2

1191 Words
Sudah menjadi kebiasaanku bangun ketika subuh dan sudah berkutat mengerjakan semua pekerjaan rumah. Semua orang sedang tidur, termasuk ibu mertuaku dan Mbak Tantri. Hari masih gelap, tapi aku sudah menyelesaikan sebagian pekerjaanku. Rumah sudah bersih semua. Lantai sudah licin, pakaian-pakaian kotor sudah kumasukkan semua ke dalam keranjang kotor dan akan kucuci nanti setelah memasak. Dapur yang kemarin sangat berantakan kini tampak mengkilat setelah kubersihkan. Bak cuci piring sudah kosong, semua isinya sudah rapi di atas rak piring. Tempat sampah pun sudah kupindahkan ke dalam plastik besar, menunggu tukang sampah keliling yang akan mengangkutnya ke tempat pembuangan sampah di depan gang. Aku memang suka kerapian. Bagiku sebuah rumah tidak harus mewah, yang penting adalah bersih. Aku paling tidak bisa melihat rumah berantakan, rasanya kepala jadi pusing dan tensi darang mendadak naik. Bawaannya ingin marah-marah terus setiap melihat rumah seperti kapal pecah. Sebelum ibu mertua dan iparku datang, kondisi ini nyaris tidak pernah kurasakan. Aku selalu mendidik Aby untuk mengembalikan mainan-mainannya kembali ke tempat semua jika sudah selesai bermain. Kalaupun rumah berantakan, paling-paling ulah Aby. Maklum, anak-anak kadang ngambek tidak mau membereskan mainannya. Tetapi sejak kedatangan Ibu dan Mbak Tantri, hampir setiap hari rumah selalu berantakan. Kadang aku sampai harus berkali-kali membersihkan rumah dalam sehari. Kubuka pintu kulkas mencari bahan-bahan untuk memasak pagi ini. Tidak banyak yang kutemukan di dalam kulkas mengingat aku belum sempat belanja. Belakangan aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk membuat rancangan-rancangan baju pesanan konsumen sehingga sering lupa untuk belanja. Sepertinya aku harus belanja hari ini. Kuputuskan untuk membuat nasi goreng dan telur mata sapi saja yang gampang dan tidak membutuhkan banyak bahan. Di dalam kulkas masih tersisa beberapa butir telur dan sayur timun yang sudah kisut. Tapi masih lumayan bisa dijadikan lalapan. Sambil menunggu nasi di dalam magic com matang, aku mulai menyiapkan bumbu-bumbu nasi goreng. Bumbu seaddanya yang dapat kutemukan di dalam kulkas. Kalau saja Mama tahu ini, pasti akan menggeleng-gelengkan kepala tidak habis pikir. “Kamu seperti orang miskin saja, Tik.” Itu adalah komentarnya yang sangat khas. Aku sampai hafal. Untungnya Mama tidak pernah mampir ke rumahku dan melihat keseharianku, bisa-bisa aku dikritik habis-habisan. Aku memang lebih suka tampil sederhana dan apa adanya. Toh suamiku Mas Adam, bukan Hadi Sanjaya. Aku tidak akan disorot seperti Mama, orang-orang lebih suka menyoroti hasil karyaku daripada orangnya. Mereka juga tidak ada yang tahu seperti apa sosok Kartika Laraswati Sanjaya. Ponseku berdering saat aku sedang mengiris bawang daun. Bergegas kucuci tangan dan mengambilnya. Rupanya dari Mama. Tumben sekali subuh-subuh begini menelepon? “Hallo, Ma,” sapaku begitu menggeser tanda jawab. “Syukurlah kamu sudah bangun, Tik.” “Aku selalu bangun pagi. Mama yang selalu kesiangan,” olokku. “Olok saja terus. Paling-paling kesiangan sekali, kamu jadiin bahan olokan terus-menerus,” gerutu Mama. Aku tertawa kecil. “Ada apa, Ma, tumben sekali pagi-pagi begini menelepon?” “Mama itu hampir semalaman tidak tidur, tidak sabar mau mengabarkan ini ke kamu.” Kudengar suara Mama begitu bersemangat. Aku tersenyum, siap-siap kebanjiran orderan. Biasanya seperti itu. Mama akan mengabarinya jika teman-teman sosialitanya ingin memesan pakaian hasil rancangannya. Aku tentu bersyukur. Selain menjadi istri seorang Hadi Sanjaya yang sangat terkenal, Mama juga merupakan seorang selebgram. Tidak usah ditanya pengikutnya. Mencapai jutaan, mengalahkan selebritis sekalipun. Hal tersebut merupakan salah satu berkah tersendiri untuk bisnisku. Mama yang modis selalu memamerkan pakaian-pakaian yang dipakainya. Dan, hampir sebagian besar merupakan rancanganku. Tak heran jika butikku selalu banjir orderan. Semacam endorse gratis. Aku tidak perlu membayar mahal-mahal untuk promosi. “Nanti siang, Bu Santoso akan datang bersama rombongannya ke butikmu.” “Bu Santoso yang mana, Ma? Orang penting pastinya, sampai-sampai Mama meneleponku pagi-pagi begini. Bukan Bu Santoso penjual bubur keliling itu, kan?” “Sembarangan kamu!” semprot Mama. “Itu istrinya Pak mentri. Mama kemarin ngobrol-ngobrol melalui i********:, beliau tertarik dengan baju yang Mama pakai. Mama dengan bangga bilang kalau sebagian besar baju yang Mama pakai adalah rancangan putri kesayangan Mama. Bu Santoso langsung bikin janji sama Mama untuk datang ke butik kamu.” Aku mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan Mama. Ini bukan kali pertama aku menangani pesanan dari orang-orang penting tanah air. Biasanya mereka ditangani oleh Diva, aku sama sekali tidak perlu turun tangan secara langsung. “Mama mau kamu yang menanganinya langsung, ya, Tik. Jangan suruh Diva.” “Lho, kenapa begitu? Biasanya sama Diva juga tidak apa-apa, Ma.” “Tidak. Pokoknya kamu harus datang ke butik.” “InsyaAllah kalau pekerjaan di rumah sudah beres semua, Ma.” “Memangnya apa pekerjaamu di rumah, cuma ngurus Aby sama menggambar ‘kan?” Aku meringis, memilih tidak menjawab. Jangan sampai mendengar rentetan nasehat Mama yang panjang lebar kalau sampai Mama tahu aku mengerjakan semua pekerjaan rumah seorang diri. Tidak ada asisten rumah tangga yang membantuku. Tak mau berpanjang lebar, aku meminta ijin Mama memutuskan panggilan terlebih dahulu dan kembali mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda. “Pagi-pagi sekali, Dek,” cetus Mas Adam. Ia baru saja selesai melaksanakan salat subuh. Wajahnya tampak segar. “Mas, nanti siang aku ijin keluar, ya. Mau ke butik sekalian belanja. Stok belanjaan sudah kosong.” “Iya,” sahut Mas Adam singkat. *** Sudah pukul 07.00 Mas Adam sudah rapi siap berangkat ke kantor. Ia duduk di meja makan menikmati sarapannya sambil sesekali memeriksa ponselnya. Kudengar suara tangis keras Aby di kamarya, aku bergegas meninggalkan cucian di mesin cuci. Aby pasti sudah bangun. Teriakannya kencang sekali. Ia sampai meraung-raung. “Tanangkan anakmu, berisik sekali!” Mbak Tantri keluar dari kamar di sebelahnya dengan rambut awut-awutan. Wanita itu tampak marah tidurnya terganggu oleh tangis Aby. “Mengganggu saja!” ketusnya sebelum kemudian masuk kembali ke dalam kamar dan membanting pintu. Boro-boro membantu pekerjaan rumah, matahari sudah naik tinggi saja masih molor. Mendengar suara tangisan Aby bukannya bangun, malah merasa terganggu dan marah-marah. Tapi aku tidak memedulikannya. Kubuka pintu kamarku dan langsung melihat jagoan kecilku jatuh dari tempat tidur. Pantas tangisnya begitu keras. Aku langsung membopongnya. Sekejap tangisnya langsung berhenti. “Mandi dulu, ya,” ujarku sambil melepas baju tidur Aby. Anakku itu mengangguk menurut. Begitu Aby sudah bersih dan wangi, aku kembali ke belakang, membiarkan anakku bermain di kamar. Aby tidak rewel dan pasti betah diam berjam-jam kalau sudah bertemu dengan mobil-mobilannya, sehingga aku bisa melanjutkan pekerjaanku. “Mas berangkat dulu, Dek,” kata Mas Adam berpamitan. Aku meraih tangannya yang terulur dan menciumnya. “Hati-hati, Mas,” kataku ikut mengantarkan sampai depan pintu. Sudah menjadi kebiasaanku mengiringi kepergian Mas Adam hingga ia menghilang bersama mobilnya. “Tik, Ibu titip cucian, ya.” Suara Ibu mertuaku terdengar begitu aku menutup pintu . “Iya, Bu.” Rasanya aku ingin menarik kata-kata tersebut. Kekesalanku muncul begitu melihat titipan cucian yang dimaksud oleh Ibu. Kupikir hanya satu atau dua baju, tetapi justru sekeranjang penuh seperti yang sudah-sudah. Semuanya sudah dimasukkan ke dalam mesin cuci bersama pakaian-pakaianku dan milik Mas Adam. Ada juga pakaian milik Mbak Tantri. Aku tidak tahu, apa yang dikerjakan Ibu dan Mbak Tantri jika pakaiannya sendiri saja harus aku yang mencuci. Mereka pikir aku adalah babu yang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah, sementara kerjaan mereka hanya bersantai. Rasanya jadi kebalik. Siapa punya rumah, siapa yang menumpang. Kuhela napas panjang-panjang. Aku tidak ingin pagiku hancur gara-gara ulah mertuaku. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD