8

1045 Words
Tak menjawab pertanyaan Mama, segera kumatikan panggilan secara sepihak. Aku tidak sudi bertemu dengan pria laknat yang telah merampas kehormatanku. Sama sekali tidak dapat dipercaya, Reymond mau melakukan perbuatan kejam itu padaku. Tentu aku tidak melupakan kalau ia merupakan anjingnya Hadi Sanjaya. Kalaupun majikannya memintanya untuk membunuhku, pasti akan dilakukannya. Tak ingin ditemukan olehnya, bergegas kukemasi barangku yang tak seberapa dan keluar dari kamar. Aku segera check out. Aku memang marah dan sakit hati, tapi tak sampai hati kalau harus mengabaikan anakku. Apa lagi ia sedang sakit dan membutuhkanku. Terbersit sesal telah meninggalkannya. Aku butuh waktu setidaknya sepuluh menit untuk keluar dari hotel. Kuinjak pedal gas untuk segera sampai ke rumah Mama. Sepanjang jalan tiada hentinya aku merutuki diri. Aku menyesal meninggalkan Aby begitu saja. Seharusnya dalam keadaan seperti apa pun Aby selalu bersamaku, alih-alih menitipkannya. Kepada orang tuaku sekali pun. Mobil yang kukendarai nyaris menubruk pintu gerbang rumah Mama kalau saja satpan tidak buru-buru membukakannya. Aku nyaris memekik saking paniknya begitu sampai rumah hanya mendapati Santi. "Dek Aby dibawa ke rumah sakit, Bu. Demamnya sangat tinggi, tadi sempat kejang," ungkapnya murung. Dengan perasaan tak karuan aku menghubungi Mama. "Aby sedang di tangani di IGD, Tik," jawab Mama begitu aku memberondonginya dengan berbagai pertanyaan. "Sekarang kamu di mana?" "Aku di rumah, Ma." Kurasakan suaraku bergetar. "Aku akan menyusul segera ke sana." "Jangan mengemudi dalam keadaan panik. Biar Mama suruh Reymond jemput kamu." Memejamkan mata. Aku menarik napas sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paruku yang terasa sesak. Mendengar nama itu disebut sukses membangkitkan rasa nyeri di dalam sini. "Tidak usah, Ma. Aku sudah di jalan," tolakku berdusta. Begitu panggilan kami terputus, aku bergegas keluar dari rumah dan kembali masuk ke dalam mobil. Aku ngebut ke rumah sakit. Sesampainya di sana, ternyata Aby sudah dipindahkan ke ruang inap. Aku menerobos masuk. Putra kecilku sayang. Aku tidak dapat menahan tangis melihatnya terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Kupeluk tubuhnya sambil terisak-isak. Aku merasakan tubuh putraku sangat panas. Demamnya belum turun. "Maafkan Mama, Aby. Maafkan Mama," isakku menyentuh wajah pucatnya. Matanya terpejam rapat. "Demamnya belum turun," bisik Mama seraya menepuk bahuku yang terguncang oleh tangis. "Semua salahku, Ma. Tidak seharusnya aku meninggalkannya." Mama merengkuh bahuku dan memeluknya. Aku manangis dalam dekapan Mama. "Apa yang terjadi, Kartika? Mama tahu sebelumnya kamu tidak pernah mau jauh dari Aby, sampai-sampai pekerjaanmu kamu kerjakan semua di rumah." Aku tidak menjawab. Aku tidak mungkin menceritakan perbuatan terkutuk suaminya. Aku tidak ingin membebani pikirannya. Mama tampak begitu letih. Ada lingkar hitam di sekitar matanya. Dalam dua hari ini pasti kerepotan mengurus kerewelan Aby. Secara tidak langsung aku telah merusak penampilannya yang selalu sempurna tanpa cela. Aku semakin menenggelamkan kepala dalam dekapan Mama sebelum terdengar sebuah suara yang membuat tubuhku tersentak kaku. "Pak Hadi meminta Ibu untuk pulang dan beristirahat, Bu. Biar saya yang ganti menjaganya." "Tidak apa-apa, Rey. Kartika sudah datang. Sebaiknya kamu juga pulang. Sejak tadi kamu sudah saya repotkan." Mama berujar seraya mengelus rambutku. Sepertinya tidak menyadari perubahanku. "Tidak apa, Bu. Saya hanya menjalankan perintah Pak Hadi." Ya, kamu memang anjing yang patuh, batinku dipenuhi rasa muak. Kamu bahkan tega merengut kehormatan seorang wanita karena mematuhi perintah majikanmu! "Sopir sudah menunggu, Bu. Mari saya antar." Mama melepaskan dekapannya. Beliau menyentuh kedua bahuku lembut. "Mama pergi dulu, ya. Kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi Mama. Besok Mama akan datang lagi untuk membawa keperluanmu sama Aby." Aku mengangguk, tak berani menatap mata Mama. Khawatir Mama dapat membaca kesakitan yang coba kusembunyikan. "Kalau butuh apa-apa minta saja sama Reymond," lanjutnya. Kali ini aku diam saja. Mama mengecup kedua pipiku secara bergantian, kemudia berlalu meninggalkan ruangan. "Titip Kartika, ya, Rey." Masih dapat kudengar suaranya sebelum pintu ditutup. Sepeninggalan Mama, kujatuhkan kepala di sisi pembaringan Aby dan kembali menangis tersedu-sedu. *** Pagi-pagi sekali aku terbangun dan mendapati keperluanku dan Aby sudah tersedia di atas meja. Aku mengucek mataku yang terasa berat. Semalam aku tiada henti menangisi kondisi putraku. Beranjak turun dari ranjang Aby, aku mengecek semua barang-barang di atas meja. Ada tas milikku berisi pakaian. Persediaan s**u untuk Aby, perlengkapan mandi, bahkan ada charger ponsel. Sebuah kresek besar berisi air mineral dan beberapa makanan ringan. Aku mengernyitkan kening, bertanya-tanya siapa yang menyediakan semua ini. Mama? Rasanya tidak mungkin sepagi ini Mama sudah datang kemari. Aku langsung mengembuskan napas kasar begitu mendapati tersangka utama dan satu-satunya. Semalam, setelah mengantarkan Mama keluar, Reymond sama sekali tidak kembali ke ruangan Aby dirawat. Bukan aku berharap ia datang, aku justru bersyukur tidak perlu bertemu dengannya. Mungkin Reymond hanya menunggu di luar. Masa bodoh! Aku tidak peduli ia mau menunggu di mana. Kuambil beberapa baju dan keperluan mandi dari dalam tas, lalu melangkah ke dalam kamar mandi sebelum Aby terbangun dan merengek. Semalam anak itu terus menangis. Aku nyaris tidak memejamkan mata dan ikut menangisinya. Pagi ini panasnya sudah agak turun dan sudah bisa tidur. Aku mandi kilat saja dan langsung mengenakan pakaian. Tidak ada ritual luluran seperti di rumah, tidak pula pakai lotion sesudahnya. Aku bahkan tidak menyisir rambutku, melainkan langsung mengikatnya menggunakan pita gelang. Begitu keluar dari pintu kamar mandi, sejenak aku tertegun. Tidak hanya aku dan Aby di ruangan tersebut. Tak perlu melihat wajahnya untuk mengetahui siapa pria bertubuh tinggi dan tegap yang kini berdiri di sisi pembaringan Aby, mengamatinya terlelap. Dadaku mendadak terasa sesak. Tahukah Reymond kalau Aby adalah darah dagingnya? Ulu hatiku seperti ditikap pisau berkarat, kemudian diputar sebelum ditarik keluar hingga menorehkan luka parah yang mengaga lebar. Tidak. Aku menggeleng tegas. Reymond tidak boleh tahu. Pria b******n itu tidak pantas menjadi ayah anakku. Sengaja, kututup pintu di belakangku dengan sedikit keras hingga Reymond menoleh. Rautnya tetap datar, bahkan cenderung dingin. Matanya begitu tajam saat tatapan mata kami bertemu. Dengan berani aku balas menatapnya dingin. Aku membencinya, membeci perbuatannya padaku. "Sarapan," ujarnya datar seraya menunjukkan kotak styrofoam berbungkus plastik bening di atas meja. "Lain kali Anda tidak usah repot-repot mengurusi kami, Pak," jawabku dingin. Aku berjalan mendekati pembaringan Aby setelah terlebih dahulu menyampirkan handuk bekasku mandi ke tempatnya. Reymond tidak menjawab. Ia hanya mengangkat sebelah alisnya. Ia menyingkir memberiku tempat di sisi tempat tidur Aby. Kemudian melepas jaketnya dan melemparkannya ke atas sofa. Langkah-langkah lebarnya bergerak menuju kamar mandi. Aku mengikuti gerakannya melalui ekor mataku, dan melotot tak percaya begitu melihatnya menyambar handuk bekasku sebelum kemudian masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu. Apa-apaan pria ini! Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD