"Apa kalian kenal?" tanyaku kepada Bang Rangga.
Bang Rangga tidak menjawab dan hanya terdiam, memandangi wanita tersebut.
"Bang Rangga kan? Abang kok terlihat sombong sekarang. Aku sudah menelepon puluhan kali tapi tidak diangkat, mengirim pesan di w******p berulang kali tapi tidak dibalas. Siapa dia, Bang?" tanya wanita cantik tersebut lagi.
"Maaf ya, salah orang," ujar Bang Rangga sambil mengajakku pergi.
"Bang, aku Lilly," ujar wanita cantik tersebut.
Namun, Bang Rangga tidak menggubrisnya dan terus mengajakku berkeliling di The Lost World Castle.
"Abang, apakah benar-benar tidak kenal dengan wanita itu?" tanyaku lagi, karena wanita tersebut menyebut namanya.
Lilly, nama wanita yang ada di dalam handphone tersebut.
"Tidak kenal, Indah. Kenapa kamu terus bertanya-tanya?" tanya Bang Rangga mulai emosi.
"Lho, Indah kan hanya bertanya. Kenapa Abang marah-marah?" ujarku, melihatnya menjadi sensitif ketika membahas wanita tersebut.
Setelah berjalan di semua tempat di The Lost World Castle, kami melanjutkan perjalanan ke destinasi lain.
Selama perjalanan kami ke destinasi lain, suasana terasa sedikit canggung. Aku mencoba mengalihkan perhatian dengan mengajak Bang Rangga berbicara tentang rencana liburan kita dan tempat-tempat menarik yang ingin kami kunjungi.
"Bang, kemana lagi kita akan pergi setelah ini?" tanyaku mencoba memulai percakapan.
Bang Rangga menjawab dengan suara yang masih terdengar sedikit tegang, "Kita bisa pergi ke pantai selatan, ada banyak pantai indah di sana."
Aku mencoba membuka topik lain, "Bang, apa kamu masih merasa marah tentang tadi? Aku hanya ingin tahu siapa wanita itu."
Bang Rangga menatapku sejenak sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang lebih tenang, "Maaf, Indah. Aku seharusnya lebih jujur denganmu. Lilly adalah mantan pacarku. Kami putus sebelum aku bertemu denganmu. Tapi aku berjanji, aku tidak punya hubungan apa pun dengannya sekarang. Kamu adalah yang terpenting bagiku."
Aku merasa lega mendengar penjelasan Bang Rangga. Meskipun masih ada sedikit keraguan dalam hatiku, aku memilih untuk percaya padanya. Kami melanjutkan perjalanan dengan suasana yang lebih baik, saling berbagi tawa dan cerita.
"Siap ini kita cari restoran buat makan sore ya." ujar bang rangga setelah ke 2 tempat wisata
Bang Rangga melihat di Google sebentar sebelum akhirnya pergi ke sebuah restoran Sunda. Restoran ini memiliki bentuk gedung yang mirip dengan istana besar, yang mampu menarik banyak pelanggan yang datang ke sana.
Ketika para pelanggan baru tiba di Gubug Makan Mang Engking Soragan, terlihat jelas suasana kastel ala Eropa di sekitarnya.
Restoran Sunda ini menawarkan berbagai hidangan lezat seperti Sup Buntut Sapi, Kepiting Asam Manis, Udang Goreng Tepung, Iga Bakar Madu, Karedok, dan Gurame Bakar Kecap.
"Makanan di Yogyakarta enak dan harganya juga terjangkau, ya, Bang. Selain itu, tempat wisatanya juga sangat banyak," ujarku sambil menikmati Sup Buntut Sapi dengan nasi, sementara Bang Rangga memesan Kepiting Asam Manis.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memang kaya akan destinasi wisata pantai yang terbentang di pesisir selatan.
"Siap ini kita akan ke Pantai Parangtritis atau dikenal sebagai Pantai Nyi Roro Kidul. Pantainya sangat indah dengan pasir putih yang memukau dan ombak yang kuat," ujar bang rangga antusias.
"Bukankah itu terdengar seram, Bang? Kita pergi ke tempat mistis seperti itu ketika Indah masih dalam keadaan hamil?" tanyaku khawatir.
