1. Hukuman Seumur Hidup
Pagi, lantai dua puluh gedung Virelix Group sudah terasa seperti medan perang. Suara printer bersahut-sahutan, telepon kantor berdering tanpa jeda. Karyawan berlalu-lalang membawa map sambil berteriak memanggil divisi lain, semua orang terlihat sangat panik padahal jam masih menunjukkan pukul sembilan pagi dan di tengah semua kekacauan itu, suara seorang wanita menggelegar lagi-lagi membuat semua orang yang ada di ruangan itu membeku.
Brak!
“SIAPA YANG BUANG PROPOSAL PROYEK DI TEMPAT SAMPAH?!”
Satu ruangan langsung diam, semua kepala menoleh ke arah ruang meeting utama yang pintunya terbuka lebar. Di sana berdiri Valencia Lucienne Hartono—CEO cantik sekaligus mimpi buruk seluruh karyawan Virelix Group.
Wanita itu mengenakan blazer putih tulang dengan heels setinggi dosa manusia. Rambut panjangnya bergelombang rapi, wajah cantiknya dingin seperti kulkas empat pintu, dan tatapannya cukup untuk membuat satu ruangan lupa cara bernapas. Di tangannya ada berkas lusuh penuh kotoran berwarna coklat.
“Kalian pikir ini lucu?” Suaranya tajam mengintimidasi semua orang yang ada di depannya saat ini.
Mendadak atmosfir ruangan terasa sangat gelap dan kelam, padahal di luar sana matahari sudah mulai terik. Tidak ada yang berani menjawab, seorang staf marketing bahkan diam-diam berdoa dalam hati untuk keselamatannya sekarang. Valencia berjalan keluar dari ruang meeting dengan langkah tegas dan bunyi suara heels yang sangat khas.
“Presentasi untuk kerja sama tiga miliar rupiah hilang karena ada orang i***t yang buang draft final ke tong sampah.”
Valencia menatap tajam setiap orang yang dilewatinya.
Hening.
Seseorang hampir menangis ketika dihampiri oleh Valencia, tubuhnya bergetar hebat, tatapan mata Valencia begitu menusuk padanya.
"Terakhir saya lihat kamu yang menyiapkan ruang meeting." Suara itu rendah tetapi berhasil membuat orang yang ada di depannya menciut.
"Bu-bukan saya, Bu. Jadwal memang saya, tapi tadi pagi saya disuruh Pak Wira untuk memberi dokumen ke HRD." Dengan takut-takut ia berucap, bibirnya ikut bergetar.
"Lalu siapa!" pekik Valencia.
Valencia—siapa pun yang berurusan dengannya tidak akan selamat; cantik, kaya, pintar. Definisi mahakarya Tuhan yang tidak memiliki kekurangan sedikit pun, menjabat sebagai CEO di perusahaan ini membuat Valencia harus dijuluki sebagai bos dingin dan galak, terkenal harus perfectionist serta tidak punya belas kasihan. Dua bulan lalu ia memecat manager senior hanya karena typo di proposal klien Jepang.
Betul typo, satu huruf dan pagi ini mood Valencia sudah cukup buruk untuk membunuh mental beberapa perwakilan dari masing-masing divisi untuk ikut meeting pagu bersamanya.
“Tidak ada yang mau mengaku? Baik, semua tetap stay di kantor, tanpa istirahat, tanpa pulang sampai proposal ini selesai diperbaiki.” Valencia membanting map ke meja, wajahnya terlihat sangat dingin seperti kutub utara, sementara semua orang tampak keberatan dengan keputusan darinyam
“Tapi Bu ... Kami juga manusia harus makan dan pulang,” celetuk salah satu karyawan yang tampak berani padanya.
Valencia tersenyum smrik, ia menoleh pada sumber suara.“Lalu? Saya terlihat peduli?”
Mati sudah.
Suasana ruangan ini sangat mencekam dan pengap, itulah yang dirasakan oleh mereka yang berada di ruangan tersebut. Sampai akhirnya seorang laki-laki terlihat masuk ke dalam ruangan sambil membawa kardus cukup besar berisi sampah-sampah kertas yang sudah dihancurkan dengan paper shredder.
Cowok tinggi dengan kemeja biru muda yang masih terlalu rapi untuk ukuran kantor kacau seperti ini. Rambut hitamnya sedikit berantakan, wajahnya tampan dengan kesan ceroboh yang mencurigakan. Ia membaca salah satu dokumen sambil berjalan terburu-buru.
Tanpa disadari langkahnya menuju Valencia, semua orang membolakan mata mencoba untuk memberi isyarat pada laki-laki itu agar berhenti berjalan dan fokus ke depan, tetapi ternyata kode-kode yang diberikan tidak digubris sama sekali. Sampai kemudian saat Valencia menoleh pada arah orang-orang melihat, ia terkejut sebelum berakhir pada ...
Bruk!
“WOI!”
Cowok itu menabrak Valencia, kardus yang dibawanya terbang ke atas, bagai adegan slow motion isi dari kardus itu mulai terlihat keluar lalu berhamburan tepat di atas kepala Valencia dan tanpa bisa dihindari lagi kertas kecil-kecil itu terjun bebas ke seluruh tubuh Valencia dari ujung kepala hingga ujung kaki, terakhir kardus itu mendarat mulus menutupi kepala Valencia, semua orang mematung dan membeku beberapa orang menutup mulut tak percaya dengan apa yang dilihat mereka sekarang.
Mati.
Benar-benar mati.
Mereka langsung menunduk seolah siap untuk dimakaman massal, sementara cowok yang baru saja menabrak Valencia meringis, kakinya mendadak seperti jelly yang tak sanggup berdiri tegak hingga harus menopang tubuh dengan berpegangan pada meja.
"Arrrggghhh!"
"Mampus gue."
Suara teriakan Valencia menggema hingga satu gedung hampir membuat seluruh isi gedung ini hancur, sementara laki-laki itu sudah berdesis nyawanya terancam. Secara perlahan pria yang membuat kegaduhan itu mengangkat kardus yang ada di kepala Valencia, tepat saat matanya mulai terlihat. Tatapan setajam silet langsung menghunus pada setiap orang yang bertemu pandang dengannya dan berhasil membuat bulu kuduk orang-orang berdiri.
“Saya bisa jelasin,” kata pria jangkung itu.
“SATPAM!”
“JANGAN DULU!” Ia refleks mengangkat tangan. “Ini murni kecelakaan!”
Valencia tersenyum miring dan itu lebih menyeramkan daripada marah.
“Oh, kecelakaan?”
“I-ya.”
Prang!
Valencia membanting gelas beling berisi kopi yang langsung hancur berkeping-keping sampai berhasil melukai pipinya sendiri, beruntung semua orang berada dalam jarak yang cukup jauh darinya karena mereka langsung beringsut mundur sebelumnya, sementara pria yang tadi membuat masalah menutupi tubuhnya dengan kardus yang di pegangnya.
"Nama?" Suara dingin Valencia terdengar rendah tetapi penuh aura yang mencekam.
Orang-orang di sekitar silih berganti mengode pria itu untuk segera menjawab Valencia.
"NAMA?" Sekali lagi suara Valencia terdengar kali ini dengan sebuah bentakan yang memekakkan telinga.
"Farel, nama saya Farel," jawab Farel cepat.
"Farel, kamu saya pe—"
"Hukum saya aja, Bu," sahut Farel tiba-tiba bersimpuh di depan Valencia membuat semua orang terkejut.
Siapa yang tak mengenal Valencia di perusahaan ini, sejak menjabat sebagai CEO satu tahun lalu suasana kantor yang semula tenang dan damai, berubah menjadi sangat suram. Setiap hari; setiap menit; bahkan setiap detik selalu ada saja yang berhasil membuat Valencia naik darah. Wanita itu tak akan segan-segan memecat siapa pun yang berani menyeleweng padanya apa lagi ini Farel sudah melakukan kesalahan besar.
"Saya akan dengan senang hati menerima hukuman apa pun dari ibu, beres-beres, atau nyiapin ruang meeting juga kayak tadi tiap hari gak apa-apa," kata Farel lagi untuk ke sekian kalinya berhasil membuat tawa menyeramkan dari Valencia terdengar.
"Oh jadi kamu juga yang membuang proposal proyek." Suaranya kelam, Farel menelan salivanya dengan tercekat, sepertinya dia sudah salah berbicara.
"Pro-proposal?"
Byar!
Valencia membuang beberapa lembar kertas tepat ke wajah Farel hingga membuat pria itu tersentak. Farel memungut satu lembar berkas tersebut, matanya membola saat melihat judul yang tertera di sana, ia ingat betul lembaran-lembaran kertas ini sudah ada di lantai dengan banyak kotoran jejak kaki, Farel pikir kertas-kertas ini sudah tak terpakai jadi dia berinisiatif untuk membuangnya ke tempat sampah.
"Sa-saya bisa jelasin, Bu. Tapi jangan pecat saya, masa iya baru sehari kerja saya di pecat, Bu. Tolong." Raut wajah Farel sudah memerah karena panik, apa yang akan ia katakan pada Ibunya di kampung kalau dirinya baru sehari kerja sudah di pecat, apa lagi Ibunya sudah wara-wiri satu kampung memberitahukan Farel bekerja di perubahan besar.
Bisa mati karena malu kalau sampai hari ini menjadi hari terakhirnya berkerja.
"Saya sama sekali tidak peduli." Setiap kata yang dikeluarkan oleh Valencia penuh penekanan. "Kamu saya pe—"
"Saya akan melakukan apa pun yang Ibu mau asal jangan pecat saya. Apa pun, pokoknya apa pun itu akan saya lakukan!" teriak Farel dalam satu kali tarikan nafas untuk menyela ucapan Valencia.
Perempuan itu terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia kembali menyeringai menampilkan senyum yang sangat mematikan.
"Apa pun?" Valencia mengulang salah satu kata yang Farel ucapkan dan dengan cepat pria itu mengangguk.
"Apa pun," katanya menimpali.
"Mulai sekarang hukumanmu seumur hidup selama ada di kantor ini adalah ... Jadi asisten pribadi saya."
Damn!