EMPAT BELAS

1447 Words
"Dis..." Gadis yang mendengar Arkan memanggilnya langsung melihat Arkan kembali. "Iya kak." Jawab Gadis. "Aku masih mencintai mendiang istriku, dia takkan terganti. Cobalah sebisamu meluluhkan hatiku, jika berhasil aku akan mencintaimu sepenuh hatiku" Ucap Arkan setelah ia memanggil Gadis. Gadis yang mendengar itu tentu terkejut, Arkan menyuruhnya meluluhkan hatinya apakah ini pertanda bahwa Arkan mulai membuka hati untuknya. "Kak... " Jawab Gadis. Kemudian Arkan memeluk Gadis. "Memang benar aku masih mencintai istriku tetapi bisakah kamu mengajarkan aku utnuk mencintai kamu juga, aku tertarik kepadamu Dis dan aku menyukaimu." Jawab Arkan disela - sela pelukan mereka. Gadis yang mendengar itu tentu terharu dan menitikan air mata, Gadis bersyukur akhirnya Arkan mulai menerima kehadirannya. "Aku mencintaimu sejak pandangan pertama. Tapi kamu terlihat dingin, aku berharap dapat meluluhkan hatimu" Jawab Gadis dengan isakan. Arkan kemudian mempererat pelukannya kepada Gadis dan mencium kening Gadis sambil berucap terima kasih berulang kali. "Kita mulai bersama ya Dis, bantu kakak." Ucap Arkan dan dibalas anggukan oleh Gadis. "Apa kok cuma ngangguk aja sih sayang." Goda Arkan, Gadis yang mendengar panggilan itu kemudian memukul punggung Arkan. "Apaan sih sayang - sayang." Balas Gadis. "Loh iya inikan ke sayangan aku mulai sekarang." Jawab Arkan menggoda Gadis. "Iya sayang makasih." Gadis menggoda balik Arkan membuat Arkan salah tingkah. Arkan mencoba untuk memanggil Gadis dengan panggilan sayang agar ia merasa terbiasa dengan hadirnya Gadis. **** Setelah kejadian tadi malam Gadis hari ini semangat dan ceria sekali. Mama yang berada di dapur dengan Gadis bingung dengan anak gadisnya ini. "Dari tadi mama lihat senyum - senyum sendiri kenapa sih nak?" Tanya mama Sinta kepada Gadis. "Engga kenapa - kenapa mama sayang lagi happy aja tahu. Emang mama mau aku sedih?" Tanya Gadis dengan wajah polosnya. "Ya engga dong sayang." Jawab mamanya. Kini Gadis sedang membuat spaghetti schotel pesanan Arkan tadi malam. Arkan akan makan siang di butik Gadis nanti. Tak lupa Gadis juga membuat skotel spaghetti buat kakaknya dan orang rumah karena mereka suka semua. "Wih ada schotel nih kesukaan abang." Ucap Azka dengan semangat. "Iua dong adik yang buat, dimakan ya abangku sayang." Jawab Gadis, kini Azka dan Gadis sepakat memanggil dengan sebutan abang adik. "Gimana perusahaan bang?" Tanya Arga yang ijut memanggil Azka dnegan sebutan abang. "Baik pa nanti mau rekap data dulu sebelum rapat bulanan. Abang sih yakin perusahaan dapat laba pa." Jawab Azka dengan percaya diri. "Bagus papa bangga sama kamu sama adik." Jelas Arga. "Berarti tinggal nikah ya pa?" Goda mama Sinta kepada Azka. "Entar dulu deh ma, nunggu kak Nino sama kak Syila ma." Jelas Azka. "Lama banget sih bang keburu kak Wenda sama yang lain." Gadis masuk dalam obrolan itu. "Enak aja, aku obrak abrik yang berani deketin Wenda." Azka mulai terpancing. "Gayanya" Jawab Gadis. **** Saat ini di kediaman Wijaya sedang sarapan pagi, sang mama setiap pagi menyiapkan sarapan untuk suami dan anak - anaknya. Pagi ini di meja makan bertambah 2 anggota baru yaitu Edward dan Nino. Syina dan Syila tengah menyiapkan makan untuk Edward dan Nino sedangkan Arkan mengambil makanan sendiri. "Senangnya anak - anak mama sudah ada calonnya tinggal yang itu tu masih jomblo terus." Cuitan mama Jessica. "Ya kalau itu sih masih lama ma jomblonya, udah bener ada depan mata tapi tetap tidak sat set sat set." Syina menjawab dan menyindir Arkan. "Ckckck gayamu dik dik, kaya kamu dulu sat set aja nerima Edward." Celetuk Syila membalas Syina. "Ya kan beda kalau aku udah tahu Edward suka aku kalau yang ini beda cerita." Bela Syina. "Sudah - sudah makan - makan yok." Ajak papa Arka menengahi mereka. "Nanti siang jadi makan sama Gadis yang?" Tanya Edward kepada Syina. Syina membalas dengan anggukan " Jadi jadi yang, nanti kamu bawa Leon kan yang di ceritain kak Wenda." "Heem nanti Leon juga longgar kok." Jawab Edward. "Siapa Leon nak?" Tanya mama kepada Syina dan Edward. "Leon itu temen kak Wenda sama kak Azka, kata kak Wenda mau dikenalin sama Gadis. Siapa tahu jodoh ma." Jawab Syina dengan semangat. "Yahh sedih deh mama engga jadi punya mantu Gadis." Celetuk mama berpura - pura dengan wajah sedih. "Sabar ya ma, nanti Gadis tetap jadi anak mama kok." Hibur Syila. **** "Hayyy.. pagi." Sapa Arkan. "Hay pagi kak, udah berangkat?" Tanya Gadis di sebrang telepon. "Ini baru di jalan mau di jemput?" Tanya Arkan. "Engga usah kak aku diantar pak Agus kok nanti aja kakak makan siang kita ketemu." "Aku mau kamu antar makanannya ke kantor saat jam makan siang, bisa?" "Engga papa aku datang ke sana?" "Iya engga papa, nanti langsung naik aja ya." "Oke kak nanti aku hubungi lagi ya, ini aku udah mau berangkat. Kamu hati - hati ya di jalan." "Iya kamu juga hati - hati ya, bye sayang." "Iyaa kak." "Balas dulu sayang." "Iya kakak sayang." Arkan mengakhiri Sambungan telepone dengan senyum - senyum sendiri. Dia salting mendengar Gadis memanggil sayang. Beginikah rasanya jatuh cinta kembali. "Hari ini jadwal kita apa Jon?" Tanya Arkan saat memasuki ruangannya. "Jadwal kita hari ini rapat dengan kepala divisi untuk membahas laporan kerja mereka." Jelas Joni kepada Arkan. "Oke, file dan berkas yang gue suruh udah lo siapain kan?" Tanga Arkan memastikan agar Joni tidak lupa. "Siap sudah bos." Saat sedang rapat terjadi ketegangan karena pada divisi keuangan seperti sangat tidak transparan. Arkan bingung dengan pengeluaran perusahaan yang banyak dan pemasukan perusahaan tidak begitu mendapat laba. Arkan tentu marah kenapa ini terjadi, Arkan meminta Joni dan beberapa teamnya untuk menyelidikj divisi keuangan secepat mungkin, apabila ada korupsi maka Arkan tidak segan - segan menjebloskan mereka ke penjara dan memecat mereka. Joni mengikuti kemana Arkan pergi, saat di lift Arkan masih menggerutu ia ingin Joni ikut andil dalam pemecahan masalah ini. Joni mengiyakan saja permintaan Arkan, dia sudah pasti akan dibuat pusing dengan masalah ini. Saat sudah masuk ruangan Arkan tentu terkejut dengan kehadiran Gadis yang menggunakan dress bermotif floral dia terlihat sangat cantik dengan make up tipis. "Oh hay Dis ke sini juga, mau ada acara apa?" Tanya Joni kepada Gadis yang heran melihat Gadis berada di kantor Arkan. "Engga ada acara apa apa kak, hanya mau mengirimkan makanan saja." Jelas Gadis. Arkan yang mendengar hal itu bingung kenapa Gadis mau repot - repot ke sini mengantar makanan. Kemudian dia melihat Arkan yang sedang melihat dokumen di mejanya, Joni semakin bingung dibuatnya. "Ya sudah deh aku mau makan di luar dulu ya Dis." Pamit Joni kepada Gadis. "Kak ini skotel spaghetti buat kakak taruh mana? tadi aku buatin juga untuk kakak." Jelas Gadis. Joni kemudian mengambil skotel spaghetti dan akan dia makan saat nanti pulang makan siang sebagai cemilan saat kerja. "Terima kasih cantikku." Jawab Joni yang di dengar Arkan. Arkan tidak suka mendengar Joni memuji Gadis. "Udah sana cepet makan siang." Usir Arkan mulai mendekati Joni. "Ckckck iya iya engga bakal ganggu kalian. Bye. " Jawab Joni yang mulai keluar ruangan, kemudian Arkan mengunci ruangannya. Arkan berjalan menuju Gadis yang berada di sofa, Arkan melihat pesanan makanannya kepada Gadis begitu menggoda. Sebelum memakan skotel spaghetti Arkan terlebih dahulu memeluk Gadis. Gadis yang mendapat perlakuan seperti itu terkejut. "Kakak... " Ucap Gadis. "Kenapa hmmmm?" Arkan bertanya kepada Gadis. "Kenapa peluk?" Gadis bertanya balik kepada Arkan, Gadis belum membalas pelukan Arkan. "Kangen kamu, balas dong pelukan aku." Pinta Arkan ke Gadis. "Semalem baru ketemu sekarang kangen dasar, makan yuk kak." Gadis mulai membalas pelukan Arkan. "Biarin sekarangkan ada yang aku kangenin dan kamu ingatkan biar aku cepat cinta sama kamu seutuhnya." Jawab Arkan memberi penjelasan kepada Gadis. "Iya kakak, udah yuk makan keburu jam makan siang habis." Ingat Gadis kepada Arkan. "Oke sayang suapin ya." Arkan mulai melepaskan pelukannya kepada Gadis tapi sebelum itu Arkan mencium pipi Gadis sebanyak mungkin. "Kakak nanti pipi aku merah kak, udah dong." Pinta Gadis. Arkan menunjukkan pipi kanannya kemudian dia menyuruh Gadis menciumnya di pipi kanan. Gadis kemudian akan mencium pipi kanan Arkan tetapi Arkan cepat menoleh sehingga Gadis mencium bibir Arkan. Gadis yang melihat kejadian itu hanya terdiam kaget, bibir mereka hanya menempel hingga kemudian Arkan mulai menggerakkan bibirnya dan di balas oleh Gadis, mereka berciuman hingga Gadis merasa kehabisan oksigen kemudian memukul d**a Arkan, Arkan melepaskan ciuman mereka dan mengusap bibir Gadis. "Maniss." Ujar Arkan. "Malu kak." Gadis menutup mukanya dengan kedua tangan, Arkan yang melihat itu kemudian memeluk Gadis kembali. Setelah acara pelukan ciuman hingga pelukan lagi kini keduanya mulai makan makanan siang yang di bawa Gadis dengan Gadis menyuapi Arkan dan Arkan membaca file yang berada di iPad tak lupa tangan Arkan yang menggenggam tangan kiri Gadis. Gadis tidak mempermasalahkan hal itu. *Arkan di sini punya love language physical touch sehingga dia tidak canggung melakukan kegiatan fisik dengan Gadis. Arkan juga sebenarnya bucin ketika jatuh cinta berbeda dengan Gadis yang masih malu - malu karena ini merupakan pertama kalinya Gadis jatuh cinta.*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD