"Hmmm... Oh, ada Bang Rangga rupanya," ucapku dengan senyuman sok manis.
Kali ini dia datang dengan seorang wanita cantik yang tersenyum melihatku.
"Lagi ngapain, Bang, di Petisah? Ini siapa, Bang? Kenalin dong," ujarku tanpa peduli dengan tatapan Haga dan Irene yang sudah memutar bola matanya melihatku acuh tak acuh.
"Duduk, Bang," ajak Haga.
"Ini pacar Bang, namanya Cinta," ujar Bang Rangga sambil mengenalkan wanita yang berdiri di sampingnya sambil membawa kantong plastik.
"Ahh, tidak usah, Haga. Bang hanya lewat saja kok, jadi sekalian menyapa," ujar Bang Rangga sambil tersenyum pada Haga.
"Oh, iya, iya, Bang," ujar Haga.
"Ayo, Cin. Kita pulang saja. Ada lagi yang mau dibeli?" tanya Bang Rangga pada wanita di sampingnya.
"Ahhh tidak usah haga, abang pas lewat aja kok jadi sekalian menyapa." ujar bang rangga tersenyum pada haga
"ohhhhh iya iya bang." ujar haga
"Ahh, tidak usah, Haga. Abang hanya lewat saja kok, jadi sekalian menyapa," ujar Bang Rangga sambil tersenyum pada Haga.
"Oh, iya, iya, Bang," ujar Haga.
"Ayo, Cin. Kita pulang saja. Ada lagi yang mau dibeli?" tanya Bang Rangga pada wanita di sampingnya.
"Tidak, Bang. Sudah semua kok," ujar wanita itu sambil mengikuti Bang Rangga ke parkiran mobil mereka.
Setelah Bang Rangga dan pacarnya pergi, kami pun mulai berbincang-bincang.
"Ehh, Indah... Abang itu masih terus mengejar-ngejarmu?" tanya Irene sambil membetulkan letak kacamata.
"Ishh, sudahlah, jangan dibahas lagi," ujarku kesal sambil menghabiskan mie pecal yang tinggal sedikit.
"Kalian tidak boleh begitu. Lagian, Abang itu sudah memiliki pacar," kata Haga dengan suara dan nada lembutnya, mengoreksi pembicaraan kami.
Setelah kami selesai makan mie pecal dan es dawet, kami pun berangkat ke Sun Plaza, meninggalkan pasar Petisah.
Kami pergi ke Miniso untuk melihat apakah ada barang baru di sana.
Tiba-tiba, mataku tertarik pada sesuatu yang menarik di Miniso.
"Ehhh, Dion," ujarku sengaja menyapa dia yang sedang bergandengan tangan dengan seorang perempuan berambut sebahu dan memakai dress selutut.
"Indahhh..." sahut Dion gelagapan, melepaskan tangan perempuan tersebut.
"Lagi sama siapa ini? Kenalin dong," kataku sengaja membuatnya semakin panik.
"Ini... ini... ini sepupuku," sahutnya, berusaha tersenyum.
"Apa? Sepupu kamu bilang?" ujar perempuan tersebut sambil melihat Dion dengan muka cemberut.
"Indah, aku bisa jelaskan," jerit Dion, mencoba menahan aku untuk pergi dari pandangannya.
Plakkk... Terdengar suara tamparan yang cukup keras. Wanita tersebut menampar Dion dan membuang belanjaannya ke muka Dion, lalu pergi dari Miniso.
Semua orang melihat kami seperti menonton drama Korea yang sedang tren.
"Aku tidak perlu penjelasan, Dion. Sudah cukup jelas semuanya," ujarku sambil menghempaskan tangan Dion yang cukup kuat pada tanganku.
Kulihat lingerie dan sekotak set perhiasan emas yang terhempas keluar dari kemasan tas yang dicampakkan oleh perempuan itu.
"Kenapa?" ujar Irene yang menghampiri aku.
"Ada apa?" tanya Haga yang berhasil menembus kerumunan orang di Miniso yang mengelilingi kami bertiga tadi.
"Ayo..." ujarku, mengajak Irene dan Haga keluar dari Miniso.
Kemudian, aku mengajak Irene dan Haga masuk ke sss yang masih berada di lantai yang sama dengan Miniso.
Aku masih tidak ingin bercerita, jadi aku pergi ke kasir dan membeli tiket permainan senilai 50 ribu rupiah, lalu masuk ke ruang karaoke.
Kutekan tombol untuk memilih lagu. Aku memilih lagu "Aku Bukan Boneka" yang dinyanyikan oleh Rini Idol.
Aku bukanlah sebuah boneka
Aku berbeda aku tak sama
Yang kuinginkan hanyalah cinta (ye ye aw)
Haga dan irene hanya menunggu ku di depan karaoke box sambil melihat orang memainkan dance mat revolution.
Setelah puas aku bernyanyi aku bukan boneka, kulanjutkan lagi lagu galau lain nya
Aku sedang menangis dan menjerit sepuas-puasnya di dalam karaoke box. Aku melihat dari celah pintu, Irene dan Haga sedang menungguku dengan antusias di luar.
Aku tidak mengerti mengapa hidupku harus begini. Aku dilahirkan dalam keluarga broken home, bahkan ibuku mengalami depresi akibat perceraian dengan ayahku. Aku tidak pernah tahu apa yang terjadi antara mereka berdua.
Ketika Haga melihatku, dan kebetulan aku sedang menatap keluar, aku melambaikan tangan mengajak mereka masuk ke dalam karaoke box.
Lalu mereka datang dan membuka pintu sedikit.
"Ada apa, Indah?" tanya Haga.
"Kalian mau menyanyikan satu lagu?" ajakku.
"Sepertinya suasana di sini tidak cocok, Indah," kata Irene.
"Ayolah, satu lagu saja. Biar aku tidak terlalu terbawa perasaan karena selama ini aku hanya menyanyikan lagu-lagu galau yang aku tahu."
Lalu Haga dan Irene masuk dan menyanyikan masing-masing satu lagu.
"Kami akan keluar sebentar, kamu nyanyikan semua lagu galau sampai puas," kata mereka sambil bergantian memelukku sebelum keluar dari karaoke box.
"Aku tidak akan kuat tanpa kalian di sampingku," ujarku.
"Tidak apa-apa, kita kan sehati bestie," kata Irene sambil bermain-main dengan matanya, lalu mereka keluar dan menungguku.
Rasanya isi kepala dan hatiku tidak sinkron. Semua rasa bercampur aduk antara kesal sedih senang kecewa marah.
Setelah 3 lagu kunyanyikan termasuk lagu complicated avril lavigne sampai suara ku serak, akhirnya aku keluar dari karaoke box.
Setelah mereka keluar dari karaoke box, aku duduk sendirian di dalam sambil memilih lagu-lagu galau yang ingin aku nyanyikan. Aku merasa sedih dan hampa, tapi ada perasaan lega karena Irene dan Haga ada di sana untukku.
Aku memulai lagu pertama dengan suara yang penuh emosi. Setiap lirik yang aku nyanyikan terasa seperti ungkapan perasaanku yang terpendam. Aku merasa lega bisa mengeluarkan semua yang ada di dalam hatiku.
Setelah beberapa lagu, aku mendengar ketukan pelan di pintu karaoke box. Aku tahu itu adalah Irene dan Haga yang ingin memastikan aku baik-baik saja. Aku tersenyum dan menganggukkan kepala, memberi tanda bahwa aku baik-baik saja.
Mereka kembali masuk ke dalam karaoke box dan duduk di sampingku. Kami berdua menyanyikan lagu-lagu yang lebih ceria dan menghibur. Meskipun masih ada sedikit kesedihan dalam hatiku, kehadiran mereka membuatku merasa lebih baik.
Kami terus menyanyi dan tertawa bersama sampai larut malam. Aku merasa beruntung memiliki teman seperti Irene dan Haga yang selalu ada untukku, baik dalam suka maupun duka.
Setelah selesai menyanyikan lagu terakhir, kami keluar dari karaoke box dengan senyum di wajah kami. Kami tahu bahwa persahabatan kami akan terus bertahan dan saling mendukung satu sama lain dalam setiap situasi.
"Aku sangat berterima kasih memiliki kalian berdua sebagai sahabatku," kataku sambil memeluk mereka.
"Kami juga sangat beruntung memilikimu sebagai sahabat, Indah," jawab Irene.
"Kita akan selalu saling mendukung dan menghadapi segala hal bersama-sama," tambah Haga.
"Sudah selesai menyanyinya, Indah?"
"Belum, aku masih betah di dalam karaoke box ini. Ada apa?"
"Tidak ada yang spesial, kami hanya bosan Indah. Kami akan keluar sebentar dan menunggumu sambil melihat permainan Mat Dance Revolution itu."
"Baiklah, Haga dan Irene. Nanti ingatkan aku jika aku masih berada di dalam karaoke box ini."
"Tentu saja, Indah. Tapi kita tidak akan menunggumu seharian di sini, kan? Kita tidak ingin mall ini tutup dan kita terjebak di dalamnya."
"Tidak mungkin sampai seperti itu, bestie."
Tiba-tiba bang rangga masuk ke dalam karaoke box dan memegang tanganku, aku pun berteriak tapi tertutupi oleh suara lagu, tidak lama kemudian dion victory masuk dan menyeret bang rangga keluar dari karaoke box dan saling memukul.
"sekali lagi kamu dekati indah, akan kubawa kamu ke kantor polisi " ujar dion victory
"silahkan,kita lihat siapa yang akan dipenjara" sahut bang rangga baxtier
"kalian sudah cukup,kalian dua-duanya sampah, pergi, jangan pernah muncul lagi di hadapanku"jeritku lalu berlari ke arah haga dan irene yang sedang duduk melihat seorang wanita memainkan game dance revolution.
"Sebentar, nanggung, lagi asyiknya perempuan itu menari."
"Ayolah, kapan lagi kita bisa bersenang-senang seperti ini?"
"Baiklah, baiklah, Princess Indah Larasati."
Kami pun berjalan ke foto box tempat berfoto.
Di dalam photo box, kami bergaya dengan gaya yang konyol dan mengenakan aksesoris yang tersedia.
"Haga, duduk di tengah. Haga yang paling imut, kecil, dan langsing."
"Mengejekku ya, Princess Indah Larasati."
"Hahahaha, kamu tersinggung?"
"Lihatlah, kamu tidak terlihat dari tadi kalau duduk paling pinggir."
"Betul kata Indah, Haga. Kamu seharusnya duduk di antara kami agar tampak wajahmu yang cantik ini."
Kami bertiga pun tertawa karena lelucon yang kami buat. Ketika kami keluar, ternyata di luar sudah banyak orang yang mengantri untuk berfoto bersama pasangan dan sahabatnya.
"Ayo kita main balapan mobil, dulu itu permainan kita setiap kali ke Amazone."
"Baiklah, Princess Indah Larasati. It's your day," ujar Irene Beauty sambil tersenyum padaku.
Rasanya menyenangkan memiliki teman yang sefrekuensi dan selalu ada baik dalam suka maupun duka.
Kami bermain dengan sangat seru, seperti biasa aku selalu menang melawan mereka.
"Ahh, curang, Indah."
"Lho, kenapa?"
"Kamu selalu memainkan permainan yang kamu kuasai dan membuat kami terlihat buruk dalam permainan itu."
Haga memperlihatkan mukanya yang murung dan sedih.
"Bukan maksudku seperti itu, bestie."
"Iya, Indah, hanya bercanda kok. Tidak ada yang egois seperti itu."
Aku tidak percaya kata "egois" keluar dari mulut Irene yang selalu manis dalam setiap perkataannya.
"Apa kata kalian, Irene dan Haga?"
Aku pun mulai menangis karena terluka.
"Hahahaha, just kidding. Hanya bercanda, Princess Indah Larasati."
"Tidak ada di dunia ini yang sebaik, secantik, dan seramah Princess Indah Larasati."
"Ahh, rese kalian berdua."
Lalu kami pun berlarian seperti anak kecil di taman bermain, mengejar satu sama lain dengan riang gembira.
Kulihat wanita itu, ternyata perempuan yang bersama Dion tadi. Skornya sudah cukup tinggi dan lagu yang dimainkan cukup cepat, sehingga langkah kakinya juga otomatis harus cepat.
Lagu di Dance Mat Revolution pun berhenti. Perempuan itu menoleh ke arahku.
"Kamu," ujar perempuan itu kepadaku.
Aku dan dia pun saling bertatapan selama 5 menit.
"Ayo bermain basket," ajak Irene padaku dan Haga.
"Kamu kenal?" tanya Haga padaku sambil melirik ke arah perempuan yang berdiri tepat di antara kami berempat, tepatnya di depanku.