TUJUH BELAS

1417 Words
"Jadi... " "Jadi apa?" Tanya Arkan kepada Gadis. *Flashback* Kini mereka sudah selesai lunch nya, saatnya pulang tetapi Azka dan Wenda akan pergi main golf sedangkan Gadis akan pergi main ke rumah Syina. "Dek kamu ikut kita atau mau naik taksi ke tempat Syina?" Tanya Azka. "Aku naik taksi aja kak, lagian kalau kakak harus nganterin juga kasian kakak harus bolak - balik." Jelas Gadis yang akhirnya memilih naik taksi, karena rumah Syina dan tempat Golf berlawanan arah. "Ya sudah pesan dulu kakak tunggu ya." Wenda menyuruh Gadis untuk pesan taksi online "Sama gue aja Gadisnya, gue anterin." Tawar Leon kepada Gadis, Azka dan Wenda. "Ah engga usah kak nanti kakak repot." Gadis menolak ajakan Leon. "Santai aja Dis lagian gue belum ada acara ini." Jelas Leon kepada Gadis agar Gados tidak menolak tawarannya. "Tapi...." "Udah Dis boleh juga diantar Leon daripada nunggu taksi dan belum jelas dia baik apa belum." Azka memotong ucapan Gadis karena dia khawatir dengan Gadis apabila naik taksi online sendiri. "Yukkkk." Ajak Leon, akhirnya Gadis menerima tawaran Leon. *Flashback end* "Jadi gitu kak." Ucap Gadis setelah menjelaskan kepada Arkan. "Kenapa engga hubungin aku aja." Arkan masih belum puas mendengar jawaban Gadis. "Kak kan hubungan kita belum diketahui sama kak Azka, nanti dia curiga tiba - tiba kakak jemput." Gadis memberi pengertian kepada Arkan yang seperti bocah ngambek. Arkan mendengar jawaban Gadis membenarkan juga karena keluarga Gadis belum ada yang tahu tentang hubungan mereka berbeda dengan keluarga Arkan yang kini sudah mengetahui tapi Gadis masih berfikiran bahwa keluarga Arkan belum mengetahui hubungan mereka. "Jadi kakak jangan ngambek lagi ya, nanti gantengnya hilang." Rayu Gadis sambil memegang tangan Arkan. "Nih." Arkan menunjukkan pipi kanannya, Gadis yang mengetahui hal itu langsung mencium pipi Arkan. "Kurang lama." Adu Arkan kepada Gadis. "Itu sih maunya kakak." Ucap Gadis membenarkan ucapan Arkan. "Biarin kamu sekarang hanya milih Arkan seorang tidak ada yang boleh memegang tanganmu apalagi mengelus pipi seperti ini, dan tidak boleh ada yang mencium mu." Ucap Arkan dengan diakhiri bisikan kepada Gadis. "Possesif banget si ini bayi gede." Gadis sudah memainkan pipi Arkan karena gemas dengan Arkan. "Sini yang tidur dulu nanti aku antarkan pulang." Arkan mulai menarik Gadis masuk ke dalam pelukannya di atas ranjang. "Kak nanti kalau dilihat yang lain gimana? engga enak ah kak yuk ke bawah lagi." Gadis memberikan alasan kepada Arkan, Gadis memang benar saat ini sedang takut ketahuan keluarga Arkan. "Udah sini aja mereka pasti mengerti kok, dan engga ada yang berani masuk kamar aku tanpa izin." Jelas Arkan yang kini mengkungkung Gadis di bawah dekapannya. Gadis hanya pasrah saat Arkan terus memeluknya, Arkan sangat nyaman memeluk Gadis begitu juga sebaliknya Gadis juga nyaman berada dipelukan Arkan. Arkan dan Gadis kini sedang tidur dengan posisi berpelukan. Keduanya merasakan kehangatan sehingga tidur mereka nyenyak. Saat ini sudah malam saatnya untuk makan malam tetapi Arkan dan Gadis belum juga turun ke bawah untuk makan malam. Akhirnya sang mama mencoba mengetuk pintu kamar Arkan. Tokkk.... Tokkk... Tokkk.... Di saat ketukan ketiga pintu kamar terbuka dan menampilkan Gadis dengan wajah baru bangun tidurnya. Gadis terkejut saat di depannya ada mama Jessica. "Aduhhh baru bangun tidur ya, sayang yuk makan malam nanti laper." Goda Jessica kepada Gadis. "Iya mah bentar lagi ya, aku mau bersih - bersih dulu. Mah aku engga punya baju di sini." Gadis mengadu kepada Jessica. "Ok nanti aku suruh Syina pinjemin banjumya atau mau pakai punya mamah juga engga papa. " Mama Jessica memberitahuksn kepada Gadis bahwa Gadis bisa memakai pakaian mama Jessica. "Baik mah." Ucap Gadis. "Bangunin kakak ya, lules banget tidur ditemani pacar." Goda mama Jessica kepada Gadis. Gadis yang mendengar perkataan mama Jessica terkejut, darimana beliau tahu hal itu. Katanya Arkan belum menceritakan hubungannya dengan keluarga tetapi kenapa mama Arkan bisa tahu. Kini Gadis telah selesai berdandan sedikit dan Arkan sudah selesai berpakaian. Arkan mulai mendekati Gadis yang berada di depan meja rias dan memeluknya. "Kata kamu keluarga kamu belum tahu tetapi kenapa tadi mama bilang kita pacaran." Gadis mulai mencari jawaban ke Arkan mengenai hal itu. "Mereka tahu sejak tadi kita ngobrol di ruang tengah sayang." Jelas Arkan kepada Gadis. "Apa kita terlalu kelihatan gerak - geriknya ya?" Tanya Gadis kepada Arkan. "Aku sayang yang lebih kelihatan bucin saat sama kamu. Aku rasa sudah saatnya kita beritahu keluarga dan teman- teman, apapun ynag akan terjadi nanti kedepannya aku akan tetap sama kamu karena aku suda mulai mencintaimu." Arkan menjelaskan kepada Gadis, keduanya bersitatap lewat cermin. Gadis berbalik menghadap Arkan, kemudian Gadis memeluk Arkan dan menangis. "Terima kasih kakak." Ucap Gadis di sela - sela tangisannya. "Sama - sama cantikku, udah ya nangisnya yuk ke bawah pasti kita udah ditunggu." Arkan mulai menuntun Gadis keluar kamar menuju ruang makan. **** Arkan dan Gadis kini sampai di meja makan keluarga Wijaya. Malam ini juga ada Edward dna Nino yang sudah datang sejak sore juga. "Udah kaya pengantin baru ya jam segini baru turun cuma mau makan doang." Syina menggoda Arkan dan Gadis. "Sirik aja kamu." Balas Arkan. "Heh engga sirik ya aku kan ada ayang Edward." Syina membalas ucapan Arkan dengan merangkul lengan Edward. "Pokoknya kakak dulu yang nikah baru kamu dik." Syila masuk ke obrolan kakak beradik tersebut. "Sudah - sudah yuk makan nanti habis makan baru dilanjut berdebatnya." Nenek Lia menengahi obrolan antara cucu - cucunya. Gadis melihat makanan yang terhidang sangat ingin memakan semuanya tetapi Gadis ingat bahwa dia engga bisa makan makanan terlalu pedas karena Gadis tidak menyukai makanan pedas. Gadis kini mengambilkan Arkan makanannya dan Arkan hanya ingin makan macaroni schotel saja dan Gadis mengambil ayam bumbu pedas dan salad. Saat setelah Gadis memasukkan daging ayam dan nadi ke dalam mulut kini raut muka Gadis berubah menjadi merah dan Gadis tersedak karena tenggorokannya terlalu kaget merasakan pedasnya bumbu ayam. Semua menoleh ke arah Gadis dan mereka semua khawatir akan Gadis karena melihat wajah Gadis berubah menjadi merah. Syina dan Arkan terkejut bukan main pasalnya Syina yang lupa bahwa Gadis engga bisa makanan pedas dan Arkan yang belum mengetahui Gadis tidak bisa makan makanan yang terlalu pedas. "Yaampun sayang ini minum dulu." Mama Jessica memberikan Gadis air putih. Arkan yang mengetahui gadisnya kepedasan kemudian berlari menuju dapur, Arkan membuatkan Gadis s**u hangat agar dapat mengurangi rasa pedasnya. "Ini sayang minum s**u hangat, aku sudah buatkan." Arkan membantu Gadis meminum s**u yang telah dia buat. Semua yang ada di meja makan berhenti melakaukan aktivitas makannya karena mendengar panggilan Arkan kepada Gadis dengan kata "sayang", Syila dan Syina sampai menajtuhkan sendok mereka dan terdengar dentingan antara sendok dan piring. Nino dan Edward yang melihat pasangannya seperti itu kemudian membersihkan makanan sang kekasih. Arkan tidak sadar bahwa dia memanggil Gadis dengan sebutan " Sayang". Setelah Gadis merasa sudah tidak kepedesan kini Arkan memindahkan daging ayam ke pirirngnya dan Arkan mengambilkan Gadis macaroni schotel saja. "Sudah ini makan yang aku ambilin." Gadis menjawab dengan anggukan karena sekarang Gadis sadar bahwa Arkan dan dirinya tengah menjadi pusat perhatian di ruangan tersebut. Arkan yang menyadari keterdiaman Gadis kemudian dia melihat sekelilingnya dan benar saja mereka sedang melihat Gadis dan Arkan "Hmmm kenapa kalian liatin begitu?" Arkan berdehem untuk menetralkan dari keterkejutan. Mereka yang berada berada di sana menggeleng semua dan melanjutkan makan. Mereka juga mengobrol tentang persiapan lamaran Syila dan Nino. Setelah acara makan malam kini Arkan mengantarkan Gadis pulang karena sudah pukul 20.00 WIB. **** Hari ini merupakan hari senin pukul 06.00, di kediaman Aditama sudah ada aktivitas masak - memasak. Saat ini Gadis sedang memasak nasi goreng sesuai permintaan sang kakak dan nanti Arkan akan bergabung untuk sarapan dengan mereka. Pukul 07.00 semua anggota keluarga Aditama sudha berkumlul di meja makan kini bertambah 1 anggota yaitu Arkan. Arga kini mengawali sarapan pagi diikuti anggota keluarga lainnya. "Jadi sekarang kalian sudah memiliki hubungan lebih dari teman?" Tanya Arga kepada Arkan dan Gadis. Gadis yang mendengar pertanyaan sang papa hanya diam saja. "Iya om saya dan Gadis sekarang sudah menjalin hubungan, saya juga meminta izin kepada om, tante dan Azka untuk bersama Gadis." Arkan menjawab pertanyaan Arga dengan tenang dan tegas serta lugas. "Om sih ikut Gadis Ar, Gadis menerima kamu berarti kami juga menerima kamu." Jelas Arga kepada Arkan, Arkan yang mendengar itu merasa lega. "Titip anak gadis tante ya Ar, dia kadang suka manja engga jelas gitu." Goda mama Sinta kepada Gadis. "Apaan mah, Adik engga kaya gitu ya." Gadis membela dirinya sendiri. "Titip adik gue ya Ar, lo sakitin tanggung akibatnya." Azka memberi peringatan kepada Arkan. "Iya terima kasih semuanya." Mereka melanjutkan sarapan dengan diiringi canda gurau. Azka lebih banyak bercerita lucu sehingga suasana pagi ini terasa menyenangkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD