Sudah kuduga reaksi Papa ketika melihatku duduk di ruang keluarga sambil menemani Mama minum teh. Papa berdiri kaku bersisian dengan Reymond.
Sedih, saat sosok yang dulu begitu menyayangi dan memujaku kini justru menatapku dingin.
“Mau apa kamu kemari?” tanyanya dengan nada tak bersahabat. Aku menghela napas.
Sejak memaksa menikah dengan Mas Adam tanpa restunya, Papa menjadi orang yang sangat memusuhiku. Beliau bahkan tidak mau hadir dalam pernikahan putri tunggalnya sendiri.
Menurut Papa, Mas Adam tidak pantas untukku. Keluarganya tidak sederajat dengan Hadi Sanjaya. Hubunganku dengan Papa semakin bertambah buruk sejak aku memiliki anak. Papa begitu memusuhiku.
Papa merasa kecewa, putri tunggal yang diharapkan mampu meneruskan kerajaan bisnis keluarganya justru menikah dengan seorang pria entah dari planet mana.
“Kartika ini anak kita, Pa, masa ke rumah orang tuanya harus ditanya mau ngapain ke sini,” jawab Mama sabar.
Berbeda dengan Papa, meski sama-sama kecewa dengan pilihanku, tetapi Mama masih dapat memaafkan. Mama tidak memusuhi seperti Papa. Wanita itu masih tetap menghubunginya, mereka masih sering bertemu meski sekedar di butik.
“Papa tidak punya anak lain selain Reymond, Ma.” Aku menggigit bibir. Tak urung merasa sakit hati. Papa tidak mau lagi menganggapku sebagai anak. “Kecuali dia mau meninggalkan suami kerenya.”
“Pa!” tegur Mama. Beliau mengelus punggungku menyabarkan. Mama tahu aku sakit hati sekali mendengar ucapannya.
“Berhenti merecoki cucu kesayanganku!” Sebuah suara terdengar dari dalam. Aku mengenalinya. Ya, aku bersyukur setidaknya ada Kakek yang selalu membelaku.
“Kalian selalu saja berkomplot membelanya di depanku!”
“Sudahlah, Had. Bapak sudah kasih kamu Reymond, biarkan Kartika dengan kebahagiaannya. Jangan diusik,” bela Kakek. Aku tahu, Papa kalah kalau sudah berhadapan dengan Kakek.
Ketika menikah dengan Mas Adam pun, Papa tidak berdaya mencegahnya. Karena Kakek yang mengurus segalanya untukku. Kakek pula yang datang sebagai wali, kemudian memasrahkannya kepada wali hakim lantaran Papa tidak mau datang.
Papa bisa saja mengancam Mama untuk tidak ikut hadir dalam pernikahanku, tetapi tidak demikian terhadap Kakek. Meski kesal setengah mati, tapi Papa membiarkan saja Kakek mengurus semua keperluan pernikahanku.
“Kebahagiaan yang seperti apa? Mertuanya saja sangat membencinya! Untuk apa anak ini ingat datang ke rumah ini kalau rumah tangganya sedang baik-baik saja!”
Aku menunduk dalam. Tak kuasa membalas tatapan tajam Papa. Aku tahu Hadi Sanjaya sangat berkuasa. Memata-matai kehidupan rumah tanggaku bukan sesuatu yang sulit. Dan sepertinya Papa berhasil melakukannya. Kalau tidak, mana mungkin Papa bisa tahu mertuaku sangat membenciku.
“Kasih saja mertuanya uang yang banyak. Suruh mereka cerai, baru Papa akan menganggapnya kembali sebagai anak.”
“Berhenti membicarakan perceraian, Had!” Kakek mengelus punggungku dengan lembut. Tahu sekali aku memang butuh dukungannya.
“Ck, Bapak akan menyesal membelanya mati-matian kalau Bapak sudah tahu semuanya.” Papa berujar sinis. Aku tidak semakin menunduk dalam.
Aku khawatir Kakek juga tahu kisruh rumah tanggaku karena campur tangan ipar dan mertuaku. Aku yakin sekali, Kakek pasti akan ikut berada di pihak Papa untuk membuatku bercerai dari Mas Adam.
“Suami yang dibangga-banggakan cucu Bapak ini tidak lebih seorang laki-laki pengecut. Kerjaan saja kalau bukan karena belas kasihan dariku, dia tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan. Laki-laki seperti itu yang kalian pikir pantas menjadi menantu Hadi Sanjaya?” Papa berdecak sinis. “Hanya Reymond satu-satunya yang pantas menjadi menantu Papa,” tandas Papa dingin sebelum kemudian berbalik meninggalkan ruang keluarga.
Aku mengangkat kepala, menatap punggungnya dengan hati sedih. hanya sesaat sebelum menyusul Papa, tatapanku bertabrakan dengan netra hitam sekelam malam milik Reymond, dan entah mengapa jantungku berdetak kencang oleh tatapan penuh intimidasi tersebut.
“Jangan dengar ucapan papamu,” bisik Mama sedih. “Papa hanya sedang marah.”
“Biarkan saja papamu berkata sesukanya, Tik. Kamu tetap cucu kesayangan Kakek.”
***
Aku hanya sebentar mampir ke tempat orang tuaku. Setelah mendapat sambutan tak bersahabat dari Papa, aku langsung memutuskan pulang.
Sudah dapat dipastikan, sambutan di sini jauh lebih tidak menyenangkan. Ibu mertuaku berkacak pinggang sambil emnatapku tajam begitu aku masuk rumah.
“Apa-apaan kamu ini, Tika!” deliknya sampi biji matanya hampir melompat keluar. “Kalau tidak mampu cari uang, tidak perlu buang-buang uang suai untuk hal-hal tida berguna!” semburnya.
“Ibu ngomong apaan sih,” dumelku.
“Kamu menyewa seorang pengasuh untuk Aby supaya kamu bisa keluar sesukamu dengan selingkuhanmu begitu!”
“Memangnya kenapa, Bu. Aku tidak minta uang Mas Adam untuk membayar mereka. Ibu tenang saja, uang Mas Adam hanya untuk Ibu dan Mbak Tantri,” sindirku tajam.
Hari ini aku memang membawa seorang pembantu ke rumah. Santi kutugaskan untuk membantuku mengurus rumah dan menjaga Aby kalau aku sedang harus keluar rumah. Sejak kedatangan Bu Santoso, butikku kini jadi langganan para ibu-ibu pejabat. Dan mereka royal sekali kalau memesan baju. Aku bisa dibuat kewalahan. Namun, ibu mertuaku justru menganggapnya lain.
“Lalu, kamu mau ongkang-ongkang kaki saja begitu? Mengurus rumah dan anak adalah pekerjaan seorang istri, jangan dilimpahkan ke pembantu. Itu namanya pemborosan!”
Terserah aku dong, Bu. Ini ‘kan rumahku. Uang juga uangku. Ingin sekali aku mengucapkan kalimat itu, tetapi kutelan kembali. Cuup terucap dalam hati. Aku sedang malas bertengkar.
“Pokoknya Ibu tidak mau tahu. Usir pembantu itu hari ini juga. Jangan jadi istri pemalas!”
Bersambung …