Bab 1 - Menentukan Permainan
Suasana makan malam di kediaman keluarga Jeongha Corp malam itu terasa begitu hening. Tidak ada percakapan hangat seperti dulu, yang terdengar hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Padahal, dulunya meja makan ini selalu penuh tawa. Genta Arungi Bumi, putra sulung keluarga ini adalah pusat dari semua keceriaan itu. Namun sejak kepergiannya, rumah yang dulu hangat berubah menjadi tempat yang dingin, asing, dan sepi.
Jenna menunduk, mengaduk makanannya pelan. Hubungannya dengan sang papa, Bagas, memang tidak dekat. Selain karena Bagas terlalu sibuk dengan perusahaan, ia juga tidak pernah benar-benar menunjukkan kasih sayangnya pada Jenna. Bagas selalu menganggap Jenna hanyalah 'bonus' setelah ia memiliki Genta.
Tiba-tiba, suara Bagas memecah keheningan.
"Kamu mau lakukan satu hal untuk Papa, Jenna?"
Jenna mendongak pelan. "Maksud Papa?"
Bagas meletakkan sendoknya, wajahnya serius.
"Perusahaan kita sedang tidak baik-baik saja. Jika kita ingin bertahan, kita butuh suntikan dana besar. Satu-satunya yang bisa membantu adalah Hwijin Group."
Jenna mengerjap.
"Ya… terus? Papa kan bisa minta bantuan baik-baik."
Bagas menghela napas panjang, seolah apa yang akan ia katakan sangat berat.
"Tidak semudah itu. Jeongha Corp dan Hwijin Group hanya bisa bersatu kalau ada ikatan resmi di antara keluarga. Dan satu-satunya cara adalah… pernikahan."
Jenna mengerutkan kening, belum menangkap maksudnya. "Pernikahan?"
"Kamu harus menikah dengan putra Erlan Wiranata."
Kata-kata itu menghantam Jenna begitu keras sampai ia tersedak. Ia spontan terbatuk-batuk. Ratna, sang mama, dengan panik langsung memberikan segelas air dan mengusap punggung Jenna perlahan.
"A-Apa? Menikah? Dengan putranya Om Erlan?"
"Ya," jawab Bagas tanpa keraguan. "Argantara."
Jenna menggeleng keras, dadanya sesak.
"Pa, nggak bisa gitu… aku nggak mau. Aku nggak mau nikah sama orang yang bahkan nggak aku kenal, apalagi yang nggak aku cinta. Masa depan aku bukan buat dituker sama perusahaan."
Bagas membanting sendok ke piring, membuat Jenna terlonjak kecil. Wajahnya memerah menahan emosi.
"Jenna, kamu jangan egois!" bentaknya.
Jenna terdiam, matanya mulai berkaca-kaca.
Bagas menatapnya tajam, suaranya kini lebih rendah… namun jauh lebih menusuk.
"Kalau kamu menolak… kita bisa jatuh miskin. Kamu mau lihat pengobatan mama kamu terhenti begitu saja?"
Ucapan itu seperti pisau yang menusuk jantung Jenna.
Ia menoleh pada mamanya, Ratna hanya menunduk, tangan yang menggenggam gelas dengan gemetar.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Jenna merasa masa depannya direbut paksa oleh orang yang seharusnya melindunginya.
Setelah mengatakan itu, Bagas menegakkan tubuh dan meninggalkan meja makan, menyisakan Jenna dan Ratna yang masih mematung di sana.
"Jenna, kalau kamu nggak mau, mama nggak bakal paksa kamu. Mama janji nggak bakal kambuh dan selalu sehat."
Jenna menggelengkan kepalanya. Bagaimana pun mamanya harus terus menjalani pengobatan. Di dunia ini, dia hanya punya mamanya, jika mamanya tidak ada, bisa dipastikan kehidupannya setelah ini akan semakin hancur
"Aku bakal ikutin permintaan, Papa."
"Maafin mama, ya. Mama nggak bisa berbuat apa-apa. Mama nggak bisa menentang papa kamu."
Jenna tersenyum pahit, dia mengusap air mata yang berjatuhan di pipinya.
"Nggak apa-apa, Ma. Kalau Mama ngebantah, Papa bakal keluarin senjatanya buat nyalahin mama atas kematian kak Genta. Jadi, lebih baik mama nggak usah bicara sama papa."
Ratna kembali menundukkan kepalanya. Terlalu banyak hal yang dia pendam sendiri sampai tak mampu untuk bicara lagi pada suaminya. Bahkan hanya untuk sekedar menatap saja, hati Ratna sudah terlalu patah.
Disalahkan atas kematian anaknya, dikhianati, bahkan sekarang suaminya memiliki wanita lain. Ratna tidak bisa membayangkan bagaimana jika Jenna tahu masalah itu, anak perempuannya itu akan semakin hancur.
Tapi sekarang Ratna merasa punya satu harapan untuk putrinya. Argantara, dia tahu laki-laki itu adalah anak yang baik. Ratna merasa bahwa Arga, bisa menjaga Jenna setelah dia tidak ada di dunia.
***
"Arga, Papa mau bicara."
Arga baru saja memasuki rumah ketika suara itu menghentikan langkahnya. Ia menoleh. Papanya sedang duduk di sofa, televisi menyala tapi sama sekali tidak terlihat ditonton. Dari raut wajahnya, jelas ia sudah menunggu.
Dengan malas Arga mendekat, lalu duduk di sampingnya. Ia mencondongkan tubuh ke belakang, mencoba bersikap senyaman mungkin, meski hatinya sudah menebak arah pembicaraan ini pasti ada sesuatu untuk kepentingan pribadi papanya.
"Kamu tahu Jenna? Putri tunggal keluarga Jeongha Corp?"
Suara ayahnya datar,
Arga hanya merespon singkat. "Hmm."
"Kamu harus menikahinya."
Arga mengerjap pelan, tidak kaget, lebih kepada muak karena ternyata dugaannya benar.
"Maksud Papa?"
"Kamu akan menikahi Jenna. Perusahaan kita akan jauh lebih besar kalau bergabung dengan mereka."
Untuk sesaat, Arga menunduk sambil mengembuskan napas pendek. Tawa kecil lolos dari bibirnya, bukan tawa yang menyenangkan, tapi tawa getir yang muncul karena lelah menghadapi hal yang sama sepanjang hidupnya.
"Pa…" Arga mengangkat kepala, suaranya lemah tapi tegas. "Aku sudah punya perempuan pilihanku sendiri."
Ayahnya menoleh untuk pertama kali, tatapannya keras, dingin, dan penuh tuntutan. "Papa nggak peduli. Kamu tetap harus menikahi Jenna."
Ada jeda. Ruangan terasa semakin sempit.
Arga berdiri perlahan. Ia tidak ingin memicu pertengkaran, tapi dadanya panas, sesak. Ia tahu setiap kata yang ia ucapkan tidak akan pernah masuk ke hati papanya itu karena papanya tidak pernah benar-benar melihatnya sebagai anak.
"Arga!" suara ayahnya meninggi, memecah udara. "Papa tidak menerima penolakan!"
Arga berhenti sejenak, tapi tidak menoleh. Ia menatap lantai, mencoba meredakan guncangan kecil yang terasa di dadanya. Kemudian ia menghela napas panjang.
"Ya," ucapnya pelan, hampir seperti bisikan. "Lakukan saja sesuai kemauan Papa."
Ia melangkah pergi. Saat hampir mencapai tangga, bahunya sempat bergetar, seolah ia menahan sesuatu yang ingin keluar. Amarah, kecewa, atau mungkin sedih yang tak pernah punya tempat untuk didengar.
Sesampainya di kamar, Arga langsung merogoh ponselnya yang ada di kantong celana. Dia langsung mengirim pesan pada Jenna
'Jenna, besok kita perlu bicara.'
'Kamu tahu?'
'Iya, aku tahu itu.'
'Okey...'
***
Seperti janji mereka tadi malam, siang itu Arga dan Jenna bertemu di rooftop kampus. Angin siang berembus pelan, membawa aroma panas aspal dan suara ramai mahasiswa dari bawah. Arga sudah tiba lebih dulu dan berdiri memandang kota, mencoba menenangkan pikirannya.
Suara langkah kaki terdengar. Tanpa menoleh pun Arga tahu itu Jenna.
Jenna berjalan mendekat dan berhenti di sampingnya. Tidak ada sapaan, hanya keheningan yang terasa berat.
"Kita harus gimana, Ga?" tanya Jenna pelan.
"Kalau kamu mau menolak, kita akan cari cara," jawab Arga, meski suaranya sendiri terdengar ragu.
"Aku nggak punya pilihan buat menolak."
Arga terdiam. Ia tahu Jenna benar. Sama seperti dirinya, Jenna juga terjebak. Mereka berdua hanya anak yang harus patuh pada keputusan keluarga.
"Memangnya kamu bisa hidup dengan laki-laki yang bukan tujuan kamu?" Arga menoleh, mencari sedikit harapan di mata Jenna.
Jenna tersenyum miris. "Memangnya aku masih boleh punya tujuan?"
Jawaban itu membuat d**a Arga terasa sesak dan perih. Ia memahami apa yang Jenna rasakan, hidup yang dipaksa berjalan sesuai garis orang lain.
Arga menghela napas panjang. "Kalau gitu, kita ikut dulu kemauan mereka. Kita jalanin semuanya… sampai kita punya cukup waktu."
Jenna menatapnya. "Lalu setelah itu?"
"Setelah itu, kita lawan mereka. Mereka tidak akan menyangka bahwa pion yang mereka mainkan juga bisa menentukan permainan dan bertahan hingga ujung dan berubah menjadi hal yang tidak pernah merek duga." Suara Arga mantap, meski matanya menyimpan kegelisahan yang sama dengan Jenna.
Angin kembali berembus, seolah menyapu keheningan di antara mereka. Untuk pertama kalinya sejak pagi, Jenna terasa sedikit lebih tenang. Meski tidak tahu apa yang menunggu, setidaknya ia tidak menghadapi semuanya sendirian.
Setelah pembicaraan itu mereda, keduanya hanya berdiri memandangi langit siang yang terlalu tenang untuk hati mereka. Arga mencoba menenangkan gelombang emosi yang tak bisa ia kendalikan. Tidak ada yang bergerak, namun waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya, seolah mendorong mereka pada keputusan yang belum siap mereka hadapi.
Jenna akhirnya menarik napas panjang, mencoba menata dirinya. Arga melihatnya dari samping, memahami bahwa beban yang mereka pikul sama beratnya. Tanpa saling menatap, mereka berjalan meninggalkan rooftop, masing-masing membawa ketakutan yang tidak bisa mereka ucapkan. Namun entah bagaimana, langkah mereka tetap seirama