"Yang penting kita tidak mengenakan pakaian berwarna hijau. Jika Indah khawatir karena alasan kehamilan, hampir semua tempat pasti memiliki kisah mistisnya, Indah," jawab Bang Rangga.
"Aku akan mengikuti apa yang kamu katakan, Bang," ujarku setuju.
Kami pun naik bendi, sebuah kereta kuda yang kami gunakan untuk berkeliling pantai sehingga tidak perlu capek berjalan kaki.
Selanjutnya, kami juga mengunjungi beberapa air terjun di sekitar pantai, seperti Air Terjun Ngobaran dan Air Terjun Nglambor, untuk menikmati keindahan alam.
Ternyata, di sebelah timur pantai juga terdapat Candi Gembirawati yang memiliki nilai sejarah dan keindahan arsitektur yang menarik.
Kami memutuskan untuk tidak berenang karena aku merasa takut karena sedang hamil. Kabarnya, ada laporan tentang pengunjung yang hilang setelah mandi atau berenang di pantai dan tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
Setelah jam 9 malam, kami pun pulang ke rumah. Bang Rangga mandi dan berganti pakaian, lalu langsung tertidur dengan pulas. Tiba-tiba, handphonenya bergetar. Aku yang baru saja selesai mandi merasa penasaran dan melihat handphone yang terletak di meja kamar. Ternyata, ada panggilan dari seseorang bernama Lilly.
"Wanita itu lagi," ujarku dalam hati. Kemudian, ada pesan w******p dari wanita tersebut.
"Bang, kok tadi Abang pura-pura tidak mengenal Lilly? Padahal, Bang sudah sering bertemu dengan Lilly," demikian isi pesan w******p itu. Pesan tersebut membuatku terkejut. Malam itu, aku tidak bisa tidur karena gelisah memikirkan isi pesan tersebut. Aku merasa tidak enak dengan perempuan tersebut.
Bang rangga memang menjelaskan padaku bahwa wanita itu mantan yang dipacari nya sebelum bertemu dengan ku. Lalu bagaimana mereka bisa berhubungan kembali dan apa yang terjadi antara mereka berdua sampai wanita itu terus menerus mencarinya.
Apa yang dicarinya dari bang rangga. Batin ku dalam hati.
Tanpa kusadari, aku pun tertidur di samping Bang Rangga. Beberapa waktu kemudian, Bang Rangga membangunkanku dengan lembut.
"Indah... Indah... Bangun, Indah," bisik Bang Rangga membangunkanku yang masih terasa seperti baru saja tertidur.
"Hmm," jawabku setengah terbangun, masih dalam keadaan seperti bermimpi.
"Abang pergi kerja dulu, sarapan sudah Abang beli di meja makan," kata Bang Rangga sambil mencium keningku. Lalu, ia pergi.
Karena tidurku yang nyenyak, aku tidak menyadari bahwa Bang Rangga mampir ke rumah untuk makan siang dan aku masih belum bangun.
"Indah... Sudah siang ini... Bangun..." diguncangnya tubuhku pelan untuk membangunkanku.
Akhirnya, aku pun terbangun karena merasa sudah lama tidur.
"Jam berapa, Bang?" tanyaku sambil mengucek mata.
"Jam 12, Indah. Jangan sering-sering bangun siang. Seharusnya Indah sudah bisa melayani Abang, buatkan sarapan teh manis, dan buatkan bekal. Abang kan capek kerja," ujarnya dengan sensitivitasnya.
Aku hanya diam dan pergi mencuci muka serta menggosok gigi. Lalu, aku pergi ke meja makan dan membuka bungkusan sarapan yang dibeli Bang Rangga tadi pagi untuk makan siangku, nasi gurih dengan ayam semur. Bang Rangga makan nasi bungkus dengan rendang daging.
"Besok, bangun pagi ya, Indah. Buatkan sarapan dan teh manis. Nanti Abang akan menemani belanja untuk seminggu," ujarnya sebelum pergi lagi setelah menghabiskan nasi bungkusnya. Aku pun mencuci piring, menyetrika, menyapu, dan mengepel lantai. Setelah itu, aku duduk di teras karena merasa capek.
"Ternyata, kamu bangun siang, ya? Capek karena sedang hamil, mungkin?" tanya ibu tetangga kemarin.
"Ibu bilang sering ada tamu wanita yang datang ke rumah ini? Bagaimana orangnya?" tanyaku mencoba menggali informasi.
"Kenapa, Bu? Apakah sudah mulai mencium aroma yang tidak sedap?" tanya ibu tetangga.
"Aroma yang tidak sedap?" tanyaku bingung.
"Maksudnya, apakah suamimu mulai berperilaku aneh?" jelasnya.
"Hmm," aku hanya berdeham.
"Wanita itu cantik, Bu. Beberapa kali dia datang ke sini sore hari. Besok paginya, saya melihatnya lagi ketika membersihkan teras. Mau saya tanya, tapi takut salah. Jadi, saya memilih untuk diam saja. Namanya..." ujar ibu tetangga itu berpikir keras.
"Lilly?" tanyaku padanya, karena nama itu terdengar familiar dalam beberapa hari terakhir.
"Iya, iya, mbak.Mbak jangan menjauh dari suami. Sekarang ini zaman pelakor, apalagi suami ibu adalah seorang dokter. Sekarang, hampir semua pria b******k, mbak. Padahal, istrinya sudah cantik dan pandai mencari uang, serta sudah memiliki banyak anak. Tapi suaminya malah main dengan perempuan lain," cerita panjang lebar dari ibu tetangga itu terus berlanjut.
"Ah, iya, Bu. Pasar di sini jauh, ya?" tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Mbak mau belanja apa ke pasar?"
" Mau belanja ikan, udang, cumi, sayur dan perbumbuan bu. "
" Kadang pagi hari ada pedagang keliling mbak yang jual ikan dan sayur. Di kedai situ juga ada jual perbumbuan dan sayur mbak. "
"Ah, iya, Bu. Terima kasih atas informasinya," jawabku sambil mempersiapkan diri untuk pergi ke pasar.
Setelah siap, aku melintasi jalan menuju pasar. Di sepanjang perjalanan, aku melihat beberapa pedagang keliling yang menjual ikan dan sayur segar. Aku memutuskan untuk membeli beberapa ikan, udang, cumi, sayur, dan perbumbuan dari pedagang keliling tersebut.
Namun, saat aku hampir sampai di pasar, ibu tetangga mengingatkanku tentang kedai seberang rumah kami. Ternyata, kedai itu menjual berbagai macam perbumbuan dan sayur yang lengkap. Aku memutuskan untuk singgah ke kedai tersebut sebelum melanjutkan perjalanan ke pasar.
Setibanya di kedai, aku melihat berbagai jenis perbumbuan seperti bumbu dapur, rempah-rempah, dan sayuran segar yang tersusun rapi di rak. Aku memilih beberapa perbumbuan dan sayur yang aku butuhkan, serta memastikan bahwa semuanya dalam kondisi segar dan berkualitas.
Setelah selesai berbelanja di kedai, aku melanjutkan perjalanan ke pasar untuk membeli ikan, udang, dan cumi yang tidak tersedia di kedai seberang rumah kami. Aku senang bisa menemukan semua bahan yang aku butuhkan untuk memasak di pasar tradisional tersebut.
Dengan tas belanja yang penuh, aku pulang dengan perasaan puas. Aku merasa senang karena berhasil mendapatkan semua bahan yang aku perlukan untuk masakan hari ini. Aku berterima kasih kepada ibu tetangga yang memberikan informasi yang berguna tentang kedai seberang rumah kami.
Sesampainya di rumah, aku segera mempersiapkan bahan-bahan yang telah aku beli untuk dimasak. Aku bersemangat untuk mencoba resep baru dan membuat hidangan lezat.
Sebelum nya aku mencuci pakaian dulu, kakiku terasa kram, seakan ada yang keluar dari kemaluanku. Aku mulai panik.
Aku berteriak minta tolong, dan untungnya ibu tetangga mendengarnya dan membantu aku duduk di sofa sambil mengambilkan segelas air putih.
"Jangan terlalu lelah,mbak. Lagi hamil muda, kan?" tanya ibu tetangga tersebut.
"Iya, Bu. Sedang dalam usia kehamilan 16 minggu," ujarku sambil mencoba tersenyum.
"Ibu pulang dulu ya, mau menjemput anak pulang sekolah. Hati-hati ya," ucapnya sambil pamit.
Aku pun istirahat sejenak, lalu pergi ke kamar mandi untuk memeriksa celana dalamku. Ternyata, ada flek kecoklatan.