menginap di sini karena lebih dekat ke rumah daripada tempatnya," ujar Bang Rangga dengan yakin.
"Iya, Indah juga yakin seperti itu. Ada banyak panggilan telepon dan pesan w******p, jadi aku mematikannya karena terus bergetar," sahutku dengan prasangka baik.
"Hari ini Abang libur, Indah mau jalan-jalan? Siap Abang tidur siang nanti?" tanya Bang Rangga.
"Mau, mau," sahutku dengan senyum lebar dan sumringah.
Bang Rangga pun mandi dan tidur hingga siang. Aku pun mencuci pakaian yang kami pakai semalam, mencuci piring, menyapu, dan mengepel rumah. Setelah itu, aku duduk di teras.
"Siapa, Mbak?" tanya ibu tetangga yang sedang menyapu terasnya.
"Istrinya Bang Rangga," jawabku sambil menyapa ibu tersebut.
"Oh, kirain Bang Rangga masih lajang. Soalnya, dia selalu memiliki tamu perempuan dan laki-laki di rumahnya, kadang sendiri kadang ramai, dan terkadang berisik hingga malam," cerita ibu tersebut.
"Ahh, iya. Saya baru bisa datang ke sini setelah suami mendapatkan pekerjaan di sini. Bang Rangga memang memiliki jiwa sosial yang tinggi, Bu," ujarku tanpa curiga sedikit pun.
"Indah, ayo siap-siap," ujar Bang Rangga yang sudah bangun dari tidur siangnya.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, aku pun mengunci rumah dan naik kereta dengan boncengan bersama Bang Rangga.
Tempat yang pertama kali kunjungi adalah the world castle, ketika kami masuk gerbang, tiba- tiba ada wanita cantik bersama teman-teman nya berpapasan melewati kami.
"Bang?" ujar seorang wanita cantik berambut pirang sambil menyapa Bang Rangga bersama teman-temannya.