3

1002 Words
Bu Santoso bukan jenis ibu-ibu pejabat rempong yang susah diatur. Ia melihat-lihat semua koleksi di butikku dan langsung memborong beberapa. Selain itu ia juga memesan sebuah baju khusus. Aku hanya membuat coretan-coretan di atas kertas membentuk sketsa, kemudian menyerahkannya padanya. Bu Santoso langsung setuju tanpa banyak memberi kritikan. Menangani pesanannya jauh lebih mudah daripada pesanan Mama. Bu Santoso sangat mempercayaiku, ia berpikir jika aku jauh lebih tahu untuk urusan fashion daripadanya sehingga ia lebih banyak menurut. Aku bermaksud belanja ke supermarket setelah urusan dengan Bu Santoso selesai. Tinggal memasrahkannya pada Diva untuk diukur tubuhnya. Bu Santoso menganggap, sebagai seorang desainer kondang tentunya aku memiliki kesibukan yang padat sehingga tidak dapat menemaninya hingga selesai. Wanita penurut yang baik hati itu memaklumi ketika aku harus pergi. Tidak ada seorang pun yang tahu jika kesibukan Kartika Sanjaya tidak lebih sekedar kesibukan rumah tangga. Mengurus suami, anak, mertua tukang kritik, dan ipar yang judes. Aku baru saja keluar dari butik ketika dari tempat parkir kulihat Reymod—orang kepercayaan Papa yang kini sudah menjabat menjadi direktur eksekutif di perusahaan Papa—keluar dari mobilnya. Aku pura-pura tidak melihat. Toh kami tidak akrab, hanya sebatas saling tahu saja. Namun, di luar dugaan, Reymond menyapaku. Aku nyaris tidak mempercayai pendengaranku sendiri. Reymond sosok yang pendiam dan dingin. Enam tahun bekerja pada Papa, belum sekalipun aku melihatnya tersenyum. Sayang sekali wajahnya yang tampan itu begitu beku, tidak pernah memperlihatkan kehangatan. Namun, entah mengapa hari ini aku melihat garis tegas di wajahnya melunak saat menyapaku. “Ya?” “Mau ke mana?” tanyanya. Tumben sekali, pikirku. “Pulang,” jawabku singkat. Kupikir itu hanya basa-basi, tetapi ia terlihat sangat ingin tahu. Jadi, sebagai bentuk kesopanan aku meladeninya. “Saya baru saja bertemu klien, Pak Hadi meminta tolong saya menjemput Bu Herlin. Kebetulan sejalan sekalian kembali ke kantor. Tapi barusan saya hubungi kata Bu Herlin lebih baik saya mengantarkanmu pulang saja.” Serius, untuk apa Mama meminta laki-laki ini mengantarkannya? Rasanya bukan Mama sekali. “Bu Herlin bilang, katanya kamu datang ke sini naik taksi. Sepertinya sebentar lagi hujan akan turun, Bu Herlin tidak ingin kamu naik taksi.” Reymond buru-buru menambahkan. “Pak Reymond tidak perlu mengantarkan saya, saya bisa naik taksi seperti biasa. Lagian, saya juga masih harus mampir ke suatu tempat.” “Tidak apa-apa. Saya antarkan.” Ia bersikeras. Mau tak mau akhirnya aku masuk ke dalam mobilnya. Ia benar-benar mengantarkanku belanja. Mengekoriku dari belakang sambil mendorong trolly. Aku tahu, Reymond akan melakukan apapun yang diminta oleh Hadi Sanjaya. Papa adalah orang yang sangat dihormati dan berjasa dalam hidupnya. Kurasa karena itulah seorang direktur eksekutif sepertinya rela mendorong trolly belanjaan milik seorang wanita. Usai berbelanja, laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa. Ia membatu membawakan belanjaanku ke dalam bagasi. Benar saja, tak lama kemudian setelah mobil keluar dari parkiran pusat perbelanjaan, hujan turun sangat deras. Dalam hati aku bersyukur tidak perlu mencari-cari taksi. Reymond mengantarkanku hingga di depan rumah. Laki-laki itu membukakakn pintu mobil untukku, melepas jasnya untuk memayungiku. Aku dimintanya menunggu di teras, sementara ia mengambilkan belanjaanku dari dalam bagasi. “Terima kasih,” ucapku tulus. Melihat kemeja putihnya yang basah demi memayungiku, hatiku tidak tega. Tetapi aku tidak bisa mengundangnya masuk sekedar untuk mengganti bajunya. Suamiku sedang tidak ada di rumah. Yang ada mertua dan iparku. Rumah bisa ribut oleh pertengkaran kalau sampai aku membawa Reymond masuk. Tampaknya laki-laki itu juga tidak mengharap diundang masuk. Setelah meletakkan belanjaanku, ia hanya menganggukkan kepala kecil menjawab ucapan terima kasihku dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Setelah mobilnya menghilang dari pandanganku rupanya masalah besar sedang menantiku. Aku meraih kantong-kantong belanjaanku dan membawanya masuk. Tak kusangka, kedatanganku disambut dengan tatapan tajam milik ibu mertuaku. Wanita itu melipat kedua tangannya ke d**a sambil menatapku. Aku sudah menduga, ia pasti melihatku pulang diantara seorang laki-laki. “Jadi, begini kelakuanmu ketika suamimu pergi, heh?” Aku menghela napas. Sebenarnya malas meladeni, tapi kalau Ibu menuduhku yang tidak-tidak, aku harus menjelaskan duduk persoalannya. “Sangat tidak pantas! Seorang wanita bersuami pulang membawa laki-laki lain!” “Dia hanya mengantarkanku pulang, Bu.” “Mana mungkin. Kamu pikir Ibu percaya! Dia jugakah yang belanjain kamu sebanyak ini? Rendah sekali kamu ini, berani-beraninya menggadaikan diri demi barang-barang seperti ini!” Ibu mertuaku memberengut belanjaan di tanganku, kemudian meleparkannya hingga isinya keluar semua. Aku nyaris meneriakinya. Mulutnya sungguh kejam, tega-teganya menyakiti hatiku. Dipikirnya aku ini perempuan macam apa, sampai menggadaikan diri hanya untuk belanjaan yang nilainya tidak lebih sebutir upil yang kucungkil dari hidungku. “Ada apa ribut-ribut, Bu?” Kuhela napas panjang. Satu lagi medusa muncul siap mengeroyokku. “Tika, berani-beraninya membawa pulang laki-laki lain saat suaminya sedang mencari nafkah untuk menghidupinya.” “Apa?!” Mbak Tantri berteriak mendramatis. Untung di luar hujan deras, kalau saja tdak, suaranya pasti sudah sampai ke tetangga sebelah. “Kamu tinggalkan anakmu, nangis-nangis sendirian untuk berselingkuh dengan laki-laki lain, hah?” Mendengar kata anakku nangis-nangis, aku segera meninggalkan mereka. Tak kupedulikan rentetan kata-kata makian mereka yang membuat telinga siapa saja panas mendengarnya. Aku bergegas menuju kamar Aby. Saat kutinggalkan anak itu sedang tidur pulas memeluk guling pisangnya. Tetapi alangkah terkejutnya aku melihat kondisinya sekarang. Mata Aby sembab. Sepertinya dia terbangun dan menangis. Isaknya tidak lagi terdengar, tetapi tubuhnya bergetar. Aku langsung membawanya ke dalam pelukan. Rupanya, baik ibu mertuaku maupun Mbak Tantri sama-sama tidak memedulikan Aby. Mereka mendengar tangis anakku, tetapi sama sekali tidak berusaha menenangkannya atau sekedar menengoknya. Aby dibiarkan menangis seorang diri sampai aku pulang. Hatiku sungguh geram. Mereka tinggal di rumahku, tapi sama sekali tidak bisa menjaga tingkah lakunya. Jangankan membantu mengerjakan pekerjaan rumah, menghargai keberadaanku sebagai pemilik rumah saja sama sekali tidak. Masalah belum selesai sampai di situ. Sore harinya saat Mas Adam pulang, suamiku itu langsung mengamuk. Segala kesabaran dan kelembutan hatinya yang selalu membuatku kuat menghadapi Ibu dan kakakknya seketika lenyap. Ibu sepertinya sudah mengadu yang bukan-bukan. Mas Adam tidak akan memaki-maki dan menghinaku sebagai perempuan murahan jika mereka tidak mengadu. Kupeluk Aby yang ketakutan. Empat tahun membina rumah tangga dengan Mas Adam, baru kali ini aku melihatnya ngamuk demikian hebatnya. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD