Satu hari sebelumnya
Ruang makan keluarga Bagas malam itu terasa seperti ruang sidang. Lampu kristal yang tergantung di langit-langit memantulkan kilauan ke meja panjang berlapis marmer, namun hawa tegang membuat ruangan itu dingin. Aroma teh hitam menguar samar, tapi tak ada satu pun yang menyentuh cangkirnya.
Di satu sisi meja duduk Bagas Pratama dan istrinya Ratna, orang tua Jenna. Wajah Bagas tenang, namun tatapannya tajam, penuh perhitungan. Ratna duduk anggun di sampingnya, menyembunyikan ketegangan di balik senyuman tipis.
Di sisi lain, Erlan Wiranata dan istrinya, Rianti Pranata, duduk kaku. Rianti meremas jemarinya di atas pangkuan, sementara Erlan berusaha menjaga wibawa meski ada kegelisahan di matanya.
'Perjanjian ini sudah jelas," suara Bagas memecah keheningan. Nada bicaranya rendah tapi sarat tekanan.
"Jeongha Corp memang sedang goyah. Tapi jangan lupa siapa yang menyelamatkan Hwijin Group dari kehancuran sepuluh tahun lalu."
Erlan mengepalkan tangan di bawah meja.
"Saya yakin, Anda tidak ingin orang tahu bahwa rahasia besar keluarga Anda, kan?"
Ucapan itu membuat udara di ruangan terasa membeku. Rianti melirik Erlan sekilas, wajahnya pucat.
"Kenapa harus diungkit lagi?" suara Erlan berat.
"Rahasia itu tidak ada hubungannya dengan anak-anak kita."
"Oh, justru ada hubungannya," Bagas mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Kalau kebenaran ini bocor dan media tahu..." Ia berhenti sebentar, menatap Erlan tajam.
"Hwijin runtuh lebih cepat daripada Jeongha."
Rianti menghela napas gemetar.
"Pak Bagas... apa yang sebenarnya Anda inginkan?"
"Pernikahan," jawab Bagas tenang.
"Kontrak tiga tahun. Setelah itu mereka bebas. Tapi selama tiga tahun ke depan, Hwijin dan Jeongha akan menjadi satu."
"Baik, saya setuju. Tapi Pak Bagas harus bisa pastikan kalau rahasia itu tidak tersebar."
Bagas tersenyum tipis, senyum yang lebih terasa seperti ancaman.
"Tentu saja," katanya pelan, meneguk teh yang sejak tadi dibiarkan dingin.
"Selama keluarga Hwijin mematuhi kesepakatan, tidak ada satu pun media yang akan mencium bau kebusukan itu."
Erlan menatap Bagas lekat-lekat. Ada bara marah di matanya, tapi dia tahu dirinya tak punya pilihan. Sementara itu, Rianti menunduk, menahan air mata yang hampir tumpah. Hatinya perih memikirkan Jenna dan Arga, dua anak yang tak tahu apa-apa akan dijadikan pion dalam permainan kekuasaan orang tua mereka.
"Bagaimana dengan anak-anak?" suara Rianti akhirnya pecah, pelan namun terdengar jelas.
"Mereka nggak akan pernah... mereka nggak akan pernah mau."
Bagas meletakkan cangkirnya perlahan, lalu bersandar.
"Anak-anak akan menurut. Mereka tidak punya pilihan. Kalau perlu, saya sendiri yang akan menjelaskan pada Jenna."
Rianti mendongak, menatap Ratna yang sejak tadi diam.
"Ratna... kamu nggak kasihan sama Jenna? Dia masih terlalu muda untuk dipaksa seperti ini."
Ratna tersenyum datar, meski matanya terlihat lelah.
"Kasihan tidak akan menyelamatkan perusahaan kita, Rianti. Dunia bisnis tidak mengenal belas kasihan."
Hening kembali menguasai ruangan, hanya suara detak jam antik yang terdengar.
Bagas membuka map hitam di hadapannya, mengeluarkan dokumen dengan stempel tebal. Ia menggeser dokumen itu ke arah Erlan.
"Tanda tangan di sini, malam ini juga. Kita akan umumkan pertunangan mereka minggu depan. Persiapan pernikahan segera dimulai."
Erlan menatap dokumen itu lama, napasnya berat. Rianti menggenggam tangan suaminya di bawah meja, mencoba memberi kekuatan.
"Kalau ini jalan satu-satunya..." gumamnya lirih.
Dengan tangan gemetar, Erlan meraih pulpen dan menandatangani kontrak yang mengikat masa depan dua anak muda yang bahkan tidak tahu mereka sedang diperdagangkan.
Bagas tersenyum puas.
"Bagus."
Ia merapikan dokumen itu, lalu berdiri.
"Saya rasa pertemuan ini selesai. Semoga kita semua bisa bekerja sama demi masa depan yang lebih cerah."
Rianti merasakan kalimat itu seperti belati yang menusuk. Dia bahkan tidak punya cara untuk menghentikan permainan ini. Sebagai seorang ibu, Rianti betul-betul merasa gagal
***
Di sisi rumah keluarga Hwijin tampak lengang saat mobil hitam memasuki halaman. Lampu-lampu taman menyinari jalan, namun aura di dalam mobil terasa lebih dingin daripada malam itu sendiri.
Erlan mematikan mesin, menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka pintu. Rianti masih duduk diam, kedua tangannya saling meremas di pangkuan.
"Mas..." panggil Rianti lirih.
Erlan menatap istrinya sekilas, sorot matanya penuh beban.
"Ayo masuk. Jangan sampai Arga curiga."
Mereka berdua berjalan masuk ke rumah besar itu. Seorang pelayan membungkuk sopan, namun tidak ada percakapan.
Di ruang keluarga, Arga sudah menunggu. Pemuda itu duduk santai di sofa, mengenakan kemeja putih dengan lengan digulung, rambutnya sedikit berantakan, namun sorot matanya tajam. Ia langsung berdiri begitu kedua orang tuanya muncul.
"Dari rumah keluarga Jeongha?" tanyanya tenang, tapi ada nada curiga di balik suaranya.
Erlan melepas jasnya, meletakkannya di sandaran kursi.
"Ya. Ada pembicaraan bisnis."
Arga melipat tangan di d**a. "Pembicaraan bisnis atau melanjutkan pembicaraan tentang aku dan Jenna?"
Rianti menunduk, wajahnya menegang. Erlan menatap putranya lama, kemudian menghela napas berat.
"Kamu pintar. Tidak ada gunanya Papa berbohong. Ya, pembicaraan tentang pernikahanmu."
Arga tersenyum miring, namun matanya dingin.
"Jadi benar. Aku dijadikan alat tawar-menawar bisnis."
"Arga..." Rianti mencoba mendekat, suaranya bergetar. "Kami... kami hanya ingin menyelamatkan keluarga. Perusahaan ini... tanpa kesepakatan ini, semuanya bisa hancur."
Arga tertawa pelan, pahit. "Lalu aku dan Jenna yang harus dikorbankan?"
"Bukan begitu," kata Erlan cepat, nada suaranya meninggi sedikit.
"Kamu akan tetap hidup nyaman. Jenna gadis baik, kamu tahu itu."
"Ini bukan soal Jenna!" Arga menatap ayahnya tajam.
"Ini soal harga diri aku. Aku bukan pion kalian."
Keheningan membeku di antara mereka. Rianti hanya bisa menggigit bibirnya, sementara Erlan mencoba menahan amarah sekaligus rasa bersalah.
"Dengar, Arga," ujar Erlan akhirnya, suaranya lebih tenang.
"Kadang, dalam keluarga besar seperti kita... pilihan tidak selalu ada di tangan kita. Papa tahu kamu marah, tapi...."
"Tapi aku harus patuh," potong Arga dingin. Ia berbalik, melangkah menuju tangga.
"Kalau memang aku cuma bidak catur, anggap saja aku sudah kalah."
Langkah kakinya bergema di rumah besar itu, meninggalkan kedua orang tuanya dalam diam yang mencekam. Rianti akhirnya meneteskan air mata, menutupi wajahnya dengan tangan, sementara Erlan hanya duduk terpaku, merasakan beban keputusan yang baru saja ia buat.
Kamar Arga remang, hanya diterangi cahaya lampu meja di sudut ruangan. Ia duduk bersandar di kursi, menatap layar laptop yang menampilkan grafik saham Hwijin Group yang stabil, bahkan terus menanjak. Jemarinya mengetuk meja perlahan, penuh perhitungan.
"Dengan posisi sekuat ini, kenapa Papa mau tunduk sama Bagas?" gumamnya pelan. Senyumnya tipis, sinis. "Atau ada sesuatu yang Papa sembunyikan dari aku?"
Ia menggeser layar, membuka folder berisi dokumen rahasia: laporan investasi, transaksi tersembunyi, dan catatan lama tentang Jeongha Corp yang sedang berada di ujung tanduk. Arga sudah lama mencurigai ada rahasia besar yang membuat ayahnya mau diatur Bagas.
Di meja, sebuah foto lama menarik perhatiannya: dirinya dan Jenna saat SMA. Keduanya hanya menatap kamera datar.
"Jenna... kamu nggak pantas dijadiin alat negosiasi ini," bisiknya pelan.
Arga mengambil ponsel dan membuka aplikasi pesan terenkripsi. Ia mengetik cepat ke kontak tanpa nama dengan simbol ♞-kuda catur hitam.
'Pertemuan malam ini resmi membahas pernikahan aku dan Jenna. Mereka ingin aku secepatnya menikahi Jenna. Jadi, kita bisa jalankan rencana'
'Mengerti'
Arga menatap papan catur kecil di mejanya. Ia mengambil bidak kuda hitam, memainkannya pelan.
Ia meletakkan bidak kuda di papan, lalu bersandar santai. Di balik ketenangan wajahnya, ada kemarahan dan ambisi yang terpendam. Malam itu, Arga membuat keputusan: jika semua orang ingin bermain catur, dia akan pastikan dialah pemainnya.