Xavier membuka pintu ruang rawat Emilie untuk mengecek keadaan wanita yang tadi meminta pulang pada Xavier. Ketika pintu itu terbuka, Xavier dapat melihat Emilie yang tidur dengan Kitty yang berada di pelukannya. Dan kucing kecil itu, seolah memang kepribadiannya mencerminkan kepribadian pemiliknya, Kitty pun ikut tertidur di pelukan Emilie tanpa memberontak sedikitpun.
Xavier mendengus dan mendekati ranjang Emilie. Tatapannya kemudian tertuju pada sebuah kertas dengan gambar-gambar yang dicoretkan Emilie pada kertas tersebut.
Xavier meraih kertas tersebut, dan terkekeh ketika melihat namanya yang tertera di atas ekspresi-ekspresi yang digambar oleh Emilie. "Wanita ini..." Gumamnya sambil kembali menyimpan kertas tersebut di tempat sebelumnya.

Xavier kemudian duduk di tepi ranjang yang luas itu. Tangannya bersidekap dan matanya menatap lekat pada wajah yang belum lama ini dilihatnya. Wajah yang bahkan tidak pernah Xavier kira akan menjadikan dirinya terobsesi pada wanita itu.
Tangan Xavier kemudian terulur, menyentuh helaian rambut nakal yang menutupi wajah favoritnya itu. Sebuah senyum kemudian terbit di wajahnya ketika mengingat beberapa potongan kisah yang ia dan Emilie buat. "Wanita ini, bukannya menghindariku karena umurku, tapi malah mengamuk hanya karena dia berpikir aku sudah menikah." Gumamnya, kali ini terkekeh.
Emilie menggeliat pelan dan menggeram. Dia meluruskan tubuhnya yang masih tertidur dan mengernyit ketika membuka matanya. Matanya kemudian beralih menatap Xavier yang duduk di tepi kasur. "Hari apa ini?" Tanyanya serak dengan sebelah matanya yang baru terbuka lebar.
Xavier mengangkat sebelah alisnya, seolah bertanya apakah Emilie tidak salah bertanya.
Emilie mengerang keras dan kembali memeluk Kitty yang masih tertidur. "Aku kira sudah seminggu aku tidur. Aku ingin pulang..., Xavi. Aku bosan di sini." Keluhnya dengan suara serak.
Xavier mendengus geli. "Kenapa kau sebegitunya ingin pulang? Apa bedanya rumah sakit dan rumahku? Kau sama-sama tidak boleh keluar."
Emilie menguap tanpa membuka matanya. "Kau tidak lihat betapa membosankannya tempat ini? Tidur saja di sini sendirian selama sehari, dan aku jamin kau tidak akan pernah betah." Katanya sambil menggaruk cuping telinganya yang gatal akibat rambutnya sendiri.
Xavier kali ini tertawa pelan mendengarnya. Sungguh, tidak terhitung berapa kali dia tertawa dengan tulus tanpa akting. Dan itu disebabkan oleh Emilie dan tingkah lakunya yang sangat normal, seperti orang kebanyakan. Namun, layaknya magnet yang memiliki sumbu berbeda dari Xavier, selalu ada perbedaan dari manusia lainnya dan itulah yang terjadi pada Emilie.
Dunia ini terlalu sama, dan Xavier menginginkan hal yang berbeda. Wanita yang tidak tergila-gila padanya ini, wanita yang melihat banyak sisi dari Xavier ini, wanita yang lupa Xavier bunuh ini..., Sungguh, sepertinya Tuhan sedang memberikan ujian terberat bagi Xavier dengan mendatangkan Emilie padanya. Ujian dengan rasa yang tidak bisa Xavier tolak.
Segera, Xavier tertidur di kasur yang sama yang ditempati Emilie. Dia memeluk wanita itu dari belakang, melingkari perut wanita yang sedang mencoba kembali tertidur itu dengan erat. Terasa nyaman, terasa pas di pelukannya. Xavier mengangkat kepalanya, menyimpan dagunya di atas kepala Emilie. "Kenapa kau menggambar itu?" Tanyanya pada Emilie.
"Hm?"
"Tiga-tiganya wajahku. Kenapa kau menggambarnya?"
"Hanya penasaran, yang mana dirimu yang sebenarnya."
"Bagaimana jika ketiga-tiganya adalah diriku?"
"Kalau begitu, akan sulit untuk mewujudkan sukai aku, Emilie."
Xavier mengernyit tidak suka. "Kenapa?"
Emilie membalikkan badannya dan mendongak untuk menatap Xavier yang menundukkan kepalanya agar bisa melihat Emilie juga. "Karena Xavier yang pertama, walaupun dingin tapi manis. Xavier yang kedua, pemarah dan galak tapi masih terlihat tampan. Xavier yang ketiga, terlihat ramah dan bisa membuat orang lain nyaman. Menurutmu, jika semuanya ada dalam dirimu, aku bisa menjaga perasaanku agar tidak sakit hati saat kau banyak disukai wanita lain?"
Xavier mengangkat kedua alisnya. "Kau tahu? Kukira, semua ekspresi di sana sama saja karena gambaranmu sangat jelek." Candanya.
Emilie melotot, lalu memukul bahu Xavier dengan kesal namun pria itu malah tertawa dan membuat Emilie memukul dadanya. "Aku sedang bosan dan tidak memiliki tenaga ketika menggambarnya! Saat itu aku sungguh mengantuk."
"Ya, ya, aku percaya!"
Emilie kembali memukul keras d**a Xavier. "Berhenti tertawa!"
"Aku tidak tertawa!"
"Berhenti!"
"Memangnya kenapa? Itu hakku!"
"Karena kau lebih tampan, Sialan!" Kesal Emilie, lalu kembali membalik badannya membelakangi Xavier.
Xavier menghentikan tawanya namun tidak bisa menghentikan senyum miringnya. Dia kembali memeluk erat tubuh Emilie. "Bagaimana jika semua sifatku hanya muncul di depanmu?"
"Itu bagus. Tampilkan saja wajah dingin dan garang agar wanita menghindarimu. Dengan begitu, sukai aku, Emilie mungkin bisa berhasil."
Xavier tersenyum sendiri dan makin mengeratkan pelukannya.
Emilie tidak tahu saja, bahwa Xavier mengatakan hal yang fakta dan ucapan Emilie juga tepat sasaran. Hanya Emilie yang dapat menumbuhkan ekspresi Xavier dengan tulus tanpa akting yang biasanya dia lakukan di depan wanita lain ataupun orang lain. Dulu, hanya Zander dan Felix yang bisa membuat ekspresi sesukanya walaupun tidak sampai tertawa hingga menyentuh mata. Hanya Emilie, yang bisa membuat Xavier melakukan hal tersebut.
***
"Cup, cup, cup, Kitty senang ya menghirup udara segar lagi? Um?" Tanya Emilie pada Kitty yang ada di gendongannya. Kucing kecil yang sedang Emilie siksa dengan kegemasanya itu hanya mengeong di gendongan Emilie.
Saat ini, Emilie sedang berada di taman rumah sakit. Duduk di bangku dengan Kitty yang berada di gendongannya. Xavier entah ke mana. Setelah Emilie dan Kitty meneruskan tidurnya, saat bangun Xavier tidak terlihat lagi di mana pun. Hanya ada Zander dan beberapa pengawal yang menemani Emilie. Dan Emilie yakin Xavier sedang tidak berada jauh dari Emilie karena tentunya, Zander dan Xavier tidak dapat terpisahkan. Mereka seperti perangko dan amplop yang tidak bisa berpisah barang sebentar saja. Maka dari itu, Emilie menyimpulkan bahwa jika Zander berada di sisi Emilie, Xavier tidak akan pergi lama-lama. Hal itu sudah terbukti dan diuji klinis oleh Emilie sendiri.
Merasakan tatapan yang terarah pada dirinya, Emilie menoleh ke samping dan mendapati seorang anak kecil laki-laki sedang menatap Emilie, atau lebih tepatnya Kitty yang berada di gendongan Emilie. Sebuah senyum terbit di wajah Emilie, walaupun binar matanya menyendu karena melihat wajah pucat dan rambut pitak anak itu. Emilie yakin anak itu masih sangat kecil. Kemungkinan masih 6 atau 7 tahun. Tapi walaupun masih muda, anak itu berdiri di rumah sakit ini, dengan baju rumah sakit ini pula.
Emilie membuang napas pelan, dan mencoba melebarkan senyumnya selebar mungkin walaupun Emilie rasa anak itu kemungkinan akan ketakutan melihat senyum berlebihan miliknya. "Hey, boy, kau ingin berkenalan dengan Kitty?" Sapa Emilie dengan riang.
Anak kecil itu mengerjap, kemudian menatap Emilie dalam diam tanpa menjawab ataupun memberikan anggukan.
Emilie tersenyum lembut. Dia berdiri dan menghampiri anak kecil itu, berdiri di hadapan anak kecil laki-laki itu. Emilie mengangkat tangan Kitty dengan tangannya. "Hallo! Namaku Kitty! Nama kamu siapa?" Oceh Emilie dengan suara yang dia buat keimut-imutan.
Sekali lagi, anak itu hanya mengerjap dan menatap Emilie dalam diam. Emilie mengangkat sebelah alisnya dengan senyum yang tidak pudar, mengatakan bahwa dia bukan orang jahat dari tatapannya.
Kali ini, anak kecil itu menurunkan tatapannya dengan bibir yang mengerucut malu. "Ken."
Emilie memberikan ekspresi terkejut. "Woah, Ken, rupanya? Namamu sangat keren! Seperti orangnya!"
Ken kali ini tersenyum malu dan mengangguk. "Lalu, nama kakak siapa?"
"Namaku?" Tanya Emilie, dibalas anggukan dari Ken. Emilie terkekeh kecil. "Namaku Emilie. Kau bisa memanggilku Kakak Cantik!"
Ken kali ini tersenyum lebar. "Kakak Cantik, boleh aku bermain denganmu?"
"Tentu saja boleh! Kau ingin bermain dengan Kitty juga?"
Ken mengangguk semangat. "Ya!"
Emilie terkekeh. Dia menurunkan Kitty ke tanah dan mengajak Ken untuk berdiri di dekatnya. "Jika kau ingin bermain dengan Kitty, pertama-tama, kau harus tersenyum lebar."
Ken menuruti dengan tersenyum lebar.
Emilie mendengus geli. "Kedua, kau jangan menyentuhnya dengan agresif terlebih dahulu. Kau hanya perlu menyentuh kepala saja. Jika dia tidak menghindar, berarti Kitty ingin berteman denganmu. Setelah itu, kau tinggal menggelitik lehernya dan dia akan senang lalu mengikutimu ke mana pun!"
Ken berbinar senang melihatnya. "Benarkah? Ke mana pun?"
Emilie terkekeh melihat keantusiasan Ken. Dia mengangguk. "Ya, tentu saja. Kau tidak tahu tentang itu?"
"Tidak. Aku biasanya menarik ekornya dan semua kucing akan mengeong galak dan mencakarku."
Emilie tertawa. "Tentu saja mereka marah! Mereka tidak suka ekornya diganggu!"
Ken malah nyengir lebar, membuat Emilie berdecak gemas melihatnya.
"Cobalah," suruh Emilie. "Kau bisa mulai berteman dengan Kitty."
Ken mulai mencoba apa yang Emilie instruksikan. Dia menyentuh kepala Kitty, dan Kitty langsung terlihat senang. Ken menatap Emilie dengan matanya yang berbinar senang, sedangkan Emilie mengangguk seolah menyuruh Ken melakukan apa yang tadi dia instruksikan. Dan Ken berhasil menggaruk leher Kitty hingga membuat kucing itu terlihat nyaman dengan hal itu. Ken tertawa lebar dan Emilie pun menyimpan Kitty ke gendongan Ken.
Emilie mendengus geli melihat Ken yang terlihat sangat antusias dengan Kitty. Membuat wajah pucat itu terlihat sangat bersinar akibat keceriaannya. Dengan lembut Emilie menyentuh kepala Ken dengan senyum hangat yang tidak pudar di wajah Emilie. "Kau suka?" Tanya Emilie, dibalas anggukan Ken. "Kau boleh memiliki Kitty."
Ken melotot lebar. "Sungguh?!" Pekiknya antusias.
Emilie tersenyum dan mengangguk semangat. "Ya, tentu saja! Kau bisa merawatnya kan?"
"Ya!! Aku akan merawat Kitty!! Aku akan merawatnya dengan sepenuh hati dan menjaganya sepenuh jiwa!! Aku bersumpah!!"
Emilie tertawa. "Kau berlebihan."
"Sungguh Kakak Cantik!! Aku akan memenuhi janjiku!! Terima kasih karena sudah memberikan Kitty padaku!!"
Emilie tertawa dan mengacak rambut pitak Ken.
"Apa yang lucu hingga kau tertawa selebar itu?"
Suara itu datang dari belakang tubuh Emilie, membuat Emilie refleks menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria gagah di belakangnya. "Xavi!!" Semangatnya sambil berdiri sekaligus.
Xavier hanya mendengus geli. Dia menyentuh kepala Emilie dengan lembut. "Kau menungguku, ya?"
Emilie mengangguk semangat, tapi kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak! Aku sedang bermain dengan Ken!"
"Ken?" Tanya Xavier dan menoleh ke belakang tubuh Emilie, dan mendapati seorang anak kecil laki-laki yang menatap tajam pada Xavier. "Kenapa dia menatapku seperti itu?"
Emilie kembali menghadap Ken. Dia tersenyum pada anak itu. "Ken, perkenalkan! Dia temanku, namanya Xavier. Dan Xavier, kenalkan! Dia teman baruku, Ken."
Xavier mengernyit tidak suka. "Aku temanmu?"
"Tentu saja! Semua yang mengobrol denganku adalah teman," kata Emilie dengan cengiran lebarnya. Dia menepuk-nepuk kepala Ken. "Benar, kan, Ken?"
Xavier mendelik. "Jangan lupakan kalau kau adalah sanderaku."
Emilie cemberut seketika mendengarnya. Baru saja ia akan membalas ucapan Xavier, lengan baju Emilie ditarik dari belakang oleh Ken. Anak itu mendongakkan kepalanya pada Emilie dengan tatapan tidak suka yang terarah pada Xavier. "Kakak Cantik, aku tidak ingin bermain dengan paman itu." Kata Ken terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya.
"Aku juga tidak mau kok. Kau tenang saja," balas Emilie dengan semangat sambil menaikkan dagunya pada Xavier, menantang pria itu. "Kita main berdua saja. Orang ini kita anggap makhluk astral. Tidak terlihat!"
"Apa?! M-makhluk astral?!!!" Pekik Xavier sambil melotot pada Emilie.
Emilie balas memelototi Xavier. "Ya! Kau tidak suka?! Ingin kusebut makhluk menyebalkan saja?!"
"A-apa?!!" Jerit Xavier tidak percaya sambil terkekeh kaku. "Baru kali ini aku mendengarnya! BARU KALI INI!!"
"AKU TIDAK PEDULI! JANGAN BICARA PADAKU!!"
"Kau berani meninggikan suara padaku?!!"
"KUBILANG JANGAN BICARA PADAKU!!"
"EMILIE—AW!!! SIALAN!!!" Teriakan Xavier bersahutan dengan teriakan nyerinya ketika anak kecil bernama Ken itu menggigit tangannya dengan kuat. Xavier bahkan sampai mengibas-ibaskan tangannya di udara saking sakitnya. "Kau!!! Beraninya kau!!!"
Emilie segera menarik Ken di belakang tubuhnya dan memelototi Xavier makin lebar. "Apa?!! Kau mau melawan kami?! Kau akan kalah dua lawan satu!!"
Wajah Xavier terlihat mengeras. Napasnya berembus kasar dan tangannya mulai terangkat ingin mencekik Emilie.
Namun Emilie tertawa lebar, menggendong Ken, dan berlari menghindari Xavier sambil menjerit-jerit di setiap langkahnya.
"Emilie!!" Teriak Xavier tidak terima karena wanita itu kabur. Xavier segera berlari menyusul Emilie yang sudah jauh dari jangkauannya, membuat Emilie semakin menjerit dan tertawa dengan Ken yang juga ikut tertawa di gendongannya.
Mungkin, Xavier gila. Mungkin, Xavier sudah tidak waras. Tapi sungguh, tidak ada satu orang pun wanita yang berani merendahkan Xavier seperti ini. Dan sekalinya ada wanita yang berani...
... Xavier juga tertawa lebar ketika mengejar Emilie dan Ken.
Dan dengan bodohnya, Xavier merasa sangat ingin momen ini selamanya. Momen di mana ia tertawa lebar dan berlarian dengan Emilie. Seolah umur 35 tahunnya bukan apa-apa. Karena kalau ada Emilie di sisi Xavier, Xavier yakin sampai dia kakek-kakek pun, Emilie tetap bisa membuatnya sebebas ini untuk tertawa.
"Dapat!!"
"KYA!!" Jerit Emilie ketika Xavier memeluknya dari belakang, membuat Ken maupun Emilie tertawa riang walaupun masih menjerit. "Serang dia Ken!! Serang!!"
"Cakar dia, Kitty!!" Kata Ken sambil mendorong wajah Kitty ke hadapan wajah Xavier. Namun kucing itu malah terpesona oleh ketampanan Xavier dan mendusel manja di leher Xavier, membuat Xavier tertawa geli karena ulah kucing itu.
Cup!
Kecupan di pipi Emilie sukses membuat Emilie berhenti memberontak dan tawanya digantikan dengan diamnya seketika. Ciuman itu tentunya ulah Xavier yang masih memeluk Emilie dari belakang.
"Sudah, jangan lari-lari. Kau masih belum sembuh total." Kata Xavier sambil melepaskan pelukannya dan menyentuh rambut Emilie, menyelipkan anak rambut yang bandel ke belakang telinga.
Emilie berdecih dan cemberut. "Sembuh total dari apa? Sakit juga tidak." Cicitnya, karena suaranya hilang seketika ketika Xavier menciumnya.
"Tuan Ken!!" Suara teriakan yang tidak ada wujudnya itu membuat Ken menggeliat di gendongan Emilie, meminta turun.
Emilie yang mengetahui itu, segera menurunkan tubuh Ken ke tanah. "Kenapa Ken? Siapa itu?"
"Perawat yang ditugaskan merawat Ken di rumah sakit," kata Ken dengan panik. "Aku harus kembali, Kakak Cantik. Jika tidak, perawat itu akan membuat Ken tidak bisa ke taman rumah sakit lagi."
Emilie terlihat keberatan dengan ucapan perpisahan Ken. "Ya sudah. Kita masih bisa bermain besok, kan?"
Ken tersenyum ceria dan mengangguk. "Ya!! Kita bermain bertiga lagi bersama Kitty, jangan sama paman jelek itu!"
"Hey!! Siapa yang kau katai—"
"Ken pergi dulu ya Kakak Cantik!! Sampai bertemu besok!!"
"Mau kuantar?"
"Tidak perlu. Ken sudah bisa sendiri! Bye bye!!" Salam Ken sambil berlari menjauh dengan Kitty di gendongannya dan tangan yang melambai pada Emilie.
Emilie cemberut dan terpaksa mengangkat tangannya, melambai. "Bye bye!"
"Apa lebih seru bermain dengannya daripada denganku? Kau sampai cemberut seperti itu."
Emilie berbalik ke belakang, menatap Xavier kembali. "Tentu saja! Dia itu menggemaskan, masih kecil, tidak seperti dirimu yang sudah besar, berotot, dan sangar!"
Xavier berdecak kesal. Ingin sekali dia menjitak Emilie. "Kau ini! Senang sekali ya menghina—"
CIT!
BRAK!
Ucapan Xavier terhenti. Matanya membulat lebar melihat kejadian yang terjadi sangat cepat di depan matanya. Sedangkan Emilie berjengit kaget dengan suara keras yang bersahutan itu. Baru saja ia akan berbalik, Xavier segera meraih kepalanya, menyembunyikan kepala Emilie di dadanya.
"Xavier! Ada apa?! Itu suara mobil dan suara—Xavier!! Ken!! Ken dia tadi ke arah sana!!" Panik Emilie, mencoba melepaskan pelukan erat Xavier.
Xavier menahan kepala Emilie, menunduk ketika merasakan napasnya berderu kencang akibat ketakutan. "Jangan dilihat."
Mendengar jawaban yang tidak diinginkan, tubuh Emilie membeku sejenak sebelum tubuhnya gemetar kencang ketika skenario terburuk muncul di kepalanya. Tanpa dapat dicegah, Emilie menangis kuat di dalam pelukan Xavier, kembali mendorong d**a Xavier. "Lepaskan aku! Aku ingin melihatnya! Ken tidak apa-apa! Dia hanya terserempet sepertiku! Aku baru bertemu dengannya tadi, Xavier! Dia bilang sampai jumpa besok! Kita akan bertemu lagi! Kita akan bertemu lagi besok, Xavier!! Katakan dia tidak kenapa-kenapa! Katakan..."
Emilie tidak dapat melanjutkan kata-katanya lagi, menangis kencang kala suara di belakangnya saling bersahutan dengan ngeri, membicarakan darah, meneriakkan kata-kata tentang nadi yang lemah, dan suara roda yang melaju menjauhi tempatnya. Emilie meraung dalam pelukan Xavier, meremas pakaian pria itu seolah menguatkan diri sendiri.
Demi Tuhan...
Mereka baru bertemu hari ini.