LIMA BELAS

1396 Words
Hari ini merupakan hari weekend dimana semua pekerja kantoran libur seperti Azka dan Wenda. Kini keduanya sedang berada di kediaman keluaraga Aditama. Wenda kini sedang mandi di kamar tamu setelah berolahraga dengan Azka keliling kompleks perumahan, sedangkan Azka kini sudah rapi dan bergabung dengan keluarganya di ruang tengah. "Kamu ada acara engga nanti siang dik?" Tanya Azka sambil memakan cemilannya. "Engga ada kak, aku nanti agak sorean baru mau pergi ke rumah Syina." Jelas Gadis. "Oke nanti ikut kakak sama kak Wenda ketemu temen kita ya soalnya lama kakak engga ketemu." Ajak Azka kepada Gadis. "Kok ajak Gadis sih, pasti mau di kenalin ya kak?" Tanya mama kepada anak laki - lakinya. "Ya siapa tahu nyantol kan ma." Wenda menimpali pertanyaan mama Sinta saat sudah bergabung di ruang tengah. "Boleh asal klik sama anak papa yang cantik ini." Ucap papa Arga memeluk Gadis. "Makasih papa sayang papa." Gadis memeluk papanya. "Sini mama aku peluk biar engga iri." Canda Azka. "Mama engga perlu iri nanti setelah anak - anak pergi kita bisa pelukan lama ma." Jelas papa Azka yang membuat mama Sinta malu tapi tersipu juga. "Ah papa bisa aja, nanti yang erat ya pa." Ucap mama Sinta yang kini membalas godaan sang suami, papa Arga kini yang gantian malu. Anak - anak yang mendengar itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala karena sudah biasa tetapi tetap terasa geli apabila di dengar mereka. **** Cafe Sweet Ketiganya kini sudah sampai di cafe tempat mereka akan bertemu dengan teman Wenda dan Azka yang sudah lama tidak bertemu. Wenda memesankan mereka minuman dan cake untuk di makan. Setelah 10 menit menunggu akhirnya orang yang ingin di temui datang juga. "Hayy sorry gue telat ya." Sapa seorang pemuda berwajah bule yang juga tampan. "Hay Leon, duduk duduk engga papa telat kita juga baru datang." Wenda kemudian memeluk Leon dan sebaliknya. "Leon lo masih inget engga sama Azka? nah Azka kenalin ini Leon teman kita waktu SMA." Wenda mengenalkan mereka kembali, Azka dan Leon berkenalan kembali dan memeluk satu sama lain ala laki - laki. "Ini siapa yang cantik ini?" Tanya Leon. "Kenalin ini adik gue Gadis namanya." Azka mengenalkan Gadis kepada Leon. "Leon"." Gadis" Mereka berjabat tangan. "Lo di Indo menetap apa cuma main aja?" Tanya Wenda. "Saat ini gue sih masih main - main aja ya sambil gantiin papa di perusahaan yang di Indo." Jelas Leon sambil menikmati cakenya. "Perusahaan keluarga lo di bidang apa?" Tanya Azka. "Di furniture gitu tapi di ekspor ke luar Az." Jelas Leon kepada Azka. "Bisalah gue lihat ke tempat lo." Azka berbicara kepada Leon agar dirinya bisa ke tempat Leon untuk melihat furniture. "Bisa - bisa lo hubungin gue aja lewat Wenda nanti gue temani." Jelas Leon ramah. "Gadis kerja di perusahaan juga?" Tanya Leon yang mulai fokus ke Gadis. "Ah aku punya butik kak." Ucap Gadis sesopan mungkin. "Ahh keren, bisa dong bikinin gue jas buat ke acara - acara." Pinta Leon kepada Gadis. "Ah bisa kak, ini kartu nama aku dan alamat butiknya." Gadis memberikan kartu namanya. **** Setelah mereka selesai makan kini Leon mengantarkan Gadis menuju rumah Syina. Tadi Leon inisiatif ingin mengantarkan Gadis karena ingin dekat dengan Gadis. "Lo keren sudah punya butik di usia muda." Leon mulai mengajak Gadis berbicara. "Terima kasih kak pujiannya, masih kecil - kecilan kak baru beberapa bulan buka juga." Jelas Gadis. "Benarkah? Tapi sepertinya lo sudah terkenal karya lo dari Wenda cerita tadi." Leon mulai berbicara santai seperti sudah akrab dengan Gadis. "Kak Wenda berlebihan, masih kecil dan masih perlu belajar lagi." Jelas Gadis kepada Leon karena Gadis masih merasa kurang puas dengan karyanya. "Lo ada waktu longgar kapan?" Tanya Leon kepada Gadis. Gadis yang mendengar itu terkejut karena Leon langsung menanyakan kapan ia longgar. Gadis mulai berfikir apakah Leon akan mulai mendekatinya. "Kenapa kak, mau mengajak makan atau mau dekati aku?" Tanya Gadis to the point kepada Leon. Leon yang mendengar jawaban dari Gadis terkejut karena Gadis peka. "Yaps gue mau lebih deket sama lo." Jujur Leon, mendengar hal itu Gadis menghela nafas. "Maaf kak tapi aku sudah punya pasangan yang harus aku jaga perasaannya." Jelas Gadis sesopan mungkin kepada Leon, Gadis menolak ajakan Leon. Leon yang mendengar hal itu tentu terkejut ternyata Gadis sudah punya cowok. Leon terpesona dengan paras ayu Gadis tetapi apanila Gadis sudah punya pasangan maka dia tidak akan mengganggu sesuai prinsipnya. "Katanya sebelum janur kuning melengkung masih bisa berusaha Dis." Canda Leon "Memang kak tapi maaf aku engga bisa." Gadis menolak kembali Leon yang ingin dekat dengannya. "Oke kalau gitu, lain kali mungkin kita bisa double date sama pasangan kita tapi tunggu gue ada cewek ya." Jelas Leon santai kepada Gadis, Gadis yang mendengar itu tersenyum. "Ah itu kak nomor rumah 25." Ucap Gadis memberi tahu rumah Syina. Kini Gadis dan Leon sudah sampai depan rumah Syina mobil mereka memasuki pekarangan rumah setelah dibukakan gerbang oleh satpam, Gadis keluar dari mobil dan mengucapkan terima kasih kepada Leon. Setelahnya Leon melajukan mobilnya untuk pergi ke tempat berikutnya. Gadis kini sudah di depan pintu utama rumah. Gadis menekan tombol bel rumah dan pintu utama terbuka menampilkan pelayan di rumah tersebut. Pelayan tersebut mempersilahkan Gadis untuk masuk dan mengantarkan Gadis ke ruang tengah dimana keluarga Wijaya sedang berkumpul ditambah kedatangan nenek Lia yaitu nenek Syila, Syina dan Arkan. "Selamat sore semuanya." Sapa Gadis saat sudah sampai di ruang tengah. "Sore sayang, kok kamu di sini?" Jessica berdiri dan memeluk Gadis kemudian mengajak Gadis duduk dekat nenek. Sebelum itu dia bersalaman dengan papa Arka, mama Jessica dan nenek Lia. "Iya tante, soalnya Syina yang undang saya ke rumah." Jelas Gadis yang kini duduk diantara nenek dan Arkan. Arkan tentu kaget dengan kedatangan gadisnya karena tadi Gadis memberitahunya bahwa ia sedang makan dengan Azka dan Wenda serta teman Wenda. Arkan dapat mencium aroma strawberry dari rambut Gadis dan aroma vanilla dari parfum Gadis. Arkan ingin memeluk Gadis tetapi ia sadar bahwa hubungannya dan Gadis belum di publikasikan kepada keluarga hanya mereka berdua yang tahu. "Aduh cantik banget sihh, siapa namanya nenek lupa?" Tanya nenek Lia kepada Gadis sambil memegang tangan Gadis. "Saya Gadis nenek temannya Syina nek." Jawab Gadis sopan kepada nenek Lia dnegan senyuman manisnya. "Hampir jadi calon cucu mantu tahu nek, tapi ya engga tahu deh si itu." Jelas Syina menyindir Arkan dan yang disindir biasa saja. "Ahhh sayang sekali cucu nenek yang cowok lagi di luar kota nanti nenek kenalkan ya engga kalah ganteng sama Arkan." Jelas nenek Lia. Nenek Lia berkunjung ke tempat anaknya tiap weekend. "Gadis jago bikin kue nek aku minta ajarin Gadis bikin kue nek." Jelas Syina. "Wahhh kalau gitu ayo bikin kuenya, kakak juga mau ikut." Ucap Syila antusias mendengar itu. Kini Syina dan Syila sedang menyiapkan bahan untuk membuat kue, tadinya Gadis ingin membantu tetapi di tahan oleh Arkan dan di setujui nenek serta tante Jessica. Gadis dari tadi merasakan aroma parfum dari Arkan. Gadis juga kini merasakan belaian rambut dari Arkan disaat nenek, papa serta mamanya sedang asik menonton film keluarga. "Kok engga ngabarin dulu mau kesini?" Tanya Arkan lirih kepada Gadis. "Maaf ya kak, aku lupa dan tadi dianter teman kak Wenda kok." Jelas Gadis, mendengar bahwa gadisnya diantar temannya Wenda tentu Arkan tidak terima. "Ckkk bisa kali suruh jemput pacarnya." Arkan menjawab dengan bete. Arkan kini mulai menunjukkan rasa cemburunya. "Maaf ya kak." Gadis mengenggam tangan Arkan tetapi Arkan tidak membalasnya, Gadis sedih akan hal itu tetapi ia nanti akan meminta maaf lagi ke Arkan. Sebenarnya Arkan hanya berpura - purah marah kepada Gadis tetapi Arkan benaran cemburu akan Gadis yang pulang diantar teman Wenda sudah dipastikan pasti cowok. Arkan juga bahagia ketika Gadis menggenggam tangannya walaupun ia sadar akan tatapan dari mama dan papanya tetapi Arkan cuek saja. Arkan kini akan terus terang dan terbuka akan hubungan dia dan Gadis tetapi biar mereka yang menyadari hal tersebut. Mama dan papa Arkan sejak tadi sudah berbisik - bisik melihat interaksi antara Gadis dan anaknya. Kedua orang tua tersebut melihat hal itu tersenyum bahagia akhirnya anaknya dapat membuka hati kembali. Mama Jessica sampai meneteskan air mata karena bahagia hal tersebut terlihat oleh nenek Lia, kemudian nenek Lia melihat ke arah pandangan Gadis dan Arkan saat Arkan mengelus rambut Gadis dan saat Gadis menggenggam tangan Arkan, melihat hal itu nenek Lia ikut bahagia. Jadi yang tahu hubungan Arkan dan Gadis sudah dekat atau bahkan lebih baru mama Jessica, papa Arka dan nenek Lia. "Dis.... Dis.... Dis.... " Teriak Syina dari arah dapur.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD