Aku terbangun seorang diri di atas tempat tidur. Kulihat tempat di sisiku telah kosong. Mas Adam meninggalkanku sendirian usai memberiku malam paling indah yang pernah kurasakan.
Segera bangkit untuk mencarinya, aku merasakan nyeri di beberapa titik tubuhku, bukti aku telah menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri untuk pertama kali.
Rasa sakit ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebahagiaanku. Rasanya aku tidak dapat menahan senyumku sepanjang hari. Aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.
Aku urung meninggalkan tempat tidur, begitu denting pesan masuk terdengar dari ponselku di atas nakas. Aku meraihnya. Pesan dari Mas Adam.
Aku turun duluan ke restoran, tidak sanggup menahan lapar. Mau membangunkamu tidak tega. Kalau sudah bangun, langsung menyusul saja ke bawah.
Senyum kembali merekah di bibirku membaca pesannya. Ah, betapa aku mencintai laki-laki itu.
Bergegas aku meninggalkan tempat tidur untuk membersihkan diri. Rasanya aku tidak sabar untuk bertemu dengan suamiku.
Namun, begitu aku menapakkan kaki di mana Mas Adam berada, alih-alih mendapati seorang laki-laki ceria setelah melewatkan malam yang indah, aku justru mendapati raut murung suamiku. Mas Adam tetap memperlakukanku dengan lembut, tetapi rautnya tidak menunjukkan kebahagian.
“Kamu baik-baik saja, Mas?” tanyaku saat ia menarik sebuah kursi untukku. “Wajahmu tampak pucat.”
“Hanya masuk angin,” jawabnya singkat. Selanjutnya ia kembali menekuri isi piringnya yang sudah tinggal separuh. Tidak ada obrolan mesra layaknya pasangan yang baru saja menikati malam pertama mereka. Sikap Mas Adam sungguh berbeda dengan semalam.
Aku tahu Mas Adam sosok yang pendiam. Ia jarang memperlihatkan emosinya. Eskpresinya datar, baik saat marah maupun gembira. Namun, sikapnya pagi ini sungguh mengecewakan.
Sebagai pengantin baru, aku berharap Mas Adam akan memanjakanku alih-alih mengabaikanku dan asyik sendiri dengan makanannya.
“Dek,” panggilnya setelah jeda keheningan yang cukup lama. “Setelah sarapan kita kembali pulang. Besok aku sudah mulai masuk kerja.”
Aku memang hanya menurut tanpa bertanya apa-apa lagi. Mas Adam langsung membawaku pulang ke rumah orang tuanya. Hanya sebentar aku tinggal di sana. Di hari ke tujuh pernikahan kami, Mas Adam langsung memintaku untuk pindahan ke rumah barunya. Katanya ia ingin mandiri. Tentu saja aku merasa senang.
Biar bagaimana pun tinggal bersama mertua bukanlah sebuah pilihan yang bagus. Apa lagi mertuaku sudah mulai menunjukkan ketidaksukaannya padaku.
Mas Adam bilang akan mencicil rumah tersebut. Aku mendukungnya. Rumah tangga kami berjalan baik-baik saja meski kesibukan Mas Adam mulai kelewatan.
Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke kantor dan pulang menjalang petang, tak jarang ia beralasan lembur dan baru pulang pukul sembilan malam.
“Aku harus sering-sering ambil lemburan biar bisa mencicil rumah kita,” katanya setiap aku bertanya mengapa ia selalu pulang malam. Padahal ia masih karyawan baru.
Sebagai pasangan pengantin baru, kebersamaan kami benar-benar sangat jarang. Mas Adam biasanya langsung tidur setelah pulang lembur. Dan ia langsung tidur begitu saja.
Memasuki minggu ke tiga pernikahan kami, aku mendapati diri tengah mengandung. Semula aku sama sekali tidak tahu, karena belum merasakan tanda-tandanya. Namun, saat aku menyadari haidku telat dua minggu dari terakhir kalinya, iseng-iseng aku membeli test pack dan menggunakannya.
Alangkah terkejutnya aku mendapati dua garis merah dalam benda pipih tersebut. Untuk memastikannya aku pergi ke dokter kandungan, dan ternyata memang benar.
Aku tidak dapat menahan luapan kegembiraanku. Namun, kini aku justru menggigil seorang diri di sudut kamar hotel yang kusewa sambil memeluk tubuh, mengingat semua itu.
Aku baru melakukannya sekali di malam pertama. Artinya pembuahan terjadi pada malam pertama kami, dan sudah jelas kalau Aby bukanlah darah dagingnya.
Mas Adam memang memperlakukanku dengan sangat baik meski ia tampak datar-datar saja saat aku memberitahukan kehamilanku padanya.
Aku tidak berprasangka apa pun karena aku tahu suamiku memang jenis laki-laki yang tidak pernah menunjukkan emosinya.
Ia menjagaku dengan sangat baik. Walau kesibukannya dikantor semakin menyita waktunya, tapi Mas Adam selalu menuruti keinginanku.
Empat tahun berlalu, Aby yang kukandung sekarang sudah lahir dan tumbuh besar. Selama itu pula suamiku menyembunyikannya dengan sangat baik.
Ia tetap baik padaku meski tahu segalanya. Ia juga mampu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa walau tahu bayi yang dikandung istrinya bukanlah darah dagingnya. Dan semua itu atas campur tangan Hadi Sanjaya.
Tubuhku menggigil semakin hebat. Air mataku tumpah ruah. Aku merasa ingin mati saja saking tak kuatnya akan sakit yang menghujam ke ulu hatiku. Harga diriku terinjak-injak. Aku merasa kotor dan terhina.
Aku sungguh tidak menyangka, terbersit dalam pikiran pun tidak, seorang ayah tega menjerumuskan anak kandungnya dalam jurang kenistaan.
Bukankah Hadi Sanjaya sendiri yang memintaku untuk menjadi wanita terhormat, bagaimana ia tega mengoyak apa yang selama ini kujaga dengan sangat baik?
Lalu, Mas Adam. Aku menggelengkan kepala kuat-kuat, mencoba menepis isi amplop yang kini menghantuiku. Aku merasa hancur saa membaca kontrak perjanjian Hadi Wijaya dengan Mas Adam berikut foto-fotoku bersama pria itu.
Tega-teganya Mas Adam menukar kehormatan istrinya dengan sebuah pekerjaan. Aku tahu, betapa susahnya mencari pekerjaan di jaman sekarang. Hanya saja menggadaikan istri demi pekerjaan adalah hal yang tak termaafkan.
Hadi Sanjaya memang licik. Ia bisa melakukan apa saja termasuk menghancurkan putrinya karena berani membangkang.
Itu hukuman karena berani melawan Hadi Sanjaya.
Pria kejam yang darahnya mengalir dalam tubuhku itu pula yang meminta Mas Adam tetap memperlakukanku dengan baik, seolah pernikahan kami tidak ada yang salah.
Sudah empat tahun aku dibodohi, ditipu mentah-mentah oleh dua orang pria yang pernah kucintai. Mas Adam selingkuh dengan wanita lain sejak beberapa hari usia pernikahan kami. Yang lebih menyakitkan lagi, Hadi Sanjayalah yang mengirim wanita itu untuk Mas Adam.
“Hadi Sanjaya tidak sudi menerima keturunan laki-laki rendahan yang tidak punya harga diri,” ujarnya waktu itu dengan kejam. Ia seolah tidak punya belas kasihan melihat tangisku dan Aby yang ketakutan sambil memeluk tubuhku.
“Apa yang akan terjadi jika mertua dan iparmu melihat foto-foto ini, heh? Ceraikan Adam, baru kuanggap kembali kamu sebagai anak Hadi Sanjaya.”
Aku yang tidak sudi menganggapnya ayah, batinku remuk redam. Kulirik ponselku yang bergetar di atas tempat tidur tanpa berniat untuk mengangkatnya.
Sudah dua hari aku pergi menyendiri. Menyewa sebuah kamar di hotel dan mengurung diri di sana sambil meratapi nasibku. Entah sudah berapa kali Mama menelepon, tapi tidak pernah kuangkat.
Aku tidak begitu mencemaskan Aby. Ada Santi dan Mama yang akan menjaganya. Aku tidak ingin bertemu dengan anakku dalam keadaan seperti ini dan membuatnya takut. Aku ingin benar-benar tenang terlebih dahulu sebelum keluar dari hotel tempatku menginap.
Dering pertama mati disusul dering berikutnya, terus hingga berkali-kali. Mama tidak berhenti menghubungiku.
Mengusap air mata di kedua pipiku, akhirnya aku menyerah. bergerak mengambil benda pipih tersebut.
Selama dua hari hanya Mama yang menghubungiku, Mas Adam sama sekali tidak menelepon. Mengirimiku pesan pun tidak. Tapi aku tidak peduli, rasa muakku padanya sudah mencapai titik tertinggi. Aku akan segera menuntut cerai setelah tenang.
“Hallo, Ma.”
“Apa pun yang terjadi padamu, Mama mohon lekas pulang! Aby demam tinggi dan memanggil-manggilmu terus. Beritahu Mama, kamu di mana? Reymond akan menjemputmu.”
Deg. Jantungku seperti berhenti berdetak. Bukan karena Aby sakit, tapi karena mendengar nama pria itu disebut.
Bersambung …