6

901 Words
Baru kusadari batas antara cinta dan benci tak ubahnya setipis kertas. Kini aku merasakannya. Ada masanya aku sangat mencintai Papa meski sifatnya yang keras terhadapku, tetapi kini aku tidak dapat lagi membedakan mana cinta dan benci. Cintaku pada Papa, cintaku pada Mas Adam, detik ini aku membencinya. Belum pernah aku merasa semuak ini terhadap siapa pun. Tega-teganya mereka melakukan ini padaku. Hatiku sakit. Amat sakit. Aku merasa seperti gelas yang dibanting ke lantai. Hancur berkeping-keping. Yang lebih menyakitkan, aku dihancurkan oleh orang-orang yang justru sangat kucintai. Sambil menggendong Aby, kupaksakan kakiku yang goyah tertatih-tatih melangkah keluar dari ruangan Hadi Sanjaya. Rasanya ia tidak pantas kupanggil Papa lagi. Pria tua itu, setalah apa yang dilakukannya padaku, kebencianku padanya rasanya seperti menembus dan meresap ke setiap pori-poriku bersama rasa sakit yang ia torehkan. Air mata jatuh tak tertahankan. Tangis Aby semakin keras melihat ibunya menangis. “Tika, apa yang terjadi?” Mama langsung menyerbu tubuhku, menangkapnya agar tidak terjatuh. Aku tak menjawab. Kepalaku tertunduk dalam, tidak berani menatap Mama. Aku malu, aku sudah hancur, tidak punya harga diri lagi. “Papa menyakiti Aby? Mengapa Aby menangis kencang sekali? Kamu kenapa? Apa yang dilakukan Papa padamu?” cecar Mama dengan mimik cemas. Aku bergeming. Hanya bahuku yang terguncang oleh isak tangis. Kupejamkan mata, terbayang kembali isi amplop tadi. Seketika air mataku jatuh semakin deras. Mama mendekapku erat bersama tubuh Aby dalam gendonganku. Tangannya mengusap punggungku lembut. Mama, ratap hatiku pilu. Aku tidak sanggup lagi. Melepaskan diri dari dekapan Mama, aku menyerahkan Aby ke dalam gendongannya. Anak itu menangis tak mau lepas, tapi aku memaksanya. “Titip Aby sama Santi, Ma,” bisikku tersendat. “Kamu mau ke mana?” Aku tidak tahu. Yang jelas aku tidak ingin di rumah ini, tidak juga pulang. Aku tidak mau melihat Papa dan Mas Adam. Dua pria yang pernah kucintai. “Tika,” panggil Mama antara cemas dan bingung. Aku lekas berbalik, tidak mau menolah kembali. Kutebalkan hati mendengar jerit tangis Aby. Maafkan Mama, Nak, batinku pilu. Mama perlu menyingkir sejenak. Papa dan kakekmu sudah menyakiti Mama begitu dalam. Kusambar kunci mobil milik Mama. Aku buru-buru meninggalkan rumah. *** Hari sudah gelap. Dari tempatku berdiri, kota Jakarta terlihat gemerlap di bawah sana. Akan menjadi pemandangan yang menakjubkan andai saja aku menikmatinya dalam keadaan bahagia. Namun, mataku hanya menatap kosong. Air mataku jatuh tanpa henti hingga mataku terasa berat. Sempat terbersit ingin melompat, menjatuhkan diri dari lantai 30 dan mati dengan tubuh hancur. Namun, bayangan tangis Aby saat kutinggalkan mencegah niatku. Aku hancur, dihancurkan oleh orang-orang yang kucintai. Tapi aku masih punya Aby. Aku tahu, andai aku mati Mama bisa mengasuhnya, memberinya kasih sayang kepada putra semata wayangku, tetapi bagaimana dengan Hadi Sanjaya? Pria itu begitu membenci Mas Adam, akankah ia bersedia menerima darah dagingnya? Atau justru nanti Aby akan diperlakukan buruk di rumah itu. “Kamu akan bercerai dari Adam.” Suara Hadi Sanjaya begitu dingin. Tak berperasaan. Itu bukan permintaan, melainkan perintah. Tanpa dimintanya pun, aku akan menuntut cerai. Setelah apa yang dilakukannya padaku. Aku tidak sudi lagi menjadi istrinya. Mas Adam yang kucintai, tega-teganya menjerumuskanku ke dalam lubang kenistaan. Aku merasa begitu terhina. Harga diriku seperti diinjak-injak. Kehormatanku sebagai seorang wanita dikoyak dengan kejam. “Kita akan menikah, Mas.” Aku masih ingat bagaimana aku meyakinkannya untuk melanjutkan hubungan kami ke tahap serius. “Tapi aku belum punya pekerjaan tetap, Dek.” “Aku punya tabungan. Kita bisa menggunakannya sambil kamu nyari kerja setelah menikah, Mas.” Sejak lulus kuliah, Mas Adam masih belum menemukan pekerjaan tetap. Ia hanya bekerja serabutan sebagai tukang antar-jemput paketan. Ijazah sarjananya sama sekali belum terpakai. Belum ada perusahaan yang menerima lamarannya. Kami menikah hanya bermodal nekat dan restu dari Kakek. Orang bilang, rejeki setelah menikah itu pasti ada jalannya. Aku percaya itu. Dan memang terbukti. Usai pesta kecil-kecilan, Mas Adam memberi kabar gembira. Ia mendapat panggilan kerja. “Kita akan bulan madu, Dek,” katanya waktu itu dengan antusias. “Sebelum aku mulai kerja, aku ingin kita menikmati waktu berdua.” Benar saja. Meski tidak jauh-jauh, tapi Mas Adam sungguh-sungguh mengajakku berbulan madu ke puncak Bogor. Mas Adam menyewa sebuah kamar yang paling murah untuk menghemat biaya, tapi aku sama sekali tidak mempermasalahkannya. Yang terpenting adalah kebersamaan kami. Aku ingat jelas bagaimana malam pertama kami di sana. Ia begitu romantis. Aku tidak dapat menahan debaran jantungku begitu keluar dari kamar mandi, seluruh lampu sudah dimatikan oleh Mas Adam. Sebagai gantinya, suamiku itu menyalah sebuah lilin di atas bufet. Cahayanya yang kecil tidak mampu menerangi ruangan. Namun, justru membuat suasana jadi sangat romantis. Kulihat siluet tubuh Mas Adam duduk di sisi tempat tidur. Jantungku berdetak kencang. Aku tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Aku meremas tanganku yang terasa dingin. Jujur aku sangat gugup. Ini akan menjadi pengalaman pertamaku dalam 22 tahun usiaku. Kegugupanku semakin memuncak mencium aroma parfumnya. Aroma yang sebelumnya belum pernah kurasakan. Wangi, tajam, dan sedikit berbahaya. Bulu romaku meremang begitu aroma tersebut menyerbu inderaku. Ia menangkup wajahku. Kurasakan wajahnya mendekat, tetapi karena gelap aku tidak dapat melihat ekspresinya. Cahaya lilin di atas bufet tidak sampai ke sini. “La—lampunya dinyalakan, Mas,” ujarku gugup. Namun, Mas Adam tidak menjawab, ia ciumanku. Hatiku berdesir. Malam itu, Mas Adam memberiku sebuah pengalaman yang sangat indah dan takkan terlupakan. Namun, setelah empat tahun hidup dan mengarungi bahtera rumah tangga bersamanya, baru aku tahu. Pria yang bercinta denganku di malam pertama bukanlah Mas Adam. Ia bukan suamiku. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD