5

1368 Words
Sejak pertengkaranku dengan Mas Adam tempo hari, sikap suamiku mendadak berubah. Tidak ada lagi sosok hangat yang selalu menguatkanku setiap bermasalah dengan Ibu ataupun Mbak Tantri. Semula aku mengira Mas Adam begitu marah, merasa dikhianati. Aku berusaha menjelaskannya berkali-kali, mengatakan jika Reymond bukan siapa-siapa. Namun, Mas Adam tidak pernah mau mendengarnya. Ia lebih memercayai ucapan Ibu daripada istrinya sendiri. Ditambah provokasi dari Mbak Tantri. Dalam beberapa hari ini rumah mendadak terasa seperti neraka. Apa lagi sejak aku menolak keinginan Ibu untuk memulangkan Santi, hampir tiap jam pertengkaran demi pertengkaran meledak tidak dapat ditahan lagi. Emosiku mudah terpancing. Memang, selama ini Mas Adam yang selalu mendinginkanku setiap Ibu dan Mbak Tantri mengajak ribut. Sekarang, Mas Adam justru mendiamkan saja ketika dua medusa itu mengeroyokku. Sikapnya benar-benar berubah, sampai rasa-rasanya aku tidak percaya ia adalah sosok yang kunikahi karena kelembutan dan kesabarannya. Di sini justru Santi yang merasa tidak betah. Ibu dan Mbak Tantri memperlakukannya tidak baik. Santi diperlakukan sangat buruk. Ibu dan Mbak Tantri merasa menjadi nyonya di rumah ini sehingga dengan seenaknya memerintah-perintah Santi. Tak jarang mereka membentak-bentak setiap gadis itu membuat sedikit saja kesalahan. “Bu, saya mau berhenti saja. Tidak tahan sama ibu tua dan Mbak Tantri,” adunya dengan mimik terluka. Tentu saja Santi terluka. Bagaimana tidak, ia diguyur seember air bekas pel-pelan oleh Mbak Tantri hanya karena kaki Mbak Tantri menyentuh lantai yang masih basah setelah dipel olehnya. Dua medusa itu seolah sengaja memperlakukan Santi dengan buruk agar ia tidak betah kerja denganku. Aku harus menghiburnya, menyabar-nyabarkannya agar tetap mau bekerja. Aku tidak ingin kalah dari mereka. Kali ini. “Hari ini kamu ikut saya ke butik saja. Bawa Aby serta. Kita tidak usah pulang seharian.” Aku tahu, Santi begitu gembira menyambutnya. Gadis itu langsung mengemasi keperluan Aby. Namun, justru aku yang menyesal setelahnya. Andai aku tidak pergi, hatiku tidak akan hancur. Siang itu ketika jam istirahat, aku mengajak Santi keluar untuk makan siang, aku dikejutkan oleh pemandangan yang tak pernah kusangka-sangka. Rasanya duniaku runtuh melihat laki-laki yang dulu kuperjuangkan di depan Papa kini tengah merangkul mesra wanita lain. Hatiku seperti ditikam sembilu. Tega-teganya Mas Adam melakukan itu di belakangku. Tidak seharusnya ia mencari pelarian pada wanita lain saat kami sedang bertengkar. Mataku memanas, siap menumpahkan air mata melihat Mas Adam menyuapi wanita yang bergelayut manja pada lengannya tersebut. Kemudian melayangkan sebuah kecupan di pipinya. Ia bahkan tidak pernah semesra itu padaku. Tak tahan dengan pemandangan tersebut, bergegas aku bangkit dari kursi yang baru kududuki. “Kita cari tempat makan lain saja, San,” ujarku dengan suara bergetar menahan tangis. Buru-buru kugendong Aby. Aku keluar dari rumah makan tersebut diikuti Santi yang terlihat kebingungan. *** “Pasti sedang ribut dengan suaminya,” sindir Papa begitu melihatku duduk di ruang tengah bersama Mama memerhatikan Aby bermain dengan Santi. Bersama Reymond, Papa sepertinya baru pulang dari kantor. Pemandangan seperti itu sudah sering kulihat jauh sebelum aku menikah dengan Mas Adam. Papa memang sangat dekat dengan Reymond. Mempercayainya melebihi kepercayaannya pada siapa pun, termasuk istri dan putri kandungnya. Hampir setiap hari Reymond mengantar Papa pulang, mampir sebentar sebelum kembali ke apartemennya sendiri. Bertahun-tahun lamanya tapi rupanya kebiasaan itu masih bertahan. “Suami tidak bener begitu, kok mati-matian diperjuangkan sampai-sampai rela menentang orang tua yang sudah memberi makan." Hari ini aku sengaja tidak pulang ke rumah. Setelah butik tutup aku memutuskan membawa Aby dan Santi pulang ke rumah orang tuaku. Rasanya aku tidak sanggup harus bertemu dengan Mas Adam setelah pemandangan menyakitkan yang kulihat di rumah makan tadi siang. “Pa,” tegur Mama penuh peringatan. “Masuklah, Mama sudah menyiapkan baju dan air mandi Papa.” Aku menunduk murung. Andai pemandangan tadi tidak kulihatnya, aku pasti dengan lantang akan membela Mas Adam. Papa boleh menghina mertua dan iparku seperti yang sudah-sudah, tapi aku tidak akan tinggal diam kalau Papa menjelek-jelekkan Mas Adam. Terlebih di depan Reymond, satu-satunya laki-laki yang dianggap Papa layak menjadi menantunya. Tetapi menyadari perkataan Papa benar, aku memutuskan diam saja. “Minta anak kesayanganmu itu menemui Papa setelah ini, Ma,” tegas Papa sebelum kemudian menghilang bersama Reymond. “Jangan diambil hati ucapannya, Tik. Kamu sudah paham bagaimana sifat keras papamu.” Tentu saja aku tahu bagaimana kerasnya Papa. Selama ‘menjadi’ anak Papa, aku nyaris tidak pernah dimanjakannya. Papa mendidikku dengan sangat keras. Aku dipersiapkan sedemikian rupa sejak masih remaja untuk menggantikannya menduduki kursi perusahaan setelah tahu mereka hanya memiliki aku sebagai generasi ke tiga keluarga Sanjaya. Mama tidak dapat hamil lagi setelah rahimnya diangkat. Sehingga Papa benar-benar mengharapkan aku menjadi seorang wanita tangguh yang akan memimpin perusahaan berikut puluhan cabangnya. Papa tidak segan menghukum saat aku membuat kesalahan, membuatku kapok dan trauma sehingga tidak lagi berani melakukan kesalahan serupa di masa yang akan datang. Aku selalu dituntut untuk menjadi anak yang sempurna. Aku tumbuh menjadi anak yang kurang ceria akibat didikan keras Papa. Mama tidak pernah berani membelaku. Beliau hanya sebisa mungkin membantuku kabur dari hukuman Papa. Untung masih ada Kakek, satu-satunya orang yang tidak dapat dibantah oleh Papa. Tanpa Kakek, mungkin aku sudah bunuh diri. Jasadku ditemukan mengambang di sungai Ciliwung saking tidak kuatnya menjadi anak yang sempurna sesuai tuntutan Papa. Papa melarang semua keinginanku yang tidak sesuai kehendaknya, mengubur cita-cita dan memotong sayapku. Aku hanya boleh menuruti kemauannya. Satu-satunya hal kusukai yang dapat kulakukan di rumah ini adalah menggambar. Itu pun kulakukan secara diam-diam. Masa remajaku di dalam sangkar emas ini benar-benar suram. Hadi Sanjaya tidak hanya tegas dan berwibawa, tapi juga sekaligus kejam. Licik dan tidak punya belas kasihan. Ia dapat melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya. Tak heran, di tangannya bisnis keluarga yang diwarisnya dari Kakek dapat berkembang pesat. Puluhan cabang menyebar di seluruh penjuru negeri. Dapat dibayangkan betapa murkanya Papa saat untuk pertama kalinya aku memberontak. Aku jatuh cinta pada Mas Adam. Laki-laki yang begitu sabar mendengar segala curhatanku dan meminta ijin untuk menikah. Papa langsung menyelidiki latar belakang Mas Adam dan langsung menolak mentah-mentah. Tidak lupa rentetan kalimat hinaan terhadap keluarga Mas Adam keluar dari bibirnya. Tapi aku tidak dapat dibantah, aku menentang Papa dengan meminta dukungan Kakek. Tentu saja Kakek selalu berada di pihakku. Bagi Kakek yang terpenting adalah kebahagiaanku. Tak dapat menghalangi Kakek, Papa memutuskan tidak menganggapku lagi sebagai anak, sebagai wujud kemarahannya. “Sana, temui papamu. Kali saja ada hal penting yang dapat memperbaiki hubungan kalian.” Mama menepuk bahuku pelan. Aku menghela napas dalam-dalam sebelum menganggukkan kepala dan beranjak dari sofa. Namun, melihat ibunya bangun, Aby yang sedang bermain bersama Santi langsung merengek minta ikut. Aku mengangkatnya ke dalam gendongan, membawanya serta untuk menemui Papa. Aku berdiri di ambang pintu ruang kerja Papa. Kulihat Papa sedang mengobrol serius dengan Reymond. Pria itu yang pertama menyadari keberadaanku, ia mengatakan sesuatu kepada Papa sebelum kemudian bangkit. Sambil membetulkan kancing jasnya, Reymond berjalan menuju pintu tempatku berdiri seraya menggendong Aby. Mata kami bersitatap. Netra kelamnya begitu tajam seolah ingin mengulitiku. Aku sampai bergidik ditatap sedemikian rupa. Perasaanku semakin tidak enak begitu mata pria itu beralih menatap Aby. Mendadak perutku mulas melihat sorotnya berubah ganjil. Aku memang tidak mengenal Reymond selain pria itu merupakan anak buah kesayangan Papa. Semasih aku tinggal di rumah ini, berkali-kali bertemu tapi tak sekalipun saling menyapa. Sikap Reymond sangat dingin dan menjaga jarak. Namun, satu hal yang sangat kutahu, kesetiaan pria itu pada Papa seperti seekor anjing terhadap majikannya. Reymond akan melakukan apa saja yang diperintahkan Papa padanya. Aku bergerak sedikit, memberinya ruang untuk lewat. Sekilas, aku dapat menangkap aroma parfumnya. Heran, mengapa aku seperti mengenal aroma ini? Aroma yang mengingatkanku akan—ah, entahlah. Aku tidak yakin. “Mau sampai kapan berdiri di situ,” tegur suara Papa dingin. Aku tersentak dari lamunan. Reymond telah menghilang. Kuseret langkahku mendekati Papa. Pria tua itu tidak mau repot-repot mempersilakanku duduk. Ia hanya melemparkan sebuah amplop coklat besar ke atas meja, memberi isyarat padaku untuk membukanya. Kuturunkan tubuh Aby meski anak itu merengek tidak mau. Tanganku meraih amplop tersebut dan membukanya. Seketika aku membelalakkan mata. Jantungku berdetak kencang. Air mata luruh tidak dapat dibendung lagi. “Itu hukuman karena berani melawan Hadi Sanjaya,” desis Papa dingin. Kejam dan tidak kenal ampunan khas Hadi Sanjaya. Kurasakan tubuhku gemetar. Kakiku goyah, tidak sanggup menahan beban tubuhku sendiri. Detik berikutnya aku jatuh, bersimpuh di atas lantai beralaskan karpet tebal dan menangis tersedu-sedu. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD