Oh My Xavier 11 : Xavier Monster

2689 Words
Warn! Ada kekerasan yang sangat keras di sini. Xavier terdiam, menatap dokumen yang sudah selesai dibacanya beberapa detik yang lalu. Zander setia berdiri di sampingnya sedangkan Xavier duduk di sofa ruang rawat Emilie. Mata Xavier menatap lurus pada tubuh Emilie yang tertidur di atas kasur ketika Xavier menyuruh perawat memberikan obat penenang pada Emilie yang tidak berhenti menangis histeris. "Jam berapa waktu kematiannya?" Tanya Xavier, mulai bersuara setelah beberapa lama hanya ada hening. "Tepat pukul 14.15, dan tidak bangun lagi hingga sekarang." Xavier mengangguk dan menghela napas panjang. "Anak itu..., dia memiliki kanker parah, menjalani kemoterapi yang hanya dapat sedikit memperpanjang hidupnya. Keluarganya miskin, dan harus banting tulang untuk membiayai pengobatan anaknya. Ken adalah beban. Menurutku, beban sepertinya memang pantas mati. Lebih bagus mati sekarang daripada lebih lama lagi menderita akibat kankernya." "Anda benar, Tuan." Xavier terdiam lagi. Dia menyenderkan punggungnya ke kursi, menatap Emilie yang bahkan masih menangis dalam tidurnya. "Tapi..., Wanitaku ini, dia takkan berpikir seperti itu kan?" "Ya, Tuan." Raut wajah Xavier berubah dingin, matanya menajam seketika. "Kalau begitu, biar aku yang menghukumnya," ucapnya dingin. "Cari tahu orang yang menabrak Ken. Kau harus membawanya sebelum orang itu dibawa ke pengadilan. Dia harus tahu apa ganjaran yang akan diterimanya jika membuat wanitaku menangis." "Akan saya lakukan segera, Tuan." Xavier berdiri dari duduknya. Matanya masih menatap Emilie. "Dan urus kepulangan Emilie segera. Bukan tidak mungkin untuk Emilie bisa bertemu orang baru lagi dan bukan tidak mungkin juga orang yang nanti ditemui Emilie takkan mati dan membuat Emilie menangis lagi nantinya." "Baik, Tuan." Xavier berjalan keluar ruangan, diikuti oleh Zander yang berjalan di belakangnya. *** Mata pria itu mengerjap perlahan, dan yang paling pertama menyerbu penglihatannya adalah cahaya lampu yang menyilaukan. Namun satu yang disadari pria itu. Tubuhnya terikat sempurna dan dari ujung kepala hingga ujung kaki, pria itu tidak dapat menggerakkan tubuhnya. "Apa aku lumpuh?" "Cacat, tepatnya. Sebentar lagi." Suara itu datang bersamaan dengan bayangan yang membelakangi lampu di hadapan pria yang terikat itu. "K-kau siapa?! Kenapa aku bisa ada di sini?! Kenapa aku bisa berada di sini?! Aku di mana?! Kenapa aku tidak bisa bergerak." Xavier yang merupakan pengeksekusi itu mendengus. "Kau bawel sekali. Aku ingin sekali segera mengambil tenggorokanmu." "A-apa?!" Xavier menghela napas panjang, dan menjauh dari pria itu. "Tapi aku tidak akan melakukannya sekarang." "A-apa maksudmu?!! Kenapa aku tidak bisa bergerak?! Jawab aku!!" Xavier mengabaikan. Dia mengambil sebuah palu yang disiapkan di atas meja. "Sebenarnya, aku malas mengobrol dengan korbanku. Tapi.., kelakukanmu lebih buruk dengan apa yang dilakukan korbanku sebelumnya." "Sialan jawab aku!!!" Jerit korbannya. "Kau tahu anak yang kau tabrak lari itu?" Tanya Xavier, kembali mendekati korbannya. "A-anak? A-aku tidak tahu apa yang kau katakan." "Ah, benarkah?" Tanya Xavier, tersenyum mengerikan. "Kalau begitu, biarkan aku yang memberitahumu." Xavier berjalan pelan, menuju ke arah kepala pria yang tertidur dengan terikat di mana-mana menggunakan lakban. "Namanya Ken, teman wanitaku. Sekali lihat, siapapun akan tahu jika wanitaku sangat menyukai Ken. Bahkan menyayanginya," katanya, kemudian membungkukkan tubuhnya agar mulutnya bisa mendekati telinga korbannya. "Hingga akhirnya, Ken ditabrak lari di rumah sakit yang merawatnya. Di hadapanku. Sangat dekat dengan posisi wanitaku berdiri." Korban Xavier tidak menjawab. Hanya gemetar dengan mata yang tidak fokus akibat ketakutan. Xavier tersenyum, dan berdiri menegapkan tubuhnya kembali. "Kau tahu bagaimana cara Ken mati?" Tanyanya, memainkan palu yang ada di tangannya. "Dokter bilang, tubuhnya terlempar jauh hingga kepalanya menabrak benda keras, dan tempurung kepalanya patah ke dalam, membuat tulang itu menembus otaknya. Kau tahu di mana posisi tempurung otak itu?" Kali ini, korban Xavier menangis, memohon ampun. "Bukan aku... Pelakunya bukan aku..." "Di sini!" Klak "AAAAAARRRRGGGGHHHHH!!!" Jerit korban Xavier, menggelepar ketika pelipisnya dihantam oleh palu dengan kuat, hingga tempurung otak di bagian sisi kepalanya patah dan mengucurkan darah. Xavier tersenyum ketika dia dapat melihat otak korbannya itu dengan jelas. "Wah, aku bisa melihat otakmu dari sini. Otakmu sangat menjijikkan. Satu-satunya otak korbanku yang menjijikkan." Korbannya hanya berteriak kesakitan dan menggelepar walaupun hanya dapat menghasilkan gerakan kecil karena tubuhnya terikat total. Xavier berdecak. Dia beralih kembali ke meja peralatannya, mengambil pisau yang sudah diasah tajam, dan menggunakan sarung tangan plastik. Dia kembali ke tubuh korbannya, mematahkan rahang korbannya dengan palu, dan menarik lidah pria itu, memotongnya dengan sekali potongan. Pria itu makin menggelepar kesakitan. Tatapannya memohon pada Xavier namun Xavier abaikan. Xavier malah tersenyum mencemooh. "Dan kau tahu apa lagi yang dijelaskan dokter? Tulang rusuknya patah." Korban Xavier sudah mencoba menggeleng, menyuruh Xavier berhenti. Namun Xavier mendengus dan kembali mengayunkan palunya, kali ini ke d**a kanan pria itu, membuat suara tulang patah yang sangat keras. Membuat korbannya menggeram kencang karena kesakitan tapi tidak bisa berteriak lagi. "Dan sialnya, pengemudi yang menabraknya malah lari tanpa bertanggung jawab." Xavier kali ini memukuli kedua kaki korbannya dengan palu, berkali-kali, dengan kuat, hingga suara remukkan terdengar nyaring dan daging-daging korbannya sudah tercecer di mana-mana. Mengingat tangis histeris Emilie, Xavier menguatkan pukulannya, berteriak kencang, menambah tenaganya lebih kuat lagi hingga kaki pria itu remuk dan patah, terpisah dari bagian tubuhnya. Napas Xavier berembus kencang, dia sudah mulai bisa menenangkan dirinya. Hatinya sudah puas dan bibirnya kini tersenyum. "Sudah selesai. Aku akan mendiamkanmu begini. Kau bisa mati dengan cara seperti ini. Perlahan-lahan. Nikmati saja." Katanya, dan berlalu, meninggalkan korbannya yang mungkin berharap langsung dibunuh saja. *** Emilie membuka matanya, dan yang paling pertama ia lihat ketika sadar adalah langit-langit kamar milik Xavier yang sangat Emilie kenali. Emilie menatap ke samping, dan mendapati Xavier duduk di sofa yang berada di ujung ruangan, menatap Emilie lurus dengan raut wajah yang terlihat berpikir. Tanpa bisa Emilie cegah, air matanya perlahan mengalir melewati pelipisnya. "Yang tadi sungguh Ken?" Tanyanya serak. Xavier tidak menjawab. Tetap menatap Emilie lurus-lurus tanpa mengalihkan tatapannya sedikitpun. "Bagaimana keadaan Ken?" Tanya Emilie dengan tangisnya yang menjadi. Xavier membuang napas pelan, memejamkan matanya sejenak sebelum membuka matanya kembali. "Jika kau ingin tahu, berhentilah menangis sebelum aku menyuruh perawat menyuntikkan obat penenang lagi padamu." Emilie menarik napasnya berkali-kali, membuang napas, kemudian mengusap air matanya. Dia mencoba menenangkan dirinya walaupun sulit karena bibirnya malah bergetar hebat ketika bertanya, "Beritahu aku, Xavie. Kumohon..." Xavier kembali menghela napas, berdiri, dan menghampiri Emilie. Dia menidurkan tubuhnya di samping Emilie, memeluk tubuh mungil nan rapuh itu dengan erat. Dan seolah itu merupakan sebuah jawaban, tangis Emilie kembali menjadi. Dia memeluk erat tubuh berotot Xavier. Menangis kembali di pelukan pria itu. Pria yang menyanderanya. Xavier mengecup kepala Emilie berkali-kali dan mengusap lembut punggung kecil Emilie dengan tangan besarnya. "Dia memiliki penyakit kanker yang parah dan sulit disembuhkan di usianya. Kupikir, Tuhan memberikannya yang terbaik dengan membawanya ke surga. Aku yakin, sekarang dia sudah bahagia di surga dan merasa senang karena telah mengenalmu." Emilie tidak menjawab ucapan Xavier, hanya suara tangisannya yang kencang yang membalas ucapan Xavier. Sungguh, Xavier merasa kali ini dia mengatakan omong kosong. Xavier bukan orang yang percaya surga dan neraka. Dia bahkan tidak percaya bahwa ada malaikat maut yang lain selain manusia. Xavier adalah malaikat maut bagi korban-korbannya. Dia yang menentukan hidup ataupun mati manusia. Mana ada malaikat maut? Mana ada surga dan neraka? Mana ada tuhan atau dewa? Walaupun Xavier sering mengatakan kalimat demi Tuhan, namun itu hanya murni ucapan yang biasa dia gunakan saja. Untuk mempercayainya? Tentu saja tidak! Beberapa saat hanya terdengar tangisan, Emilie akhirnya menjauhkan wajahnya dari d**a Xavier dan mendongak menatap Xavier. Wajahnya yang dipenuhi air mata dan matanya yang berkaca-kaca itu sukses membuat Xavier menelan ludahnya dengan susah payah. "Sekarang Ken ada di mana? Apa masih di rumah sakit?" Tanya Emilie dengan sesegukan. Xavier menggeleng pelan menjawab Emilie. "Tidak. Keluarganya membawa Ken ke TPU pribadi mereka. Aku tidak tahu di mana." Emilie kembali menjawab Xavier dengan tangisnya yang menjadi. Namun kemudian kembali menatap Xavier. "Kalau begitu, aku akan mendoakannya. Apa agama yang dimiliki Ken?" Xavier menaikkan sebelah alisnya. Emilie masih sesegukan saat menjawab kebingungan Xavier. "Aku memang tidak punya agama, tapi aku percaya adanya Tuhan. Aku akan mendoakan Ken pada Tuhannya." Xavier ingin tertawa mendengar ocehan Emilie di situasi menyedihkan wanita itu. Namun Xavier menahan tawanya dengan merapatkan bibir dan menggeleng. "Aku tidak tahu." Emilie sesegukan. Dia mencoba duduk menegapkan tubuhnya. "Baiklah kalau begitu, aku akan berdoa menurut semua agama saja," ocehnya, kemudian mengangkat kedua tangannya. "Ya Allah... Dewa dewi Semoga—" "Ck, sudahlah," potong Xavier, ikut duduk di samping Emilie dan memeluk Emilie kembali. "Tanpa kau berdoa pun, aku yakin Ken akan masuk surga. Dia anak yang baik." Emilie ini... Kenapa sangat berbeda dengan Xavier? Emilie kembali menangis kencang di pelukan Xavier. "Aku bahkan hanya tahu namanya. Aku tidak tahu umurnya dan yang lain, tapi kenapa aku sangat menyayangi Ken, Xavie? Aku juga menyayangi Kitty... Kenapa mereka harus pergi lebih dulu? Di rumah sakit banyak orang yang tidak aku kenal. Kenapa harus Ken yang tertabrak? Hiks!" Xavier sungguh ingin merasakan yang namanya sedih karena kehilangan anak yang baru ditemuinya itu. Namun, perasaannya berbeda dengan Emilie. Xavier memiliki emosi, namun semenjak dia memiliki penyakit psikopat dalam dirinya, sangat sulit untuk merasakan banyak hal. Dan yang paling sulit adalah rasa sedih dan takut. Xavier menghela napas pelan. Dia mengusap rambut Emilie dengan lembut. "Setidaknya, Ken memiliki teman di sana. Dia memiliki Kitty dan aku yakin Kitty dan Ken akan selalu bersama di alam akhirat." Ingin sekali Xavier memuntahkan ucapan omong kosongnya. Alam akhirat? Apaan itu? Semacam makanan atau sebuah dongeng fantasi? Namun Emilie terlihat sedikit tenang mendengar ucapan Xavier. "Ya, kau benar. Ken pasti tidak akan kesepian jika ditemani Kitty." Kalau mati ya mati saja. Mana ada alam kedua? Kata Xavier dalam hati, mengejek dirinya sendiri. "Ya, kau benar." Hiburnya pada Emilie. Akhirnya, tidak ada yang bisa dilakukan Emilie dan Xavier selain terdiam dan tangis Emilie yang tersisa. Teringat sesuatu, Xavier melepaskan pelukannya dari Emilie. "Ah, ya, aku membuat dapur baru untukmu. Zander bilang, kau terlihat takut ketika memasak sarapanmu waktu itu." Emilie melotot tidak terima. "S-siapa yang takut?! Memangnya aku ini anak kecil, apa?" "Kau tidak takut sendirian di sana? Kau tahu, tidak ada yang berani sendirian berada di dapurku yang itu karena sebelumnya ada seorang chef yang menggorok lehernya sendiri di sana." Emilie melotot mendengar cerita Xavier. Kali ini, dia merasa ingin menangis kembali. Bukan karena sedih, tetapi karena ketakutan. "B-benarkah? Kau tidak berbohong?!" "Tentu saja tidak." Karena aku yang menyuruh chef itu menggorok lehernya sendiri atau mati perlahan di tanganku. Lanjut Xavier di dalam hatinya. Dia menahan tawa melihat Emilie yang gemetar ketakutan di hadapannya. "EMILIE!!!" "KYA!!! SIAPA ITU?!!!" Teriak Emilie, memeluk erat tubuh Xavier dengan ketakutan yang kentara. Sungguh, cerita Xavier membuat Emilie merinding seketika dan teriakan entah siapa itu membuat dirinya kaget setengah mati. "Kau dengar itu?! Bukan hanya aku yang mendengarnya kan?! Itu bukan hantu kan Xavier?!" Jika saja situasi saat ini tanpa gangguan suara itu, Xavier mungkin akan tertawa akibat kelakuan Emilie. Namun suara ribut-ribut di luar dan juga teriakan yang memanggil nama Emilie terus terulang di luar sana, Xavier mungkin takkan memberikan raut wajah dinginnya. "ELIE!! AKU TAHU KAU ADA DI DALAM SANA!! XAVIER KEMBALIKAN ADIKKU!!" "Eh? Suara ini...?" Emilie tidak meneruskan ucapannya. Dia melompat cepat dari kasur, dan berlari keluar kamar. Melihat pintu kamar yang masih terbuka itu, Xavier mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia kemudian turun dari kasur, dan mengikuti jejak Emilie yang sudah keluar terlebih dahulu. "Bang Vano..." Ucap Emilie yang sudah berada di luar. Emilie berdeham, salah tingkah karena refleks menyebut nama panggilan kakak tirinya itu setelah sebelumnya mereka sudah tidak lagi saling memanggil kakak-adik. "Elie! Keluar dari sana! Kau tidak tahu siapa yang bersamamu sekarang?!" Vano balas berteriak karena jarak mereka masih sangat jauh dan Alvano berada dalam penjagaan para pengawal Xavier. Xavier mendengus. "Kau sudah tahu siapa aku, tapi berani-beraninya mendatangiku sendirian?" Vano beralih menatap Xavier yang berada di belakang Emilie. Dia mendesis jengah. "Aku tidak takut padamu, Sialan!! Apa yang kau lakukan pada adikku?! Kenapa wajahnya bisa memar seperti itu?!" Emilie refleks memegang wajahnya sendiri. Dia lupa jika wajahnya masih terdapat memar akibat tabrak lari kemarin. "Elie!! Apa yang dia lakukan padamu?!" Vano berteriak nyaring, mencoba memberontak sekuat tenaga agar bisa mendekati adik tirinya. "Jangan takut padanya, Elie! Aku akan membantumu menjauh dari pria berengsek itu! Kau hanya harus berjalan ke arahku dan kita pergi dari rumah terkutuk ini sekarang juga!!" Xavier mendengus mendengarnya. Dia memeluk tubuh Emilie dari belakang, berbisik pada Emilie. "Jangan lupa jika kau akan kulepaskan kalau aku menemukan anakku. Jika kau pergi dari sini sekarang, aku akan membocorkan tentang malam kita, Emilie." Ancamnya, dan Xavier membumbuhkan kecupan di pipi Emilie, seolah mengatakan jika Xavier tidak main-main dengan ucapannya. Karena pria itu bahkan berani mencium Emilie di hadapan sang kakak yang sedang terlihat sangat marah. Tangan Emilie mengepal. Dia menatap kakak tirinya itu dengan berang. "Tahu apa kau tentang rumah ini?! Tahu apa kau tentang Xavier?!" Teriaknya refleks karena tidak tahu lagi ingin berbicara apa. "Sialan!! Kau tidak tahu orang yang bersamamu kini adalah seorang monster?!" Kali ini, tangan Xavier yang mengepal dengan kuat. Dadanya bergemuruh marah dan mulutnya terbuka, akan memberikan perintah pada anak buahnya untuk melenyapkan pria di hadapannya kini. "Aku tidak peduli! Aku tidak keberatan!" Tegas Emilie, sukses membuat Xavier bungkam di tempatnya, dan matanya menatap lekat pada Emilie yang berada di pelukannya. "Dia baik padaku! Dia menjagaku melebihi siapapun yang kukenal di dunia ini! Tidak seperti kau yang bisanya hanya menyiksaku melewati tangan orang lain!!" Xavier tertegun mendengarnya. Dia tahu Emilie saat ini sedang marah dan tidak memikirkan ucapannya. Namun sungguh, kalimat demi kalimat yang Emilie keluarkan sukses membuat Xavier tidak dapat berkata-kata dan dadanya yang tadi bergemuruh marah, malah menghangat seketika. Alvano sendiri terdiam mendengar ucapan Emilie. Namun pria itu segera menggeleng dan kembali memberontak. "Kau tidak mengerti! Situasi kali ini—" "Aku bersyukur kau datang. Aku bersyukur, kau mengkhawatirkanku dan mencariku," lirih Emilie kemudian. Mengerjap ketika air matanya malah turun tanpa diminta. "Tapi sungguh, Vano..., Aku tidak ingin kembali. Aku tidak ingin pergi dari sini. Dari orang-orang yang menjagaku, membuat aku kembali tertawa bebas seperti dulu, membuatku kembali menjadi Emilie yang cengeng, ceria, dan kekanakan. Kenapa aku harus menjadi dewasa? Kenapa aku harus menjadi orang yang bermental kuat? Ya, aku memang kekanakan di umurku yang sekarang. Ya, aku memang tidak pantas disebut orang dewasa. Tapi, selama aku hidup, aku tidak pernah berada di titik yang tidak bisa menyelesaikan masalah. Kau tahu kenapa? Karena aku tidak seserius orang dewasa dalam menjalani hidup. Kenapa aku harus menjadi orang lain, Vano? Kenapa aku harus menjalani hidup seperti dirimu?" Akhirnya, Emilie mencurahkan isi hatinya selama ini. Mengatakan yang sejujurnya pada kakak tirinya. Memang benar Emilie menjalani hidupnya dengan manja dan kekanakan di umurnya yang sekarang. Tapi bukan berarti Emilie bodoh. Bukan berarti Emilie tidak bisa survive dalam hidupnya. Ini hanya sifatnya yang tidak berhubungan dengan cara berpikir Emilie. Dan kenapa orang-orang di sekitarnya ingin mengubah sifat Emilie dengan cara mengancam perusahaan milik ibu Emilie? Mengapa mereka tidak suka Emilie yang apa adanya seperti ini? "Emilie..." Panggil Alvano. "Jika itu yang membuatmu tidak ingin kembali, aku tidak akan memaksamu lagi. Tapi, orang di samping—" "Usir dia! SEKARANG!!" Bentak Xavier, yang langsung dipatuhi oleh para pengawalnya. "HEY!! LEPASKAN AKU!! SIALAN XAVIER ADIKKU MEMANG TIDAK TAHU JIKA KAU ITU MONSTER TAPI AKU AKAN KEMBALI LAGI DAN MENGAMBIL ADIKKU LAGI!! KETIKA ITU TERJADI DIA AKAN SANGAT MEMBENCIMU! INGAT ITU!!" Teriak Alvano ketika para pengawal Xavier perlahan membawa Alvano keluar dari rumahnya. Setelah Alvano sudah sepenuhnya tidak terlihat, Emilie dan Xavier sama-sama menghela napas lega. Hal itu membuat mereka saling tatap. Emilie menggeleng dan masuk ke dalam rumah terlebih dahulu, membuat pelukan Xavier terlepas. Xavier mengikuti wanita mungil itu dari belakang. "Hey, kau tidak terpengaruh dengan ucapan kakak tirimu itu?" Emilie tidak berhenti melangkah. "Yang mana?" "Yang tentang aku monster itu." Kali ini Emilie berhenti melangkah. Dia berbalik dan menatap Xavier. "Bukannya kau memang monster?" Xavier melotot. Apa aku ketahuan? "A-apa maksudmu?" "Ya monster!! Orang-orang kaya memang suka seenaknya! Seperti dirimu ini! Monster perfeksionis, tukang marah-marah. Dan ingat pertemuan kedua kita? Kau memukul Dansel dengan kejam padahal dia lebih tua darimu! Dasar tidak sopan!" Hina Emilie panjang lebar, membuat Xavier menganga dibuatnya dan hanya dapat diam ketika Emilie berbalik dan berjalan menjauhi Xavier. Xavier berdecak dan menggelengkan kepalanya. "Woah, apa aku harus bersyukur dengan pemikirannya yang terlalu sederhana itu?" Sekali lagi, Xavier kembali menggeleng dan berjalan mengikuti Emilie dari belakang seolah Xavier adalah hewan peliharaan Emilie yang mengikuti Emilie ke mana-mana. Ada yang nungguin?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD