Kuembuskan napas pelan-pelan, mencoba menahan segala kemarahan.
Aku sungguh lelah. Setelah seharian penuh mengerjakan banyak sekali pekerjaan di butik, pulang-pulang mendapati rumah seperti kapal pecah.
Tumpukan baju kotor sudah tidak lagi tertampung dalam keranjangnya. Sebagian tumpah keluar, berserakan di atas lantai.
Tak hanya itu. Handuk basah bekas mandi teronggok di atas sofa ruang tengah, bercampur dengan tumpukan baju-baju. Di bawahnya, bungkus-bungkus makanan ringan berceceran di atas karpet. Mainan anak-anak tersebar hampir memenuhi seluruh ruangan.
Di dapur lebih berantakan lagi. Lantai yang kupijak terasa lengket tanda belum dipel. Bak cuci piring penuh berisi piring dan gelas-gelas kotor. Sampah belum dibuang, bekas-bekas memasak masih utuh di tempatnya sama sekali tidak dikembalikan ke tempat semula.
Panci bekas memasak mie instan masih bertengger di atas kompor, bungkus mie dan bumbu-bumbunya berserakan di sekitarnya tanpa dibuang ke tempat sampah.
Kulihat Aby, putraku yang baru berusia tiga tahun tengah bermain mobil-mobilan seorang diri di sudut dapur.
Ke mana Ibu dan Mbak Tantri? Apa saja yang dikerjakannya seharian ini sampai-sampai rumah begitu berantakan nyaris seperti tempat pembuangan sampah.
"Istri macam apa jam segini baru pulang. Kerjanya keluyuran saja, tidak ingat kewajiban sama sekali!" Kudengar suara ibu mertuaku berujar dengan ketus.
Kupijat keningku yang terasa berdenyut. Sudah sebulan ini sejak kedatangan mertua dan kakak iparku, kesabaranku benar-benar diuji.
Sejak menikah dengan Mas Adam, aku memang jarang ke butik. Aku mengerjakan semua pekerjaanku di rumah sambil menjaga Aby. Beruntung aku memiliki seorang asisten yang sangat kompeten yang mengurus semua pekerjaan di butik.
Aku merupakan seorang desainer. Sejak masih gadis sudah memulai terjun merintis usaha butikku yang kini sudah berkembang pesat. Berkat Mama tentunya. Tanpa Mama, usahaku tidak akan sebesar sekarang.
Sebagai istri seorang pengusaha sukses yang namanya dikenal di mana-mana, Mama selalu memerhatikan penampilannya. Baik di rumah maupun ke acara-acara sosialnya. Berbanding terbalik dengan putri tunggalnya.
Aku sangat sederhana, tidak pernah tampil glamor seperti Mama. Apa lagi setelah menikah, pakaianku tidak jauh-jauh dari daster.
Mama pasti akan histeris kalau saja tahu bagaimana penampilanku sehari-hari di rumah.
Bukan tidak mau seperti saat masih gadis, hanya saja aku menghargai suamiku. Mas Adam hanyalah karyawan bank yang gajinya tak seberapa. Ia pasti tidak sanggup membelikan barang-barang mewah untukku, kalaupun aku mampu beli sendiri aku khawatir perasaannya akan terluka.
Sebenarnya aku pun memiliki banyak pakaian-pakaian mahal, tetapi jarang kupakai. Untuk keseharian aku lebih suka mengenakan daster. Lebih nyaman dan gampang digunakan sehari-hari untuk momong Aby.
Cukup Mama saja yang memakai barang-barang mewah. Kemewahan Mama menjadi ladang rejeki untukku. Semakin penampilan Mama dijadikan patokan, maka rupiah yang mengalir ke rekeningku semakin besar.
Sejak aku mulai merancang pakaian, Mama menjadi orang pertama yang mencoba. Wanita anggun yang telah melahirkanku itu suka memamerkan hasil karyaku, baik melalui sosial media miliknya maupun secara langsung saat bertemu dengan rekan-rekan sosialitanya. Alhasil, mereka menyerbu hasil rancanganku.
Sekarang, tidak hanya para sosialita, selebriti tanah air pun banyak yang memakai hasil rancanganku.
Butikku nyaris tidak pernah sepi.
Kartika Sanjaya, semua orang mengenal namaku sebagai sosok di balik pakaian-pakaian mewah hasil rancanganku. Namun, tidak demikian dengan ibu mertua dan kakak iparku.
Mereka tidak tahu jika Kartika Laraswati, menantunya yang belakangan dihinanya merupakan seorang desainer kondang.
Setahu Ibu, aku hanyalah seorang ibu rumah tangga yang setiap hari selalu di rumah mengurus pekerjaan rumah tangga dan momong anak.
"Aku habis kerja, Bu. Bukan keluyuran," jawabku lelah.
"Perempuan sepertimu memangnya bisa kerja apa selain menghabiskan uang anakku!"
Aku menghela napas. Berusaha tetap sabar. Tidak sadarkah Ibu, penghasilan suamiku habis hanya diminta olehnya. Aku bahkan sama sekali tidak pernah menyentuh uang Mas Adam. Bagaimana mau minta jatah belanja padanya, setiap kali Mas Adam gajian tangan Ibu menjadi yang paling pertama menadah meminta jatah. Belum lagi jatah untuk Mbak Tantri.
Ibu selalu datang setiap Mas Adam gajian. Wanita ini tahu sekali kapan Mas Adam terima gaji.
Aku cukup mengerti ketika Mas Adam meminta maaf, jatah untukku hanya cukup untuk membeli gas sama token listrik. Aku tidak pernah mengeluh, toh aku masih bisa menghidupi keluarga kecilku dengan uangku sendiri.
Kebutuhan keluarga tak lagi ringan sejak kedatangan Ibu dan Mbak Tantri. Aku harus mengeluarkan lebih banyak uang lagi untuk keperluan sehari-hari karena mereka ikut numpang di rumah kami, setelah rumah mereka disita bank untuk membayar utang-utang mantan suami Mbak Tantri.
Rumah ini milik Mas Adam yang dicicil sejak pertama mereka menikah. Sebenarnya aku bisa membelinya langsung cash, tetapi aku menghargai Mas Adam sebagai seorang laki-laki.
Mas Adam ingin membeli rumah untuk kami, dan ia hanya sanggup menyicil. Aku mendukungnya, aku tidak mau membuatnya minder dengan menunjukkan betapa kayanya aku. Aku hanya ikut membantu cicilannya setiap bulan. Meski lebih sering ditolak olehnya.
Tapi Ibu dan Mbak Tantri merasa seperti memiliki hak atas rumah ini.
Sikapnya sungguh-sungguh keterlaluan. Seperti majikan. Mereka tidak pernah mau membantu mengerjakan pekerjaan rumah.
Kerjaan mereka asyik di depan televisi, menikmati sinetron favoritnya, mengkritik semua pekerjaanku, dan mengomel-ngomel.
Sejujurnya aku lelah, tapi Mas Adam selalu bisa mendinginkan kepalaku. Suamiku itu memintaku untuk bersabar. Biar bagaimana pun sikapnya, Ibu adalah orang tua yang harus dihormati. Sehingga aku pun mengalah.
"Tidakkah kamu lihat, Tik, rumah seperti kapal pecah. Kamu malah keluyuran seharian penuh tidak ngerti pulang!" omel Ibu.
"Bukannya Ibu sama Mbak Tantri di rumah saja?"
"Maksudmu Ibu yang harus membersihkan seluruh rumah ini, begitu? Kamu pikir Ibu pembantu!" bentak Ibu.
Hatiku benar-benar kesal. Apa salahnya membantu beres-beres rumah barang sehari. Aku hanya sehari pergi ke butik karena ada hal yang mendesak. Penjait yang biasa mengerjakan hasil racanganku sakit, sedangkan pesanan datang bagaikan air bah. Aku terpaksa harus mencari penggantinya.
Aku tidak bisa menyerahkan hal sepenting ini pada Diva. Aku harus memastikan penjahit baru ini memenuhi standarku.
Biasanya kalau tidak penting-penting amat, cukup Diva yang menanganinya seperti biasa. Asistenku itu sangat pandai.
"Jangan-jangan sudah kenal laki-laki lain, Bu."
Aku memutar bola mata jengkel. Satu lagi lawanku muncul. Mbak Tantri memang sangat pandai membuat perseteruanku dengan Ibu semakin panas. Calon janda tanpa anak itu seperti bahagia jika aku dan Ibu bertengkar sengit.
"Lihat saja penampilannya. Tumben-tumbennya dandan dan berpakaian bagus seperti itu. Biasanya kan kucel, cuma dasteran lusuh seperti gembel. Ibu harus peringatkan Adam supaya berhati-hati."
"Mbak Tantri kalau punya mulut dijaga, ya. Jangan asal memfitnah orang!" Aku mulai tersulut emosi.
Dalam sebulan, aku memang tidak pernah ke butik. Semua pekerjaan kukerjakan di rumah, sehingga tak heran Mbak Tantri pangling dengan penampilanku yang biasanya hanya mengenakan daster lusuh.
Aku tidak marah dikatai gembel, tapi tuduhannya terhadapku benar-benar membuatku sangat marah.
"Kalau tidak ada laki-laki lain, tidak mungkin Tika akan berdandan dan wangi begini."
"Kamu berani menyelingkuhi laki-laki yang sudah memberimu makan, heh!" maki Ibu. "Sampai berani selingkuh, awas saja kamu. Ibu tendang bokongmu enyah dari rumah ini!"
Aku menghela napas panjang. Malas berdebat. Bergegas kubopong tubuh Aby. Aku harus memandikannya, kemudian bersih-bersih sebelum Mas Adam pulang.
Kutinggalkan dua medusa itu mengomel-ngomel tidak jelas.
Bersambung ....